About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label bulan. Show all posts
Showing posts with label bulan. Show all posts

Wednesday, October 26, 2022

Selain COVID-19, Inilah 5 Wabah Paling Mematikan dalam Sejarah


Meski saat ini dunia tengah menghadapi pagebluk COVID-19, tapi peristiwa ini bukanlah hal yang baru dalam peradaban. Ada banyak peristiwa wabah yang terjadi di masa lalu yang mengancam banyak jiwa.

1. Wabah Black Death (1347-1353)

Wabah ini menyebabkan sekitar 50 juta hingga 200 juta populasi di dunia meninggal. Bisa dibilang, Black Death merupakan wabah paling mematikan di dunia.

Para ilmuwan menganggap, wabah ini seperti COVID-19 yang berasal dari Asia. Ia bermula dari Hubei pada 1334, kemudian menyebar hingga ke Eropa melalui jalur dagang yang dilalui orang-orang Mongolia ke Eropa.

Penyakit ini berasal dari bakteri Yersinia pestis  yang terkandung dalam tikus.

Salah satu kota yang paling terdampak dari wabah ini adalah Caffa di Laut Hitam ketika dikepung oleh bangsa Mongol. Para tentara Mongol menggunakan jasad prajuritnya yang mati terkena wabah untuk dilemparkan ke dalam kota.

2. Flu Spanyol (1918-1920)

Flu Spanyol adalah salah satu sejarah wabah yang buruk. Sepertiga populasi Bumi, terinfeksi virus H1N1 karena wabah ini, yang mengakibatkan sekitar 50 juta orang tewas.

Para peneliti masih belum dapat menentukan secara tepat mengenai penyebab virus yang bisa mengakibatkan kematian ini. Mirip dengan COVID-19, saat wabah ini berkembang, masyarakat diperintahkan untuk melakukan karantina, mencuci tangan, dan melakukan
social distancing
.

Penyakit ini diyakini pertama kali muncul pada 1916 di sebuah rumah sakit tentara Inggris di Étaples, Prancis, selama Perang Dunia I. Influenza yang parah ini dengan mudah menyebar ke parit persembunyian tentara Perang Dunia I yang dingin dan basah, hingga selanjutnya menjangkau seluruh dunia.

3. HIV/AIDS (2005-sekarang)

Tahun 2005 hingga 2012, menjadi puncak wabah HIV/AIDS. Wabah ini diduga berasal dari Kongo--ketika virus ditularkan dari simpanse ke manusia pada 1920. Kemudian pada 1981 ditemukan kasus HIV/AIDS di Amerika Serikat yang diidap oleh pria gay dan pengguna heroin.

Menurut UNAIDS, diperkirakan 36 juta orang telah meninggal karena tanda-tanda penyebab AIDS. Yang terparah terjadi di kawasan Sub-Sahara Afrika: terhitung ada 2,7 juta orang terinfeksi HIV, dan 2 juta orang meninggal akibat AIDS.

4. Wabah Justinian (540-542)

Sama dengan Black Death yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, wabah Justinian menyebar dan terus muncul dari waktu ke waktu di Asia, Eropa, dan Afrika selama bertahun-tahun setelah kemunculannya pada 541 M yang kemudian menewaskan jutaan orang.

Wabah ini diyakini dibawa oleh kapal-kapal dagang yang penuh dengan tikus ketika berlayar ke Mesir.

Procopius, seorang akademisi dari Yunani-Bizantium di masa tersebut menulis: “Itu dimulai dari orang-orang Mesir yang tinggal di Pelusium. Mereka terbagi-bagi. Sebagian pergi ke Alexandria dan seluruh Mesir, dan sementara yang lainnya ke Palestina, tetangga Mesir. Dari sana lah wabah kemudian mulai menyebar ke seluruh Bumi.”

Wabah ini dapat ditularkan dari tikus ke manusia melalui gigitan kutu hingga mengakibatkan ruam nanah tumbuh di tubuh, yang umumnya ada di ketiak dan selangkangan, dan menyebabkan demam.

5. Wabah Antonine (165-180)

Gejala dari wabah Antonine ini adalah diare, batuk, demam, tenggorokan kering, dan memiliki papula merah.

