About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Surat-Surat Misterius. Show all posts
Showing posts with label Surat-Surat Misterius. Show all posts

Friday, October 28, 2022

Spesies Ikan yang Jalan di Dasar Laut Ini Telah Punah, Bagaimana Nasib 'Sepupu'-nya?


 Pertama kali dalam sejarah modern spesies ikan laut telah dinyatakan punah. Penghuni dasar perairan dangkal dengan sirip runcung dan tonjolan seperti duri di dahi bernama Sympterichthys unipennis atau handfish halus belum terlihat lagi sejak 1802, ketika ahli biologi Prancis bernama François Péron menyendoknya di dekat pantai Tasmania untuk dibawa ke Museum Sejarah Alam Paris.

Tidak ada handfish mulus yang pernah terlihat lagi meskipun pencarian ekstensif selama bertahun-tahun dilakukan. Melihat hal itu, pada bulan Mei lalu, International Union for the Concervation of Nature (IUCN) mendaftarkannya secara resmi sebagai hewan punah.

Namun, tiga belas spesies handfish lainnya mungkin masih ada, meski tujuh di antaranya belum terlihat sejak tahun 2000. 

Hilangnya ikan handfish halus menyoroti betapa sensitifnya famili ikan itu terhadap gangguan lingkungan seperti perubahan iklim, perusakan habitat, dan polusi. 

Para ilmuwan mengatakan bahwa ini ialah peringatan untuk segala kemungkinan yang terjadi pada spesies handfish dan lainnya yang rentan terlokalisasi.

“Mereka adalah burung kenari di tambang batu bara,” kata Neville Barrett, ahli ikan di Institut Studi Kelautan dan Antartika Tasmania, dilansir dari laman National Geographic.


“Jika Anda belum pernah melihat ikan handfish sebelumnya, bayangkan mencelupkan katak ke dalam cat berwarna cerah, menceritakan kisah sedih, dan memaksanya memakai sarung tangan dua kali ukuran yang lebih besar,” deskripsi tentang ikan tersebut yang disampaikan oleh Handfish Conversation Project.

Kebanyakan handfish diyakini hanya hidup di laut sekitar Tasmania. Bahkan di dalam perairan tersebut, setiap spesies hanya ditemukan di sejumlah kecil lokasi.

Biasanya, handfish tidak menyebar ke jarak yang jauh. Tidak bergerak luas seperti banyak jenis ikan lainya.

“Mereka memiliki strategi bekerja yang sangat baik dalam lingkungan stabil,” kata Barrett.

Friday, October 14, 2022

NASA Ungkap Rencananya Lindungi Bumi dari Asteroid Mematikan



NASA telah mengungkapkan rencananya untuk melindungi Bumi dari asteroid yang bisa memusnahkan semua makhluk hidup.

Belum ada ancaman asteroid dalam waktu dekat. Namun, para ilmuwan khawatir mereka terlambat mengetahuinya. Oleh sebab itu, Gedung Putih AS meminta rencana yang lebih baik untuk memastikan kita aman dari asteroid.

Lindley Johnson, planetary defence officer NASA, mengatakan, peneliti telah menemukan 95% benda dekat Bumi berukuran satu kilometer (0,62 mil). Kini, pencariannya difokuskan pada 5%-nya serta batu-batu kecil yang juga bisa menimbulkan kerusakan.

NASA telah membuat daftar 18.310 objek luar angkasa dalam semua ukuran. Sekitar 800 objek memiliki ukuran 140 meter atau lebih besar.

Menurut Johnson, teleskop darat cukup baik untuk mengambil gambar asteroid yang membesar saat memasuki sistem tata surya dan menghampiri sisi malam Bumi. Yang sulit dideteksi adalah bebatuan yang telah melewati Matahari dan menuju keluar dari tata surya, menghampiri sisi Bumi yang mengalami waktu siang.

tulah yang terjadi pada 2013 ketika asteroid berukuran 20 meter, tiba-tiba muncul dan meledak di Chelyabinsk, Russia – merusak ribuan bangunan dan melukai ratusan penduduk.

Menurut laporan yang dipublikasikan oleh National Science and Technology Council ini, korban bisa mencapai jutaan jika peristiwa tersebut melanda New York.

