About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label mitos. Show all posts
Showing posts with label mitos. Show all posts

Friday, October 21, 2022

Benarkah Orang Romawi Mencuri Dewa-dewa dari Bangsa Yunani Kuno?


Bangsa Romawi sering dituduh mencuri dewa-dewa mereka dari bangsa Yunani. Meski dewa-dewa tertentu seperti Jupiter, Juno, Mars dan Venus mirip dengan gaya Yunani, mereka sama sekali berbeda dengan dewa-dewi Yunani.

Dewa-dewa Romawi — yang tidak jelas maupun yang terkenal — sebenarnya adalah dewa-dewa suku Italik kuno. Atribut dan sifat dewa-dewi Romawi yang unik mencerminkan cara Romawi kuno dalam menafsirkan dunia yang tak terlihat.

Kepercayaan dan praktik spiritual Romawi.

Bangsa Romawi tidak menyebut kepercayaan dan praktik spiritual mereka sebagai agama. Religion atau agama berasal dari bahasa Latin “religo”. Secara harfiah, religo diartikan sebagai untuk mengikat atau mengikat.

Bukti tentang kepercayaan dan praktik spiritual ini sangat jarang dan hanya berupa catatan penulis sejarah yang hidup ratusan tahun kemudian.

Namun dari catatan itu disimpulkan jika orang Romawi tidak menganggap diri mereka terikat untuk melayani atau menyembah satu dewa. Hubungan antara orang Romawi dan dewanya dapat dipandang sebagai quid pro quo atau beri dan ambil.

Animisme dalam kebudayaan Romawi kuno

Orang Romawi menganut paham animisme atau manifestasi kekuatan ilahi melalui alam. Setiap tempat memiliki dewa pelindungnya. Misalnya dewa pelindung sungai dan hutan. Namun, banyak dari roh tanah dan air ini hilang. “Pasalnya, orang Romawi terbiasa untuk menyebut dewa-dewi itu. Namun dinamai atau tidak, mereka selalu dihormati oleh orang Romawi,” tulis Natasha Sheldon di laman History and Archaeology Online.

Bangsa Romawi percaya bahwa roh-roh alam ini memiliki kekuatan ilahi yang disebut numen. Sejak awal, jika seseorang membuka atau membangun di atas sebidang tanah, biasanya untuk menenangkan roh tempat itu dengan pengurbanan. Ini bukan tindakan penyembahan atau penyerahan. Sebaliknya, itu adalah sikap hormat dari tetangga yang baik.


Ovid, penyair Romawi yang terkenal, menggambarkan kelangsungan hidup salah satu ritual semacam itu. Sebuah festival didedikasikan untuk dewa batas, Terminus, yang diadakan setiap tahun pada pagi hari tanggal 23 Februari. Para petani lokal akan bertemu di titik batas tanah mereka, membawa “karangan bunga dan kue” untuk dipersembahkan kepada dewa.

Dewa-dewa Romawi tidak diberi atribut manusia

Selain leluhur yang sudah meninggal, orang Romawi tidak menganugerahi dewa-dewa dengan atribut manusia, kepribadian, atau bahkan jenis kelamin. Setidaknya, itulah yang terjadi pada awalnya.

Roh yang mendiami suatu tempat sangat samar-samar. Cato mencatat bagaimana mereka memulai ritual kepada dewa-dewi hutan dengan mengatakan “jadilah engkau dewa atau dewi.” Ini dilakukan karena tidak ada cara pasti untuk mengidentifikasi jenis kelamin roh tersebut.

Netralitas jenis kelamin ini berlaku sama untuk dewa-dewi yang memiliki nama. Pales, dewa gembala, ditampilkan secara bervariasi sebagai pria atau wanita. Bahkan Venus - yang kemudian dilihat sebagai lambang feminitas ilahi - dianggap tidak memiliki jenis kelamin. “Ini ditunjukkan oleh akhiran kata benda netral dari namanya,” tambah Sheldon.

Seringkali, nama menunjukkan fungsi-fungsi tambahan dari dewa. Janus - dewa ambang, awal dan akhir - mendapatkan namanya dari bahasa Latin ianua atau "gerbang".

Perubahan pada dewa Romawi terjadi setelah kontak dengan Yunani

Karena dewa-dewa mereka tidak memiliki atribut manusia, orang Romawi melihat tidak perlu membangun mitologi yang rumit yang berkaitan dengan dewa. Tetapi kontak dengan budaya Yunani mengubah hal ini. Ketika orang Romawi melihat keuntungan untuk menghubungkan dewa-dewi mereka dengan dewa-dewa dari budaya yang sudah mapan dan bergengsi.

Jadi, orang Romawi mulai memasukkan dewa-dewi tertentu ke dalam struktur mitologi Yunani. “Dewa penting pun diadaptasi dengan peran-peran para dewa Olympia,” ujar Sheldon. Jupiter, sebelumnya adalah dewa langit dan sumpah menjadi Zeus versi Romawi. Sementara Juno, sosok dewi ibu Romawi, menjadi Hera. Mars, yang sebelumnya adalah dewa pertanian dan perang, peran agrarisnya diremehkan ketika ia berperan sebagai Ares.


Banyak dewa yang sebelumnya kecil juga mendapatkan promosi saat mereka mengisi peran Olympian yang tersisa. Venus, sebelumnya merupakan dewa taman kecil, menjadi dewi cinta, dan Neptunus, yang merupakan salah satu dari banyak dewa air Romawi, menjadi dewa laut.

Tidak semua dewa Romawi bisa masuk dalam jajaran bergengsi itu. Namun signifikansi kultusnya masih dipertahankan dalam praktik spiritual Romawi. Dewi Vesta, penjaga Romawi, adalah salah satu contohnya, seperti dewa Janus. Dewa kuno lainnya, seperti Tellus, dewi bumi dan Ceres dewi tanaman, juga tetap ada.

Jadi apakah orang Romawi mencuri dewa-dewi dari Kebudayaan Yunani kuno? Dewa-dewi itu sudah ada sebelum kontak dengan bangsa Yunani. Bangsa Romawi kemudian mengadaptasi dan menambah peran-peran penting dari dewa Yunani.

Tuesday, October 18, 2022

6 Dewa Yunani Homoseksual, Zeus Jatuh Cinta dengan Remaja Pria


Toleransi sering disajikan sebagai tanda kemajuan peradaban. Namun, mitologi Yunani telah mengungkapkan penerimaan yang lebih besar terhadap homoseksualitas di Athena kuno daripada yang terjadi dalam agama-agama dunia saat ini. Dewa Yunani yang penyuka sesama jenis alias LGBT ini membuktikan budaya gay bukanlah penemuan modern. Lalu, siapa saja Dewa penyuka sesama jenis?

Zeus

Zeus terkenal memilih Ganymede, fana muda untuk melayani sebagai juru minumannya di Gunung Olympus. Hubungan tersebut memberikan dasar dari kebiasaan paiderastia, praktik pria Yunani pada saat itu mempertahankan hubungan erotis dengan remaja laki-laki di sampingnya. Ganymede merupakan remaja pria tampan yang berasal dari Troya.

Apollo

Apollo adalah Dewa matahari pernah menjalin kasih dengan berbagai kalangan mulai dari peri, manusia, manusia setengah dewa. Terkenal karena romannya yang tragis, banyak di antaranya dengan pria. Diantaranya yang terkenal ialah kisahnya dengan Hyacinthus dan Kyparissos.

Hyacinthus adalah pangeran Sparta dan pemuda yang sangat tampan. Namun dewa angin Zephyrus dan Boreas, dan Thamyris fana juga menginginkan Hyacinthus. Apollo dan Hyacinthus sering berburu dan berolahraga bersama. Pada suatu hari keduanya melakukan lempar cakram, namun cakram yang dilempar Apollo terkena kekasihnya. Cakram tersebut bisa mengenai Hyacinthus akibat Zefiros yang cemburu pada hubungan keduanya.

Kisah Kyparissos adalah kisah yang lebih pendek, tetapi tidak kalah tragis. Kyparissos diberi rusa peliharaan oleh Apollo. Namun saat berburu, Kyparissos tidak sengaja membunuhnya. Dia begitu diliputi oleh kesedihan sehingga dia memohon kepada Apollo untuk diubah menjadi pohon cemara.

Hermes

Hermes merupakan dewa pembawa pesan. Dia jatuh cinta dengan 3 laki-laki yaitu Amphion, Perseus dan Crocus. Namun diantara ketiganya, Crocus lah kesayangan Hermes. Namun sayangnya, kisahnya berakhir tragis. Hampir mirip dengan kisah Hyacinthus, Crocus mati akibat cakram yang dilemparkan oleh Hermes. Merasa bersalah, Hermes mengubah kekasihnya menjadi bunga indah.