Wabah tersebut mengakibatkan para tentara yang melakukan march dari Roma ke Mesopotamia di akhir tahun 165, mengalami sakit. Mereka yang terjangkit memiliki kulit dengan papula merah dan hitam yang akhirnya menjadi keropeng. Wabah pun menyebar ke seluruh Kekaisaran Romawi.

Para peneliti memperkirakan penyakit ini seperti cacar karena mereka yang telah terjangkit dan kemudian sembuh memiliki kekebalan tubuh. 

Berdasarkan legenda, wabah ini disebabkan karena seorang prajurit Romawi tanpa sengaja membuka peti emas di kuil Apollo, dan membebaskan wabah terkutuk dari segelnya yang mengakibatkan para dewa marah. 

Thursday, September 22, 2022

Dua Jasad Anak Singa Beku Ditemukan dalam Kondisi Utuh di Siberia


Lapisan ibun abadi (permafrost) Siberia seakan tidak pernah kehabisan harta karun. Kali ini, peneliti mengumumkan penemuan jasad dua anak singa beku yang tersingkap di bantaran sungai. Para singa ini ditemukan dalam kondisi utuh, dan bahkan masih memiliki bulu yang melingkupi seluruh tubuhnya. Penemuan ini disampaikan dalam jurnal Quaternary pada 4 Agustus 2021. 

Dua singa tersebut berasal dari spesies singa gua Eurasia (Panthera spelaea). Spesies ini diperkirakan mendiami Bumi sejak 600.000 tahun yang lalu, hingga pada akhirnya punah pada 13.000 tahun yang lalu. Mereka dikenal menghuni dataran stepa Eurasia, dan sempat hidup berdampingan dengan manusia purba.

Singa pertama, yang dinamai Boris, merupakan anak singa jantan yang ditemukan di lembah Sungai Semyuelyakh pada tahun 2017. Ia dinamai berdasarkan nama penemunya, Boris Berezhnev, seorang kolektor gading mamut yang menemukan jasad singa itu dalam perjalanan mencari gading.

Sementara itu, anak singa kedua yang berjenis kelamin betina ditemukan pada tahun 2018. Sparta, demikian nama singa kedua itu, ditemukan di bantaran sungai yang sama, hanya berjarak 15 meter dari tempat penemuan Boris.

"Sparta mungkin merupakan jasad hewan zaman es paling awet yang kami temukan. Bulunya mungkin sedikit berantakan, tetapi cambangnya masih terjaga," ungkap Love Dalen kepada CNN. Dalen merupakan profesor evolusi genetik di Centre for Palaeogenetics di Stockholm, Swedia. "Sementara [jasad] Boris sendiri sedikit rusak, tetapi masih cukup baik," lanjutnya.

Para peneliti cukup berhati-hati sebelum menganalisis kedua singa ini. Sebelum diteliti, pengujian dilakukan untuk melihat apakah mereka membawa penyakit menular seperti antraks dan bruselosis. Setelah dinyatakan negatif dari infeksi, barulah peneliti mulai melakukan analisis terhadap kedua singa ini.


Dalam melakukan penelitian, para peneliti melakukan sejumlah metode untuk menelusuri seluk beluk kedua singa ini. Dengan mengekstrak DNA dari keratin yang terkandung di bulu dan kuku singa, para peneliti mampu menemukan jenis kelamin dari Boris dan Sparta.

Selain itu, mereka juga melakukan penanggalan karbon terhadap jaringan tubuh kedua singa ini. Pada awalnya, para peneliti sempat mengira bahwa kedua singa ini bersaudara, tetapi hasil penanggalan karbon terhadap kedua fosil tersebut menyatakan sebaliknya. Fosil Boris berusia sekitar 43.000 tahun, sementara fosil Sparta berusia 27.000 tahun. Perbedaan usia yang sangat jauh untuk lokasi penemuannya yang sangat dekat.

Pemindaian tomografi (CT Scan) terhadap kedua singa ini menunjukkan bahwa mereka sama-sama berumur 1-2 bulan saat kematian mereka. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana ajal menjemput mereka, tetapi peneliti tidak menemukan bekas serangan hewan lain di kedua tubuh mereka. Seperti dilansir dari CNN, pemindaian hanya menemukan retak di bagian tengkorak dan dislokasi rusuk.


