About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label meteor. Show all posts
Showing posts with label meteor. Show all posts

Tuesday, October 25, 2022

Kerangka Manusia Berusia 10 Ribu Tahun Ditemukan di Gua Bawah Laut


Penemuan kerangka manusia berusia 10 ribu tahun di gua bawah laut Meksiko, memberikan bukti baru bahwa manusia pertama kali sampai ke Amerika tidak sebagai populasi tunggal seperti yang dijelaskan dalam teori-teori sebelumnya. Sebaliknya, menurut para peneliti, mereka datang dari berbagai wilayah.  

Para peneliti mengatakan temuan ini memberikan informasi tentang beberapa kelompok pemukim awal yang datang "dari titik geografis yang berbeda".
Kerangka tersebut merupakan milik wanita Paleoindian berusia 30 tahun dan diberi nama Chan Hol 3. Ini karena ia ditemukan di sebuah gua bernama Chan Hol, di dekat kota Tulum, Semenanjung Yukatan, Meksiko.

Para ilmuwan mengatakan, bentuk dan struktur tengkoraknya berbeda dengan kerangka lain yang berasal dari periode sama. Menunjukkan "setidaknya dua populasi Paleoindian berbeda secara morfologi". 

Paleoindian merupakan orang-orang pertama yang sampai dan menempati Amerika. Mereka dipercaya telah melakukan perjalanan melintasi jembatan tanah kuno yang menghubungkan Asia dengan Amerika Utara (yang dikenal dengan nama Beringia pada Zaman Es) lebih dari 12 ribu tahun lalu, sebelum bermigrasi ke wilayah Patagonia di Amerika Selatan. 


Tim yang dipimpin oleh profesor Wolfgang Stinnesbeck, ilmuwan bumi dari Heidelberg University, melakukan penanggalan kerangka menggunakan endapan mineral yang disebut flowstone yang menutupi beberapa tulang jari. Menurut mereka, Chan Hol 3 berusia 9.900 tahun atau lebih tua. 

Analisis struktural menunjukkan bahwa Chan Hol 3 memiliki kepala bundar dengan tulang pipi yang lebar dan kening rata, mirip dengan tiga tengkorak lain dari gua Tulum. Meski begitu, menurut para peneliti, karakteristik tengkorak yang baru ditemukan ini berbeda dengan kerangka Paleoindian berkepala panjang yang ditemukan di wilayah tersebut.

Dr Silvia Gonzales, profesor geologi dan geoarkeologi dari Liverpool John Moores University, mengatakan: "Kerangka Tulum ini mengindikasikan bahwa ada satu kelompok atau lebih yang pertama kali mencapai benua Amerika dari titik geografis yang berbeda. Atau ada waktu yang cukup bagi sekelompok pemukim awal yang hidup sendirian di Semenanjung Yucatan, untuk mengembangkan morfologi tengkorak yang berbeda."

"Dengan kata lain, sejarah permukiman awal Amerika tampaknya lebih rumit dan mungkin bermula ribuan tahun lebih cepat dari yang diyakini selama ini," imbuhnya. 

Monday, September 26, 2022

Letusan Gunung Berapi, Pemicu Skotlandia Gabung dengan Britania Raya


Selama tujuh tahun yang mengerikan, terjadi di tahun 1690-an, gagal panen, desa-desa pertanian mulai ditinggalkan, dan kelaparan parah, membunuh hingga 15% dari seluruh penduduk Skotlandia. 

Orang-orang Skotlandia telah menyadari bahwa dampak dari letusan dahsyat gunung tropis disana, merupakan malapetaka yang tertulis dalam Alkitab. Mereka menyebutnya dengan Scottish Ills atau Penyakit Skotlandia.

"Malapetaka Scottish Ills, telah mengantarkan ke era dimana kondisi ekonomi yang melumpuhkan," tulis Sid Perkins kepada Science. Ia menulis dalam artikelnya berjudul How a volcanic eruption helped create modern Scotland, publikasi tahun 2019.

Segera setelah ledakan dan erupsi dahsyat itu, negara yang sebelumnya merdeka, memutuskan bergabung dengan Inggris Raya. Sekarang, para peneliti telah mengkaji, dampak letusan gunung berapi yang berjarak ribuan kilometer jauhnya, mungkin telah memicu transformasi politik ini.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa gunung berapi dapat mengubah iklim bumi. Selama letusan besar, tetesan asam sulfat yang menyebarkan cahaya mencapai stratosfer dan menyebar ke seluruh dunia, memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke ruang angkasa dan mendinginkan planet ini. 

"Musim dingin seperti itu dapat berlangsung dari beberapa bulan hingga beberapa tahun—dan dapat membantu memicu kekeringan dan gagal panen," tambahnya. Skotlandia telah mengalami masa terburuk dalam sejarahnya.

"Petunjuk untuk peristiwa seperti itu sering terkunci di lingkaran pohon, yang pertumbuhannya melambat dengan perubahan suhu dan curah hujan yang liar dan tak beraturan," lanjut Perkins.

