About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label harta karun danau Guatavita. Show all posts
Showing posts with label harta karun danau Guatavita. Show all posts

Tuesday, October 4, 2022

Tatkala Mesopotamia Temukan Roda, Teknologi Kuno yang Mengubah Dunia


Akibat perkembangan teknologi yang begitu pesat modern ini, sering kali kita menganggap remeh teknologi-teknologi yang bersifat kuno dan sederhana, tetapi sebenarnya telah mengubah dunia. Salah satunya adalah roda.

Lihatlah sekeliling, penggunaan roda ada di mana-mana, baik itu sebagai ban, atau dalam mesin sehari-hari.

Orang mungkin tergoda untuk berpikir bahwa roda hanyalah penemuan sederhana atau bahkan primitif dibandingkan dengan beberapa penemuan seperti gawai mewah yang kita miliki saat ini.

"Roda tertua yang diketahui ditemukan dalam penggalian arkeologis berasal dari peradaban Mesopotamia," tulis Wu Mingren kepada Ancient Origins dalam artikel berjudul "The revolutionary invention of the wheel" yang terbit 2 Juni 2014.

"Penemuan roda itu diperkirakan berasal sekitar 3500 SM silam," imbuhnya. Periode ini dikenal sebagai Zaman Perunggu. Pada periode ini, manusia sudah menanam tanaman, menggembalakan hewan peliharaan, dan memiliki beberapa bentuk hierarki sosial.

Salah satu alasan mengapa roda ditemukan hanya pada titik ini dalam sejarah adalah karena fakta bahwa perkakas logam yang diperlukan untuk memahat lubang dan as roda yang pas terdapat di peradaban Mesopotamia.

"Hal ini mengarah ke alasan berikutnya—roda bukan hanya silinder yang menggelinding di tepinya," tambahnya lagi. Roda Mesopotamia adalah silinder yang terhubung ke platform stasioner yang stabil.

Konsep wheel-axle ini merupakan langkah jenius, tetapi membuatnya memiliki tantangan tersendiri. Ujung poros, serta lubang di tengah roda harus hampir mulus dan bulat sempurna untuk membuatnya bekerja optimal.

Jika fungsi roda gagal mencapai tantangan ini akan mengakibatkan terlalu banyak gesekan antara komponen-komponen ini, dan roda tidak akan berputar.

Meskipun gandar harus pas pada lubang roda, mereka harus memiliki cukup ruang untuk memungkinkan mereka berputar dengan bebas dan lancar. Dengan kata lain, poros roda dibuat agak berongga untuk memungkinkannya berputar dan tidak kesat.

Mengingat kompleksitas kombinasi roda-poros, tidak mengherankan bahwa masyarakat kuno meciptakan roda pada awalnya bukan untuk tujuan transportasi. Sebaliknya, roda telah diklaim pertama kali digunakan oleh pengangkut dan pembuat tembikar.

Setelah perkembangan unsur elemen dalam roda yang sempurna dan menguat, sekira 300 tahun kemudian, penggunaan roda mulai beralih untuk moda transportasi dan mobilitas masyarakat kuno.

Meskipun roda tertua di dunia pertama kali ditemukan di Mesopotamia, gambar paling awal dari gerobak beroda sudah ditemukan di Polandia dan di tempat lainnya di kawasan stepa Eurasia.

Roda Rawa Ljubljana adalah gambaran roda kayu yang ditemukan di ibu kota Slovenia pada tahun 2002 dan diperkirakan berasal dari tahun 3150 SM. Meskipun Mesopotamia memiliki roda tertua yang diketahui, bukti linguistik digunakan untuk mendukung klaim bahwa roda berasal dari stepa Eurasia.

Meskipun roda telah merevolusi cara manusia purba melakukan perjalanan dan mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain, kala itu roda bukanlah penemuan yang sempurna.

Masyarakat kuno lebih senang menggunakan unta sebagai alat pengangkut yang efisien. Namun, meski unta lebih masif digunakan pada zaman kuno di Mesir, roda menjadi penemuan kuno paling visioner sepanjang sejarah.

Hari ini, roda telah mengubah dunia dengan menjelma sebagai teknologi yang mempermudah aktivitas manusia di seluruh dunia, bahkan menjadi elemen moda transportasi tercepat di dunia sekalipun. Roda jugalah yang berperan meningkatkan mobilitas manusia ke seluruh dunia.