Utusan dewa bertumit sayap dikatakan dalam beberapa mitos memiliki kekasih laki-laki. Dalam variasi mitos Hyacinth, kekasih Hermes, Crocus yang dibunuh oleh cakram yang dilemparkan oleh dewa sebelum diubah menjadi bunga.

Poseidon

Dewa berikutnya yang juga jatuh cinta dengan sesama jenis adalah Poseidon, sang dewa lautan. Tercatat ada 2 laki-laki yang pernah menjalin hubungan, Nerites dan Pelops. Dia adalah anak dari raja Tantalus, dari Sypilus. Namun tubuhnya dipotong-potong oleh sang ayah untuk dihidangkan kepada dewa dewi Olympia. Ketahuan, Tantalus dihukum, sementara Pelops dibangkitkan kembali.

Dari sini lah, Poseidon jatuh cinta. Namun Pelops membuat ulah dengan mencuri makanan hingga Zeus marah dan membuangnya dari Olympus.

Dionysus

Paling dikenal sebagai dewa anggur Yunani, Dionysus juga dewa interseks dan transgender. Pria pecinta dewa termasuk satir Ampelos dan Adonis yang terkenal tampan. Selain itu, Dionysus juga memiliki kisah cinta dengan sang gembala Prosymnus. Awalnya, sang dewa melakukan perjalanan menuju Hades dengan dipandu oleh Prosymnus, yang memimpin jalan. Sebagai imbalan, Prosymnus meminta kesempatan untuk bercinta dengan sang anggur. Ketika Prosymnus meninggal sebelum kesepakatan itu tercapai, dewa menciptakan lingga kayu untuk memenuhi janji secara ritual, menurut penelitian oleh sejumlah sejarawan Kristen, termasuk Hyginus dan Arnobius.

Pan

Pan adalah dewa musik. Pan juga dikenal sebagai dewa alam liar, hewan ternak dan pemburu. Pan sangat menyukai hubungan seks tanpa memandang jenis kelamin, bahkan dengan makhluk apa pun. Nama Pan ini disebut-sebut sebagai asal usul istilah panseksual, yakni ketertarikan kepada orang lain tanpa melihat identitas gender atau jenis kelamin. Panseksual dalam bahasa Yunani berarti semua. Orang yang panseksual bisa jatuh cinta pada laki-laki, perempuan, transgender, biseksual, homoseksual. Wujud dewa ini berbeda dengan yang lain karena penampilannya yang setengah manusia dan setengah kambing.

Tuesday, October 4, 2022

Tatkala Mesopotamia Temukan Roda, Teknologi Kuno yang Mengubah Dunia


Akibat perkembangan teknologi yang begitu pesat modern ini, sering kali kita menganggap remeh teknologi-teknologi yang bersifat kuno dan sederhana, tetapi sebenarnya telah mengubah dunia. Salah satunya adalah roda.

Lihatlah sekeliling, penggunaan roda ada di mana-mana, baik itu sebagai ban, atau dalam mesin sehari-hari.

Orang mungkin tergoda untuk berpikir bahwa roda hanyalah penemuan sederhana atau bahkan primitif dibandingkan dengan beberapa penemuan seperti gawai mewah yang kita miliki saat ini.

"Roda tertua yang diketahui ditemukan dalam penggalian arkeologis berasal dari peradaban Mesopotamia," tulis Wu Mingren kepada Ancient Origins dalam artikel berjudul "The revolutionary invention of the wheel" yang terbit 2 Juni 2014.

"Penemuan roda itu diperkirakan berasal sekitar 3500 SM silam," imbuhnya. Periode ini dikenal sebagai Zaman Perunggu. Pada periode ini, manusia sudah menanam tanaman, menggembalakan hewan peliharaan, dan memiliki beberapa bentuk hierarki sosial.

Salah satu alasan mengapa roda ditemukan hanya pada titik ini dalam sejarah adalah karena fakta bahwa perkakas logam yang diperlukan untuk memahat lubang dan as roda yang pas terdapat di peradaban Mesopotamia.

"Hal ini mengarah ke alasan berikutnya—roda bukan hanya silinder yang menggelinding di tepinya," tambahnya lagi. Roda Mesopotamia adalah silinder yang terhubung ke platform stasioner yang stabil.

Konsep wheel-axle ini merupakan langkah jenius, tetapi membuatnya memiliki tantangan tersendiri. Ujung poros, serta lubang di tengah roda harus hampir mulus dan bulat sempurna untuk membuatnya bekerja optimal.

Jika fungsi roda gagal mencapai tantangan ini akan mengakibatkan terlalu banyak gesekan antara komponen-komponen ini, dan roda tidak akan berputar.

Meskipun gandar harus pas pada lubang roda, mereka harus memiliki cukup ruang untuk memungkinkan mereka berputar dengan bebas dan lancar. Dengan kata lain, poros roda dibuat agak berongga untuk memungkinkannya berputar dan tidak kesat.

Mengingat kompleksitas kombinasi roda-poros, tidak mengherankan bahwa masyarakat kuno meciptakan roda pada awalnya bukan untuk tujuan transportasi. Sebaliknya, roda telah diklaim pertama kali digunakan oleh pengangkut dan pembuat tembikar.

Setelah perkembangan unsur elemen dalam roda yang sempurna dan menguat, sekira 300 tahun kemudian, penggunaan roda mulai beralih untuk moda transportasi dan mobilitas masyarakat kuno.

Meskipun roda tertua di dunia pertama kali ditemukan di Mesopotamia, gambar paling awal dari gerobak beroda sudah ditemukan di Polandia dan di tempat lainnya di kawasan stepa Eurasia.

Roda Rawa Ljubljana adalah gambaran roda kayu yang ditemukan di ibu kota Slovenia pada tahun 2002 dan diperkirakan berasal dari tahun 3150 SM. Meskipun Mesopotamia memiliki roda tertua yang diketahui, bukti linguistik digunakan untuk mendukung klaim bahwa roda berasal dari stepa Eurasia.

Meskipun roda telah merevolusi cara manusia purba melakukan perjalanan dan mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain, kala itu roda bukanlah penemuan yang sempurna.

Masyarakat kuno lebih senang menggunakan unta sebagai alat pengangkut yang efisien. Namun, meski unta lebih masif digunakan pada zaman kuno di Mesir, roda menjadi penemuan kuno paling visioner sepanjang sejarah.

Hari ini, roda telah mengubah dunia dengan menjelma sebagai teknologi yang mempermudah aktivitas manusia di seluruh dunia, bahkan menjadi elemen moda transportasi tercepat di dunia sekalipun. Roda jugalah yang berperan meningkatkan mobilitas manusia ke seluruh dunia.

Bukit Pasir Hantu, Salah Satu Destinasi Wisata Masa Depan Planet Mars


Setelah sebelumnya kita membahas empat destinasi keren di planet Mars yang bisa dijadikan tujuan wisata bagi wisatawan luar angkasa di masa depan. Ternyata, masih ada empat destinasi lagi yang dapat dimasukkan ke dalam daftar tujuan Anda.

Planet merah memang menjadi pusat perhatian. Mungkin karena ia adalah planet terdekat dengan Bumi yang memiliki sedikit atmosfer. Atau setidaknya, bisa dijadikan target hunian kedua setelah bulan. Benar sekali, saat ini manusia sedang berusaha mencari alternatif tempat tinggal baru di luar Bumi.

Jika saja, semua ini dapat berjalan dengan baik. Koloni Bulan dan Mars menjadi kenyataan. Maka, berikut adalah empat destinasi keren lainnya di Mars yang harus Anda ketahui.

Kutub Utara dan Selatan Mars

Mars memiliki dua wilayah es di kutubnya, dengan komposisi yang sedikit berbeda. Kutub utara (lihat foto) dipelajari dari dekat oleh pendarat Phoenix pada 2008. Sementara pengamatan kutub selatan hanya berasal dari pengorbit. Selama musim dingin, menurut NASA, suhu di dekat kutub utara dan selatan sangat dingin sehingga karbon dioksida mengembun dari atmosfer menjadi es di permukaan.

Prosesnya terbalik di musim panas, ketika karbon dioksida menyublim kembali ke atmosfer. Karbon dioksida benar-benar menghilang di belahan bumi utara, meninggalkan lapisan es air. Tetapi beberapa es karbon dioksida tetap berada di atmosfer selatan. Semua gerakan es ini memiliki efek besar pada iklim Mars, menghasilkan angin dan efek lainnya.