"Mengingat keawetan jasad mereka, kemungkinan besar mereka terkubur dengan sangat cepat," tutur Dalen kepada CNN, "mungkin mereka terjebak longsor, atau jatuh ke dalam retakan permafrost." Menurutnya, retakan ibun abadi kerap terjadi akibat pelelehan dan pembekuan saat pergantian musim.

Penemuan kedua singa ini melengkapi koleksi anak singa beku yang ditemukan di Siberia. Dalam periode 2015 hingga 2018, peneliti telah menemukan empat anak singa yang terkubur di bantaran sungai. Sebelumnya, mereka bahkan menemukan jasad dari beragam hewan zaman es, dari serigala, beruang, mamut, badak berbulu, kuda Lena, rusa, hingga bison stepa.

Penelitian ini tidak berhenti sampai di sini saja. Saat ini, mereka tengah melakukan sekuens DNA untuk mengetahui genealogi dan sejarah evolusi dari spesies singa gua ini.

Saturday, September 17, 2022

Temuan 'Kota Emas' Mesir Kuno Mengungkap Kejadian 3.500 Tahun Silam


Sebuah tim dari Arkeolog Mesir telah menemukan apa yang oleh orang-orang sebut sebagai industri raksasa kota metropolitan di utara Luxor—pada zaman modern—yang menggabungkan apa yang orang dahulu sebut sebagai kota Mesir Kuno Thebes (alias Waset).

Para arkeolog menjuluki situs tersebut sebagai "kota emas Luxor yang hilang". Mereka percaya, situs tersebut mungkin telah dikhususkan untuk pembuatan artefak dekoratif, furnitur, dan tembikar, juga barang-barang lainnya.

Prasasti hieroglif yang ditemukan pada tutup bejana anggur berbahan tanah liat di situs tersebut, berasal dari kota ini pada masa pemerintahan firaun dinasti ke-18 Amenhotep III (1386–1353 SM), yang sangat makmur pada masanya. Batu bata berbahan lumpur di situs tersebut juga ditandai dengan tanda ukiran khas Amenhotep III.

Terdapat lebih banyak patung Amenhotep III daripada firaun lainnya. Muminya baru ditemukan pada 1889.  Amenhotep III dimakamkan di Lembah Para Raja. Analisis mengungkapkan bahwa dia meninggal antara usia 40 - 50 tahun. Dan kemungkinan besar, dia menderita berbagai penyakit di tahun-tahun terakhirnya; radang sendi, obesitas, juga abses parah pada giginya.

Putra tertua dan ahli warisnya, Raja Mesir Thutmose, meninggal muda. Lalu tahta raja diberikan kepada putra keduanya, Amenhotep IV, yang segera mengubah namanya menjadi Akhenaten. Ratunya adalah Nefertiti, dan putranya yang pada akhirnya akan naik takhta, adalah bocah laki-laki yang terkenal bernama Tutankhamun.

Akhenaten menolak ajaran politeisme, yang didominasi oleh penyembahan “Amun”. Kemudian memutuskan untuk memulai agamanya sendiri dan menyembah “Aten”. Maka dari itu dia mengubah namanya dari Amenhotep IV menjadi Akhenaten (dan sekarang dikenal sebagai Amarna). Akhenaten juga memindahkan ibu kota dari kota Thebes ke ke lokasi baru yang sekarang menjadi kota Amarna, yang berada di antara Thebes dan Memphis.


Apakah dia seorang revolusioner yang visioner, atau seorang pemeluk agama yang fanatik? Mungkin tidak keduanya—beberapa sejarawan berpendapat bahwa memindahkan ibu kota mungkin lebih merupakan strategi politik dari pihak firaun baru, untuk melepaskan masyarakat Mesir dari cengkeraman para pendeta Amun. Seusai masa pemerintahannya, Tutankhamun naik takhta dan membawa ibu kota ke Memphis. Dia mengakhiri pemberontakan ayahnya Akhenaten, juga memerintahkan pembangunan kuil dan tempat suci lebih banyak di Thebes.