Sunday, May 29, 2022

Penemuan Mangkuk Emas Bermotif Matahari di Ebreichsdorf, Austria


Penggalian di Ebreichsdorf, Austria telah dilakukan sejak September 2019. Di tempat ini, para arkeolog menemukan adanya pemukiman kuno yang berasal dari tahun 1300 – 1000 SM. Mereka menemukan mangkuk emas dengan bermotif matahari dan ratusan benda berbahan perunggu.

Dilansir dari Arkeonews, mangkuk ini ditemukan dekat dinding salah satu rumah prasejarah di pemukiman tersebut. Mangkuk memiliki diameter 20 sentimeter dan tinggi lima sentimeter.

Terbuat dari lembaran logam yang sangat tipis, mangkuk ini 90 persen dari emas, 5 persen dari perak dan 5 persen dari tembaga. Para peneliti tengah mencoba untuk mencari tahu dari mana bahan dasar yang digunakan untuk meleburnya.

Pada bagian dalam mangkuk terdapat kawat emas dibungkus bahan organik dan diikat dengan benang emas. Tim peneliti menduga, bahan pembungkus ini mungkin syal dekoratif yang dikenakan selama upacara keagamaan untuk menghormati matahari.

“Ini adalah penemuan penting bagi saya. Saya telah bekerja di beberapa benua, termasuk Mesir dan Guatemala, tetapi sejauh ini saya belum dapat menemukan yang serupa,” ujar Dr. Michal Sip, kepala penggalian di Ebreichsdorf, Austria.

Ini merupakan kali pertama mangkuk dengan jenis ini ditemukan di Austria. Dilansir dari Smithsonian Magazine, wadah seperti ini telah ditemukan di beberapa negara di Benua Eropa misalnya Spanyol, Perancis dan Swiss. Heritage Daily melaporkan hanya ada 30 mangkuk serupa yang ada.


Kepada Polish Press Agency (PAP) Michal Sip mengatakan mangkuk ini merupakan penemuan kedua dari jenisnya yang dari daerah sebelah timur garis pegunungan Alpen. Jenis mangkuk tersebut lebih banyak diketahui dari wilayah utara Jerman, Skandinavia dan Denmark karena diproduksi di sana.

Wadah atau bejana dari emas terkait dengan budaya Urnfield, masyarakat prasejarah yang menyebar ke seluruh benua Eropa mulai abad ke-12 SM. Mereka mendapat nama ini dari ritual pemakamannya yang menempatkan abu dalam guci dan mengubur wadahnya di ladang.

Selain mangkuk emas matahari ini, para ahli juga menemukan sekitar 500 benda perunggu, tembikar tanah liat dan artefak lainnya dari situ ini. Tampaknya, pemukiman prasejarah ini cukup besar.

“Ada banyak temuan berharga dalam bentuk benda perunggu dan emas yang unik di bagian Eropa ini dan begitu juga fakta bahwa pemukiman di Ebreichsdorf begitu besar,” kata Dr. Michal Sip kepada Polish Press Agency.

Setelah ditemukannya barang-barang tersebut, pemerintah Austria turun tangan untuk memastikan keamanan artefak. Mangkuk emas ini akan segera dipamerkan di Museum Kunsthistorisches, Wina. Kepada Remonews, Christoph Bazil, presiden Kantor Monumen Federal Austria menuturkan kekagumannya.

“Penemuan harta karun yang tersembunyi 3.000 tahun yang lalu sangat spektakuler. (Kami) segera menempatkan mangkuk emas yang didekorasi dengan mewah, spiral emas dan sisa-sisa kain tentu emas di bawah perlindungan karena kepentingannya di tingkat Eropa. Penggalian arkeologi di Ebreichsdorf tercatat dalam sejarah dengan harta emas ini,” ungkap Christoph Bazil.

Sementara itu, Franz Bauer selaku direktur OBB-Infrastuktur AG dalam perbincangannya dengan noe.ORF.at mengatakan dengan ditemukannya mangkuk emas ini menjadi tanda bahwa kawasan itu memiliki hubungan perdagangan intensif dengan pemukiman Eropa lainnya. Mangkuk diduga dibuat di tempat lain dan dibawa ke Ebreichsdorf.

Diketahui para arkeolog menemukan artefak ini pada tahun 2020. Namun, pihak berwenang memunturkan untuk menunda publikasi temuan ini sampai analisis yang lebih terperinci selesai. Penggalian di Ebreichsdorf, Austria masih akan terus dilakukan selama enam bulan ke depan.

