About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label alien. Show all posts
Showing posts with label alien. Show all posts

Thursday, October 27, 2022

Ilmuwan: Satelit Jupiter Menjadi Lokasi Terbaik Mencari Kehidupan di Tata Surya


 Satelit Jupiter, Europa, yang penuh es, dianggap menjadi tempat paling menarik bagi para ilmuwan untuk menyelidiki kehidupan di Tata Surya. Di bawah kerak esnya, terdapat lautan cairan dan geiser yang muncul dari celah permukaan bekunya. Fakta ini pun menimbulkan pertanyaan di antara para peneliti: mungkinkah ada kehidupan di sana?

Sebuah penelitian terbaru menyatakan, lautan menjadi salah satu ciri utama bahwa tempat tersebut layak huni. Apakah ada kehidupan di sana atau tidak, masih belum pasti.

Dipresentasikan pada Virtual 2020 Goldschmidt Geochemistry Conferense, para ilmuwan mencoba melihat kemungkinan asal usul dan komposisi lautan Europa.

Berdasarkan data dari teleskop Hubble dan Galileo, tim peneliti yakin bahwa panas di bagian dalam Europa memecah sejumlah mineral sehingga memungkinkan terbentuknya air yang kaya akan berbagai zat seperti karbon dioksida, kalsium, dan sulfat. Menurut para peneliti, perairan ini berevolusi dan berubah menjadi lautan seperti yang ada di Bumi.

“Memang, kemungkinan lautan di Europa berisi belerang. Namun, hasil simulasi kami, ditambah dengan data dari teleskop luar angkasa Hubble, menunjukkan adanya klorida di permukaan Europa—kemungkinan airnya kaya akan klorida yang komposisinya kurang lebih seperti lautan di Bumi. Kami yakin lautan ini layak dihuni kehidupan,” ungkap Mohit Melwani Daswani, pemimpin penelitian dari Jet Propulsion Laboratory NASA.

Studi ini melakukan pemodelan sesuai komposisi, sifat fisik, dan lapisan berbatu Europa. Mencoba menyimulasikan suhu, kedalaman air, serta molekul lainnya dari batuan.

“Europa merupakan salah satu peluang terbaik kami untuk menemukan kehidupan di Tata Surya. Misi NASA, Europa Clipper, akan diluncurkan dalam beberapa tahun mendatang dan penelitian kami bertujuan untuk mempersiapkan misi yang menyelidiki apakah satelit tersebut layak huni,” kata Daswani.

“Hasil pemodelan ini membuat kita berpikir bahwa lautan di satelit lainnya seperti Ganymede atau Titan milik Saturnus, mungkin juga terbentuk oleh proses serupa. Meski begitu, kami masih perlu memahami beberapa poin, seperti bagaimana cairan bermigrasi melalui interior Europa yang berbatu,” pungkasnya.

Thursday, October 6, 2022

Kehidupan di Planet Alien Mungkin Mirip Bumi


Di tahun 1980-an, wahana Galileo terbang melintasi Bumi ketika menuju Jupiter. Dari terbang lintas itu, kita punya kesempatan unik untuk menggunakan alat yang keren untuk melihat dan mengenali ciri-ciri kehidupan dari planet kita sendiri di Bumi. Ciri yang juga tampak pada kehidupan di planet lain.

Ketika Wahana Galileo sedang mengamati Bumi, ada beberapa ciri kehidupan yang bisa dikenali. Area padang rumput dan hutan yang ada di Bumi ini rupanya menyerap lebih banyak cahaya tampak (yang bisa dilihat mata). Ternyata, tumbuh-tumbuhan menyerap cahaya dan mengubahnya jadi energi untuk bisa bertahan hidup.

Tapi, ada juga tipe cahaya yang tidak diserap tumbuhan seperti cahaya inframerah (yang tidak bisa dilihat oleh mata kita). Ini ada hubungannya dengan lokasi tumbuhan yang pertama di Bumi. Jadi, tumbuhan prasejarah atau tumbuhan yang pertama di Bumi itu bertumbuh di dasar laut.

Air laut biasanya dengan cepat menyerap cahaya inframerah, sehingga cahaya tampak bisa masuk jauh ke dalam lautan. Karena itu, tumbuhan prasejarah itu berevolusi untuk bisa bertahan hidup dengan cahaya tampak yang mencapai dasar laut – salah satu ciri agar bisa selamat sampai sekarang.

