About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, January 8, 2022

Ini Dia! Temuan Teori Einstein yang Belum Pernah Dipublikasikan


Ilmuwan mengungkap “manuskrip Albert Einstein” yang tidak pernah disadari keberadaannya. Manuskrip itu mengungkap teori Einstein yang yang tak pernah dipublikasikan sebelumnya!

Manuskrip yang ditulis pada tahun 1931 itu mengungkap gagasan Einstein tentang awal mula alam semesta. Einstein berpandangan bahwa alam semesta tak serta-merta tercipta lewat satu peristiwa Dentuman Besar atau “Big-Bang”.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f5/Einstein_1921_portrait2.jpg/384px-Einstein_1921_portrait2.jpg

Albert Einstein pada tahun 1921

Gagasan Einstein itu sama dengan gagasan astronom Inggris, Fred Hoyle, yang kini tumbang.

Fred Hoyle, lahir pada tanggal 24 Juni 1915 – meninggal 20 Agustus 2001 pada umur 86 tahun, adalah seorang astronom Inggris terkenal, terutama untuk kontribusinya pada teori nukleosintesis bintang dan pendapat kontroversialnya mengenai hal-hal kosmologi dan ilmiah lainnya secara khusus terutama penolakannya terhadap teori “Big Bang”, sebuah istilah yang awalnya diciptakannya sebagai gurauan, yang mungkin sedikit meremehkan, atas suatu teori yang merupakan saingan utama dari teori miliknya sendiri.

Selain pekerjaannya sebagai seorang astronom, Hoyle adalah seorang penulis fiksi ilmiah, termasuk sejumlah buku yang ditulisnya bersama putranya Geoffrey Hoyle.

Hoyle menghabiskan sebagian besar hidup bekerja di Institut Astronomi di Universitas Cambridge, dan menjabat sebagai direkturnya selama beberapa tahun. Ia meninggal di Bournemouth, Inggris, setelah mengalami serangkaian stroke.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/f/ff/Fred_Hoyle.jpg

Sir Fred Hoyle

Pada akhir tahun 40-an, Hoyle mengungkapkan bahwa semesta tidak tercipta lewat satu peristiwa Dentuman Besar.

Menurut Hoyle, semesta berkembang. Semesta berada dalam keadaan steady state, memiliki kemampatan yang sama meskipun terus mengambang.

Hal itu mungkin terjadi karena materi atau partikel baru terus-menerus tercipta. Hoyle mengutarakan, partikel-partikel kemudian akan bergabung membentuk bintang, galaksi, dan lainnya sehingga menyisakan ruang.

Hal tersebut terjadi pada kecepatan yang pas sehingga bisa mengambil ruang yang ada seiring alam semesta mengembang.

Fakta bahwa Einstein memiliki gagasan yang sama, kata Cormac O’Raifeartaigh, fisikawan dari Waterford Institute of Technology di Irlandia yang menemukan manuskrip itu, menunjukkan bahwa gagasan semesta yang steady state telah muncul sejak sebelum Hoyle.

biggest water in the universe found in quasar

Tak seperti saat ini, teori Dentuman Besar pada masa lalu masih diperdebatkan. Teori Dentuman Besar sendiri mulai berkembang dari hasil observasi Edwin Hubble yang menemukan bahwa galaksi terus bergerak menjauh yang bisa jadi indikasi bahwa semesta dulu lebih mampat.

Manuskrip Einstein itu sebenarnya telah tersimpan lama di Albert Einstein Archives di Yerusalem dan bisa diakses secara bebas di situs web organisasi itu. Namun, manuskrip itu awalnya dikira bagian dari manuskrip lain.

Albert Einstein

Albert Einstein

O’Raifeartaigh yang menemukan manuskrip itu mengaku sangat kaget. Dikutip dari Nature, Senin (24/2/2014), ia mengaku bahwa ia “hampir jatuh dari kursi ketika menyadari isi manuskrip tersebut”.

O’Raifeartaigh dan rekannya kemudian mengirim temuannya sekaligus terjemahannya dalam bahasa Inggris (dari naskah asli yang semula berbahasa Jerman) ke server publikasi ilmiah arXiv.