Tetapi sampai saat ini, para peneliti tidak memiliki catatan mengenai bencana besar di Skotlandia utara, di mana dampak terburuk dari kelaparan terjadi disana. Para ilmuwan di Skotandia menyatukan catatan lengkap tentang iklim lokal dari tahun 1200 hingga 2010, untuk dapat membuktikannya.

"Para ilmuwan menggunakan data pencarian dari pohon-pohon dan kayu yang masih hidup yang jatuh ke danau, di mana mereka disimpan selama berabad-abad," ungkapnya.


Rosanne D'Arrigo, ahli paleoklimatologi di Lamont Doherty Earth Observatory di Universitas Columbia di Palisades, New York, Amerika Serikat, turut dalam penelitian. Dengan bersemangat, ia menyelidiki kronik ini bersama rekan-rekannya.

Analisis mereka mengungkapkan bahwa dekade terdingin kedua yang terjadi di Skotlandia dalam 800 tahun terakhir, telah berlangsung dari tahun 1695 hingga 1704.

Suhu musim panas selama periode ini sekitar 1,56°C lebih rendah dari rata-rata musim panas dari tahun 1961 hingga 1990, tim melaporkannya ke dalam Journal of Vulcanology and Geothermal Research.

"Semua ini bertepatan dengan dua letusan gunung berapi besar di daerah tropis di kawasan Skotlandia: satu pada tahun 1693 dan yang kedua (yang lebih besar) terjadi pada tahun 1695," sambung Perkins.

Dua pukulan dari dasar bumi yang melemparkan abu dan debu vulkanik, menutup langit-langit Skotlandia, agaknya berdampak pada pendinginan iklim yang ekstrem dan membunuh.

"Skotlandia menjadi sangat dingin yang memicu kegagalan panen dan kelaparan besar-besaran selama beberapa tahun, tim (peneliti dan ilmuwan) berspekulasi," ujarnya.

Gunung berapi tropis bukanlah satu-satunya kutukan di Skotlandia. Teknik pertanian yang relatif tidak canggih, menjadi masalah lain yang memperburuk kondisi pangan di Skotlandia.

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendorong ekspor biji-bijian (yang menyisakan sedikit cadangan ketika panen gagal), dan kegagalan untuk mendirikan koloni Skotlandia di Panama pada tahun 1698, menempatkan negara itu dalam keadaan yang lebih mengerikan.

Masalah-masalah ini, serta depresi ekonomi yang mengikutinya, memotivasi Parlemen Skotlandia untuk mengakhiri kemerdekaannya dan bergabung dengan Inggris Raya, melalui Acts of Union pada tahun 1707.

Tuesday, September 20, 2022

Kapal dan Kuburan Kuno Ditemukan di Kota Bawah Laut di Mesir


Para arkeolog menemukan bangkai kapal Mesir kuno berusia 2.200 tahun yang tenggelam setelah menabrak balok raksasa dari Kuil Amun yang terkenal. Kapal kuno itu ditemukan di bawah Laut Mediterania di Thonis-Heracleion, sebuah kota yang sudah tenggelam sejak lama.

Kapal itu disebut galai cepat, sejenis kapal dengan layar besar yang akan bergerak dengan kecepatan yang relatif tinggi ketika didorong oleh tim pendayung. Galai cepat yang baru ditemukan itu memiliki panjang 82 kaki atau 25 meter dengan lunas datar, fitur yang biasa ditemukan di antara kapal-kapal kuno yang mengarungi Sungai Nil.

Kapal kuno itu "tenggelam setelah terkena balok besar dari Kuil Amun yang terkenal, yang hancur total [selama] peristiwa bencana di abad kedua Sebelum Masehi," kata tim arkeolog dalam sebuah pernyataan email yang dirilis oleh European Institute for Underwater Archaeology.

"Peristiwa bencana" itu mungkin adalah gempa bumi, kata Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir dalam sebuah pernyataan pada 19 Juli 2021, seperti dilansir Live Science. Galai itu terletak di bawah tanah liat dan puing-puing yang berjarak lebih dari 5 meter dari kuil.

Para peneliti menggunakan jenis sonar baru untuk menemukan kapal kuno itu. "Penemuan kapal cepat dari periode ini tetap sangat langka," kata Franck Goddio, Presiden European Institute for Underwater Archaeology, dalam pernyataan institut tersebut.

Kapal itu dibangun dengan teknik mortise-and-tenon, di mana potongan-potongan kayu dengan tonjolan yang disebut tenon ditempatkan ke dalam potongan-potongan kayu dengan lubang yang dipotong ke dalamnya yang disebut mortise. Hasilnya adalah sebuah kapal yang terbuat dari bagian-bagian kayu yang saling bertautan seperti puzzle. Tidak jelas kargo apa, jika ada, yang dibawa kapal galai cepat itu ketika tenggelam.


Di lokasi kota yang tenggelam ini, para arkeolog juga menemukan tanah pemakaman yang telah digunakan sejak 2.400 tahun yang lalu. Tim menemukan tembikar yang dihias dengan rumit, termasuk satu bagian yang tampaknya memiliki gambar ombak yang dilukis di atasnya.