Medusae Fossae

Medusae Fossae adalah salah satu lokasi paling aneh di Mars. Beberapa orang bahkan berspekulasi bahwa itu menyimpan bukti semacam kecelakaan UFO. Penjelasan yang lebih mungkin adalah itu merupakan deposit vulkanik yang sangat besar, sekitar seperlima dari ukuran Amerika Serikat.

Seiring waktu, angin mengukir bebatuan menjadi beberapa formasi yang indah. Tetapi para peneliti akan membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mempelajari bagaimana gunung berapi ini membentuk Medusae Fossae. Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa formasi itu mungkin terbentuk dari letusan gunung berapi yang sangat besar yang terjadi ratusan kali selama 500 juta tahun. Letusan ini akan menghangatkan iklim Planet Merah karena gas rumah kaca dari gunung berapi melayang ke atmosfer.

‘Bukit Pasir Hantu’ di Noctis Labyrinthus dan Cekungan Hellas


Mars adalah planet yang sebagian besar dibentuk oleh angin akhir-akhir ini, karena airnya menguap saat atmosfernya menipis. Tetapi kita dapat melihat bukti ekstensif dari air masa lalu. Seperti daerah "bukit pasir" yang ditemukan di Noctis Labyrinthus dan cekungan Hellas. Para peneliti mengatakan daerah ini dulunya memiliki bukit pasir setinggi puluhan meter. Kemudian, bukit pasir dibanjiri oleh lava atau air, yang mempertahankan dasarnya sementara puncaknya terkikis.

Bukit pasir tua seperti ini menunjukkan bagaimana angin dulu mengalir di Mars kuno. Pada gilirannya memberikan beberapa petunjuk kepada ahli iklim tentang lingkungan kuno Planet Merah. Dalam putaran yang lebih menarik, mungkin ada mikroba yang bersembunyi di area terlindung dari bukit pasir ini. Dikarenakan aman dari radiasi dan angin yang akan menyapu mereka.

Garis Lereng Berulang di Kawah Hale

Mars memiliki fitur aneh yang disebut garis lereng berulang, yang cenderung terbentuk di sisi kawah curam selama cuaca hangat. Sulit untuk mengetahui fitur apa sebenarnya ini. Gambar yang ditampilkan di sini dari Kawah Hale (serta lokasi lain) menunjukkan titik-titik di mana spektroskopi mengambil tanda-tanda hidrasi.

Pada tahun 2015, NASA awalnya mengumumkan bahwa garam terhidrasi harus menjadi tanda air mengalir di permukaan. Tetapi penelitian kemudian mengatakan fitur ini dapat terbentuk dari air atmosfer atau aliran pasir kering. Pada kenyataannya, kita mungkin harus mendekatinya untuk melihat langsung seperti apa sifat aslinya. Tapi ada kesulitan,  jika fitur ini memang menampung mikroba asing, maka kita tidak ingin terlalu dekat karena dikhawatirkan terjadi kontaminasi. Sementara NASA mencari cara untuk menyelidiki di bawah protokol perlindungan planetnya. Penjelajah manusia masa depan mungkin harus mengagumi fitur misterius ini dari jauh, menggunakan teropong.

Saturday, October 1, 2022

Hantu-hantu Abad Pertengahan yang Melegenda, Datang dari Romawi


Samuel Johnson, sastrawan sohor Inggris, pernah bertanya dalam catatannya bahwa, "belum dapat dipastikan apakah pernah ada roh seseorang yang muncul setelah kematiannya."

"Banyak dari orang-orang Eropa menentang akan kehadiran hantu, meskipun banyak juga diantaranya yang mendukung," tulis Susan Owens kepada Apollo Magazine.

Susan Owens menulis dalam sebuah artikel berjudul That’s the spirit – how the Romans imagined the dead yang terbit pada 5 Juni 2020.

Bagaimaapun, hantu-hantu yang melegenda di masyarakat Eropa abad pertengahan dipercaya datang dari zaman Romawi, mulai dari kemunculan hantu Kaisar Nero hingga Julius Caesar.

Legenda yang paling populer dimulai dari kisah kemunculan hantu Beatrice Cenci. Beatrice adalah putri salah satu keluarga terkemuka Romawi memiliki ayah yang kasar, hingga ia dibunuh dan kepalanya dipenggal.

"Dua ratus tahun kemudian pasukan Napoleon memasuki Roma, menghancurkan makam di gereja dan bermain bola dengan tengkoraknya," imbuh Owens.

Tak heran, jika orang-orang Eropa abad pertengahan percaya roh Beatrice tak tenang dan kerap menampakkan dirinya di jembatan Kastil Sant' Angelo sambil memegangi kepalanya di tangan.

Kisah yang populer dari abad pertengahan lainnya muncul dari kalangan penguasa Romawi. Kaisar Nero disalahkan atas kebakaran yang menghancurkan Romawi pada tahun 64 M dan atas pembunuhan ibunya, istri pertama dan filsuf, Seneca.

"Dia berbalik dari memerintah, meninggalkan kota dan ditinggalkan ia juga mulai ditinggalkan oleh Senat dan para pengawal setianya," terusnya.


Diduga karena frustasi. ia akhirnya memutuskan bunuh diri dan mati dalam penderitaannya. Ia pun meminta dimakamkan oleh Porta del Popolo bersama dengan pelacur dan ateis.

Pada abad pertengahan, arwahnya terlihat terus-menerus. Sampai akhirnya peresmian sebuah kapel kepadanya di gereja Santa Maria del Popolo, pada tahun 1099, Owens menyebut bahwa, "itu membuatnya merasa tenang.

Lain Nero, lain juga tentang kaisar terkemuka Romawi, Julius Caesar. Julius Caesar adalah kaisar sejati pertama Kekaisaran Romawi yang mampu memperluas kekuasaannya hingga ke Inggris.

Kematiannya di Senat pada Ides of March pada tahun 44 SM merupakan legenda terbesar yang dicatat berbagai kutipan kuno hingga kontemporer.

"Abu kematian Caesar kemudian dimakamkan di sebuah bola timah di atas sebuah obelisk di Heliopolis, yang sekarang dikenal dengan Kairo," terangnya.

Petaka bagi kepercayaan mistik Eropa, ketika bola timah berisi abu Caesar dikembalikan ke Kota Vatikan pada tahun 1585.

Kala itu, Paus Sixtus V membukanya untuk melihat dan memastikan apakah abu sisa-sisa kematian Caesar itu benar-benar ada di dalamnya.

Legenda masyarakat abad pertengahan Eropa mengatakan bahwa kejadian itulah yang melepaskan roh Caesar yang sekarang berkeliaran di kota, menghantui masyarakat. Disebutkan bahwa hantunya paling sering bergentayangan di dekat Colosseum.

Tuesday, September 27, 2022

Zimba di Afrika: Memakan dan Menjual Daging Manusia di Pasar


Sebuah tulisan berjudul Ethiopia Oriental (1995) karya João dos Santos diterbitkan pada tahun 1609, berdasarkan tempat tinggalnya selama sebelas tahun (1586–1597) di Afrika, Ethiopia.

Pada saat itu, 'Ethiopia' adalah istilah geografis yang lebih umum untuk benua tersebut—digunakan untuk menyebut seluruh daratan Afrika dengan menjadikan judul tersebut sebagai referensi ke seluruh Afrika Timur.

Dalam beberapa referensi, komunitas Zimba berdiaspora ke beberapa kawasan di Afrika. Basis terbesar mereka terdapat di wilayah Mozambik dan Zimbabwe saat ini. Kisah Zimba juga dituliskan dalam salah satu riset ilmiah.

Eric Allina menulis dalam jurnal Journal of Southern African Studies berjudul "The Zimba, the Portuguese, and other cannibals in late sixteenth-century Southeast Africa" yang terbit pertama kali pada tahun 2011.

Dalam jurnal tersebut, Allina menggambarkan perjalanan João dos Santos yang termaktub dalam kitab gubahannya, tentang sebuah "peristiwa paling menyedihkan yang terjadi saat dia tinggal di Sena."

Sena merupakan sebuah pemukiman Portugis di Lembah Zambesi, yang melibatkan orang-orang yang disebutnya 'Muzimba Kafir'. Suku Muzimba atau yang dikenal dengan Zimba, mempraktikkan kanibalisme.

"Mereka tidak hanya memakan daging lawan mereka yang kalah di medan perang 'tetapi juga tawanan mereka ketika mereka sudah tua dan tidak lagi layak untuk bekerja," imbuhnya.

Tidak berhenti di situ, mereka yang tidak puas dengan memakan daging manusia untuk membuat mereka bertenaga dan lebih kuat dari sebelumnya, mereka juga menjual daging yang tersisa di pasar!