"Tidak diragukan lagi; ini benar-benar penemuan yang fenomenal," kata Salima Ikram, seorang arkeolog yang memimpin Universitas Amerika di unit Egyptology Kairo, kepada National Geographic. "Ini gambaran singkat tentang waktu—Pompeii versi Mesir. Ini mengejutkan."

Betsy Bryan, seorang Egyptologist di Johns Hopkins University, menyebutnya sebagai "penemuan arkeologi terpenting kedua sejak makam Tutankhamun."

Tim arkeolog yang diketuai oleh Zahi Hawass sangat antusias untuk menggali dan menemukan susunan batu bata dari lumpur, yang membentuk dinding zig-zag setinggi sembilan kaki. Dinding tersebut merupakan elemen langka dalam arsitektur Mesir kuno.

Mereka menemukan banyak artefak, seperti cincin, bejana tanah liat, puing-puing patung, alat tenun, juga kumbang besar (yang dianggap suci oleh masyarakat Mesir Kuno). Ditemukan pula ruang dapur, toko roti, dan area produksi batu bata lumpur. Terdapat satu area galian yang berisikan kerangka sapi atau banteng, sedangkan kerangka manusia ditemukan dalam posisi yang ganjil; posisi tangan meregang ke belakang, dan terdapat sisa-sisa tali melingkari lutut.

Tim juga menemukan sebuah wadah berisikan daging berukuran kira-kira dua galon, bertuliskan "Tahun 37". Terungkap pula dua nama penduduk kota dan prasasti yang bertuliskan, "Daging yang telah dikuliti untuk festival Heb Sed ketiga, dari rumah potong di tempat penyimpanan ternak Kha, dibuat oleh tukang daging Luwy."


"Menurut sejarah, satu tahun setelah pot ini dibuat, kota itu ditinggalkan dan ibu kotanya dipindahkan ke Amarna," tulis Hawass pada akun Facebook miliknya. "Tapi apakah benar? Dan mengapa terjadi demikian? Dan apakah kota itu dihuni kembali ketika Tutankhamun kembali ke Thebes? Hanya penggalian lebih lanjut di daerah tersebut yang akan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi 3.500 tahun silam."

Hawass menambahkan catatan yang menarik: "Pekerjaan sedang berlangsung dan misinya mengharapkan untuk mengungkap kuburan tak tersentuh yang penuh dengan harta karun."

Para arkeolog telah menemukan sekumpulan kuburan batu Mesir Kuno, yang menjanjikan, di sebuah pemakaman besar di utara pemukiman.

Thursday, September 15, 2022

Pernah Jadi Lautan Magma, Peneliti Ungkap Reaksi Sulfur Bulan


 Berkat sampel batuan vulkanik yang dikumpulkan selama misi Apollo 15 (tahun 1971) dan Apollo 17 (1974) oleh NASA, para penleiti kini dapat memahami kondisi Bulan di masa purba. Bulan di masa sebelumnya merupakan benda angkasa yang cukup panas dengan limpahan magma di permukaannya.

Lautan magma itu diperkirakan telah melingkupi Bulan selama sekitar 100 juta tahun setelah terbentuk.

Studi terbaru yang diterbitkan di Science Adavances (24/02) membantu menjawab pertanyaan ilmiah tentang komposisi rupa Bulan. Sekaligus, mambantu para ilmuwan selangkah lebih maju untuk memahami sejarah pembentukan dan awal sejarah Bulan.

Sampel itu merupakan batuan vulkanik yang memiliki tanda isotop terkait peristiwa penting selama pembentukan Bulan. Melalui analisa para peneliti dari Brown University, selama peristiwa itu juga seiring dengan pembentukan inti besi Bulan, dan kristalisasi lautan magma.

Dalam laporannya yang diterbitkan di jurnal Science Advances, mereka menggunakan teknik spektometri massa ion sekunder untuk mempelajari sisa-sisa kristal magma yang diambil dari kedua misi NASA itu.

Mereka menilai pula, bahwa yang dibawa NASA merupakan material paling primitif di Bulan. Sehingga mereka dapat mengamati komposisi sulfur, yang dapat mengungkapkan secara detail terkait evolusi lava secara uji kimia.