Para arkeolog juga menemukan jimat emas yang menggambarkan Bes, dewa Mesir yang dikaitkan dengan kelahiran dan kesuburan. Orang-orang Mesir kuno terkadang menggunakan gambar dewa untuk melindungi anak kecil dan wanita yang melahirkan.

Tanah pemakaman itu juga ditutupi dengan tumulus besar, tumpukan batu yang biasa digunakan di dunia kuno untuk menandai lokasi pemakaman.


Kota kuno tempat penemuan itu dulunya merupakan tempat tinggal bagi orang-orang Mesir dan Yunani. Kota kuno dikenal sebagai Thonis bagi penduduk Mesirnya dan Heracleion bagi penduduk Yunaninya. Oleh karena itu, para arkeolog modern menyebutnya Thonis-Heracleion. Serangkaian gempa bumi mengakibatkan kota itu secara bertahap jatuh ke laut, sampai benar-benar tenggelam sekitar 1.000 tahun yang lalu.

Kota ini berkembang pada saat banyak orang Yunani datang ke Mesir dan membawa tradisi budaya mereka. Pada 332 Sebelum Masehi, Alexander Agung menaklukkan Mesir dan garis penguasa yang diturunkan dari salah satu jenderalnya akan memerintah Mesir selama tiga abad.

Kota ini ditemukan kembali oleh para arkeolog dengan Kementerian Barang Antik Mesir dan European Institute for Underwater Archaeology pada 1999-2000. Sejak penemuannya, mereka mempelajari sisa-sisa peninggalan di kota kuno yang hilang itu.

Friday, August 12, 2022

NASA Berhasil "Menguping" Suara-suara di Sekeliling Bumi


Antariksa sejatinya tidak kosong, tidak juga sunyi. Kita memang tidak bisa mendengar secara langsung suara di ruang angkasa, tetapi berkat Van Allen probes, dua pesawat antariksa robotik milik NASA, kita bisa "menguping" suara-suara di sekeliling Planet Bumi.

Daerah di sekitar Bumi dipenuhi dengan garis medan magnet dan partikel enerjik yang terjebak, meluncur dalam tarian berkecepatan tinggi di sekitar planet. Partikel-partikel seperti ion dan elektron, terus menerus bertumbukan dengan jenis gelombang elektromagnetik yang dikenal sebagai gelombang plasma.

Gelombang plasma, seperti halnya gelombang samudra yang menderu, menciptakan hiruk pikuk berirama. Dengan alat yang tepat, kita bisa mendengarkan "nyanyian" ini melintasi ruang angkasa.

Berbagai jenis gelombang plasma dipicu oleh berbagai mekanisme, menempati wilayah ruang yang berbeda di sekitar Bumi. (NASA\'s Goddard Space Flight Center/Mary Pat Hrybyk-Keith)
Dua pesawat antariksa Van Allen dilengkapi dengan instrumen yang disebut Electric and Magnetic Field Instrument Suite and Integrated Science (EMFISIS) untuk mengukur gelombang listrik dan magnetik saat mereka mengitari Bumi.

Saat kedua pesawat antariksa itu berjumpa dengan gelombang, sensor-sensornya merekam perubahan frekuensi dari medan magnet dan listrik. Kemudian, para ilmuwan mengubah frekuensi tersebut ke dalam rentang pendengaran manusia, sehingga kita bisa mendengarkan suara-suara antariksa.

Suara yang ditimbulkan gelombang plasma berbeda-beda tergantung lokasinya. Gelombang mode siulan (whistler-mode wave), misalnya. Gelombang ini akan menciptakan suara berbeda ketika berada di plasmaphere, area di sekeliling Bumi yang dipadati oleh plasma dingin, dan ketika berada di luar plasmaphere.

Pertama, mari dengarkan dahulu suara gelombang plasma mode siulan sebelum tiba di plasmaphere:

Saat petir menyambar Bumi, pelepasan listrik dapat memicu gelombang plasma mode siulan. Beberapa gelombang berhasil lolos ke luar atmosfer dan memantul-mantul di sepanjang garis medan magnet Bumi antara kutub utara dan selatan. Karena petir menciptakan rentang frekuensi, dan frekuensi yang lebih tinggi bergerak lebih cepat ketimbang frekuensi rendah, maka suara yang terdengar akan naik-turun.

Ketika gelombang mode siulan ini berada di luar plasmaphere, suara yang terdengar berubah. Sebab, plasma di area ini lebih hangat dan agak renggang, sehingga suara yang dihasilkan pun berbeda drastis. Namanya pun berubah. Gelombang mode siulan sekarang menjadi gelombang chorus (chours wave). Dengarkan baik-baik gelombang chorus di berikut ini:

Rasanya seperti ada di kandang yang penuh dengan burung-burung berisik, ya! Gelombang chorus dihasilkan oleh elektron-elektron berenergi rendah yang menubruk plasma dan berbagi energinya dengan partikel yang sudah ada di plasma. Itulah yang menciptakan nada tinggi yang Anda dengar

Saat gelombang mode siulan bergerak memasuki plasmaphere, para ilmuwan menyebutnya sebagai desis plasmapheric. NASA mendeskripsikannya seperti suara radio statis, tapi sepertinya lebih mirip suara nafas berat seseorang yang memakai pakaian astronaut atau masker selam, deh.