"Orang-orang Zimba menjualnya di pasar, seolah-olah itu adalah daging lembu atau domba dan tanpa ada yang merasa aneh," tambahnya lagi. Yang lebih mengerikan lagi, setelah membunuh tawanan mereka, Zimba meminum darah dari tengkorak lawannya.

Ketika orang-orang Zimba sendiri terluka dalam pertempuran atau jatuh sakit, kawanan Zimba yang lainnya akan membunuh dan memakan mereka. Konon, mereka melakukan itu "agar mereka tidak perlu menanggung tugas untuk menyembuhkan yang sakit," terusnya.

João Dos Santos menulis tentang bagaimana, pada tahun 1592, Zimba menginvasi sebuah komunitas Afrika yang terletak di seberang benteng Portugis di Sena. Selain berperang dengan pemukim di sekitar benteng Portugis dan merebut tanah mereka, Zimba membunuh dan memakan banyak orang.

Pemimpin orang-orang Afrika yang diserang—yang merupakan 'tetangga baik dan teman baik Portugis'—mendekati sang kapten benteng Sena dan memohon 'bantuan untuk mengusir musuh yang menguasainya', orang-orang Zimba. 

Kapten, André de Santiago, menanggapi dengan baik apa yang menurut João dos Santos sebagai 'permintaan saleh' dengan mengumpulkan kekuatan tentara Portugis untuk membantu merebut kembali tanah sekutunya.

Namun, setelah mencapai perkemahan tentara Zimba, mereka menemukan kamp Zimba telah dibarikade dengan aman. Kekuatan benteng memaksa Santiago untuk menilai kembali strateginya, terlepas dari dua buah meriam yang dia bawa dari benteng.

Orang-orang Portugis mendirikan kemah, ia mengirim bala bantuan dari benteng Portugis lainnya di Tete, yang terletak lebih jauh di atas Zambesi. Bala bantuan ini terdiri dari lebih dari 100 tentara Portugis dan Afro-Portugis bersenjata.

Namun, telik sandi Zimba mengetahui kedatangan Portugis yang hendak menyerang. Tentara Zimba meninggalkan bentengnya di bawah perlindungan malam untuk menyergap bala bantuan dalam perjalanan, mereka bergerilya.

Orang Zimba yang mengetahui kedatangan mereka, lantas menyerang mereka secara tiba-tiba dengan kekerasan sedemikian rupa sehingga dalam waktu singkat mereka semua terbunuh.

"Tidak ada yang selamat dalam pengepungan itu," ungkapnya lagi. Setelah membunuh mereka, para Muzimba memotong kaki dan tangan mereka, yang mereka bawa di punggung mereka dengan semua barang bawaan dan senjata yang mereka bawa.

Setelah itu mereka kembali ke benteng mereka. Ketika para pemimpin dan pasukan Afrika mencapai semak-semak dalam upaya menyusul penyerangan, mereka menemukan semua orang Portugis dan kapten mereka tewas secara tragis. Mereka kembali dari tempat itu dan mundur ke Tete. Mereka kemudian menceritakan peristiwa menyedihkan yang telah terjadi.


João dos Santos tak terima dengan kekalahan dan bersiap membangun kekuatan militer yang lebih besar lagi. Alhasil, pertempuran antara Zimba dan Portugis terjadi berlarut-larut.

Bagaimanapun, orang-orang Eropa dengan kemampuan militer dan kesiapan persenjataan tetap mendominasi. Zimba yang sadis itu akhirnya dapat ditaklukan dan hanya menyisakan 100 orang (mereka melarikan diri) dari ratusan ribu komunitas mereka di Afrika.

Semua penggambaran ini dikisahkan secara tragis dan dramatis dalam jurnal gubahan Allina yang bersumber dari Ethiopia Oriental (1995), tentang suatu komunitas bernama Zimba yang memiliki tradisi kanibal dan sadis.

Saturday, September 24, 2022

Lempeng Batu Berusia 4.000 Tahun Ini Diperkirakan Peta Tertua di Eropa


Sebuah lempengan batu berusia 4.000 tahun, pertama kali ditemukan lebih dari seabad yang lalu di Prancis. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di Bulletin of the French Prehistoric Society, ini mungkin merupakan peta tertua di Eropa.

The Saint-Bélec Slab diperkirakan berasal dari Zaman Perunggu awal (2150-1600 SM). Lempengan ini pertama kali ditemukan pada 1900 di tanah pemakaman prasejarah di Finistère, Brittany.

Lempengan ini menjadi salah salah satu dinding kotak batu yang menampung mayat-mayat. Sempat disimpan di sebuah museum pribadi, lempengan yang berukuran panjang 3.9 meter ini ditemukan kembali di ruang bawah tanah kastil pada tahun 2014. Namun baru belakangan ini para peneliti mulai memahami cerita menarik di balik lempengan prasejarah ini.

Pada tahun 2017, sekelompok peneliti di Eropa mulai menganalisis ukiran pada lempengan menggunakan survei 3D resolusi tinggi dan fotogrametri. Ini merupakan sebuah proses menganalisis objek melalui pengambilan foto detail.

Mereka menemukan bahwa lempengan itu memiliki semua tanda yang ada pada peta, seperti kontur yang disatukan oleh garis. Peta ini juga memiliki garis mewakili jaringan sungai dan pembuatnya tampaknya sengaja menggunakan bentuk 3D untuk mewakili lembah.

Ukiran pada lempengan kemudian dibandingkan dengan elemen lanskap Prancis. Kemudian diambil kesimpulan bahwa lempengan itu mewakili area di sepanjang Sungai Odet di Prancis barat.


Geo-lokasi mengungkapkan wilayah yang diwakili pada lempengan itu memiliki akurasi 80% ke area sekitar bentangan sungai sepanjang 18 mil.

Selain sungai dan bukit, terdapat bidang yang mungkin mewakili lokasi pemukiman, bukit dan sistem di lapangan, papar Peter Dockrill dari laman Science Alert. Penandaan tersebut dapat dikaitkan dengan pengaturan penggunaan dan kepemilikan lahan.

Ini mungkin peta tertua dari suatu wilayah yang telah diidentifikasi di Eropa, menurut penulis studi Clément Nicolas dari Universitas Bournemouth.

Ada beberapa peta yang diukir di batu di seluruh dunia. Umumnya, itu hanya interpretasi. Tapi ini adalah pertama kalinya sebuah peta menggambarkan suatu area pada skala tertentu.


Peta itu kemungkinan digunakan oleh pangeran atau raja Zaman Perunggu untuk menandai kepemilikan atas area tertentu.

Wilayah itu kemungkinan dimiliki oleh entitas politik yang sangat hierarkis yang mengendalikan daerah itu di awal Zaman Perunggu.

Kesimpulan soal fungsi peta untuk penandaan wilayah diperkuat oleh pernyataan dari Yvan Pailler, seorang arkeolog dari Universitas Western Brittany. Menurutnya, orang dari Zaman Perunggu tidak menggunakan peta dari lempengan batu untuk bernavigasi.

Pada zaman itu, umumnya peta ditransmisikan dalam bentuk cerita atau kalimat. Misalnya untuk pergi ke titik A, Anda harus melewati sungai dan bukit.


Lalu mengapa lempengan tersebut digunakan sebagai dinding kotak batu penampung mayat? Fakta bahwa itu kemudian dikubur bisa juga berarti bahwa itu adalah akhir dari kekuasaan raja atau pangeran. Teori lain menyimpulkan soal adanya penolakan terhadap kekuasaan yang dipegang oleh para elit atas masyarakat pada saat itu.

Arkeolog Paul du Chatellier menemukan lempengan itu pada tahun 1900. Setelah kematiannya, anak-anaknya menyumbangkan koleksi arkeologinya ke Museum Arkeologi Nasional Saint-Germain-en-Laye, di mana lempangan disimpan selama beberapa dekade.

Sementara itu, beberapa cendekiawan, termasuk Pailler dan Nicholas, membaca laporan du Chatellier tentang temuannya . Mereka menyimpulkan bahwa tanda lempengan itu dapat mewakili peta. Pada 2014, artefak itu pun ditemukan di ruang bawah tanah museum.

Kita cenderung meremehkan pengetahuan geografis masyarakat masa lalu. Lempengan ini penting karena menyoroti pengetahuan kartografi masyarakat dari Zaman Perunggu.

Friday, September 9, 2022

Kerangka Hasil Ritual Pengorbanan Manusia Ditemukan di Pemakaman Berusia 3.000 Tahun


 Puluhan kerangka manusia ditemukan di situs pemakaman kuno di Oxfordshire, Inggris. Mereka diyakini sebagai korban ritual dari 3.000 tahun lalu.

Permukiman dari Zaman Besi ini ditemukan oleh perusahaan Thames Water saat mereka bersiap memasang pipa air baru berukuran enam kilometer.