Bagaimana dengan planet lain?

Bintang yang paling umum ditemukan di alam semesta adalah bintang katai merah. Karena itu, ketika mencari kehidupan lain di luar Bumi, para astronom seringkali mencari di planet yang mengitari bintang katai merah. Bintang katai merah  lebih kecil (0,5 – 1 massa Matahari) dan lebih dingin (~3000K) dari Matahari. Sebagian besar cahaya yang dipancarkan bintang katai merah adalah cahaya inframerah. Hal ini membuat para ilmuwan berpikir kalau hutan dan padang rumput di planet yang mengorbit bintang katai merah akan menyerap lebih banyak cahaya inframerah untuk fotosintesis dibanding tumbuhan di Bumi.

Tapi sepertinya tidak demikian. Jika tumbuhan di planet lain pertama kali bertumbuh di dasar laut dan tumbuhan tidak bisa menerima cahaya inframerah, maka tumbuhan akan mirip dengan yang ada di Bumi. Karena jika fototrof atau organisme yang melakukan fotosintesis di planet lain memanfaatkan inframerah seperti dugaan awal, maka fototrof akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi saat berevolusi dari air ke darat.

Artinya, ada kemungkinan untuk bisa melihat ciri tumbuhan di planet lain, yang ciri-cirinya sangat kita kenal.

Fakta menarik

Tumbuhan pertama di Bumi memulai kehidupannya di Bumi sekitar 3 miliar tahun yang lalu. Saat ini, tumbuhan sudah berevolusi dan kita mengenal sekitar 400000 jenis tumbuhan di Bumi, mulai dari yang sangat kecil seperti bibit sampai pohon yang menjulang tinggi. Jauh lebih besar dari makhluk hidup lain yang ada di Bumi.

Sunday, September 4, 2022

Alien Mungkin Berwarna Ungu, Apa Dasar Pemikiran Para Peneliti?


Manusia mengenal Bumi sebagai "planet biru". Namun, seperti apakah warna Bumi sebenarnya, pada awal planet ini terbentuk?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Astrobiology mengungkapkan bahwa pada awalnya Bumi berwarna ungu, bukan biru. Tentu hal ini memiliki dasar teori.

Peneliti berpendapat, sebelum tanaman hijau menggunakan sinar matahari sebagai energi, organisme ungu kecil sudah mulai melakukannya terlebih dahulu.

Gagasan bahwa Bumi bewarna ungu sebenarnya bukan hal yang baru. Shiladitya DasSarma, ahli mikrobiologi dari Universitas Maryland School of Medicine sudah pernah mengajukan teori ini pada tahun 2007.

Pemikirannya bermula dari serapan energi tumbuhan hijau dan alga yang berfotosintesis. Tumbuhan tersebut diketahui menyerap energi matahari tetapi tidak menyerap cahaya hijau.

Bagi DasSarma, hal tersebut adalah hal yang cukup aneh, mengingat cahaya hijau kaya akan energi. DasSarma kemudian mengatakan bahwa kemungkinan objek lain sudah menggunakan bagian dari spektrum warna ketika proses fotosintesis klorofil berevolusi.

Objek lain maksudnya adalah organisme sederhana yang menangkap energi matahari dengan molekul yang disebut dengan retinal. Pigmen retinal menyerap cahaya hijau dengan baik.

Penelitian yang terbit pada 11 Oktober 2018 mengatakan bahwa pigmen tersebut kemungkinan tidak seefisien klorofil dalam menangkap energi matahari. Walaupun begitu, mereka lebih sederhana.

Yang unik dari hal ini adalah cara pengambilan cahaya oleh pigmen retinal tersebut masih terus berkembang hingga saat ini. Pigmen retinal akan terus ada di dalam bakteri dan organisme bersel satu yang disebut Archaea.

Seperti yang dilansir oleh Kompas.com dari dari Live Science, peneliti Edward Schwieterman menyebutkan bahwa organisme ungu sudah ditemukan di mana-mana, mulai dari lautan sampai Lembah Kering Antartika.


Pigmen retinal juga ditemukan dalam sistem visual hewan yang lebih kompleks. Artinya, organisme ungu ini telah berevolusi sangat awal pada cabang pohon kehidupan.