"Selama bertahun-tahun, tampaknya sampel batuan endapan dari bulan yang dianalisa memiliki variasi yang sangat terbatas dalam rasio isotop sulfur," ujar Alberto Saal, dikutip dari rilis akademik. "Ini menunjukkan bahwa sisi dalam Bulan memiliki komposisi isotop sulfur yang bersifat homogen."

Ciri keunikan sulfur yang menarik dari sampel ini adalah rasio isotop sulfur-34 yang lebih 'berat' dengan sulfur-32 yang lebih ringan. Lewat studi sebelumnya pada sampel vulkanik, studi awal mengungkapkan secara seragam condong pada sulfur-34 yang lebih berat.

Berbeda dengan temuan baru yang mengungkapkan isotop sulfurnya lebih homogen, dengan variasi besar pada elemen dan isotop lain yang terdeteksi pada sampel.

Studi baru ini mengobservasi pada 67 sampel kaca vulkanik dan inklusi lelehannya, seperti gumpalan kecil dari lava cair yang teperangkap di dalam kristal. Lava yang terperangkap dalam inklusi lelehan, sebelum menjadi sulfur dan elemen volatil lainnya terelepas sebagai gas selama erupsi (degassing).

Sehingga sampel itu dapat menjadi alasan kuat untuk diteliti karena mewakili gambaran murni tentang asal-usul lava.

Kemudian lewat teknik spektometri massa ion sekunder, mereka mengukur isotip sulfur pada kaca dan inklusi leleh murni itu. Hasil teknik itu juga bertujuan untuk kalibrasi model proses degassing pada seluruh sampel.

"Setelah kami mengetahui proses degassing itu, maka kami dapat memperkirakan kembali komposisi isotop sulfur asli dari sumber yang menghasilkan lava ini," kata Saal.

Mengapa isotip sulfur-34 lebih berat juga dapat dijelaskan dengan pendinginan dan kristalisasi lebih lanjut saat Bulan masih cukup cair permukaannya. Proses kristalisasi menghilangkan sulfur dari lautan magma, kemudian menghasilkan reservoir padat, dan menjadikannya lebih berat.

Proses itu kemungkinan, menurut para peneliti, merupakan sumber nilai isotop yang lebih berat yang ditemukan di beberapa materi kaca vulkanik dan batuan basal.

"Hasil kami menunjukkan bahwa sampel ini merekam peristiwa kritis dalam sejarah bulan," jelas Saal dilansir dari Eurekalert. "Saat kami terus meneliti sampel ini dengan teknik yang lebih baru dan lebih baik, kami terus mempelajari hal-hal baru."

Ia juga menyampaikan, bahwa ada banyak studi yang akan dilakukan, dan memerlukan lebih banyak sampel lagi untuk dianalisa. Dengan demikian, barulah para peneliti dapat memahami bagaimana komposisi isotip sulfur Bulan




Thursday, August 18, 2022

Batuan dan Kerikil yang Tertata Rapi Ditemukan di Mars, Bagaimana Proses Terbentuknya?


Wahana antariksa Opportunity berhasil menangkap citra kawah Persevarence di Mars pada 4 Januari 2018. Dari gambar yang terekam, terungkap adanya batuan di kawah yang serupa dengan batuan di puncak gunung di Hawai. 

Wahana Opportunity menemukan batuan tersebut setelah menyusuri lereng kawah hingga kedalaman 600 kaki atau 183 meter. Batuan dan kerikil yang ada di sana tertata rapi, seperti yang umum dilihat sebagai “rock-stripes” di pegunungan yang ada di Bumi.

Para ilmuwan menduga, susunan batu yang demikian terbentuk akibat tanah basah yang mengalami siklus membeku dan mencair selama bertahun-tahun

Lembah Perseverance diprediksi terbentuk sejak ratusan ribu tahun yang lalu akibat proses alam yang melibatkan air, es, dan angin. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menilai, tiga komponen itulah yang membuat kawah Perseverance menjadi khas, tidak seperti tempat lain di Mars.

Deretan batuan yang ada di Lembah Perseverance mengingatkan peneliti dengan susunan batuan di puncak gunung berapi Mauna Kea di Hawai. Batuan di gunung ini tercipta akibat proses tanah lembek yang mengeras selama semalaman.