Selama proses penggalian, petugas menemukan 26 kerangka, bukti tempat tinggal, bangkai hewan, barang-barang rumah tangga seperti tembikar dan alat potong.

Cotswold Archaeology yang memimpin penggalian kemudian memindahkan penemuan untuk pemeriksaan forensik.

“Situs Zaman Besi ini sangat menakjubkan karena memberikan pandangan sekilas mengenai kepercayaan dan takhayul orang-orang yang tinggal di Oxfordshire sebelum penaklukkan Romawi. Bukti di tempat lain juga menunjukkan penguburan berkaitan dengan ritual pengorbanan manusia,” papar Neil Holbrook, Chief Excecutive Cotswold Archaeology.

“Penemuan ini menantang persepsi kami mengenai masa lalu. Juga mengajak untuk memahami keyakinan orang-orang yang hidup dan mati lebih dari 2.000 tahun lalu,” tambahnya.

Meski tampak mengejutkan, tapi para arkeolog mengatakan, penguburan di dalam lubang merupakan hal biasa pada Zaman Besi. Dalam gaya pemakaman seperti ini, manusia biasanya ditemukan berjongkok menyamping dengan posisi berbeda.

Menurut para ahli, salah satu jasad wanita ditempatkan di lubang tersebut dengan “lengan terbungkus di atas kepala, kedua tangan saling menyatu, dan kedua kaki ditekuk dengan lutut terbuka lebar”.

“Zaman Besi memang dikenal dengan praktik pemakamannya yang tidak biasa dan beragam,” kata Cotswold Archaeology dalam laman Facebooknya.

Zaman Besi di Inggris dimulai dari 800 SM hingga 43 M dan berakhir ketika Romawi menyerbu Kepulauan Inggris. Zaman ini ditandai dengan munculnya teknologi baru, termasuk kemampuan membuat besi, tembikar, dan teknik pertanian yang membantu populasi tumbuh secara substansial.

Praktik penguburan pada masa tersebut sangat bervariasi, mulai dari dikubur dalam lubang hingga benteng di perbukitan. Meski begitu, yang paling terkenal adalah pemakaman di badan rawa.

“Penemuan ini membuka wawasan unik mengenai kehidupan dan kematian masyarakat yang selama ini hanya bisa kita kenal melalui bangunan monumen,” kata Paolo Guarino, Project Officer Cotswold Archaeology.

“Hasil dari analisis artefak, tulang binatang, kerangka manusia, dan sampel tanah akan membantu kita menambahkan beberapa informasi penting tentang sejarah masyarakat yang menduduki wilayah tersebut bertahun-tahun lalu,” pungkasnya.


Wednesday, September 7, 2022

‘Black Panther’ Langka Ditemukan di Afrika Pertama Kalinya Sejak 100 Tahun


 Banyak orang mengatakan, kucing hitam membawa nasib buruk. Namun, ketika Nick Pilford mendengar ada satu yang bersembunyi di pusat Kenya, ia tahu bahwa ada yang spesial dari hewan tersebut.

Pilford yang merupakan ahli biologi, memasang kamera perangkap di semak-semak Taman Konservasi Loisaba, pada awal 2018 lalu. Ia pun mendapatkan apa yang dicari: bukti tak terbantahkan dari macan tutul melanistik yang sangat langka.

Betina remaja tersebut terlihat bepergian dengan macan tutul yang lebih besar dengan warna kulit normal yang diduga merupakan induknya.

Berkebalikan dengan albinisme, melanisme merupakan hasil dari gen yang menyebabkan kelebihan pigmen di kulit dan rambut hewan sehingga membuatnya berwarna hitam.

Macan tutul melanistik telah dikabarkan hidup di Kenya selama beberapa dekade, tapi konfirmasi ilmiah terkait keberadaan mereka masih sangat langka.

Dipublikasikan pada jurnal African Journal of Ecology, foto ‘black panther’ itu merupakan dokumentasi ilmiah pertama dalam 100 tahun terakhir. Foto macan tutul hitam terakhir kali diambil pada 1909 di Addis Ababa, Ethiopia. Itu kemudian disimpan dalam koleksi Museum Nasional Sejarah Alam di Washington, AS.

Populasi macan tutul sendiri telah menyusut setidaknya 66% karena rusaknya habitat dan jumlah mangsa sehingga mereka kerap kelaparan.

Hidup dalam bayangan

Ada sembilan subspesies macan tutul yang tersebar di Afrika hingga Rusia Timur. Sebelas persen di antaranya dianggap melanistik dan sebagian besar ditemukan di Asia Tenggara di mana hutan hujan tropis menaungi mereka.

Diperkirakan bahwa melanisme menyediakan kamuflase tambahan saat berada di habitat tersebut, memberikan keuntungan bagi macan tutul untuk memburu mangsanya.

Meski begitu, di Kenya, macan tutul hitam, atau yang sering disebut ‘black panther’, hidup di semak-semak gersang.

“Macan tutul Afrika hidup di lingkungan tipe sabana, jadi melanisme ekstra tidak memberi mereka keuntungan beradaptasi seperti yang tinggal di hutan tropis,” ungkap Vincent Naude, koordinator proyek forensik genetika untuk organisasi Panthera yang tidak terlibat dalam penelitian.

Selain itu, karena ‘black panther’ ini ditemukan bersama ibunya yang berwarna normal, maka ada kemungkinan bahwa kulitnya yang unik tidak terpengaruh oleh ikatan keluarga.

Yang menarik, menurut Pilford, negara fiksi Wakanda ciptaan Marvel––rumah dari pahlawan super Black Panther, terletak di Afrika Timur yang cukup dekat dengan Kenya.

“Ini merupakan kebetulan yang unik,” ujar Pilford.

“Satu-satunya wilayah di mana kita dapat menemukan macan tutul hitam, ternyata mirip dengan rumah Black Panther di alam semesta Marvel,” pungkasnya.

Friday, September 2, 2022

Kekalahan Napoleon di Perang Terakhirnya Disebabkan Erupsi Tambora?


Menurut sebuah studi terbaru, erupsi gunung berapi di Indonesia yang mengarahkan pada kondisi basah dan berlumpur, berkontribusi pada kekalahan Napoleon Bonaparte di Pertempuran Waterloo.

Dua bulan sebelum pertempuran yang mengubah sejarah Eropa tersebut, gunung Tambora meletus. Menewaskan 100 ribu orang dan melontarkan gumpalan abu raksasa hingga 62 mil ke atmosfer.

Para peneliti dari Imperial College mengatakan, abu tersebut “memutuskan aliran listrik” ionosfer, lapisan teratas di atmosfer yang bertanggung jawab dalam membentuk awan.

Itu memberikan “denyut nadi” pada pembentukan awan yang akhirnya membawa hujan lebat di sepanjang Eropa dan berperan pada kekalahan Prancis.

Matthew Genge, pemimpin penelitian, mengatakan: “Sebelumnya, ahli geologi berpikir bahwa abu vulkanik terjebak di atmosfer bagian bawah karena ia naik dengan ringan. Penelitian saya, bagaimana pun juga, menunjukkan bahwa abu bisa mengarah ke atmosfer atas karena kekuatan listrik.”

Rangkaian eksperimen dan simulasi komputer menunjukkan bahwa partikel vulkanik bermuatan listrik berukuran lebih kecil dari 0,2 juta meter di diameternya, dapat terdorong ke ionosfer selama erupsi besar.

Di sana, mereka akan mengganggu aliran listrik di ionosfer dan membentuk awan hujan yang tidak biasa.

“Victor Hugo dalam novelnya Les Miserables, mengatakan ini tentang Pertempuran Waterloo: ‘langit mendung yang tidak sesuai waktunya cukup untuk membawa keruntuhan pada dunia’,” papar Genge.

“Saat ini, kami selangkah lebih dekat untuk memahami peran Tambora pada pertempuran yang terjadi di belahan bumi lain yang jauh dari lokasi erupsi,” pungkasnya.

Gangguan yang sama di ionosfer juga terjadi saat erupsi gunung Pinatubo di Filipina pada 1991.

Friday, August 26, 2022

NASA Berhasil Menangkap Gambar Bintang Terjauh


Sekelompok peneliti mengatakan dalam sebuah studi bahwa mereka berhasil menangkap gambar bintang paling jauh menggunakan teleskop luar angkasa, Hubble.

Jurnal Nature Astronomy melaporkan bahwa tim peneliti internasional menemukan lokasi bintang raksasa biru (supergiant blue) – dikenal dengan nama Icarus – yang memancarkan cahayanya saat alam semesta sepertiga usianya saat ini.