Tuesday, September 28, 2021

Legenda Nicolas Flamel, Alchemist Yang Hidup Abadi

 

Tak lama setelah kematiannya, kediaman seorang alchemist digeledah oleh para pemburu harta karun. Menurut dugaan banyak orang, sang alchemist memiliki kemampuan merubah logam biasa menjadi emas. Namun penggeledahan itu sia-sia, karena mereka tak menemukan apa pun di sana. Makam alchemist ini yang bersebelahan dengan istrinya kemudian menjadi sasaran berikutnya. Namun saat dilakukan pembongkaran makam, mereka tak percaya jasad yang belum lama terkubur itu menghilang!

Bagi para penggemar novel Harry Potter, nama Nicolas Flamel tidaklah asing. Dikisahkan dalam Harry Potter and The Sorcerer's Stone, alchemis yang merupakan rekan kerja Albus Dumbledore ini memiliki batu bertuah. Ia kemudian menitipkan batu tersebut pada Dumbledore karena batu bertuah itu diincar oleh Lord Voldemort.

Nama Nicolas Flamel juga disebut-sebut dalam novel Dan Brown: The Da Vinci Code Angels & Demons. Di novel tersebut Nicholas Flamel disebut sebagai sosok anggota Biarawan Sion. Siapa Nicolas Flamel sebenarnya? Apakah ia hanya tokoh fiktif atau seorang alchemist yang pernah ada?

Nicolas Flamel adalah sosok nyata. Ia adalah seorang ahli kimia dan geodesi berkebangsaan Perancis yang hidup tahun 1330-1417.  Ia memiliki seorang istri bernama Perenelle Flamel yang berusia 10 tahun lebih tua darinya.

Hal menarik dari Nicolas Flamel adalah bahwa sebenarnya dari sosok ini adalah ia baru dikenal dengan kemampuan merubah logam menjadi emas dan memiliki ramuan elixir of life yang mampu membuat seseorang hidup abadi, justru setelah kematiannya. Selama hidupnya dikisahkan bahwa Flamel memang kerap melakukan uji coba untuk membuat logam menjadi emas, namun konon percobaan-percobaan itu selalu menemui kegagalan.

Hal yang membuat dugaan orang-orang berkembang bahwa ia akhirnya berhasil menguasai ilmu merubah logam menjadi emas adalah tatkala dirinya dan istrinya mendirikan beberapa rumah sakit besar dan memberikan sumbangan dalam jumlah sangat banyak kepada gereja-gereja dan kaum miskin.

Ilustrasi Nicolas Flamel

Dikisahkan bahwa selain seorang ahli kimia, geodesi, Flamel juga ternyata adalah seorang penjual manuskrip. Pada sekitar tahun 1378 ia bermimpi. Dalam mimpinya itu ia berjumpa dengan malaikat dengan sebuah buku tua yang bersinar di tangannya. Ketika akan menerima buku itulah kemudian sosok malaikat dalam mimpinya itu menghilang.

Tak lama kemudian, dalam suatu transaksi jual beli Flamel mendapatkan sebuah buku. Buku tersebut menurutnya sama persis dengan apa yang ia lihat di dalam mimpinya. Buku itu ditulis oleh Abraham Eleazar dan berisikan bagaimana cara mentransmisikan logam dasar menjadi emas. Bahkan dalam setiap 7 halaman buku itu dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi mengenai proses transmisi tersebut. Ia kemudian menceritakan hal ini pada istrinya Perenelle. Ia mengatakan bahwa dirinya tak dapat memahami keseluruhan isi  buku tersebut.

Flamel kemudian berangkat ke Spanyol tepatnya yaitu ke Santiago de Campostella dengan harapan dapat bertemu seorang Yahudi yang mengerti isi buku tersebut. Setahun berada di sana akhirnya Flamel bertemu dengan Master Canches, seorang pedagang barang-barang antik. Canches segera menyadari bahwa buku yang dibawa Flamel tak lain adalah sebuah teks naskah Kabbalah kuno.

Sekembalinya dari Spanyol, Flamel melakukan berkali-kali percobaan hingga pada akhirnya percobaannya berhasil pada tahun 1382. Keberhasilan percobaannya itulah yang kemudian menghantarkannya memperoleh sejumlah besar kekayaan. Buku yang didalami oleh Flamel inilah yang dipercaya membuat Flamel dan istrinya berhasil merubah logam biasa menjadi emas sekaligus membuat pasangan ini menjadi kaya raya hingga akhir hayatnya.