Saat ini, naskah temuan sudah masuk ke jurnal European Physical Journal.

Kosmolog James Peebles dari Princeton University di New Jersey mengungkapkan, manuskrip itu mungkin “naskah kasar yang dimulai dari kegembiraan karena memiliki ide lalu segera ditinggalkan karena penulisnya akhirnya menyadari bahwa ia telah membodohi dirinya sendiri.”

Cluster_of_Galaxies_in_the_Distant_Cosmos

Tampak ribuan galaksi di alam semesta yang terus mengembang..

Namun, fakta bahwa Einstein masih berkutat dengan idenya membuktikan bahwa ia saat itu masih resistan dengan gagasan tentang ‘Dentuman Besar’.

Einstein menganggap, teori itu “keji”, walaupun ilmuwan lain menunjukkan bahwa itu konsekuensi umum dari teori releativitas umum yang dikembangkannya sendiri.

Helge Kragh, sejarawan ilmu pengetahuan dari Aarhus University, mengatakan, “Apa yang yang ditunjukkan oleh manuskrip itu adalah, walaupun pada akhirnya menerima Dentuman Besar, Einstein tak begitu senang dengan fakta bahwa semesta berubah.” (Nature/ arXiv/ Yunanto Wiji Utomo, Kompas.com)

galaksi galaxies

Tampak ribuan galaksi di alam semesta yang terus mengembang..




 

Friday, January 7, 2022

Lima Makam Tua Ditemukan di Situs Gunung Padang Cianjur


Makam tersebut tidak ada kaitan langsung dengan pembangunan situs

Beberapa makam tua ditemukan di situs kuno Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penemuan ini menguatkan dugaan bahwa di sekitar Gunung Padang memang menyimpan banyak situs sejarah.

Arkeolog Universitas Indonesia (UI), Ali Akbar, mengungkapkan terdapat lima makam yang ditemukan di teras kelima situs Gunung padang. “Yang sudah terbaca baru dua makam saja. Satu makam dengan dua nisan,” ujar Ali Akbar saat dihubungi VIVAnews, Jumat 4 Januari 2013.

Ia mengatakan satu nisan terbaca dengan nama Hadi Winata usia 68 tahun dan meninggal 1947. Dengan demikian, Hadi kelahiran 1879. Satu nisan lagi, beraksara Arab yang terbaca dengan nama Prabu dengan tahun tertera 1356 H.

“Kedua nisan ini dalam satu makam, satu di bagian kepala dan satunya lagi di kaki,” tambahnya. Satu nisan lagi, tambahnya, kemungkinan lebih tua dari dua nisan tersebut karena hanya berbentuk batu lonjong tanpa ada aksara penanda.

“Di daerah lain, kalau pemakaman hanya menaruh batu dan tidak ada tulisannya itu termasuk generasi awal, sekitar tahun 700 M,” tambahnya.

Ia sendiri belum memastikan sejauh apa hubungan makam tersebut dengan situs Gunung Padang. Ali Akbar menduga makam tersebut milik masyarakat sekitar.

“Belum ditemukan hubungannnya. Makam ini sama halnya dengan penemuan makam di atas bentang kuno zaman dahulu yang telah terkubur lama,” ujarnya.

satu dari lima makam kuno di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat

Satu dari lima makam kuno di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat (foto: Ali Akbar)

Melihat ciri-ciri makam tersebut, ia berpendapat bahwa makam tersebut tidak ada kaitan langsung dengan pembangunan situs, karena berdasarkan uji karbon usia situs Gunung Padang sangat tua.

Sedangkan untuk kategori masyarakat yang terkait dengan makam tersebut, Ali belum dapat memastikan. Tapi ia memperkirakan, saat itu, masyarakat di sekitar situs Gunung Padang hanya sedikit saja, tidak berupa pemukiman besar.

“Ada kemungkinan makam itu adalah milik keluarga atau sekelompok orang yang bertugas menjaga situs, karena cuma lima atau berapa saja,” ujarnya.