Cahaya itu dipancarkan 4,4 miliar tahun setelah Big Bang memakan waktu 9 miliar tahun untuk membentuk Bumi.

“Anda bisa melihat galaksi di luar sana, namun bintang yang ditemukan ini 100 kali lebih jauh dari bintang individu yang bisa kita pelajari,” kata Patrick Kelly, pemimpin penelitian sekaligus astrofisikawan di University of Minnesota.

Para ilmuwan berhasil melihat bintang tersebut karena lensa gravitasi. Itu terjadi ketika sinar cahaya menyimpang dan berbalik ke belakang saat melewati objek besar.

NASA juga mendeskripsikan lensa gravitasi sebagai fenomena yang terjadi ketika “sekelompok galaksi besar bertindak sebagai lensa alami di luar angkasa – membelokkan dan memperkuat cahaya”.

Terkadang, cahaya dari latar objek tunggal muncul sebagai beberapa gambar. Cahaya bisa diperbesar, membuat objek yang sangat samar, cukup terang untuk dilihat.

Majalah Astronomy melaporkan bahwa penemuan ini bisa menjelaskan tentang materi gelap.






 

Tuesday, August 16, 2022

Hilang dari Sejarah Selama 1.000 Tahun, Lokasi Biara Kuno Skotlandia Terlacak


Satu dekade setelah pencarian Biara Pictish di Skotlandia, para arkeolog yang tergabung dalam The Book of Deer Project akhirnya menemukan titik terang.

Pencarian tersebut berawal dari sebuah kitab kuno berjudul The Book of Deer  yang telah disimpan di perpustakaan Universitas Cambridge sejak 1715.

Buku yang ditulis oleh biarawan Pictish ini merupakan manuskrip berhiaskan emas dan perak yang berisi injil Perjanjian Baru.

Ia juga merupakan bukti fisik keberadaan bahasa kuno bangsa Skotlandia, Gaelic; dan memberikan detail menarik tentang kehidupan sehari-hari seperti kegiatan gereja, budaya dan masyarakat Skotlandia kuno.

Para arkeolog pun ingin mengetahui lebih jauh mengenai buku tersebut, dimulai dari lokasi tempatnya ditulis. Sayangnya, biara Pictish telah "hilang" dari catatan sejarah selama 1.000 tahun lamanya.

Petunjuk yang para arkeolog miliki hanyalah deskripsi yang ditulis di pinggir halaman The Book of Deer, termasuk informasi bahwa biara bisa dilihat dari Deer Abbey, tempat tinggal baru para biarawan setelah meninggalkan biara Pictish.

Kini, para peneliti meyakini telah menemukan lokasi biara Pictish.

Saat menggali di Desa Old Deer di Aberdeenshire, Skotlandia; para arkeolog menemukan reruntuhan batu dan gerabah kuno, lengkap dengan perapian dan sisa arang.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa benda-benda tersebut berasal dari tahun 1147 -1460 atau pada masa awal Abad Pertengahan ketika biara masih berdiri.

Selain itu, penggalian juga memunculkan sisa-sisa gedung berbentuk lingkaran yang berupa pintu dari batu dan lubang-lubang tiang.

"Proyek ini telah dilakukan dengan kerja keras selama bertahun-tahun untuk mengidentifikasi lokasi situs biara yang hilang," kata Bruce Mann, seorang arkeolog didampingi anggota Dewan Aberdeenshire, dikutip dari Newsweek pada hari Selasa (9/1/2018).  

"Penemuan terakhir ini mungkin akhirnya mengisyaratkan bahwa misteri tersebut akhirnya telah dipecahkan. Penggalian lebih jauh tentu dibutuhkan, tapi terlepas bagaimana akhirnya, ini adalah temuan yang signifikan untuk tidak hanya Desa Old Deer, tapi juga Aberdeenshire," kata Mann. 

Monday, August 15, 2022

Artefak Paling Berharga di Zaman Perunggu Dibuat Dari Meteorit


Jika pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa beberapa benda dari Zaman Perunggu terbuat dari logam besi meteor -- seperti salah satu belati yang dikuburkan bersama Raja Tutankhamun -- studi terbaru ini menjawab pertanyaan tentang seberapa luasnya praktek tersebut dilakukan.

Albert Jambon, dari National Centre for Scientific Research (CNRS) di Prancis, menganalisa artefak museum dari Mesir, Turki, Suriah dan Tiongkok, menggunakan X-Ray Fluorescence Spectrometer untuk menemukan apakah mereka semua berasal dari material yang sama.

"Hasil terkini menunjukkan bahwa sebagian besar logam besi di Zaman Perunggu berasal dari meteorit," kata Albert. "Langkah selanjutnya akan menentukan di mana dan kapan peleburan logam terestrial itu terjadi."

Besi di Zaman Perunggu?

Sesuai dengan nama masanya, perunggu merupakan logam pilihan yang dipakai untuk membuat peralatan, senjata, dan perhiasan di Zaman Perunggu pada 3300 BCE. Bahannya tahan lama dan mudah didapat. Mereka meleburkan tembaga dan mencampurnya bersama timah serta logam lainnya.

Sementara itu, Zaman Besi yang dimulai 2000 tahun berikutnya, mendapat namanya ketika manusia mulai mempelajari cara melebur besi dari batu mineral.

Oleh sebab itu, para sejarawan sempat bingung dengan temuan peralatan dan senjata yang berbahan besi di Zaman Perunggu. Padahal, besi sangat langka pada masa itu dan belum ada yang menggunakannya. Lalu, darimana datangnya material besi tersebut?

Kunci dari pertanyaan di atas adalah fakta bahwa besi dari meteorit yang jatuh ke bumi, mengandung banyak nikel. Ini tidak dimiliki oleh besi yang ada di bumi.

Artefak dari logam meteorit

Dengan bantuan X-Ray Fluorescence Spectrometer, yang menggunakan sinar X untuk menganalisa komposisi senyawa pada setiap obyek tanpa menyentuhnya, Albert mempelajari barang-barang yang ada di museum. Termasuk manik-manik, belati dan sandaran kepala.

Tentu saja, logam besi meteorit yang kaya akan nikel, ditemukan pada benda-benda antik tersebut. Bahkan, logam besinya sudah siap digunakan tanpa harus melelehkannya terlebih dahulu.

Ini bukan sekadar cerita isapan jempol belaka dari Zaman Perunggu. Adanya analisa ini membantu mempersempit pilihan sehingga dapat membantu menemukan kapan dan di mana manusia mulai mengembangkan pengetahuan teknologi untuk memproduksi besi.

"Studi ini menekankan pentingnya metode analisis untuk mempelajari evolusi penggunaan logam di masa lalu," pungkas Albert.

Saturday, August 13, 2022

Imajinasi Carl Sagan Tentang Makhluk Mars

Carl Sagan menghabiskan masa kecilnya mengkhayalkan Mars. Ilmuwan masa depan, pembaca setia fiksi ilmiah Edgar Rice Burroughs itu, akan melewatkan malam berbaring memandang langit, dan “berpikir apakah bintik merah bekerlap-kerlip itu.”

Dia mengkhayal soal penduduk Mars, dengan tubuh yang memiliki kaleidoskop warna—Mars versi Burrough memiliki dua warna primer lain dari Bumi—dengan kepala yang bisa dicopot, tetapi jasadnya mirip manusia. “Saat itu aku belum menyadari chauvinisme dengan membuat orang-orang dari planet lain seperti kita.”

Tetapi pada 1965, misi terbang lintas pertama ke Mars kembali dengan foto batu murni—tak ada tanda kehidupan. New York Times menyatakan Mars adalah planet mati. “Megafauna fantastis Mars,” tulis John Updike beberapa tahun kemudian untuk majalah ini, “tersapu dari ingatan.” Sagan tak menyerah: Foto-foto itu buram, tidak meyakinkan, dan hanya menampakkan satu persen Mars.

Pada 1967, Sagan menulis artikel untuk National Geographic yang mengeksplorasi pertanyaan saat kecil: Apakah ada kehidupan di Mars? Artikel itu memuat ilustrasi penduduk Mars. Dalam korespondensinya dengan para editor, Sagan mengungkapkan kekecewaannya atas draf awal ilustrasi, dengan berkata bahwa penghuni Mars menyerupai “manusia berkostum kura-kura.” Dia membayangkan “vegetarian Mars jinak” tanpa mata. “Biar dia menemukan jalan pada siang hari dengan sulur merah kecilnya, dan pada malam hari dia akan menggali lubang.”