Asteroid yang ukurannya tiga kali lebih besar dari itu, juga pernah meledak di atas Tunguska, Rusia, pada 1908 – meratakan hutan seluas 770 mil persegi.

Seperti yang kita tahu, batu luar angkasa raksasa pernah menyapu bersih spesies dinosaurus ketika ia menghantam semenanjung Yukatan, Meksiko, 65 juta tahun lalu.

Johnson menekankan, butuh waktu bertahun-tahun untuk mencoba mematikan asteroid – termasuk beberapa tahun membangun pesawat luar angkasa. “Idealnya, kira-kira sepuluh tahun,” ujarnya.

Misi menyelamatkan Bumi dapat dilakukan dengan “memukul” asteroid atau komet menggunakan pesawat ruang angkasa robotik yang besar dan mampu bergerak cepat. Itu diharapkan bisa mengubah jalurnya.


Atau dalam kasus terburuk, kita bisa meluncurkan nuklir – bukan untuk meledakkan asteroid – tapi memanaskan permukaannya sehingga beberapa material terbuang dan jalurnya menyimpang.

Semua rencana itu melibatkan teknologi masa kini. “Namun, kami berencana menyelidiki teknologi lainnya – teknik yang bisa mengganggu dan mengubah arah asteroid,” kata Johnson.

Para peneliti berharap dapat mengetahui lebih banyak tentang asteroid dari dua misi yang sedang berjalan. Pesawat luar angkasa Osiris-Rex milik NASA, akan mencapai asteroid Bennu dalam tahun ini, dan membawa sampelnya pada 2023. Sementara Hyabusa 2 milik Jepang, sedang mendekati asteroid Ryugu, dan membawa sampelnya pada 2020.

Johnson mengatakan, lupakan rencana mengirim astronaut ke luar angkasa untuk menghentikan asteroid.  

“Cara tersebut bagus untuk menjadi ide cerita film. Namun, kami tidak pernah melihat teknik yang membutuhkan keterlibatan astronaut,” katanya.

Misi seperti ini berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan, dan itu akan sangat menyulitkan jika dilakukan manusia.

Tuesday, October 11, 2022

Bagaimana Efek Hantaman Asteroid Kecil?


Sebuah asteroid kecil melintas relatif dekat dengan Bumi pada Januari lalu, ditemukan hanya enam hari sebelumnya. Ini mungkin terdengar menakutkan, tapi kemungkinan kecil bahwa objek semacam itu akan bertabrakan dengan Bumi.

Setiap tahun, sekitar 50.000 ton material (batu dan debu) dari luar bumi menabrak planet kita. Mereka datang sebagai potongan-potongan kecil—bahkan bila mereka semua datang bersamaan pun, ukurannya hanya akan sedikit lebih besar daripada asteroid “sebesar truk” yang melewati kita pada Januari.

Meski para ilmuwan bisa dengan mudah melihat asteroid yang cukup besar dengan diameter lebih dari sekitar satu kilometer, risiko apa yang mungkin ditimbulkan oleh asteroid lebih kecil, yang lebih sulit dilacak? Haruskah kita khawatir?

Ada kepercayaan umum bahwa dinosaurus musnah 65 juta tahun lalu akibat benturan asteroid. Perubahan lingkungan yang ditimbulkannya—kenaikan temperatur atmosfer yang cepat dan kebakaran hutan global, diikuti oleh penurunan suhu yang drastis dan pengasaman air laut—adalah konsekuensi dari ukuran asteroid, mungkin berdiameter sekitar 10 kilometer.

Asteroid itu berdiameter hampir 1.000 kali lipat lebih besar, dan sekitar 30 juta kali lebih berat daripada kombinasi asteroid yang menabrak kita selama setahun terakhir.

Bumi memiliki persentuhan dengan sebuah objek yang diperkirakan berdiameter sekitar 20 meter hampir lima tahun lalu di Chelyabinsk, Rusia. Kala itu, tidak seorang pun melihatnya datang. Rekaman spektakuler mengenai kedatangan bola api direkam oleh komuter dalam perjalanan mereka ke kantor, yang terkejut melihat pagi hari nan gelap pada Februari diterangi oleh sesuatu yang awalnya diduga misil.