Bagi DasSarma, kehidupan awal yang bewarna ungu tersebut juga dapat diterapkan dalam pencarian kehidupan asing di ruang angkasa. Yang berarti, ahli mikrobiologi berpikir bahwa alien mungkin juga bewarna ungu. Karena jika kehidupan asing menggunakan pigmen retinal untuk menangkap energi, para astrobiologis hanya perlu untuk mencari tanda kehidupan dengan cahaya tertentu saja.

Schwieterman menyebutkan, klorofil menyerap sebagian besar cahaya merah dan biru, tetapi spektrum yang dipantulkan dari planet yang dipenuhi oleh tumbuhan menunjukkan apa yang disebut sebagai tepi merah vegetasi.

Pantulan merah tersebut merupakan perubahan mendadak dalam pantulan cahaya di bagian spektrum inframerah dekat, di mana tanaman bisa saja tiba-tiba berhentii untuk menyerap panjang gelombang merah dan mulai memantulkannya.

Sebaliknya, menurut Schwieterman, fotosintesis berbasis pigmen retinal memiliki tepi hijau. Hal tersebut terjadi karena mereka menyerap cahaya ke bagian spektrum hijau dan akan mulai memantulkan panjang gelombang yang lebih jauh.

Hingga saat ini, para astobiologis hanya dapat mendeteksi kehidupan di ruang angkasa dengan mendeteksi tepi merah saja. Namun, menurut Schwieterman penemuan tersebut membuat mereka perlu mempertimbangkan untuk mencari tepi hijau juga.

"Jika organisme ini hadir dalam kepadatan yang cukup pada planet ekstrasurya, sifat-sifat refleksi akan dicetak pada spektrum cahaya planet yang dipantulkan," ucap Schwieterman.

Thursday, August 18, 2022

Batuan dan Kerikil yang Tertata Rapi Ditemukan di Mars, Bagaimana Proses Terbentuknya?


Wahana antariksa Opportunity berhasil menangkap citra kawah Persevarence di Mars pada 4 Januari 2018. Dari gambar yang terekam, terungkap adanya batuan di kawah yang serupa dengan batuan di puncak gunung di Hawai. 

Wahana Opportunity menemukan batuan tersebut setelah menyusuri lereng kawah hingga kedalaman 600 kaki atau 183 meter. Batuan dan kerikil yang ada di sana tertata rapi, seperti yang umum dilihat sebagai “rock-stripes” di pegunungan yang ada di Bumi.

Para ilmuwan menduga, susunan batu yang demikian terbentuk akibat tanah basah yang mengalami siklus membeku dan mencair selama bertahun-tahun

Lembah Perseverance diprediksi terbentuk sejak ratusan ribu tahun yang lalu akibat proses alam yang melibatkan air, es, dan angin. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menilai, tiga komponen itulah yang membuat kawah Perseverance menjadi khas, tidak seperti tempat lain di Mars.

Deretan batuan yang ada di Lembah Perseverance mengingatkan peneliti dengan susunan batuan di puncak gunung berapi Mauna Kea di Hawai. Batuan di gunung ini tercipta akibat proses tanah lembek yang mengeras selama semalaman.

Tanah yang sudah padat itu lalu hancur menjadi batuan besar. Pada pagi hari, angin dan gravitasi mendorong potongan batuan tersebut hingga menempati posisi yang teratur. Proses ini terus berulang ribuan kali hingga membentuk pola batuan yang menapak di tanah.

“Lembah Perseverance merupakan tempat yang berharga,” sebut Ray Arvidson, Deputi Investigator Opportunity dari Universitas Washington di St.Louis seperti yang dilansir dari Live Science pada Senin (19/2/2018).

Arvidson dan ilmuwan lain telah menebak bahwa lembah tersebut berbeda dengan tempat lain yang pernah ditemukan sebelumnya oleh wahana antariksa Mars. Para peneliti akan menelaah potret yang terabadikan sebagai bahan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kawah dan batuan di sana.

“Kendati kita belum tahu bagaimana terbentuknya dan sekarang kita menyaksikan permukaannya yang seperti garis-garis batu, ini sangat misterius, sangat menarik,” ujar Ray menambahkan.

Kemiringan ekuator Mars terhadap orbitnya yang tidak menentu menjadi dugaan sementara para peneliti untuk menjawab fenomena pola batuan ini.