Lukisan finalnya (atas) memuaskan Sagan: Kaki kurus si makhluk sesuai untuk gravitasi rendah Mars; cangkang kaca memblokir radiasi ultraviolet. Pada 1996, tak lama sebelum kematiannya, Sagan merekam pesan untuk penjelajah Mars masa depan: “Apa pun alasanmu berada di Mars, aku senang. Andai aku bersamamu.”

Friday, August 12, 2022

NASA Berhasil "Menguping" Suara-suara di Sekeliling Bumi


Antariksa sejatinya tidak kosong, tidak juga sunyi. Kita memang tidak bisa mendengar secara langsung suara di ruang angkasa, tetapi berkat Van Allen probes, dua pesawat antariksa robotik milik NASA, kita bisa "menguping" suara-suara di sekeliling Planet Bumi.

Daerah di sekitar Bumi dipenuhi dengan garis medan magnet dan partikel enerjik yang terjebak, meluncur dalam tarian berkecepatan tinggi di sekitar planet. Partikel-partikel seperti ion dan elektron, terus menerus bertumbukan dengan jenis gelombang elektromagnetik yang dikenal sebagai gelombang plasma.

Gelombang plasma, seperti halnya gelombang samudra yang menderu, menciptakan hiruk pikuk berirama. Dengan alat yang tepat, kita bisa mendengarkan "nyanyian" ini melintasi ruang angkasa.

Berbagai jenis gelombang plasma dipicu oleh berbagai mekanisme, menempati wilayah ruang yang berbeda di sekitar Bumi. (NASA\'s Goddard Space Flight Center/Mary Pat Hrybyk-Keith)
Dua pesawat antariksa Van Allen dilengkapi dengan instrumen yang disebut Electric and Magnetic Field Instrument Suite and Integrated Science (EMFISIS) untuk mengukur gelombang listrik dan magnetik saat mereka mengitari Bumi.

Saat kedua pesawat antariksa itu berjumpa dengan gelombang, sensor-sensornya merekam perubahan frekuensi dari medan magnet dan listrik. Kemudian, para ilmuwan mengubah frekuensi tersebut ke dalam rentang pendengaran manusia, sehingga kita bisa mendengarkan suara-suara antariksa.

Suara yang ditimbulkan gelombang plasma berbeda-beda tergantung lokasinya. Gelombang mode siulan (whistler-mode wave), misalnya. Gelombang ini akan menciptakan suara berbeda ketika berada di plasmaphere, area di sekeliling Bumi yang dipadati oleh plasma dingin, dan ketika berada di luar plasmaphere.

Pertama, mari dengarkan dahulu suara gelombang plasma mode siulan sebelum tiba di plasmaphere:

Saat petir menyambar Bumi, pelepasan listrik dapat memicu gelombang plasma mode siulan. Beberapa gelombang berhasil lolos ke luar atmosfer dan memantul-mantul di sepanjang garis medan magnet Bumi antara kutub utara dan selatan. Karena petir menciptakan rentang frekuensi, dan frekuensi yang lebih tinggi bergerak lebih cepat ketimbang frekuensi rendah, maka suara yang terdengar akan naik-turun.

Ketika gelombang mode siulan ini berada di luar plasmaphere, suara yang terdengar berubah. Sebab, plasma di area ini lebih hangat dan agak renggang, sehingga suara yang dihasilkan pun berbeda drastis. Namanya pun berubah. Gelombang mode siulan sekarang menjadi gelombang chorus (chours wave). Dengarkan baik-baik gelombang chorus di berikut ini:

Rasanya seperti ada di kandang yang penuh dengan burung-burung berisik, ya! Gelombang chorus dihasilkan oleh elektron-elektron berenergi rendah yang menubruk plasma dan berbagi energinya dengan partikel yang sudah ada di plasma. Itulah yang menciptakan nada tinggi yang Anda dengar

Saat gelombang mode siulan bergerak memasuki plasmaphere, para ilmuwan menyebutnya sebagai desis plasmapheric. NASA mendeskripsikannya seperti suara radio statis, tapi sepertinya lebih mirip suara nafas berat seseorang yang memakai pakaian astronaut atau masker selam, deh.

Lantas, apa manfaatnya suara-suara antariksa ini bagi ilmu pengetahuan?

Jangan sampai Anda berpikir bahwa para ilmuwan NASA hanya kurang kerjaan dan memberikan kita jenis \'musik instrumental\' baru untuk menemani kegiatan melamun.

Suara-suara ini tentu saja memiliki nilai saintifik. Memahami bagaimana gelombang plasma dan partikel-partikel berinteraksi dengan plasmaphere dapat membuat kita memahami dan memprediksi cuaca ruang angkasa lebih baik. Dengan demikian, kita bisa melindungi satelit-satelit dan telekomunikasi kita di antariksa.

Thursday, August 11, 2022

Disangka Punah, Ular Berbisa Albany adder Kembali Ditemukan

Kebanyakan orang, mungkin termasuk Anda, tidak pernah mendengar mengenai ular Albany adder (Bitis cornuta albanica). Hal ini wajar saja. Sebab, ular tersebut sempat dikira punah hingga sekelompok pakar reptil menemukan empat ekor sekaligus dalam keadaan hidup dan sehat.

Para herpetolog menemukan keempat ular tersebut ketika sedang melakukan ekspedisi pencarian ular Albany adder di Afrika Selatan pada bulan November tahun lalu.

“Aku rasa kita tidak pernah berpelukan seerat itu. Kita bahkan berpelukan sambil loncat-loncat,” kata Grant Smith, petugas lapangan untuk Endangered Wildlife Trust yang bekerja sama dengan Rainforest Trust untuk pencarian ini.

Penemuan keempat ular tersebut memang sebuah rekor yang luar biasa. Sejak diidentifikasi pada tahun 1937, para peneliti hanya mampu menemukan 12 ekor Albany adder dan yang kelima ditemukan dalam keadaan mati tertabrak mobil.

Walaupun demikian, para peneliti berharap untuk dapat menemukan lebih banyak lagi.

“Aku pikir ular tersebut termasuk spesies yang paling terancam di dunia,” kata Bryan Maritz, koordinator regional untuk International Union for Conservation of Nature’s Viper Specialist Group, yang tidak ikut dalam ekspedisi.

Menurut Bryan, ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan untuk melestarikan spesies tersebut. Salah satunya adalah habitat ular Albany adder yang terus menghilang akibat pertambangan dan urbanisasi.

“Ada rekaman sejarah di area-area sekitar Afrika Selatan, tetapi populasi di daerah tersebut telah dianggap punah karena tidak ada satu pun ular Albany adder yang terlihat di sana selama 40 tahun terakhir,” ucapnya.

Kini, kelompok-kelompok konservasi ular sedang berusaha untuk membeli habitat Albany adder yang tersisa.

“Intinya adalah, jika Anda mampu menjaga habitatnya, maka masalah lainnya juga akan ikut terselesaikan,” kata Smith menambahkan.

Lalu, untuk menjaga keamanan ular-ular tersebut dari pemburu, para herpetolog memutuskan untuk tidak memberitahukan lokasi pasti spesies tersebut ditemukan.

“Jika kolektor mengetahui di mana dan cara untuk menemukan mereka, spesies ini bisa benar-benar terancam,” ucap Maritz.




 

Thursday, July 21, 2022

Asal-Usul Oumuamua yang Disangka Kapal Alien Akhirnya Terjelaskan

Asal-usul Oumuamua akhirnya bisa terjelaskan. Objek interstellar atau antarbintang yang melewati Bumi pada 2017 itu pernah disangka sebagai kapal alien.

Nama Oumumua yang diberikan untuk objek aneh itu berasal dari bahasa Hawaii yang berarti "pengintai" atau "pembawa pesan". Sebab, objek itu diyakini telah melakukan perjalanan dari sistem bintang lain. inilah yang menjadikannya sebagai objek antarbintang pertama yang pernah terdeteksi.

Tapi objek apakah Oumuamua itu? Beberapa peneliti, termasuk astronom Harvard University Avi Loeb, mengemukakan bahwa benda itu adalah pesawat luar angkasa alien. Yang lain menduga itu adalah asteroid, atau mungkin komet antarbintang.

Kini, sepasang makalah yang telah diterbitkan di dalam jurnal American Geophysical Union menawarkan teori lain, yakni bahwa Oumuamua adalah pecahan dari sebuah planet kecil dari Tata Surya yang berbeda.

"Kami mungkin telah memecahkan misteri apa itu 'Oumuamua, dan kami dapat mengidentifikasinya sebagai bagian dari 'exo-Pluto', sebuah planet mirip Pluto di Tata Surya lain," kata Steven Desch, astrofisikawan di Arizona State Universitas yang menjadi salah satu peneliti dalam riset tersebut, seperti dilansir Business Insider.