Batu itu meledak di atmosfer, dengan pecahan meteorit berhamburan ke seluruh wilayah itu. Potongan terbesar, sekitar 600 kilogram, ditemukan beberapa bulan kemudian di dalam danau yang tertutup es. Meski banyak orang terluka ketika objek tersebut menghantam atmosfer dengan kuat, luka umumnya disebabkan oleh kaca jendela yang pecah akibat gelombang kejut yang ditimbulkannya.

Penduduk di wilayah Chelyabinsk beruntung—tidak terbentuk kawah akibat asteroid karena benda tersebut hancur berkeping-keping sekitar 30 km di atmosfer. Untungnya, ini situasi yang paling mungkin terjadi untuk objek dengan ukuran tersebut.

Kawah tidak akan tercipta hingga asteroid berukuran diameter sekira 50 meter. Bahkan ketika ukurannya satu atau dua kilometer—ukuran Kawah Meteor di Arizona tidak mendekati cukup besar untuk menciptakan kehancuran berskala global seperti kepunahan dinosaurus. Namun peristiwa ini tentu akan menyebabkan masalah lokal bila benturan terjadi di wilayah yang berpenghuni. Bayangkan asteroid yang menyebabkan Kawah Meteor—secara harfiah dan kiasan—menabrak pusat kota London, Washington, atau Mumbai.

Memantau ancaman

Ada beberapa program observasi internasional yang menggunakan teleskop otomatis yang secara spesifik didedikasikan untuk memetakan segala “Objek Dekat Bumi”. Ini adalah asteroid yang paling mendekati matahari dengan kurang dari 1,3 Unit Astronomis – satu unit adalah jarak antara Bumi dan Matahari. Pengamat khusus disiagakan untuk “objek-objek yang berpotensi membahayakan”, yang adalah Objek Dekat Bumi berdiameter lebih dari 150 meter dengan orbit yang melintasi Bumi.

Untungnya, praktis semua objek ini berada dalam orbit yang stabil, dan tidak dirancang berbahaya. Asteroid dengan ukuran sampai sekecil sekitar lima meter kini bisa diobservasi. Meskipun, seperti tergambar pada kejadian Chelyabinsk, masih ada objek yang menghalangi pengamat. Bagian dari alasan mengapa objek Chelyabinsk tidak terdeteksi, karena objek tersebut mendatangi atmosfer pada sudut yang sangat rendah dari arah matahari. Namun alasan utamanya adalah banyaknya jumlah objek semacam itu, dan waktu relatif pendek (sekira satu dekade) di mana kita telah melacak mereka secara aktif.

Sangatlah bermanfaat untuk melihat jumlah deteksi Objek Dekat Bumi. Pusat Planet Minor memelihara basis data observasi, penyimpanan dengan jumlah berjalan, yang pada akhir Desember 2017 melebihi 17.500 objek. Sebanyak 28 lagi sudah dilihat pada Januari. Anda bisa mendapat sebuah gagasan di sini di mana semua objek ini relatif dekat dengan Bumi maupun Matahari—saya jamin Anda akan merasa lebih dari sekadar gelisah begitu melihat betapa kita dikelilingi oleh misil-misil ini.

Salah satu masalah utama yang dimiliki peradaban yakni, meskipun kita menjadi sangat efisien dalam melihat Objek Dekat Bumi, kita masih belum bisa melakukan apapun tentang sesuatu yang mungkin berada di jalur tabrakan dengan Bumi. NASA baru-baru ini memiliki proyek, DART (Double Asteroid Redirection Test), untuk mengalihkan jurusan asteroid yang mengancam pada fase rancangan pendahuluan.

Sebuah pesawat ruang angkasa, berdiameter sekitar 1,5 meter, akan diarahkan untuk menabrak sebuah asteroid (Didymos B) dengan ukuran sekitar 140 meter. Didymos B mengorbit suatu badan primer, Didymos A. Tujuan proyek ini yakni untuk mengubah orbit Didymos B mengelilingi mitra binernya, tanpa mengubah orbit Didymos A mengelilingi matahari.