Pada tahun 1410, Nicolas Flamel merancang nisannya sendiri. Dalam nisannya tersebut terukir 3 gambar yaitu Yesus, St. Petrus, dan St. Paul. Batu nisan ini kemudian dipelihara di Musee de Cluny di Paris hingga akhirnya Flamel dikabarkan meninggal dunia 7 tahun kemudian. Perenelle Flamel meninggal dunia tahun 1412 dan setelah 5 tahun kemudian Nicolas Flamel menyusul pada tahun 1417.

Batu nisan Nicolas Flamel

Lima belas  tahun sejak dikabarkan percobaannya memperoleh keberhasilan, Flamel mendirikan 14 rumah sakit besar di kota Paris dan memberikan sumbangan dalam jumlah sangat besar untuk kaum miskin dan gereja-gereja yang ada di sana.

Begitu dermawannya dan termasyurnya pasangan ini sampai-sampai nama salah satu jalan di Paris diambil dari nama Flamel yaitu rue Nicolas Flamel di 4th Arrodissement. Nama sang istri juga menjadi nama salah satu jalan yaitu de rue Perenelle Flamel. Rumah pasangan ini juga saat ini dijadikan penginapan dengan nama Auberge Nicolas Flamel di 51 rue de Montmorency, 3rd Paris.

Auberge Nicolas Flamel

Sepeninggal Flamel, para pemburu harta karun segera menggeledah rumah Flamel dan berharap menemukan bongkahan-bongkahan emas atau kitab ajaib yang menjadi petunjuk yang membuat pasangan tersebut menjadi kaya raya. Namun sialnya mereka tak mendapati apa pun di sana.

Tak berputus asa, mereka kemudian berinisiatif membongkar makam Flamel. Namun betapa terkejutnya orang-orang itu karena mereka tak mendapati Flamel maupun istrinya di dalam kuburannya. Makam itu kosong.

Banyak dugaan bahwa pasangan ini tidak meninggal dunia dan mereka berhasil membuat ramuan hidup abadi (elixir of life). Bahkan beberapa tahun sejak kematiannya, Nicolas Flamel dikabarkan muncul di beberapa tempat di dunia dalam kurun waktu yang berjauhan dan sama sekali tidak menampakkan terkikis usia.

Konon Flamel pergi ke India pada sekitar tahun 1700. Beberapa orang juga melaporkan ia terlihat di sebuah pertunjukan opera di Paris pada tahun 1750. Sampai saat ini sosok alchemist misterius ini dipercaya masih hidup bersama dengan kisahnya yang melegenda.


 

Saturday, September 18, 2021

Legenda El Dorado dan harta karun danau Guatavita

 Sebuah kota yang terbuat dari emas dengan rajanya yang juga bersalutkan serbuk emas, legenda El Dorado telah menjadi salah satu legenda yang paling menarik untuk diceritakan. Banyak orang mengatakan kalau legenda ini hanyalah sebuah imajinasi, namun sebenarnya sebagian rahasia El Dorado boleh dibilang telah terungkap dan danau Guatavita adalah salah satunya.


Ini kisah singkat mengenai El Dorado.

Ketika Christopher Colombus menemukan benua Amerika, kisah mengenai dunia baru yang kaya akan emas sampai ke Eropa. Tidak lama kemudian, para penakluk Spanyol mulai masuk ke peradaban Amerika Tengah dan Selatan termasuk Aztec dan Inca.

Francisco Pizzaro (1475–1541), yang berhasil menaklukkan peradaban Inca yang kaya raya pada tahun 1530an percaya kalau di tempat lain di benua itu masih tersimpan kekayaan tersembunyi yang bernilai besar.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan konfirmasi mengenai hal ini.

Tidak lama setelah penaklukkan itu, seorang pembawa pesan dari suku tidak dikenal muncul di Peru, tempat kerajaan Inca, dengan sebuah pesan untuk Raja Inca. pembawa pesan ini tidak tahu kalau kerajaan Inca telah ditaklukkan oleh Pizarro.

Setelah diinterogasi oleh para prajurit Spanyol, pembawa pesan itu berkata kalau ia adalah anggota salah satu suku di wilayah Bogota. Menariknya, pembawa pesan ini juga menceritakan mengenai sebuah kerajaan lain di wilayah yang sama dimana Rajanya berselimutkan debu emas dan berenang di danau emas.