Lantas, apa manfaatnya suara-suara antariksa ini bagi ilmu pengetahuan?

Jangan sampai Anda berpikir bahwa para ilmuwan NASA hanya kurang kerjaan dan memberikan kita jenis \'musik instrumental\' baru untuk menemani kegiatan melamun.

Suara-suara ini tentu saja memiliki nilai saintifik. Memahami bagaimana gelombang plasma dan partikel-partikel berinteraksi dengan plasmaphere dapat membuat kita memahami dan memprediksi cuaca ruang angkasa lebih baik. Dengan demikian, kita bisa melindungi satelit-satelit dan telekomunikasi kita di antariksa.

Thursday, July 21, 2022

Asal-Usul Oumuamua yang Disangka Kapal Alien Akhirnya Terjelaskan

Asal-usul Oumuamua akhirnya bisa terjelaskan. Objek interstellar atau antarbintang yang melewati Bumi pada 2017 itu pernah disangka sebagai kapal alien.

Nama Oumumua yang diberikan untuk objek aneh itu berasal dari bahasa Hawaii yang berarti "pengintai" atau "pembawa pesan". Sebab, objek itu diyakini telah melakukan perjalanan dari sistem bintang lain. inilah yang menjadikannya sebagai objek antarbintang pertama yang pernah terdeteksi.

Tapi objek apakah Oumuamua itu? Beberapa peneliti, termasuk astronom Harvard University Avi Loeb, mengemukakan bahwa benda itu adalah pesawat luar angkasa alien. Yang lain menduga itu adalah asteroid, atau mungkin komet antarbintang.

Kini, sepasang makalah yang telah diterbitkan di dalam jurnal American Geophysical Union menawarkan teori lain, yakni bahwa Oumuamua adalah pecahan dari sebuah planet kecil dari Tata Surya yang berbeda.

"Kami mungkin telah memecahkan misteri apa itu 'Oumuamua, dan kami dapat mengidentifikasinya sebagai bagian dari 'exo-Pluto', sebuah planet mirip Pluto di Tata Surya lain," kata Steven Desch, astrofisikawan di Arizona State Universitas yang menjadi salah satu peneliti dalam riset tersebut, seperti dilansir Business Insider.


Desch dan rekan-rekan penelitinya meyakini bahwa setengah miliar tahun yang lalu, sebuah benda luar angkasa menghantam planet induk Oumuamua. Kejadian tersebut kemudian melemparkan dan membawa Oumuamua menuju Tata Surya kita.

Begitu mendekati Matahari, menurut penjelasan mereka, Oumuamua bergerak makin cepat karena sinar Matahari menguapkan bagian es pada tubuhnya. Komet juga memiliki pola gerakan semacam itu, atau yang dikenal sebagai "efek roket".

Karena susunan material pada Oumuamua tidak diketahui, para peneliti menghitung jenis es apa yang akan menyublim (berubah dari padat menjadi gas) pada tingkat yang dapat menjelaskan efek roket Oumuamua. Mereka menyimpulkan bahwa objek tersebut kemungkinan besar terbuat dari es nitrogen, seperti permukaan Pluto dan bulan Neptunus, Triton.

Saat mendekati Tata Surya kita, dan berarti mendekayti Matahari, Oumuamua mulai melepaskan lapisan nitrogen bekunya. Benda itu memasuki Tata Surya kita pada tahun 1995, meskipun kita tidak menyadarinya pada saat itu, kemudian kehilangan 95 persen massanya dan mencair menjadi serpihan, menurut para peneliti iru.

Pada saat para astronom menyadari keberadaan Oumuamua pada tahun 2017, ia telah menjauh dari Bumi dengan kecepatan 315.431 kilometer per jam (196.000 mph). Jadi mereka hanya punya beberapa minggu untuk mempelajari benda aneh berukuran gedung pencakar langit itu.

Beberapa teleskop di Bumi dan satu di luar angkasa melakukan pengamatan terbatas pada Oumuamua saat objek terbang dan melayang di luar angkasa. Namun begitu, para astronom tidak dapat memeriksanya secara penuh. Oumuamua sekarang sudah terlalu jauh dan terlalu redup untuk diamati lebih jauh dengan teknologi yang ada.


Begitu sedikitnya informasi mengenai Oumuamua yang bisa dikumpulkan oleh para peneliti telah meninggalkan ruang bagi para ilmuwan untuk menawarkan hipotesis mengenai indentitas objek tersebut dan dari mana asalnya. Oumuamua awalnya diklasifikasikan sebagai komet, tetapi faktanya objek tersebut tidak mengeluarkan gas seperti komet.