DART dijadwalkan untuk peluncuran pada Desember 2020, menghadang Didymos pada Oktober 2020. Jadi kita memiliki kurang dari lima tahun untuk menunggu sebelum kita mengetahui apakah kita bisa melindungi planet kita dari tetangganya yang sulit dikendalikan.

Untuk saat ini, meski asteroid kecil bisa memunculkan bahaya, ancamannya lebih bersifat regional daripada yang ditimbulkan oleh asteroid besar. Jadi tidak (belum) perlu mulai menimbun kacang panggang dan air kemasan menjelang kematian yang akan segera datang akibat serangan asteroid.

Lima puluh ribu ton materi angkasa yang menabrak Bumi setiap tahun utamanya jatuh sebagai butiran debu berukuran kurang dari setengah milimeter. Dan mengingat kita semua masih di sini (di waktu penulisan…), hal itu tidak mengancam umat manusia.



 

Tuesday, October 4, 2022


Penggalian arkeologi di samping Tembok Barat Yerusalem txxxxxxxxxxelah mengungkap sejarah ribuan tahun kota kuno. Termasuk dalam temuan itu vila berusia 2.000 tahun, tembok ratapan hingga pemandian kuno Romawi dan saluran air yang dipasang selama periode Kesultanan Utsmaniyah.

Seperti diketahui, Tembok Barat adalah salah satu situs paling suci dalam Yudaisme dan dikunjungi oleh jutaan pemuja dan turis setiap tahun. Tetapi pengunjung biasanya harus menuruni 142 anak tangga atau membuat jalan memutar yang panjang di sekitar tembok kota untuk mencapai tempat suci.

Izin diberikan kepada perusahaan pengembangan pada tahun 2017. Mereka membangun dua elevator untuk akses penyandang cacat yang lebih baik, perusahaan membuat penurunan 85 kaki (26 meter) di samping tangga yang ada di tepi Kawasan Yahudi Kota Tua. Para arkeolog mulai menggali area kecil di 2019.

"Kami benar-benar diberi kesempatan luar biasa untuk menggali sebidang tanah yang tidak terganggu di dalam Kota Tua, yang saat ini sangat langka," kata Michal Haber, seorang arkeolog di Hebrew University of Jerusalem yang ikut serta dalam penggalian, kepada Live Science.

"Dan dengan demikian menggali semua lapisan di bawah kota yang hidup dan aktif, dalam semua kerumitan dan perjuangannya, baik masa lalu. dan sekarang."

Penggalian arkeologi berakhir beberapa bulan yang lalu, setelah penemuan struktur dan artefak dari setidaknya lima fase berbeda dari sejarah kota kuno yang luas. Persyaratan hukum, bagaimanapun, berarti bahwa elevator tidak akan mulai beroperasi di samping ujung barat daya Western Wall Plaza hingga tahun 2025.

Penggalian arkeologi di samping Tembok Barat Yerusalem telah mengungkap sejarah ribuan tahun kota kuno. Termasuk dalam temuan itu vila berusia 2.000 tahun, tembok ratapan hingga pemandian kuno Romawi dan saluran air yang dipasang selama periode Kesultanan Utsmaniyah.

Seperti diketahui, Tembok Barat adalah salah satu situs paling suci dalam Yudaisme dan dikunjungi oleh jutaan pemuja dan turis setiap tahun. Tetapi pengunjung biasanya harus menuruni 142 anak tangga atau membuat jalan memutar yang panjang di sekitar tembok kota untuk mencapai tempat suci.

Izin diberikan kepada perusahaan pengembangan pada tahun 2017. Mereka membangun dua elevator untuk akses penyandang cacat yang lebih baik, perusahaan membuat penurunan 85 kaki (26 meter) di samping tangga yang ada di tepi Kawasan Yahudi Kota Tua. Para arkeolog mulai menggali area kecil di 2019.

"Kami benar-benar diberi kesempatan luar biasa untuk menggali sebidang tanah yang tidak terganggu di dalam Kota Tua, yang saat ini sangat langka," kata Michal Haber, seorang arkeolog di Hebrew University of Jerusalem yang ikut serta dalam penggalian, kepada Live Science.