Di kutub Mars, air membeku menjadi es. Namun akan menguap ke atmosfer lalu berubah menjadi salju atau embun padat di ekuator. Proses itu disebabkan perubahan kemiringan ekuator.

“Kemungkinan, deretan batuan ini merupakan dampak dari pergeseran kemiringan itu. Bongkahan salju di pinggir lembah meleleh secara berkala. Tanah menjadi lembab di pagi hari karena proses pencairan tersebut. Pada malam hari, tanah kembali memadat lalu meninggalkan jejak pola batuan tersebut,” jelas Arvidson.

Friday, July 8, 2022

Kita Tidak Akan Pernah Bertemu Alien Cerdas, Klaim Ahli Sains

Pencarian kehidupan lain di luar Bumi, sepertinya telah lama dilakukan oleh para ilmuwan, namun belum ada satu pun hasil yang memuaskan. Bahkan untuk menemukan satu planet saja yang benar-benar persis kondisinya seperti Bumi itu teramat sulit. Sedangkan,  sebagian dari kita masih percaya bahwa ada kehidupan cerdas (alien) di luar sana yang sedang memperhatikan kita, atau bisa saja belum kita temukan.

Pencarian alien cerdas ini sudah melibatkan banyak orang, baik itu ilmuwan, maupun organisasi-organisasi tertentu yang dibentuk sengaja untuk tujuan ini.

Seorang penulis sains, Alex Berezow memiliki pandangannya sendiri tentang hal ini. Malah ia merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menentang keberadaan alien.


“Tidak masalah jika kehidupan cerdas ada di tempat lain. Kita tidak akan pernah menemukan satu sama lain,” kata Alex Berezow dalam laporan Mind Matters.

Pertanyaan apakah kita sendirian di alam semesta tetap menjadi salah satu teka-teki filosofis terbesar di zaman kita. Meskipun tampaknya hampir tidak terbayangkan bahwa peradaban kita hanya sendirian di alam semesta yang luas ini, tapi faktanya, bukti yang akurat tentang keberadaan mereka masih belum kita temukan.

Dari perkataan singkat Berezow di atas, sudah jelas sebenarnya yang ia yakini bukanlah ada atau tidaknya alien di luar sana, melainkan susahnya peluang kita untuk dapat menghubungi ‘mereka’.


Akan tetapi, bagi sebagian orang, pertanyaannya bukanlah apakah peradaban alien yang cerdas itu ada atau tidak, melainkan apakah ada kemungkinan kita akan pernah bersentuhan dengan mereka atau tidak.

Ini menjadi sebuah polemik tersendiri dalam usaha pencarian peradaban lain selain di Bumi.

Berezow, yang merupakan editor eksekutif Big Think, menerima kemungkinan bahwa alien memang ada, tetapi dia menyakini bahwa hampir tidak ada kemungkinan kita dapat bertemu dengan mereka.


"Berkat kemajuan dalam astrofisika, kita sekarang tahu bahwa di Bima Sakti saja, ada miliaran eksoplanet, membuat sebagian besar komunitas ilmiah menyimpulkan bahwa kehidupan mungkin ada di tempat lain di alam semesta," kata Berezow.

"Mereka yang tidak percaya sekarang dianggap kooks. Sementara kasus penculikan alien masih belum menjadi arus utama. UFO begitu banyak, sehingga intelijen AS baru saja mengeluarkan laporan tentang mereka," imbuhnya.

Argumen utama yang menentang kemungkinan kita dapat bersentuhan dengan alien adalah bahwa pencarian makhluk itu hanyalah perjalanan antariksa melintasi jarak begitu jauh yang sama sekali tidak praktis.


"Tentu saja, kita bisa naik pesawat ruang angkasa hari ini dan menuju ke planet yang mengorbit bintang terdekat, Proxima Centauri misalnya, tapi bukankah lebih baik kita mengemasi banyak tas pretzel dan menjualnya ini jauh lebih menyenangkan, karena akan memakan waktu sekitar 6.300 tahun untuk sampai ke sana," kata ahli kimia terkemuka, James Tour, sedikit berkelakar.

Meskipun argumen ini terdengar masuk akal, itu juga menyiratkan bahwa kita tidak akan pernah mengembangkan teknologi luar angkasa yang canggih atau membuat penemuan yang dapat membuat perjalanan antariksa antarbintang menjadi lebih mudah.