Putaran, kecepatan, dan lintasan Oumuamua yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan teori gravitasi juga menunjukkan bahwa objek tersebut bukanlah asteroid. Selain itu, bentuk dan profil objek tersebut --panjangnya sekitar seperempat mil (402 meter) tetapi lebarnya hanya 34,75 meter (114 kaki)-- juga tidak cocok dengan bentuk komet atau asteroid mana pun yang pernah diamati sebelumnya.

Dari keunikan gerakannya itu, lalu muncullah teori bahwa Oumuamua adalah pesawat luar angkasa alien. Karena Oumuamua tampaknya berakselerasi atau memiliki percepatan dalam geraknya, bukannya melambat, astronom bernama Avi Loeb sempat berteori bahwa objek itu adalah pesawat luar angkasa alien.

Dalam sebuah buku yang diterbitkannya pada bulan Januari, berjudul Extraterrestrial: The First Sign of Intelligent Life Beyond Earth, Loeb menggambarkan Oumuamua sebagai bagian dari teknologi alien yang mati. Namun, sebuah studi pada tahun 2019 dari sekelompok astronom internasional yang menganalisis semua data Oumuamua yang tersedia, menyimpulkan bahwa teori Loeb tidak mungkin atau tidak masuk akal.

Maka kini, penjelasan sekelompok peneliti dalam studi terbaru tadi, tampaknya memang yang paling masuk akal dengan mengaitkan kecepatan unik gerakan Oumuamua dengan "efek roket". Selain itu, mereka juga memberi penjelasan bahwa bentuk unik Oumuamua dipengaruhi oleh komposisi nitrogen beku yang ada padanya.

"Saat lapisan luar es nitrogen menguap, bentuk tubuh akan semakin rata, seperti halnya sebatang sabun saat lapisan luar terkelupas saat digunakan," kata Alan Jackson, peneliti lainnya, dalam studi tersebut.

Jadi, dengan penjelasan terbaru ini, apakah masih ada yang percaya bahwa Oumuamua adalah kapal alien?

Friday, July 8, 2022

Kita Tidak Akan Pernah Bertemu Alien Cerdas, Klaim Ahli Sains

Pencarian kehidupan lain di luar Bumi, sepertinya telah lama dilakukan oleh para ilmuwan, namun belum ada satu pun hasil yang memuaskan. Bahkan untuk menemukan satu planet saja yang benar-benar persis kondisinya seperti Bumi itu teramat sulit. Sedangkan,  sebagian dari kita masih percaya bahwa ada kehidupan cerdas (alien) di luar sana yang sedang memperhatikan kita, atau bisa saja belum kita temukan.

Pencarian alien cerdas ini sudah melibatkan banyak orang, baik itu ilmuwan, maupun organisasi-organisasi tertentu yang dibentuk sengaja untuk tujuan ini.

Seorang penulis sains, Alex Berezow memiliki pandangannya sendiri tentang hal ini. Malah ia merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menentang keberadaan alien.


“Tidak masalah jika kehidupan cerdas ada di tempat lain. Kita tidak akan pernah menemukan satu sama lain,” kata Alex Berezow dalam laporan Mind Matters.

Pertanyaan apakah kita sendirian di alam semesta tetap menjadi salah satu teka-teki filosofis terbesar di zaman kita. Meskipun tampaknya hampir tidak terbayangkan bahwa peradaban kita hanya sendirian di alam semesta yang luas ini, tapi faktanya, bukti yang akurat tentang keberadaan mereka masih belum kita temukan.

Dari perkataan singkat Berezow di atas, sudah jelas sebenarnya yang ia yakini bukanlah ada atau tidaknya alien di luar sana, melainkan susahnya peluang kita untuk dapat menghubungi ‘mereka’.


Akan tetapi, bagi sebagian orang, pertanyaannya bukanlah apakah peradaban alien yang cerdas itu ada atau tidak, melainkan apakah ada kemungkinan kita akan pernah bersentuhan dengan mereka atau tidak.

Ini menjadi sebuah polemik tersendiri dalam usaha pencarian peradaban lain selain di Bumi.

Berezow, yang merupakan editor eksekutif Big Think, menerima kemungkinan bahwa alien memang ada, tetapi dia menyakini bahwa hampir tidak ada kemungkinan kita dapat bertemu dengan mereka.


"Berkat kemajuan dalam astrofisika, kita sekarang tahu bahwa di Bima Sakti saja, ada miliaran eksoplanet, membuat sebagian besar komunitas ilmiah menyimpulkan bahwa kehidupan mungkin ada di tempat lain di alam semesta," kata Berezow.

"Mereka yang tidak percaya sekarang dianggap kooks. Sementara kasus penculikan alien masih belum menjadi arus utama. UFO begitu banyak, sehingga intelijen AS baru saja mengeluarkan laporan tentang mereka," imbuhnya.

Argumen utama yang menentang kemungkinan kita dapat bersentuhan dengan alien adalah bahwa pencarian makhluk itu hanyalah perjalanan antariksa melintasi jarak begitu jauh yang sama sekali tidak praktis.