Kelima makam terletak dalam teras kelima situs Gunung Padang dalam bidang tanah 10×10 meter. Jarak antarmakam dua sampai tiga meter.

Penemuan Makam Tua di Gunung Padang Mentahkan Klaim Peneliti Belanda

penemu gunung padang NJ Krom Dutch Arkeolog founderLima makam yang ditemukan di situs megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini bisa membantah klaim sebelumnya dari arkeolog Belanda, N.J. Krom.

Berdasarkan suatu catatan sejarah, Krom menemukan situs Gunung Padang pada 1914 dan diklaim sebagai orang yang pertama kali yang menemukan situs tersebut. Kini sudah ada bukti bahwa klaim itu bisa dibantah.

“Buktinya jelas, ada orang tinggal di situ sebelum NJ Krom menemukannya. Tulisan nisannya jelas, tanggal 2-11-1947, usia 68 tahun,” ujar Ali Akbar, arkeolog Universitas Indonesia pada Jumat 4 Januari 2013.

Temuan makam ini juga menandakan di sekitar situs Gunung Padang masih menyimpan banyak peninggalan kuno. “Ini akhirnya membuka kesempatan bahwa masih banyak hal yang belum terungkap di situs Gunung Padang,” katanya.

Ia mengatakan sepanjang ini sepanjang ini penelitian dilakukan di teras situs Gunung Padang yang memanjang dari utara sampai selatan. Sementara untuk wilayah timur dan barat, jarang dilakukan penelitian.

“Di timur ketemu banyak, yang barat daya malah ada makam ini. banyak hal yang bisa terungkap,” tambahnya. Atas temuan ini, Ali beserta peneliti lain akan menindaklanjuti penelitian seputar makam tersebut. Namun ia mengatakan tidak akan membongkar makam tersebut. “Dengan adanya temuan ini, akan dilakukan riset lagi secara intensif,” ujarnya. (vivanews/eh)

teras gunung padang cianjurgunung padang satelit

Megalith Padang Hills Gunung Padang West Java Indonesia


 

Wednesday, January 5, 2022

Wow! Untuk Kali Pertama, Foto Asli Black Hole Atau “Lubang Hitam” Akhirnya Dipublikasikan!

 Para astronom berhasil mendapatkan foto asli penampakan Black Hole atau “Lubang Hitam untuk kali pertama! Lubang Hitam yang berhasil diabadikan itu luas hingga ketepiannya mencakup 40 milyar kilometer, sedangkan lubang hitamnya seukuran tiga juta kali ukuran planet Bumi, dan telah dinobatkan oleh para ilmuwan sebagai “the monster”.

Black Hole atau Lubang Hitam itu bernama Messier-87 atau disingkat “M87”. dan berjarak 500 juta trilyun kilometer jauhnya dari Bumi! Lubang Hitam M87 itu berhasil difoto oleh jaringan teleskop yang saling berhubungan, sebanyak delapan teleskop yang tersebar di benua Amerika dan Eropa.

Rincian tentang keberhasilan ini telah diterbitkan pada Rabu 10 April 2019 di Astrophysical Journal Letters. Lubang Hitam itu ditangkap oleh jaringan teleskop bernama Event Horizon Telescope (EHT), yaitu jaringan teleskop yang saling berhubungan atau linked network telescopes yang berjumlah delapan teleskop sekaligus.

Foto Lubang Hitam untuk kali pertama berhasil diabadikan dari  M87, yang berhasil ditangkap oleh jaringan 8 teleskop bernama EHT atau Event Horizon Telescope. (Credit: EHT)

Prof. Heino Falcke, dari Radboud University di Belanda, yang mengusulkan percobaan itu, mengatakan bahwa Lubang Hitam itu ditemukan di sebuah galaksi bernama Messier-87.

“Apa yang kita lihat ini lebih besar dari ukuran seluruh Tata Surya kita. Lubang Hitam ini memiliki massa sangat berat, yaitu 6,5 milyar kali dari Matahari kita. Dan merupakan salah satu Lubang Hitam terberat yang pernah ada menurut pikiran kami. Ini adalah monster absolut, juara kelas berat Lubang Hitam di alam semesta sejauh ini,” kata Prof Heino Falck.