Tanah yang sudah padat itu lalu hancur menjadi batuan besar. Pada pagi hari, angin dan gravitasi mendorong potongan batuan tersebut hingga menempati posisi yang teratur. Proses ini terus berulang ribuan kali hingga membentuk pola batuan yang menapak di tanah.

“Lembah Perseverance merupakan tempat yang berharga,” sebut Ray Arvidson, Deputi Investigator Opportunity dari Universitas Washington di St.Louis seperti yang dilansir dari Live Science pada Senin (19/2/2018).

Arvidson dan ilmuwan lain telah menebak bahwa lembah tersebut berbeda dengan tempat lain yang pernah ditemukan sebelumnya oleh wahana antariksa Mars. Para peneliti akan menelaah potret yang terabadikan sebagai bahan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kawah dan batuan di sana.

“Kendati kita belum tahu bagaimana terbentuknya dan sekarang kita menyaksikan permukaannya yang seperti garis-garis batu, ini sangat misterius, sangat menarik,” ujar Ray menambahkan.

Kemiringan ekuator Mars terhadap orbitnya yang tidak menentu menjadi dugaan sementara para peneliti untuk menjawab fenomena pola batuan ini.

Di kutub Mars, air membeku menjadi es. Namun akan menguap ke atmosfer lalu berubah menjadi salju atau embun padat di ekuator. Proses itu disebabkan perubahan kemiringan ekuator.

“Kemungkinan, deretan batuan ini merupakan dampak dari pergeseran kemiringan itu. Bongkahan salju di pinggir lembah meleleh secara berkala. Tanah menjadi lembab di pagi hari karena proses pencairan tersebut. Pada malam hari, tanah kembali memadat lalu meninggalkan jejak pola batuan tersebut,” jelas Arvidson.

Sunday, August 14, 2022

Dibutuhkan 140 Tahun Untuk Bisa Merasakan Malam di Planet Ini


Bila ada sebuah pertanyaan mengenai planet apakah yang bisa dibilang sebagai planet teraneh di alam semesta, mungkin HD 131399Ab layak mendapat "gelar" tersebut. Bagaimana tidak, planet ini memiliki beberapa fakta yang membuat kita banyak bertanya.

Keanehan pertama adalah bahwa planet dengan jarak 3 kuadriliun ini memiliki tiga buah matahari. Berbeda dengan Bumi yang hanya memiliki satu buah matahari.

Keanehan selanjutnya adalah konfigurasi atau susunannya. HD 131399Ab terletak sangat jauh dari bintang yang terbesarnya, bernama HD 131399A. Saking jauhnya, bisa dibilang HD 131399Ab terletak di perbatasan orbit HD 131399A.

Sementara itu, HD 131399Ab juga terletak sangat dekat dengan bintang lainnya, HD 131399B dan HD 131399C.

Dengan ukuran "tubuh" empat kali ukuran Jupiter, dan posisinya, planet raksasa ini seharusnya sudah terlempar dari jalur orbitnya. Namun hal ini tidak terjadi. Astronom menduga bahwa tidak terlemparnya planet ini dari orbit bukan karena HD 131399Ab sendiri yang mengorbit, tetapi bintangnya pun mengorbit satu sama lain.

HD 131399B dan HD 131399C sama-sama mengorbit HD 131399A. Sementara itu, HD 131399B dan HD 131399C yang berjarak relatif dekat mengorbit satu sama lain. Sulit dibayangkan dan dimengerti? Seperti itulah gambaran kompleksnya sistem di rasi Scorpio tersebut.

"Ini jauh lebih gila dari apa yang diketahui oleh para pakar dinamika planet," ujar Kevin Wagner dari University of Arizona yang menemukan planet itu seperti dikutip Popular Science, Jumat (8/7/2016).

Keanehan sistem yang berlaku di sana memicu keanehan-keanehan lain di planet HD 131399Ab.

Jika manusia tinggal di planet itu, maka manusia pada hari-hari tertentu bisa melihat tiga bintang sekaligus, pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam dalam satu waktu. Bayangkan matahari terbenam, kemudian tambahkan dua lagi matahari, seperti itulah "keindahan" yang akan dilihat.