Desch dan rekan-rekan penelitinya meyakini bahwa setengah miliar tahun yang lalu, sebuah benda luar angkasa menghantam planet induk Oumuamua. Kejadian tersebut kemudian melemparkan dan membawa Oumuamua menuju Tata Surya kita.

Begitu mendekati Matahari, menurut penjelasan mereka, Oumuamua bergerak makin cepat karena sinar Matahari menguapkan bagian es pada tubuhnya. Komet juga memiliki pola gerakan semacam itu, atau yang dikenal sebagai "efek roket".

Karena susunan material pada Oumuamua tidak diketahui, para peneliti menghitung jenis es apa yang akan menyublim (berubah dari padat menjadi gas) pada tingkat yang dapat menjelaskan efek roket Oumuamua. Mereka menyimpulkan bahwa objek tersebut kemungkinan besar terbuat dari es nitrogen, seperti permukaan Pluto dan bulan Neptunus, Triton.

Saat mendekati Tata Surya kita, dan berarti mendekayti Matahari, Oumuamua mulai melepaskan lapisan nitrogen bekunya. Benda itu memasuki Tata Surya kita pada tahun 1995, meskipun kita tidak menyadarinya pada saat itu, kemudian kehilangan 95 persen massanya dan mencair menjadi serpihan, menurut para peneliti iru.

Pada saat para astronom menyadari keberadaan Oumuamua pada tahun 2017, ia telah menjauh dari Bumi dengan kecepatan 315.431 kilometer per jam (196.000 mph). Jadi mereka hanya punya beberapa minggu untuk mempelajari benda aneh berukuran gedung pencakar langit itu.

Beberapa teleskop di Bumi dan satu di luar angkasa melakukan pengamatan terbatas pada Oumuamua saat objek terbang dan melayang di luar angkasa. Namun begitu, para astronom tidak dapat memeriksanya secara penuh. Oumuamua sekarang sudah terlalu jauh dan terlalu redup untuk diamati lebih jauh dengan teknologi yang ada.


Begitu sedikitnya informasi mengenai Oumuamua yang bisa dikumpulkan oleh para peneliti telah meninggalkan ruang bagi para ilmuwan untuk menawarkan hipotesis mengenai indentitas objek tersebut dan dari mana asalnya. Oumuamua awalnya diklasifikasikan sebagai komet, tetapi faktanya objek tersebut tidak mengeluarkan gas seperti komet.

Putaran, kecepatan, dan lintasan Oumuamua yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan teori gravitasi juga menunjukkan bahwa objek tersebut bukanlah asteroid. Selain itu, bentuk dan profil objek tersebut --panjangnya sekitar seperempat mil (402 meter) tetapi lebarnya hanya 34,75 meter (114 kaki)-- juga tidak cocok dengan bentuk komet atau asteroid mana pun yang pernah diamati sebelumnya.

Dari keunikan gerakannya itu, lalu muncullah teori bahwa Oumuamua adalah pesawat luar angkasa alien. Karena Oumuamua tampaknya berakselerasi atau memiliki percepatan dalam geraknya, bukannya melambat, astronom bernama Avi Loeb sempat berteori bahwa objek itu adalah pesawat luar angkasa alien.

Dalam sebuah buku yang diterbitkannya pada bulan Januari, berjudul Extraterrestrial: The First Sign of Intelligent Life Beyond Earth, Loeb menggambarkan Oumuamua sebagai bagian dari teknologi alien yang mati. Namun, sebuah studi pada tahun 2019 dari sekelompok astronom internasional yang menganalisis semua data Oumuamua yang tersedia, menyimpulkan bahwa teori Loeb tidak mungkin atau tidak masuk akal.

Maka kini, penjelasan sekelompok peneliti dalam studi terbaru tadi, tampaknya memang yang paling masuk akal dengan mengaitkan kecepatan unik gerakan Oumuamua dengan "efek roket". Selain itu, mereka juga memberi penjelasan bahwa bentuk unik Oumuamua dipengaruhi oleh komposisi nitrogen beku yang ada padanya.

"Saat lapisan luar es nitrogen menguap, bentuk tubuh akan semakin rata, seperti halnya sebatang sabun saat lapisan luar terkelupas saat digunakan," kata Alan Jackson, peneliti lainnya, dalam studi tersebut.

Jadi, dengan penjelasan terbaru ini, apakah masih ada yang percaya bahwa Oumuamua adalah kapal alien?

Friday, July 8, 2022

Kita Tidak Akan Pernah Bertemu Alien Cerdas, Klaim Ahli Sains

Pencarian kehidupan lain di luar Bumi, sepertinya telah lama dilakukan oleh para ilmuwan, namun belum ada satu pun hasil yang memuaskan. Bahkan untuk menemukan satu planet saja yang benar-benar persis kondisinya seperti Bumi itu teramat sulit. Sedangkan,  sebagian dari kita masih percaya bahwa ada kehidupan cerdas (alien) di luar sana yang sedang memperhatikan kita, atau bisa saja belum kita temukan.

Pencarian alien cerdas ini sudah melibatkan banyak orang, baik itu ilmuwan, maupun organisasi-organisasi tertentu yang dibentuk sengaja untuk tujuan ini.

Seorang penulis sains, Alex Berezow memiliki pandangannya sendiri tentang hal ini. Malah ia merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menentang keberadaan alien.


“Tidak masalah jika kehidupan cerdas ada di tempat lain. Kita tidak akan pernah menemukan satu sama lain,” kata Alex Berezow dalam laporan Mind Matters.

Pertanyaan apakah kita sendirian di alam semesta tetap menjadi salah satu teka-teki filosofis terbesar di zaman kita. Meskipun tampaknya hampir tidak terbayangkan bahwa peradaban kita hanya sendirian di alam semesta yang luas ini, tapi faktanya, bukti yang akurat tentang keberadaan mereka masih belum kita temukan.

Dari perkataan singkat Berezow di atas, sudah jelas sebenarnya yang ia yakini bukanlah ada atau tidaknya alien di luar sana, melainkan susahnya peluang kita untuk dapat menghubungi ‘mereka’.


Akan tetapi, bagi sebagian orang, pertanyaannya bukanlah apakah peradaban alien yang cerdas itu ada atau tidak, melainkan apakah ada kemungkinan kita akan pernah bersentuhan dengan mereka atau tidak.

Ini menjadi sebuah polemik tersendiri dalam usaha pencarian peradaban lain selain di Bumi.

Berezow, yang merupakan editor eksekutif Big Think, menerima kemungkinan bahwa alien memang ada, tetapi dia menyakini bahwa hampir tidak ada kemungkinan kita dapat bertemu dengan mereka.


"Berkat kemajuan dalam astrofisika, kita sekarang tahu bahwa di Bima Sakti saja, ada miliaran eksoplanet, membuat sebagian besar komunitas ilmiah menyimpulkan bahwa kehidupan mungkin ada di tempat lain di alam semesta," kata Berezow.

"Mereka yang tidak percaya sekarang dianggap kooks. Sementara kasus penculikan alien masih belum menjadi arus utama. UFO begitu banyak, sehingga intelijen AS baru saja mengeluarkan laporan tentang mereka," imbuhnya.

Argumen utama yang menentang kemungkinan kita dapat bersentuhan dengan alien adalah bahwa pencarian makhluk itu hanyalah perjalanan antariksa melintasi jarak begitu jauh yang sama sekali tidak praktis.


"Tentu saja, kita bisa naik pesawat ruang angkasa hari ini dan menuju ke planet yang mengorbit bintang terdekat, Proxima Centauri misalnya, tapi bukankah lebih baik kita mengemasi banyak tas pretzel dan menjualnya ini jauh lebih menyenangkan, karena akan memakan waktu sekitar 6.300 tahun untuk sampai ke sana," kata ahli kimia terkemuka, James Tour, sedikit berkelakar.

Meskipun argumen ini terdengar masuk akal, itu juga menyiratkan bahwa kita tidak akan pernah mengembangkan teknologi luar angkasa yang canggih atau membuat penemuan yang dapat membuat perjalanan antariksa antarbintang menjadi lebih mudah.

“Memakai kecepatan perjalanan cahaya? Meskipun begitu, Proxima Centauri tetap saja memiliki jarak empat tahun cahaya. Sisi lain galaksi? Lebih dari 100.000 tahun cahaya jauhnya. Bahkan lubang hitam (untungnya) berjarak ratusan tahun cahaya dari Bumi. Dan lubang cacing, saat ini, merupakan konsep spekulatif,” tutur James Tour.

Kita hanya bisa bilang, jikalau suatu saat nanti perjalanan antarbintang ini dapat terwujud, kemungkinannya sangat kecil kita dapat mengunjungi dunia asing dalam waktu yang dekat.