"Tentu saja, kita bisa naik pesawat ruang angkasa hari ini dan menuju ke planet yang mengorbit bintang terdekat, Proxima Centauri misalnya, tapi bukankah lebih baik kita mengemasi banyak tas pretzel dan menjualnya ini jauh lebih menyenangkan, karena akan memakan waktu sekitar 6.300 tahun untuk sampai ke sana," kata ahli kimia terkemuka, James Tour, sedikit berkelakar.

Meskipun argumen ini terdengar masuk akal, itu juga menyiratkan bahwa kita tidak akan pernah mengembangkan teknologi luar angkasa yang canggih atau membuat penemuan yang dapat membuat perjalanan antariksa antarbintang menjadi lebih mudah.

“Memakai kecepatan perjalanan cahaya? Meskipun begitu, Proxima Centauri tetap saja memiliki jarak empat tahun cahaya. Sisi lain galaksi? Lebih dari 100.000 tahun cahaya jauhnya. Bahkan lubang hitam (untungnya) berjarak ratusan tahun cahaya dari Bumi. Dan lubang cacing, saat ini, merupakan konsep spekulatif,” tutur James Tour.

Kita hanya bisa bilang, jikalau suatu saat nanti perjalanan antarbintang ini dapat terwujud, kemungkinannya sangat kecil kita dapat mengunjungi dunia asing dalam waktu yang dekat.

Wednesday, July 6, 2022

Koin Paling Berharga di Dunia Dijual di Lelang seharga $18,9 Juta


Pada pekan lalu, perancang sepatu mewah, Stuart Weitzman melelang benda langka yang dijuluki "Tiga Harta Karun". Masing-masing cukup kecil untuk dipegang dengan satu tangan.

Ketiga barang itu memecahkan rekor ketika terjual lebih dari $30 juta di New York. Barang-barang itu diantaranya koin emas mengilap, satu set perangko terkenal yang salah cetak, dan secarik kecil kertas magenta yang populer disebut "perangko paling langka di dunia".

Dari ketiga barang itu, koin Double Eagle tahun 1933 lah yang mencuri perhatian. Ia menjadi koin paling berharga di dunia yang terjual seharga $18,9 juta (sayangnya, si pembeli tidak ingin disebutkan namanya). 

Menurut sebuah pernyataan Sotheby's, Weitzman membeli koin emas $20 seharga $7,59 juta pada tahun 2002.

Koin Double Eagle merupakan mata uang emas terakhir yang dicetak di Amerika Serikat, lapor Reuters. Nilai spesimen yang baru terjual berasal dari statusnya sebagai satu-satunya Double Eagle 1933 milik pribadi yang diketahui bertahan hingga hari ini. 

Presiden Theodore Roosevelt menugaskan Augustus Saint-Gaudens, pematung terkemuka Amerika Serikat untuk membuat koin itu pada awal 1900-an. 

"Saya telah lama ingin melakukan apa yang saya bisa untuk memperbaiki kondisi uang kita yang memalukan, tapi sekarang saya memiliki kesempatan, saya mendekatinya dengan takut dan gemetar," tulis Saint-Gaudens kepada seorang sarjana dan kolektor pada 1905, di laman Sotheby.


Desain akhir Double Eagle secara luas dipuji sebagai salah satu yang paling indah sepanjang masa. Koin yang dicetak pertama kali pada 1907 ini menampilkan Lady Liberty yang melangkah maju ke depan dan elang yang sedang terbang di bagian belakang. 

Owen Edwards pada majalah Smithsonian pada 2008 pernah menjabarkan bahwa pematung itu mendasarkan figur liberty kepada Harriette Eugenia Anderson, model terkenal keturunan Afrika-Amerika dari Carolina Selatan.


Pada 1933, Presiden Franklin Roosevelt memindahkan negara itu dari standar emas dengan harapan memperkuat ekonomi yang dirusak oleh Great Depresion.

Tahun berikutnya, direktur U.S. Mint memerintahkan pencairan semua Double Eagles tahun 1933, yang telah dipukul tetapi tidak pernah dikeluarkan.

Dua spesimen diberikan kepada Smithsonian Institution, yang sekarang menyimpan koin-koin tersebut dalam koleksi National Museum of American History.

Beberapa koin langka lolos dari kehancuran dan berakhir di tangan pribadi. Investigasi kriminal pun terjadi, tetapi pemerintah akhirnya menemukan kembali koin-koin itu, selain yang satu ini.

Karena pertempuran hukum antara Departemen Keuangan AS dan pemilik koin sebelumnya, Double Eagle yang memecahkan rekor inilah satu-satunya dari jenis koin tersebut yang dimiliki oleh orang pribadi secara sah. 

Tuesday, February 1, 2022

Mengapa Ada Orang yang Menjadi Psikopat? Ini Penjelasan Ilmuwan


Psikopat adalah penyakit kejiwaan yang dicirikan oleh tindakan yang bersifat egosentris dan antisosial.

Konsep psikopat saat ini berasal dari Dr. Hervey Cleckley (1947), dalam bukunya “The Mask of Sanity”, yang menggambarkan pola kepribadian dengan tingkat empati dan rasa bersalah yang rendah, kesombongan, daya tarik palsu, dan tidak punya rasa tanggung jawab yang menghasilkan perilaku yang merugikan masyarakat. 