Namun hal di atas tidak terjadi dalam setiap waktu, karena ketika satu bintang yang lebih besar terbit, dua bintang yang lebih kecil terbenam.

Ada yang tidak kalah aneh dengan gambaran di atas. Bila manusia berada di planet ini, manusia akan mengalami masa aneh dimana selama empat bulan (setara dengan 100 - 140 tahun di Bumi), manusia akan mengalami hari tanpa malam. Siang yang sangat lama. Akan ada manusia-manusia yang sepanjang hidupnya tak pernah melihat malam.

"Inilah sistem di mana saya tak ingin membuat kalender," kata Daniel Apai dari University of Arizona yang juga terlibat riset.

Penemuan planet ini istimewa karena dilakukan dengan pencitraan secara langsung. Kebanyakan planet ditemukan dengan metode transit, melihat kedipan cahaya bintang ketika ada planet yang melintasi mukanya.

Penemuan dengan pencitraan secara langsung bisa dilakukan sebab ukuran HD 131399Ab yang besar menurut sudiut pandang manusia.

Meski demikian, di antara sekian planet yang ditemukan dengan metode pencitraan secara langsung, ukuran HD 131399Ab tergolong yang paling kecil.

Penemuan planet ini dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (7/7/2016) lalu.

(Sumber: Kompas.com)

Saturday, July 2, 2022

Arkeolog Temukan Kemungkinan Manusia Purba Melakukan Hibernasi


Berbagai mamalia tertidur panjang selama musim dingin, atau biasa disebut berhibernasi. Sayangnya, manusia tidak memiliki kemampuan itu, meski jika Anda ingin sekali melakukannya.

Tetapi penelitian terbaru diterbitkan bulan ini, menguak kemampuan tersebut ada pada manusia purba. Meski hasilnya masih terlalu dini dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, penemuan tersebut menyatakan bahwa manusia purba meski memiliki kemampuan, tapi tak sebesar kemampuan mamalia lainnya seperti beruang.

Hibernasi sangat berisiko bagi individu dari spesies tersebut, karena dapat terserang beberapa penyakit, yang umumnya menyerang ginjal setelah hibernasi bila tak memiliki cadangan yang cukup sebelumnya.

Fosil berusia 430.000 tahun yang ditemukan di Gua Sima de Los Huesos, Atapuerca, Spanyol utara tersebut menjadi bukti bahwa salah satu spesies nenek moyang kita, Homo heidelbergensis melakukannya setelah ditinjau oleh arkeolog.

“Bukti penyembuhan tahunan yang disebabkan oleh hibernasi, tidak dapat ditoleransi pada individu remaja (yang menunjukkan) adanya pubertas yang berselang tahunan dalam populasi ini,” tulis Antonis Bartsiokas dari Democritus University of Thrace, Yunani, dan Juan-Luis Arsuaga dari Universidad Complutense de Madrid, dalam temuan mereka yang dipublikasikan di ScienceDirect.

“Hipotesis hibernasi yang konsisten (itu), dengan bukti genetik, dan fakta bahwa hominim Sima de Los Huesos hidup selama zaman es,” ungkap mereka.


Menurut pengamatan mereka, homonim purba ini belum siap berhibernasi, karena pada kerangka mereka memiliki kecatatan seperti, kekurangan vitamin D, tak memiliki cadangan lemak yang cukup, dan pada remajanya memiliki pertumbuhan musiman yang tak lazim.

"Gagasan bahwa manusia dapat menjalani keadaan hipometabolik yang dianalogikan dengan hibernasi mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi fakta bahwa hibernasi digunakan oleh mamalia dan primata yang sangat primitif, menunjukkan bahwa dasar genetik dan fisiologi untuk hipometabolisme semacam itu dapat dipertahankan di banyak spesies mamalia. termasuk manusia, " terang Bartsiokas dan Arsuaga.

Ditambah pula keberadaan mereka yang ditemukan di Gua Sima yang menjadi daya tarik untuk dicocokkan dengan pola hibernasi mamalia pada umumnya. Strategi ini bisa menjadi salah satu solusi bagi manusia purba tersebut untuk bertahan hidup berbulan-bulan, karena kondisi yang sangat dingin di luar.