Legenda yang mereka dengar inilah yang kemudian disebut dengan El Dorado yang berarti "Manusia bersepuh Emas".

Tertarik untuk mendapatkan emas yang lebih banyak, para penakluk dari Spanyol ini kemudian mengirimkan paling tidak lima ekspedisi besar untuk mencari El Dorado.

Salah satu ekspedisi yang dikirim adalah ekspedisi yang dipimpin oleh Gonzalo Jimenez de Quesada yang berangkat pada tahun 1536.

Bersama 500 prajuritnya, Ia masuk ke belantara lebat yang sekarang termasuk wilayah Columbia. Setelah menjelajah cukup lama dan menjumpai berbagai rintangan, Quesada dan timnya menemukan suku Chibca yang kaya raya. Namun, mereka tidak menjumpai raja emas dan danau emas yang dicari.

Tetapi, suku tersebut menceritakan kepada Quesada mengenai sebuah danau misterius di kawah gunung di dataran tinggi Andes di Bogota yang bernama Guatavita. Menurut mereka, setiap tahun, di danau itu, sebuah upacara misterius dilakukan oleh suku setempat yang bernama Muisca sebagai persembahan terhadap dewa mereka.

Sang raja, yang juga disebut Zipa, akan dibaluri dengan lumpur yang kemudian dilapisi lagi dengan debu emas. Setelah itu, ia bersama para tetua suku yang lain akan mengayuh rakit yang berisi emas perak dan perhiasan lainnya hingga ke tengah danau.

Setelah sampai di tengah, mereka akan membuang emas perak itu ke dalam danau. Lalu sang raja akan terjun ke danau untuk membersihkan tubuhnya dari debu emas dan lumpur yang menyelimuti tubuhnya.

Mendengar kisah luar biasa ini, Quesada memutuskan untuk mencari El Dorado.

Ia tidak bisa menemukan suku Muisca atau kota emas yang dimaksud, namun ia berhasil menemukan danau Guatavita.

Ketika penemuan ini diumumkan ke Spanyol, sebuah usaha dilakukan untuk mengeruk danau ini pada tahun 1545. Usaha ini dipimpin oleh Hernan Perez de Quesada, saudara laki-laki dari Jimenez de Quesada.

Quesada menggunakan para pekerja untuk mengeringkan danau dengan ember-ember raksasa. Setelah tiga bulan, level permukaan air danau turun sekitar 3 meter dan Quesada berhasil mendapatkan 18 kilogram emas dari dalamnya.

Pada tahun 1580an, seorang pedagang dari Bogota bernama Antonio de Sepulvada mengerahkan 8.000 penduduk setempat dalam usahanya untuk mengeringkan danau itu dengan cara membuat pintu-pintu air di sisi danau. Ia berhasil menurunkan permukaan danau hingga 20 meter.

Dengan cara ini ia berhasil menemukan emas dalam jumlah yang cukup besar. Namun kemudian sisi danau runtuh dan menewaskan banyak pekerja. Proyek ini kemudian dibatalkan.

Hari ini, kita masih bisa melihat sisi danau yang terpotong, sisa-sisa usaha yang dilakukan oleh Sepulvada.

Pada tahun-tahun berikutnya, ambisi bangsa Eropa untuk menemukan El Dorado muncul kembali ketika seorang pria misterius bernama Juan Martinez menceritakan mengenai sebuah kota emas bernama Manoa. Kota ini bisa saja berhubungan dengan legenda El Dorado, namun bisa juga tidak. Yang pasti, bangsa Eropa semakin percaya kalau Benua Amerika menyimpan kekayaan dalam jumlah besar.

Martinez bercerita kalau ia adalah seorang pengawas amunisi di sebuah kapal Spanyol yang menjelajahi sungai Caroni yang terhubung dengan Sungai Orinoco. Kapal mereka menjelajahi sungai hingga jauh ke dalam hutan belantara. Namun, gudang mesiu yang diawasinya meledak sehingga penjelajahan ini pun dibatalkan. Sebagai hukuman bagi Martinez, ia ditinggalkan di sungai tersebut dengan sebuah sampan.

Lalu, Martinez mengaku berjumpa dengan sekelompok anggota suku indian yang bersahabat. Mereka menutup mata Martinez dengan kain dan membawanya ke kerajaan mereka yang disebut Manoa. Martinez mengatakan kalau Istana raja Manoa yang dikunjunginya itu terbuat dari emas.