“Memakai kecepatan perjalanan cahaya? Meskipun begitu, Proxima Centauri tetap saja memiliki jarak empat tahun cahaya. Sisi lain galaksi? Lebih dari 100.000 tahun cahaya jauhnya. Bahkan lubang hitam (untungnya) berjarak ratusan tahun cahaya dari Bumi. Dan lubang cacing, saat ini, merupakan konsep spekulatif,” tutur James Tour.

Kita hanya bisa bilang, jikalau suatu saat nanti perjalanan antarbintang ini dapat terwujud, kemungkinannya sangat kecil kita dapat mengunjungi dunia asing dalam waktu yang dekat.

Friday, December 3, 2021

Meteor Jatuh Ke Bumi, Membawa Fosil Makhluk Luar Angkasa


Struktur fosil pada sampel meteor yang jatuh di Sri Lanka dapat ditafsirkan sebagai bukti tegas adanya biologi, atau bukti kehidupan di luar planet Bumi.

Fosil kecil dalam sampel meteor jatuh di Sri Lanka pada bulan Desember tahun 2012 lalu merupakan bukti adanya kehidupan di luar bumi. Dalam penelitian itu, Wickramasinghe menggunakan mikroskop elektron untuk mempelajari sisa-sisa meteorit besar yang jatuh di dekat Sri Lanka, desa Polonnaruwa pada tanggal 29 Desember 2012.

Fosil Diatom Luar Angkasa Terbawa Meteor

Wickramasinghe, seorang direktur Buckingham Centre for Astrobiology di Universitas Buckingham, Inggris dari makalah Chandra Wickramasinghe yang diterbitkan Journal of Cosmology, menyatakan bahwa dirinya telah menemukan bukti kuat adanya kehidupan di seluruh alam semesta.

Desember lalu, dia dan rekannya menemukan karakteristik mikrostruktur dan morfologi kelas diatom terestrial. Mereka menyimpulkan bahwa adanya struktur semacam ini di luar angkasa dapat ditafsirkan sebagai bukti tegas adanya biologi, atau bukti kehidupan di luar planet Bumi.

fosil-diatom-meteor-sri-lanka

Fosil diatom dari meteor yang jatuh di Sri Lanka

Wickramasinghe dan astronom Sir Fred Hoyle, mengembangkan teori Panspermia, yang menyatakan adanya kehidupan di seluruh alam semesta dan disebarkan melalui meteor dan asteroid.

Identifikasi fosil diatom (kelompok alga plankton yang paling sering ditemui, kebanyakan bersel tunggal) dalam meteorit Polonnaruwa sangat layak dan tidak diragukan, karena dianggap sebagai fragmen komet yang sudah punah.

Pada tahun 1962, Hoyle dan Wickramasinghe mempelopori teori butiran karbon di ruang angkasa untuk menggantikan teori butiran es yang ditentang oleh komunitas astronomi. Tetapi dengan spektroskopi inframerah, teori butiran es menjadi cara baru menggantikan teori debu karbon.

Selama beberapa tahun setelah meneliti berbagai model meteor, Wickramasinghe menyimpulkan bahwa materi ini sangat mirip dengan biomaterial yang ada pada semua data astronomi, dan mempertimbangkan kemungkinan bahwa biologi ataupun mikrobiologi memiliki karakter universal.

Dan tidak ada pengamatan astronomi ataupun informasi baru biologi yang memberikan bukti sebaliknya. Selama hampir lima dekade bukti yang mendukung asal usul kehidupan non-terestrial dan Panspermia telah terakumulasi yang dinilai belum benar.

Semetara astronom Phil Plait menentang temuan Wickramasinghe, dia menyatakan bahwa diatom yang ditemukan pada meteor berasal dari jenis ganggang, tanaman hidup mikroskopis, spesies air tawar yang ditemukan di Bumi.

Dan Wickramasinghe tidak menyangkal bahwa sampel meteor yang dianalisa mengandung diatom air tawar. Akan tetapi,.. ada setengah lusin spesies yang belum mampu diidentifikasi ahli diatom.

Bukti mikroskopis pada sampel meteor jatuh di Sri Lanka tentunya berdampak provokatif, tapi apakah benar-benar membuktikan adanya kehidupan di luar bumi?

Referensi: Fossil Diatoms In A New Carbonaceous Meteorite. Journal of Cosmology, 10 Januari 2013, via Huffington Post 18 Januari 2013.