Pada foto terlampir menunjukkan “ring of fire” atau “cincin api” yang sangat terang disekitar Lubang Hitam, seperti yang dijelaskan oleh Prof Falcke, mengelilingi lubang gelap yang melingkar sempurna.

“Halo” yang terlihat terang disebabkan oleh gas super panas yang jatuh ke dalam lubang. Cahayanya tampak lebih terang dari gabungan miliaran bintang lain di galaksi, itulah sebabnya Lubang Hitam M87 dapat dilihat pada jarak yang begitu jauh yaitu dari Bumi.

“Halo” yang terlihat terang disebabkan oleh gas super panas yang jatuh ke dalam lubang. Cahayanya tampak lebih terang dari gabungan miliaran bintang lain di galaksi, itulah sebabnya Lubang Hitam M87 dapat dilihat pada jarak yang begitu jauh dari Bumi. (Credit: EHT)

Tepi lingkaran gelap yang berada di tengah adalah titik di mana gas memasuki Lubang Hitam, merupakan objek yang memiliki tarikan gravitasi yang begitu sangat besar, bahkan cahaya pun tidak bisa lepas darinya!

Foto tersebut ternyata memang cocok dengan teori para fisikawan bahkan sutradara Hollywood, yang selama ini membayangkan Lubang Hitam, menurut Dr Ziri Younsi, dari University College London, yang merupakan bagian dari tim kolaborasi EHT.

“Meskipun mereka adalah objek yang relatif sederhana, Lubang Hitam menimbulkan beberapa pertanyaan paling kompleks tentang sifat ruang dan waktu, dan akhirnya keberadaan kita. Sungguh luar biasa bahwa gambar yang kita amati sangat mirip dengan yang kita dapatkan dari perhitungan teoretis kita. Sejauh ini, sepertinya Einstein benar sekali lagi,” kata Dr Ziri Younsi.

Tetapi kepemilikan gambar pertama ini akan memungkinkan para peneliti untuk belajar lebih banyak lagi tentang benda-benda langit nan misterius ini. Mereka akan tertarik untuk mencari cara yang diharapkan dalam fisika, yaitu: bagaimana Black Hole tercipta, atau terbentuk dari apa?

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cincin cerah di sekitar lubang tercipta. Yang lebih menarik adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika sebuah benda jatuh ke dalam Lubang Hitam.

Tepi lingkaran gelap yang berada di tengah adalah titik di mana gas memasuki Lubang Hitam, merupakan objek yang memiliki tarikan gravitasi yang begitu sangat besar, bahkan cahaya pun tidak bisa lepas darinya. (Credit: EHT)

Prof Falcke memiliki ide untuk proyek ini ketika dia masih mahasiswa PhD pada tahun 1993. Pada saat itu, tidak ada yang mengira ide itu mungkin. Tetapi dia adalah orang pertama yang menyadari bahwa jenis emisi radio tertentu akan dihasilkan di dekat dan di sekitar Lubang Hitam, yang akan cukup kuat untuk dideteksi oleh teleskop di Bumi.

Dia juga ingat pernah membaca sebuah makalah ilmiah dari tahun 1973 yang menyarankan bahwa karena gravitasi yang sangat besar, Lubang Hitam muncul 2,5 kali lebih besar dari yang sebenarnya.

Animasi Blackhole atau Lubang Hitam dan sinar gamma (gamma-ray)

Dua faktor ini tiba-tiba membuat yang tampaknya mustahil, menjadi mungkin. Setelah memperdebatkan kasusnya selama 20 tahun, Prof Falcke membujuk the European Research Council atau Dewan Riset Eropa, untuk mendanai proyek tersebut.

The National Science Foundation dan agen-agen di Asia Timur kemudian bergabung untuk membiayai proyek tersebut hingga lebih dari £40 juta poundsterling.

Ini adalah investasi yang telah berhasil dibuktikan dengan publikasi gambar. Prof Falcke mengatakan bahwa dia merasa bahwa “misinya tercapai”. Dia berkata: “Ini perjalanan yang panjang, tetapi ini yang ingin saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya ingin tahu apakah ini nyata?”