Psikopat sulit dikenali. Sehari-hari, mereka beraktivitas normal, berpendidikan, dan memiliki pekerjaan yang baik. Mereka memiliki kemampuan manipulasi yang baik karena beranggapan pikiran kejamnya tidak dapat diterima oleh masyarakat.

Tidak semua psikopat berakhir di berita pembunuhan dan tindakan kriminal. Sekitar 1% dari populasi orang dewasa tergolong psikopat. Artinya, bisa jadi ada satu orang dari setiap 100 orang kenalan Anda yang tergolong psikopat.

Orang normal selalu memandang yang dilakukan psikopat sebagai “tak punya otak” atau “sudah rusak otaknya.” Kenyataannya, otak orang normal dan otak psikopat memang berbeda. 

Ahli neurosains mengungkapkan bahwa otak seorang psikopat mengalami kerusakan di area prefrontal cortex dan amygdala. Area ini banyak mengatur fungsi empati, rasa takut, dan faktor-faktor lain yang terkait kepribadian.

Kerusakan otak membuat reaksi tubuh yang berbeda pula, misalnya ketika menonton film horror. Reaksi normal yang dialami adalah jantung berdegup dengan kencang, tangan berkeringat, dan napas tertahan. Namun, pada psikopat, bagian otak yang tidak teraktivasi membuat reaksinya lebih tenang dan tanpa ketakutan. 

Efek kerusakan yang dialami psikopat memiliki efek yang hampir sama seperti mereka yang kecelakaan di bagian kepala depan.

Phineas Gage (1848), pekerja rel kereta api, mengalami kecelakaan kerja yang parah, di mana sebilah tombak menembus kepalanya, dan merusak area prefrontal cortex. Gage dilaporkan selamat, namun kerusakan otak yang dialaminya membuat ia menjadi pribadi yang benar-benar berbeda, sampai orang-orang merasa bahwa ia “no longer Gage.”

Gage berubah dari orang yang baik, ramah, sopan, dan mudah bekerja sama, menjadi orang yang kasar, marah, dan sulit berempati. 

Apa penyebab kerusakan otak pada psikopat? 

Yang pertama faktor genetik atau diturunkan dari orang tuanya. Penelitian Waller dkk (2016) pada 561 anak adopsi menunjukkan bahwa adanya faktor bakat psikopat yang diturunkan secara genetik melalui ibu dengan temperamen yang sama.

Penelitian lain, yang dilakukan Kings College London, menunjukkan bahwa prediksi sifat bawaan tersebut sudah dapat terlihat sejak bayi berusia 5 bulan. Pada penelitian tersebut, bayi yang di kemudian hari menunjukkan ciri-ciri indikasi psikopat lebih memilih bola merah dibandingkan wajah orang, ketika dihadapkan pada keduanya. 

Faktor selanjutnya yang paling menentukan adalah pola asuh dalam keluarga. Masih dalam penelitian Waller dkk (2016), anak-anak yang menunjukkan sifat bawaan psikopat pada masa perkembangannya, tidak semua berkembang menjadi seorang psikopat. Waller menunjukkan bahwa pola asuh yang positif berhasil secara signifikan menurunkan masalah perilaku di kemudian hari. 

Psikopat sesungguhnya bersumber dari kesedihan dan rasa marah atas besarnya keinginan untuk dicintai dan dipedulikan. Profil psikopat hampir selalu ditemukan pada keluarga yang bermasalah, seperti bercerai, melakukan kekerasan fisik, seksual, maupun psikologis, pola disiplin yang berubah-ubah dan penuh ancaman, serta keluarga yang abai dan tanpa pengawasan.

Inti dari pola asuh dalam kecenderungan psikopat adalah kurangnya kehangatan dan interaksi orang tua dan anak. 

Kondisi rumah yang pelik semakin diperkeruh oleh lingkungan sekitar yang kurang mendukung. Kondisi masyarakat dengan sosial ekonomi menengah ke bawah adalah wadah yang subur dalam menumbuhkan jiwa psikopat. Sikap abai dari para tetangga dan tekanan hidup yang menyulut keseharian yang keras, semakin mengasah bagian otak reptil manusia.

Tuvblad dkk dalam penelitiannya menyimpulkan faktor lingkungan, termasuk gaya pengasuhan dan lingkungan bertetangga, menyumbang faktor dua kali lipat dibandingkan faktor genetik bawaan.

Friday, December 3, 2021

Meteor Jatuh Ke Bumi, Membawa Fosil Makhluk Luar Angkasa


Struktur fosil pada sampel meteor yang jatuh di Sri Lanka dapat ditafsirkan sebagai bukti tegas adanya biologi, atau bukti kehidupan di luar planet Bumi.

Fosil kecil dalam sampel meteor jatuh di Sri Lanka pada bulan Desember tahun 2012 lalu merupakan bukti adanya kehidupan di luar bumi. Dalam penelitian itu, Wickramasinghe menggunakan mikroskop elektron untuk mempelajari sisa-sisa meteorit besar yang jatuh di dekat Sri Lanka, desa Polonnaruwa pada tanggal 29 Desember 2012.