"Dan dengan demikian menggali semua lapisan di bawah kota yang hidup dan aktif, dalam semua kerumitan dan perjuangannya, baik masa lalu. dan sekarang."
.
Penggalian arkeologi berakhir beberapa bulan yang lalu, setelah penemuan struktur dan artefak dari setidaknya lima fase berbeda dari sejarah kota kuno yang luas. Persyaratan hukum, bagaimanapun, berarti bahwa elevator tidak akan mulai beroperasi di samping ujung barat daya Western Wall Plaza hingga tahun 2025.

Para arkeolog juga telah menemukan tembikar dan lampu minyak dari periode Mamluk dalam sejarah Yerusalem. Ketika Kesultanan Mamluk Mesir memerintah kota itu antara abad ke-13 dan ke-16.

Mereka juga menemukan artefak dari periode Bizantium, dari sekitar abad keempat hingga Yerusalem ditaklukkan oleh Khulafaur Rasyidin pada abad ketujuh.

Penemuan ini juga mencakup bukti ekstensif tentang kehadiran tentara Romawi di kota itu setelah tahun 135 M. Beberapa dekade setelah Kuil Kedua dihancurkan dan Yerusalem telah dibangun kembali sebagai kota Romawi pagan yang disebut Aelia Capitolina.

Nama tersebut diambil dari keluarga kaisar. Pada saat itu, Hadrian, dan kota itu didedikasikan untuk dewa utama Romawi Jupiter Capitolinus. Bangsa Romawi juga membangun sebuah kuil untuk dewa di Temple Mount.

Gutfeld mengatakan tampaknya orang Romawi telah membangun genangan air di atas sisa-sisa oven batu bata, mungkin untuk memanggang roti. Batu bata yang digunakan untuk membuat oven bertuliskan inisial LXF, untuk "Legio X Fretensis" -nama lengkap legiun ke-10 Romawi yang membuatnya.

Temuan paling spektakuler di situs tersebut, bagaimanapun, adalah kerangka sebuah vila kaya yang ditempati tepat sebelum Romawi menghancurkan Bait Suci Kedua pada tahun 70 M.

Pada saat vila itu ditempati, Kuil Kedua di dekatnya masih digunakan dan area itu akan dikhususkan untuk orang-orang yang sangat kaya.

"Vila ini unik karena benar-benar berada di tebing tepat di sebelah Temple Mount, di tempat di mana Anda tidak akan menemukan arsitektur karena kemiringannya," katanya. "Itu seperti 100 meter dari kuil, itu pasti salah satu real estat terbaik di Yerusalem."




 

Friday, September 30, 2022

Momus, Dewa Ironi dan Sarkasme yang Diusir dari Olimpus oleh Zeus


Menurut Theogony oleh Hesiod, Momus pada awalnya adalah penasihat para dewa Olimpus. Namun karena kritik yang berlebihan, tidak menyenangkan, dan terus-menerus terhadap para dewa, ia akhirnya dibuang ke bumi.

Momus menjadi “orang jahat” di antara dewa-dewa kecil Olimpus. “Maka tidak heran jika ia lebih tidak disukai oleh mereka daripada dewa Yunani lainnya,” ungkap A. Sutherland dilansir dari laman Ancient Pages.

Panteon Yunani sangat beragam. Masing-masing dewa memiliki rentang aktivitas, atribut, dan kelemahan yang berbeda. Dewa-dewa Yunani berbeda dari dewa-dewa agama monoteistik besar—dewa Momus menampilkan banyak karakteristik yang mirip dengan manusia.

Salah satu penulis drama klasik paling terkenal di Athena, Sophocles menulis sebuah drama satir yang ditujukan untuk Momus, putra Nyx. Ia menggambarkan Momus sebagai dewa lelucon dan ejekan yang suka mengkritik dan mengolok-olok orang lain. “Pendapatnya diungkapkan dengan sarkasme pahit,” tambah Sutherland.

Momus, dewa kritik, tidak pernah disambut sebagai pendamping para dewa di Gunung Olimpus. Tetapi karena dia adalah salah satu dari para dewa, maka kelakuan Momus pun ditoleransi.

Ironi dan kritiknya yang tidak pantas sering ditafsirkan sebagai sesuatu yang ganas. Kadang-kadang, dia mengalami kesulitan menemukan sesuatu yang salah dalam tindakan para dewa dan manusia, tetapi dia selalu mencoba. Juga, sikapnya terhadap kemanusiaan tidak sepenuhnya benar dan tentu saja tidak ramah.