Tidak ada teleskop tunggal yang cukup kuat dan mampu untuk mengabadikan Lubang Hitam. Jadi, untuk melakukan sebuah percobaan terbesar dari jenis benda langit yang besar ini, Prof. Sheperd Doeleman dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics memimpin proyek tersebut untuk kemudian membangun jaringan teleskop-teleskop yang terdiri dari delapan teleskop yang saling terhubung.

Jaringan yang terdiri dari delapan teleskop yang saling terhubung, bersama-sama membentuk Event Horizon Telescope (EHT)  sebagai “array” atau kesatuan teleskop, yang terdiri dari teleskop-teleskop dan menjadikannya mirip sebuah teleskop seukuran planet Bumi!

Bersama-sama, mereka membentuk Event Horizon Telescope (EHT) dan dapat dianggap sebagai array atau kesatuan teleskop, yang terdiri dari teleskop-teleskop, yang seakan menjadikannya sebuah teleskop seukuran planet Bumi! Wow!

Masing-masing teleskop terletak di dataran tinggi di berbagai situs eksotis, termasuk di gunung berapi di Hawaii dan Meksiko, di pegunungani Arizona, di Sierra Nevada Spanyol, di Gurun Atacama Chili, dan di benua Antartika.

Sebuah tim yang terdiri dari 200 ilmuwan bersama-sama mengarahkan semua teleskop tersebut yang sudah membuat jaringan bersama, ke arah M87 dan memindainya, selama 10 hari!

Informasi yang mereka kumpulkan terlalu banyak untuk dikirim melalui internet. Sebagai gantinya, data disimpan pada ratusan hard-drive yang diterbangkan ke pusat pemrosesan di Boston AS, dan juga di Bonn Jerman, untuk mengumpulkan informasi dan data yang diperoleh.

Katie Bouman yang seorang mahasiswa PhD di MIT, mengembangkan algoritma dan mengumpulkan data dari EHT. Tanpa kontribusinya, proyek ini tidak akan mungkin terjadi. Prof. Doeleman menggambarkan pencapaian itu sebagai “prestasi ilmiah yang luar biasa”.

Katie Bouman seorang mahasiswa PhD di MIT berfoto dengan puluhan hard-drive berisi jutaan data dari proyek ini. Ia mengembangkan algoritma dan mengumpulkan data dari EHT. Tanpa kontribusinya, proyek ini tidak akan mungkin terjadi. Pertanyaanya: Ini cewek otaknya isinya apaan ya? Hehe.

“Kami telah mencapai sesuatu yang dianggap mustahil hanya satu generasi yang lalu. Terobosan dalam teknologi, koneksi antara observatorium radio terbaik di dunia, dan algoritma inovatif, semuanya datang bersama-sama untuk membuka jendela yang sama sekali baru tentang Lubang Hitam,” ujar Prof. Doeleman.

Tim ini juga mencitrakan Supermasif Black Hole atau “Lubang Hhitam Super Besar” di pusat galaksi kita sendiri, Galaksi Bima Sakti. Meskipun mungkin terdengar aneh, hal itu justru lebih sulit daripada mendapatkan gambar dari galaksi yang jauhnya 55 juta tahun cahaya.

Hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan yang tidak diketahui, misalnya karena “cincin api” di sekitar Lubang Hitam di jantung Galaksi Bima Sakti jauh lebih kecil dan redup, dan banyaknya bintang-bintang yang menghalangi membuat “polusi cahaya” di semesta, sehingga Lubang Hitam di gakasi kita szendiri lebih sulit untuk diabadikan dengan kualitas baik. (©IndoCropCircles.com)

Monday, January 3, 2022

Api Misterius Ini Telah Membara Setidaknya Selama 6.000 Tahun


Di sebuah taman nasional Australia, empat jam berkendara ke utara Sydney, ada api yang membara di luar kendali. Api ini telah membara setidaknya selama 6.000 tahun.

Dikenal sebagai 'Burning Mountain', api misterius di bawah tanah ini adalah api tertua yang diketahui di planet ini. Beberapa ilmuwan memperkirakan api itu mungkin jauh lebih kuno daripada yang kita pikirkan saat ini.