Bartsiokas dan Arsuaga dalam laporannya yang berjudul Hibernation in Hominins from Atapuerca, Spain Half a Million Years Ago, juga memeriksa anggapan tandingan. Jika manusia Sima melakukan hibernasi, mengapa orang Inuit dan Sámi modern yang tinggal di kondisi dingin yang ekstrim tak melakukannya?

Mereka beranggapan bahwa makanan berlemak seperti rusa dan ikan, menyediakan makanan bagi orang Inuit dan Sámi, sehingga mereka tak perlu lagi berhibernasi. Sedangkan manusia Gua Sima tak punya persediaan makanan sebanyak mereka.

“Keringnya Iberia pada saat itu tidak dapat menyediakan cukup makanan kaya lemak bagi orang-orang Sima selama musim dingin yang keras, membuat mereka menggunakan hibernasi gua,” jelas mereka.

Melansir The Guardian, antropolog forensik Patrick Randolph-Quinney dari Northumbria Unversity, Newcastle berpendapat mengenai temuan tersebut, “Ada penjelasan lain untuk berbagai variasi yang nampak pada tulang yang ditemukan di Sima, dan ini harus dikaji sepenuhnya sebelum kita dapat mengambil kesimpulan yang nyata. [Penelitian] Itu belum selesai, saya yakin.”

"Namun demikian, ide ini sangat menarik yang dapat diuji dengan memeriksa genom manusia Sima, Neanderthal, dan Denisovan untuk mengetahui tanda-tanda perubahan genetik yang terkait dengan fisiologi hibernasi," tambahnya.

Monday, February 28, 2022

Mengapa Bulan Berwarna Merah Ketika Gerhana Total?


Secara teori, Bulan tidak akan terlihat ketika terjadi gerhana Bulan total, karena cahaya Matahari terhalang Bumi, sehingga cahaya Matahari tidak dapat mencapai permukaan Bulan. 

Tetapi, pada beberapa kasus, Bulan tetap terlihat ketika terjadi gerhana Bulan total, misalnya seperti yang terjadi pada 16 Juni 2011. Pada waktu gerhana Bulan terjadi, waktu itu Bulan masih dapat terlihat, meski warnanya terlihat merah—tidak putih cemerlang seperti biasanya. 

Mengapa Bulan berwarna merah ketika terjadi gerhana? Menurut para pakar NASA yang meneliti hal ini, warna merah pada Bulan terjadi karena Bulan tetap terkena cahaya Matahari, meski cahaya itu tidak datang secara langsung dari Matahari, melainkan hasil pantulan atmosfer Bumi yang kemudian mencapai permukaan Bulan. 

Sinar yang dipancarkan Matahari akan dibelokkan, melalui tepi Bumi, kemudian cahayanya terpantul ke Bulan. Jadi, warna kemerahan Bulan berasal dari cahaya yang disaring atmosfer Bumi. Efek visual sama pula yang menyebabkan Matahari terbenam terlihat berwarna kemerahan.

Selain itu, debu dan gas pada atmosfer akan menyerap gelombang warna biru dari sinar Matahari, dan cahaya yang berhasil lewat dari atmosfer akan tampak berwarna merah. Karena itu Bulan juga tampak berwarna merah. 

Atmosfer Bumi bertindak seperti filter—menyerap sebagian besar cahaya berwarna biru, dan menyisakan cahaya merah-oranye yang diteruskan ke permukaan Bulan. Selama tahapan gerhana, Bulan akan berubah dalam beberapa warna, mulai dari abu-abu, ke oranye, dan kuning.

Saturasi warna merah pada Bulan juga bisa tergantung pada ketinggiannya. Pada waktu Bulan lebih rendah, semakin banyak ia terkena cahaya yang dipantulkan atmosfer, dan warnanya pun akan semakin merah. 

Selain itu, kecerahan warna juga dapat dipengaruhi kondisi atmosfer. Partikel ekstra di atmosfer, seperti dari letusan gunung berapi, dapat menyebabkan warna merah pada Bulan terlihat lebih gelap.