Faktanya, Momus tidak menyukai manusia dan ingin melihat populasi bumi berkurang. Dia sering membuat upaya yang berhasil untuk menemukan beberapa kekurangan atau kelemahan dalam segala hal.

Sutherland menyebutkan bahwa kadang-kadang, Momus muncul dan menuduh dewa melarikan diri dengan suatu kejahatan. Dia tidak terlalu terkesan ketika Prometheus 'Pembawa Api' mencuri api dari para dewa dan menciptakan manusia pertama. Sang dewa yang tidak disukai ini merasa bukan dirinya sendiri jika tidak mengkritik karya ilahi Prometheus.

Athena pun tidak luput dari kritikan Momus. Kali itu, Momus menghina usaha Athena untuk pembangunan rumah manusia. Momus menunjukkan bahwa rumah itu tidak memiliki sarana penggerak yang diperlukan. Momus menyarankan bahwa ciptaannya untuk manusia harus memiliki roda. Sehingga seseorang dapat dengan bebas berpindah dari satu tempat ke tempat lain jika perlu.

Afrodit sang dewi kecantikan menolak kritikan Momus atas Athena. Momus tidak dapat menemukan kesalahan atas kekecewaannya yang besar dengan bentuk sempurnanya. Sehingga dia menuduhnya terlalu banyak bicara dan mengenakan sandal yang aneh dan berderit.

Dalam "Lucian and the Latins: Humor and Humanism in the Early Renaissance", David Marsh menulis bahwa di perjamuan Momus mengutuk para filsuf, pendeta, dan cendekiawan sebagai ateis.

Terlepas dari protes Hercules dan Juno, dewa Jupiter menerima proposal Momus untuk menghancurkan dunia dan merencanakan penciptaan baru.

Para dewa mengunjungi bumi untuk berkonsultasi dengan para filsuf manusia. Mereka menyatakan Socrates satu-satunya orang yang benar-benar bijaksana. “Kembali ke Olimpus, para dewa berkumpul tetapi segera jatuh ke pertengkaran,” tulis Marsh.

Ketika Juno menghina Momus, dia mengusulkan undang-undang untuk mengecualikan semua dewa wanita dari majelis. Para dewi yang marah menyerang Momus dan mengebirinya. Sementara itu, orang-orang di bumi, yang takut akan bencana baru, berusaha menyesuaikan diri dengan dewa-dewa. Manusia mempersembahkan kuil dan patung baru untuk para dewa agar mereka tidak murka.

Ini membuat para dewa senang dan memuji umat manusia. Marsh menuturkan, “Para dewa itu pun berbalik mencela Momus yang cacat, yang dibuang oleh Jupiter untuk dirantai di tebing laut."

Bagaimana cara manusia zaman dulu menggambarkan dewa ini tidak diketahui hingga kini. Momus sering digambarkan sebagai badut raja dalam seni modern, dengan topi dan lonceng bodoh.

Momus dianggap sebagai sosok ilahi yang relatif anonym. Ia adalah putra Nyx, personifikasi malam, yang juga ibu dari Hypnos (Tidur) dan Thanatos (Kematian), dengan Erebus (Kegelapan). Menurut Hesiod, Momus tidak memiliki ayah, tetapi saudara kembarnya, Oizys, dewi depresi dan kesengsaraan.

Momus membuat para dewa gila dengan ketidaksetujuan abadinya terhadap segala hal. Terakhir, ia menyebut Zeus sebagai maniak seks dan dewa yang kejam. Sudah cukup bersabar, Zeus akhirnya menendang Momus keluar dari Olimpus.

Orang Yunani memiliki banyak dewa yang mempersonifikasikan kehidupan dan alam. Seperti makhluk fana, para dewa, setengah dewa, dan pahlawan mitologis. Mereka menunjukkan sifat-sifat negatif seperti manusia, emosi, dan sikap permusuhan.

“Perilaku dewa berkontribusi pada banyak legenda dan mitos yang menarik. Ini menjadikan mitologi Yunani sebagai warisan penting dari budaya kuno ini,” imbuh Sutherland.