Terletak di bawah Gunung Wingen di negara bagian New South Wales, Australia, api bawah tanah ini adalah api lapisan batu bara. Wingen sendiri berarti 'api' dalam bahasa masyarakat Wanaruah setempat, komunitas penjaga tradisional wilayah ini.

Sejak menyala, api bawah tanah ini hampir mustahil untuk dipadamkan. Perlahan tapi intens, api ini melakukan perjalanan melalui lapisan batubara yang terbentuk secara alami terjadi di bawah permukaan bumi.

"Tidak ada yang tahu ukuran api di bawah Burning Mountain, Anda hanya bisa menduganya," ujar Guillermo Rein, seorang profesor ilmu api di Imperial College London di Inggris, seperti dilansir Science Alert.

"Kemungkinan api ini berbentuk seperti bola berdiameter sekitar 5 hingga 10 meter, mencapai suhu 1.000 derajat Celsius," jelasnya.

Rein mengunjungi taman nasional bernama Burning Mountain National Park ini pada tahun 2014. Tidak seperti api biasa, api lapisan batu bara di wilayah itu menyala di bawah tanah. Api itu membara, yang berarti tidak ada lidah api dan lebih seperti bara api di acara barbekyu, bukan api batu bara biasa.

Api di Gunung Wingen saat ini menyala sekitar 30 meter di bawah tanah, dan bergerak ke selatan dengan kecepatan sekitar 1 meter per tahun.

Jika Anda mengunjungi taman nasional yang terbuka untuk turis itu, satu-satunya bukti keberadaannya saat ini adalah asap dan abu putih, tanah yang hangat saat disentuh, bebatuan yang berubah warna menjadi kuning dan merah, dan bau belerang yang terpancar seperti ada api di bawah yang memasak mineral-mineral gunung.

Banyak kebakaran lapisan batu bara yang terjadi di dunia, terutama di India, Tiongkok, dan Amerika Serikat, disebabkan oleh campur tangan manusia seperti pertambangan batu bara. Sebagai contoh, pikirkan kebakaran terkenal di bawah Centralia, Pennsylvania, yang telah terbakar selama hampir 60 tahun.

Tapi itu periode kebakaran di Centralia itu hanyalah sekejap mata jika dibandingkan dengan ribuan tahun kebakaran Burning Mountain.

Pertanyaanya, siapakah yang menyalakan api di Burning Mountain? Menariknya, tidak ada yang yakin apa yang pertama kali memicu nyala api tersebut.

Menurut Rein, penyebab alami adalah sumber yang paling mungkin. "Anda tidak dapat mengesampingkan gangguan antropogenik, tetapi kemungkinan besar itu adalah penyebab alami," jelasnya. "Itu bisa jadi kebakaran hutan dari sambaran petir yang memicu singkapan tersebut. Atau bisa juga pengapian dengan pemanasan sendiri."

Pengapian dengan pemanasan sendiri terjadi ketika lapisan batubara cukup dekat dengan permukaan sehingga batubara dapat terpapar oksigen. Jika ada cukup hari cerah dan panas berturut-turut –sesuatu yang akan kita lihat lebih banyak dengan adanya perubahan iklim– permukaan batubara jadi memanas dan menjadi cukup panas untuk memanaskan potongan berikutnya di lapisan, yang akhirnya memicu pengapian atau pembakaran.

Studi menunjukkan bahwa titik pemanasan sendiri untuk batubara dapat berkisar dari hanya 35 hingga 140 derajat Celsius.

Yang mungkin lebih menarik adalah kita juga tidak tahu persis berapa umur api itu. Pengukuran-pengukuran yang telah dilakukan menunjukkan bahwa jalur api itu setidaknya mencakup panjang sekitar 6,5 kilometer.

Hal itu menunjukkan bahwa api tersebut telah menyala setidaknya selama 6.000 tahun. Namun para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa api tersebut mungkin telah menyala lebih lama.