Pada tahun 1586, kisah ini sampai ke telinga Sir Walter Raleigh, seorang penjelajah ternama yang pernah mendirikan koloni pulau Roanoke yang legendaris.

Pada tahun 1595, Raleigh bersama rekan-rekannya berlayar menjelajahi sungai Orinoco di Amerika Selatan demi untuk menemukan Manoa. Namun, ekspedisi itu tidak menghasilkan apa-apa. Menariknya, mereka menemukan Jangkar Kapal Spanyol Martinez yang tersisa ketika terjadi ledakan di kapal. Jadi, paling tidak ada bagian dari kisah Martinez yang dapat dipercaya.

Walaupun tidak menemukan kerajaan emas Manoa, Raleigh membawa banyak sampel flora dan fauna yang eksotik serta sebuah batu indah yang menandakan adanya kekayaan alam luar biasa di tempat itu. Raleigh bahkan menulis sebuah buku mengenai penjelajahannya ini.

Raleigh sendiri percaya kalau kota Manoa sebenarnya terletak di wilayah danau Parime di belakang pegunungan wilayah Guyana. Ia bahkan menyediakan sebuah peta yang sangat akurat mengenai letak wialayah ini.

Pada tahun 1618, Raleigh kembali melakukan eskpedisi kedua untuk menemuan kota ini dengan biaya dari kerajaan Inggris. Namun ekspedisi ini juga gagal membawa hasil.

Kisah El Dorado tidak berhenti pada abad pertengahan saja. Para penjelajah abad-abad berikutnya masih terus mencoba menemukan kota emas tersebut. Walaupun begitu, perhatian terhadap danau Guatavita tidak pernah surut.

Pada tahun 1911, sebuah perusahaan pembuat emas kembali mencoba peruntungannya di danau Guatavita. Mereka berhasil membuang sebagian besar air danau itu dengan membuat terowongan dan pintu air. Namun, lumpur danau itu dengan segera mengeras dan hujan segera memenuhi danau itu kembali. Mereka hanya menemukan beberapa objek emas yang kemudian dilelang untuk membayar para investornya.

Pada tahun-tahun berikutnya, minat mencari El Dorado sepertinya mulai berkurang. Kebanyakan orang mulai beranggapan kalau El Dorado mungkin hanya sebuah legenda. Bahkan ada satu pendapat yang mengatakan kalau suku Indian yang menceritakan soal El Dorado mungkin telah berbohong untuk mengalihkan perhatian para penakluk dari desa mereka.

Namun, sebuah petunjuk besar muncul pada tahun 1969.

Dua orang pekerja yang sedang menggali di sebuah gua kecil di dekat Bogota tanpa sengaja menemukan sebuah patung emas. Patung itu berbentuk rakit dengan figur kepala suku dan delapan pria yang sedang mengayuh di atasnya.

Bentuk patung ini segera mengingatkan para peneliti dengan ritual El Dorado yang telah diceritakan selama ratusan tahun. Jadi, legenda itu ternyata benar.

El Dorado memang ada.

Namun, peneliti dari Los Andes University bernama Carl Langebaek punya pendapat sendiri. Menurutnya, El Dorado mungkin hanyalah sebuah produk dari imajinasi para penjelajah. Katanya:
"El Dorado tidak akan pernah ditemukan. Orang-orang akan selalu mencari emas di tempat yang paling mustahil sekalipun. Tidak peduli bahkan jika mereka menemukan satu istana emas sekalipun, selalu ada alasan untuk mencari El Dorado yang lain."
Hari ini, Danau Guatavita terlihat sepi. Bahkan Turis pun jarang keliatan. Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Columbia memutuskan untuk menutup wilayah itu karena orang-orang sering membuang sampah ke dalamnya atau mencuci mobil di sana.

Saat ini hanya ada satu petugas pengawas yang ditempatkan untuk mengawasi danau itu. Jamie Beltran, sang pengawas percaya kalau danau itu meyimpan rahasia El Dorado.

"Saya yakin, emas dari El Dorado ada di dalam sana." Katanya sambil memandang air danau yang tenang.

Apa yang dipercayai oleh Beltran juga dipercaya oleh banyak orang lainnya. Tetapi, mungkinkah suatu hari danau Guatavita akan membuka rahasianya?