Sunday, September 25, 2022

Kuburan Massal Berisi 25 Kerangka Elite Ditemukan di Kota Kuno Peru


Para arkeolog yang menjelajahi kota kuno Chan Chan di Peru menemukan sisa-sisa kerangka 25 orang di satu situs pemakaman berukuran sedang. Para pria, wanita, dan anak-anak yang dimakamkan di sana tampaknya merupakan orang-orang Chimu yang legendaris di Peru, yang membangun peradaban canggih yang bertahan selama lebih dari lima abad sebelum menyerah pada Inca.

Bekerja di bawah naungan Chan Chan Archaeological Research Program, sebuah proyek inisiatif yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan Peru, para arkeolog menemukan sisa-sisa orang-orang Chimu di kuburan seluas 10 meter persegi yang telah digali di dalam area yang telah ditinggikan di kompleks bertembok Utzh An (Great Chimu). Mereka terkejut menemukan kuburan di lokasi ini, karena kompleks bangunan ini diyakini berfungsi sebagai istana yang ditempati oleh para bangsawan dan pemimpin Chimu.

"Sebagian besar dari mereka (sisa-sisa) milik wanita berusia di bawah 30 tahun yang dimakamkan dengan benda-benda yang digunakan dalam kegiatan tekstil, beberapa anak-anak, dan beberapa remaja," papar Jorge Meneses, pemimpin penggalian ini, seperti dilansir ANDINA, kantor berita Peru. "Ini adalah populasi yang sangat spesifik, tidak terlalu muda mengingat umur manusia rata-rata adalah 40 tahun."

Para arkeolog menemukan kuburan itu saat menggali di dekat tembok selatan kompleks istana tersebut. Ruang pemakaman kecil itu menampilkan dua tingkat tanggul, dan secara keseluruhan ada sekitar 70 bejana dan barang-barang terkait yang ditemukan yang tampaknya digunakan dalam pekerjaan tekstil.

Para peneliti menemukan usia orang-orang di kuburan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka tidak mati karena sebab alami. Hal ini menimbulkan beberapa spekulasi bahwa mereka mungkin telah menjadi korban pengorbanan manusia.

Meneses menolak teori ini. Seperti banyak budaya Amerika Selatan dan Mesoamerika kuno, suku Chimu melakukan pengorbanan manusia sampai batas tertentu. Tetapi sisa-sisa kerangka ini tidak mengandung tanda yang konsisten dengan kematian yang kejam, seperti yang diperkirakan jika mereka dibunuh selama upacara pengorbanan.


Berdasarkan lokasi yang tidak biasa di mana kerangka itu ditemukan, para arkeolog percaya bahwa situs pemakaman kecil itu kemungkinan disediakan sebagai tempat peristirahatan bagi anggota-anggota keluarga elite Chimu atau bahkan mungkin satu keluarga elite.

Yang menjadi misteri dari penemuan ini adalah bagaimana orang-orang Chimu meninggal. Menurut Jorge Meneses, posisi salah satu kerangka menunjukkan bahwa kerangka itu telah dikubur tidak lama setelah kematian orang tersebut. Kerangka ini sebagian besar utuh dan umumnya terawetkan dengan baik.

Namun, tulang-tulang di sekitarnya telah memutih dan dalam beberapa kasus telah bercampur menjadi satu. Ini menunjukkan bahwa kerangka-kerangka yang lain itu telah terpapar unsur-unsur untuk sementara waktu di beberapa titik, sebelum ditambahkan ke kuburan pada waktu yang mungkin bersamaan.

Apakah orang-orang yang malang ini semuanya terbunuh pada saat yang sama selama bencana alam atau perang? Mayat-mayat itu mungkin telah ditemukan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa yang merenggut nyawa mereka, yang akan menjelaskan mengapa tulang mereka rusak akibat sinar matahari. Mereka mungkin juga telah terseret dari kuburan sebelumnya oleh banjir dan ditempatkan di kuburan lain setelah tulang-tulang mereka ditemukan.