"Bukan hanya berusia 6.000 tahun... setidaknya 6.000 tahun," kata Rein. "Itu sebenarnya bisa berusia ratusan ribu tahun."


 

Kotoran Domba Purba, Ungkap Bangsa Pertama di Kepulauan Faroe

Sekitar tahun 850 M, bangsa Viking melakukan pelayaran dengan kapal yang dikembangkannya, tiba di Kepulauan Faroe yang terpencil, yang terletak antara Norwegia dan Islandia di Atlantik Utara. 

Ternyata, studi yang dikembangkan dan dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment, menunjukkan bahwa bangsa Viking bukanlah orang-orang pertama yang singgah di Kepulauan Faroe.

Sebaliknya, tim berpendapat, kotoran domba purba yang ditemukan para ahli di dasar danau menunjukkan bahwa bangsa Celtic-lah yang menginjakkan kaki di pulau itu, sekitar 300 hingga 500 tahun sebelum kedatangan bangsa Viking.

"Danau adalah arsip yang memfasilitasi informasi lingkungan yang menakjubkan, karena di dalamnya terkumpul material dari lanskap di sekitarnya dalam lapisan sedimennya," tulis Lorelei Curtin kepada Gershon.

Livia Gershon menulisnya kepada Smithsonian Magazine, dalam artikelnya berjudul Ancient Sheep Poop Tells the Tale of the Faroe Islands’ First Inhabitants, yang dipublikasikan pada 21 Desember 2021.

Curtin bersama dengan tim risetnya, menggunakan tabung pemberat untuk menyelam, mengumpulkan inti sedimen sepanjang sembilan kaki yang mewakili 10.000 tahun sejarah dari dasar danau di pulau Eysturoy.

"Analisis temuan dari dasar danau, menunjukkan bahwa sejumlah besar domba peliharaan muncul tiba-tiba dalam catatan geologis, kemungkinan antara tahun 492 dan 512 M di Kepulauan Faroe," imbuh Gershon.

Nicholas Balascio adalah seorang ahli geologi di College of William and Mary. Ia tidak melihat temuan rangka spesifik dari penghuni pertama di Kepulauan Faroe, sehingga risetnya tertuju pada lingkungan, termasuk lewat kotoran domba yang ditemukan.

Temuan tim yang cukup menguatkan, dilakukan dalam riset pada tahun 2013, tentang biji-bijian jelai hangus yang ditemukan di bawah lantai rumah panjang bangsa Viking di Sandoy, salah satu pulau di Kepulauan Faroe.


"Biji-bijian yang ditemukan, diperkirakan berasal dari 300 hingga 500 tahun sebelum kedatangan bangsa Viking di wilayah tersebut," lapor David Nield dalam tulisan Livia Gershon.

Indikasi lain yang menunjukkan adanya pemukim awal di Faroe adalah teks-teks abad pertengahan yang menunjukkan bahwa para biarawan Irlandia mencapai wilayah itu pada awal abad keenam, serta penanda kuburan dan nama tempat Celtic yang tidak bertanggal.

DNA dari penduduk di Kepulauan Faroe modern, menunjukkan bahwa nenek moyang mereka sebagian besar adalah bangsa Viking, sedangkan DNA ibu mereka sebagian besar adalah Inggris atau Irlandia, yang menguatkan adanya pengaruh bangsa Celtic.

Terlepas dari reputasi bangsa Viking dalam bidang pelayaran, orang Skandinavia (termasuk Viking) hanya mengadopsi pelayaran jarak jauh antara tahun 750 dan 820 M, lebih lambat dari beberapa orang Eropa lainnya, termasuk dari bangsa Celtic.







 

Sunday, January 2, 2022

Bocah delapan tahun temukan pedang pra-Viking berumur 1.500 tahun


Seorang bocah delapan tahun menemukan sebilah pedang era pra-Viking saat berenang di sebuah danau di Swedia selama musim panas.

Bocah bernama Saga Vanecek itu menemukan benda purbakala tersebut di danau Vidöstern saat liburan keluarga di kawasan Jönköping.

Pedang itu pada awalnya dilaporkan berumur 1.000 tahun, namun sekarang para ahli di museum setempat meyakini benda itu mungkin berusia sekitar 1.500 tahun.