Fosil Diatom Luar Angkasa Terbawa Meteor

Wickramasinghe, seorang direktur Buckingham Centre for Astrobiology di Universitas Buckingham, Inggris dari makalah Chandra Wickramasinghe yang diterbitkan Journal of Cosmology, menyatakan bahwa dirinya telah menemukan bukti kuat adanya kehidupan di seluruh alam semesta.

Desember lalu, dia dan rekannya menemukan karakteristik mikrostruktur dan morfologi kelas diatom terestrial. Mereka menyimpulkan bahwa adanya struktur semacam ini di luar angkasa dapat ditafsirkan sebagai bukti tegas adanya biologi, atau bukti kehidupan di luar planet Bumi.

fosil-diatom-meteor-sri-lanka

Fosil diatom dari meteor yang jatuh di Sri Lanka

Wickramasinghe dan astronom Sir Fred Hoyle, mengembangkan teori Panspermia, yang menyatakan adanya kehidupan di seluruh alam semesta dan disebarkan melalui meteor dan asteroid.

Identifikasi fosil diatom (kelompok alga plankton yang paling sering ditemui, kebanyakan bersel tunggal) dalam meteorit Polonnaruwa sangat layak dan tidak diragukan, karena dianggap sebagai fragmen komet yang sudah punah.

Pada tahun 1962, Hoyle dan Wickramasinghe mempelopori teori butiran karbon di ruang angkasa untuk menggantikan teori butiran es yang ditentang oleh komunitas astronomi. Tetapi dengan spektroskopi inframerah, teori butiran es menjadi cara baru menggantikan teori debu karbon.

Selama beberapa tahun setelah meneliti berbagai model meteor, Wickramasinghe menyimpulkan bahwa materi ini sangat mirip dengan biomaterial yang ada pada semua data astronomi, dan mempertimbangkan kemungkinan bahwa biologi ataupun mikrobiologi memiliki karakter universal.

Dan tidak ada pengamatan astronomi ataupun informasi baru biologi yang memberikan bukti sebaliknya. Selama hampir lima dekade bukti yang mendukung asal usul kehidupan non-terestrial dan Panspermia telah terakumulasi yang dinilai belum benar.

Semetara astronom Phil Plait menentang temuan Wickramasinghe, dia menyatakan bahwa diatom yang ditemukan pada meteor berasal dari jenis ganggang, tanaman hidup mikroskopis, spesies air tawar yang ditemukan di Bumi.

Dan Wickramasinghe tidak menyangkal bahwa sampel meteor yang dianalisa mengandung diatom air tawar. Akan tetapi,.. ada setengah lusin spesies yang belum mampu diidentifikasi ahli diatom.

Bukti mikroskopis pada sampel meteor jatuh di Sri Lanka tentunya berdampak provokatif, tapi apakah benar-benar membuktikan adanya kehidupan di luar bumi?

Referensi: Fossil Diatoms In A New Carbonaceous Meteorite. Journal of Cosmology, 10 Januari 2013, via Huffington Post 18 Januari 2013.




 

Wednesday, December 1, 2021

Meteorit 25 Ton Berusia 4 Miliar Tahun Ditemukan di China

 Meteorit berukuran besar ditemukan di daerah pegunungan sebelah barat laut China. Batu dengan berat sekitar 25 ton itu diperkirakan salah satu dari meteorit terbesar yang pernah ada.


Batu yang ditemukan di Pegunungan Altai, Provinsi Xinjiang, itu merupakan meteorit yang memiliki kandungan nikel yang banyak—dikenal dengan istilah “meteorit besi”. “Barangkali meteorit ini adalah meteorit besi terbesar kedua,” kata Baolin Zang, spesialis meteorit dari Beijing Planetarium.


Meteorit yang terbesar saat ini ditemukan di Namibia, seberat lebih kurang 60 ton. Zhang mengestimasi, massa meteorit Xinjiang berada pada kisaran antara 25-30 ton.


Meteorit raksasa menonjol keluar dari lempengan granit yang lebih besar. Bagian yang terletak di atas tanah memiliki panjang 2,3 meter dengan lebar separuh panjangnya.

Zhang dalam wawancaranya dengan China Central Television menyebutkan bahwa meteorit berasal dari luar tata surya.

Pada awal bulan ini, Baolin Zhang, seorang peneliti ahli bidang meteorit di Planetarium Beijing, telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki laporan meteor tersebut. Tim naik ke ketinggian puncak 9.500 kaki (2.900 meter), dan mulai mengidentifikasi batu bintang besar dengan warna kecoklatan ini.

Menurut Meenakshi Wadhwa dari Center for Meteorite Studies Arizona State University, sebagian besar meteorit terbentuk 4 miliar tahun lalu, ketika tata surya terbentuk, “Temuan ini potensial untuk memberikan data terkait sejarah pembentukan tata surya.” (icc.wp)


*****