"Tidak setiap hari kamu menginjak pedang di danau!" kata Mikael Nordström dari pihak museum.

Debit air yang sangat rendah akibat kekeringan, mungkin menjadi faktor mengapa Saga bisa menemukan senjata kuno itu.

"Saya merasakan ada sesuatu di dalam air dan mengangkatnya. Lalu saya seperti memegang sebuah gagang dan saya pergi memberi tahu ayah saya bahwa itu tampak seperti pedang," kata Saga kepada penyiar Radio Sveriges.

Ayah Saga, Andy Vanecek, mengatakan kepada situs berbahasa Inggris The Local, awalnya ia mengira putrinya telah menemukan tongkat atau ranting yang tidak biasa di dalam air.

Ia lantas meminta seorang temannya untuk melihat lebih dekat apakah yang ia temukan itu mungkin sebuah benda kuno.

Museum setempat - yang sekarang turut melestarikan benda bersejarah itu - menyebutkan pedang itu dijaga dengan sangat baik.


Penemuan pedang oleh Saga ini membuat pihak museum dan dewan kota setempat melakukan penggalian lebih lanjut di danau itu, selain pedang mereka juga menemukan sebuah bros dari abad ke-3.

Museum county Jönköping mengatakan bahwa penyelidikan yang berlangsung di danau itu belum selesai dan bisa jadi masih banyak peninggalan-peninggalan kuno di sana.

Saturday, January 1, 2022

Temuan Prasasti Ungkap Dunia Lain di Bawah Bumi


Dalam proses penggalian, arkeolog menemukan sebuah pahatan pada batu yang membentuk sebuah lukisan. Karya tersebut mungkin dibuat 3.200 tahun yang lalu.

Yang menarik, seperti dikutip dari National Geographic, pahatan tersebut mencakup detail "dunia bawah" yang ada di bawah Bumi. Pahatan semacam ini belum pernah ditemukan sebelumnya oleh arkeolog di Mesir, maupun di wilayah Mesopotamia.

Charles Texier, arkeolog sekaligus sejarawan Prancis, melakukan penggalian pada awal tahun 1834 di sebuah kuil. Pada penggalian tersebut, Texier menemukan berbagai macam ukiran pada batu kapur. Ukiran-ukiran tersebut menggambarkan lebih dari 90 sosok berbeda, termasuk hewan, monster, dan dewa.

Relief pahatan batu yang ditemukan melambangkan alam semesta yang terdiri dari dunia bawah, Bumi, dan langit. Gambar itu juga menggambarkan siklus musim yang berulang, fase bulan, serta siang dan malam.

"Kami percaya, kuil itu sepenuhnya mewakili citra simbolis alam semesta. Termasuk tingkat statisnya yaitu Bumi, langit dan dunia bawah. Serta proses siklus pembaruan, siang dan malam, atau musim panas dan musim dingin," jelas seorang peneliti dalam sebuah wawancara di sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Skyscape Archaeology.

Butuh hampir 200 tahun untuk mendapat penjelasan dari lukisan-lukisan tersebut. Para peneliti telah menentukan bahwa representasi dari kosmos yang mencakup Bumi, langit dan "dunia bawah", menunjukkan berbagai mitologi penciptaan.

Di salah satu dinding, terdapat gambar dewi matahari dan dewi badai. Arkeolog menemukan bahwa dewa-dewa ditempatkan di lukisan lebih tinggi dari gambar lainnya.

Dewa tertinggi yang terletak di utara kuil adalah pusatnya, dan dewa lainnya berbaris mengikutinya. Lalu di dinding timur dan barat kuil, terdapat relief fase bulan dan musim, yang menurut para peneliti, menandakan siklus dan kelahiran kembali.

Para ahli memperkirakan bahwa pada masa itu, terdapat sekitar 17 dewa. Di antara dewa satu dengan dewa lainnya, terdapat sebuah tanda berupa garis. Selain itu, ditemukan pula sebuah lukisan yang didedikasikan untuk dunia bawah Bumi, dengan sebuah tanda milik dewa pedang.