Meskipun ada beberapa tulang yang bercampur, beberapa upaya tampaknya telah dilakukan untuk menyatukan kembali kerangka-kerangka tersebut. Mayat-mayat itu ditemukan terbungkus kain dan telah ditempatkan dalam posisi duduk. Ini menunjukkan bahwa bangsa Chimu memang berhati-hati saat menguburkan orang-orang mereka yang telah mati, mungkin sebagai persiapan untuk masuknya mereka ke dunia berikutnya, kata arkeolog Sinthya Cueva seperti diberitakan Ancient Origins.


Chan Chan yang menjadi tempat penemuan ini adalah ibu kota Chimor, nama untuk kerajaan Chimu yang memerintah wilayah tersebut pada era pra-Inca. Kota ini dibangun sekitar tahun 850 Masehi di sepanjang pantai utara Peru, di lokasi yang tidak jauh dari kota modern Trujillo.

Kota kuno ini diakui sebagai salah satu situs arkeologi terpenting di Amerika. Kota ini menyimpan reruntuhan kuno seluas 36 kilometer persegi yang ditinggalkan orang-orang kerajaan Chimor ketika ditaklukkan oleh tentara Inca yang menyerang. Kota kuno ini sempat berkembang antara tahun 900 Masehi 1470 Masehi sebelum akhirnya ditinggalkan dan terbengkalai.

Para ilmuwan dan turis yang datang ke Chan Chan dapat menjelajahi sisa-sisa kuil piramida kuno dan istana yang luas. Selain itu, di kota ini juga situs waduk yang dibangun dengan mengesankan, yang semuanya dibangun dari batu bata lumpur.

Saturday, September 24, 2022

Homo Bodoensis, Spesies Baru Leluhur Manusia yang Hidup di Afrika

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Dr. Mirjana Roksandic, paleoantropolog dari University of Winnipeg telah mengumumkan penamaan spesies baru nenek moyang manusia, Homo bodoensis. Spesies ini hidup di Afrika selama Pleistosen Tengah, sekitar setengah juta tahun yang lalu dan merupakan nenek moyang langsung manusia modern.

Seperti diketahui, pleistosen Tengah (sekarang berganti nama menjadi Chibanian dan bertanggal 774.000-129.000 tahun yang lalu) penting karena melihat kebangkitan spesies kita sendiri (Homo sapiens) di Afrika, kerabat terdekat kita, dan Neanderthal (Homo neanderthalensis) di Eropa.

Namun, evolusi manusia selama zaman ini kurang dipahami, sebuah masalah yang oleh ahli paleoantropologi disebut "kekacauan di tengah". Pengumuman Homo bodoensis berharap dapat memberikan kejelasan pada bab yang membingungkan namun penting ini dalam evolusi manusia. Rincian studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Evolutionary Anthropology pada 28 Oktober 2021.


"Studi tentang evolusi manusia di Pleistosen Tengah dan Akhir telah mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa dekade terakhir," kata Roksandic, penulis utama studi tersebut dalam rilis University of Winnipeg.

Menurutnya, kita sekarang tahu bahwa asal Homo sapiens adalah Afrika (mungkin pan-Afrika) dan meluas lebih jauh ke akhir Pleistosen Tengah daripada yang diperkirakan sebelumnya. Juga jelas bahwa takson ini menyebar keluar dari Afrika sebelum 60.000 tahun yang lalu, kemungkinan dalam beberapa gelombang yang lebih kecil, dengan penyebaran besar pasca 60.000 tahun yang lalu.

"Lebih jauh, selama dua dekade terakhir, spesies yang termasuk dalam genus Homo (misalnya, Homo floresiensis, Homo naledi, dan Homo luzonensis) yang sezaman dengan garis keturunan Homo sapiens tetapi dianggap tidak banyak berperan dalam evolusi yang terakhir, membuktikan kompleksitas catatan evolusi manusia Pleistosen kemudian," Roksandic menjelaskan.


Nama baru ini didasarkan pada penilaian ulang fosil yang ada dari Afrika dan Eurasia dari periode waktu ini. Secara tradisional, fosil-fosil ini telah ditetapkan secara bervariasi baik sebagai Homo heidelbergensis atau Homo rhodesiensis, keduanya membawa banyak definisi yang seringkali bertentangan.

"Berbicara tentang evolusi manusia selama periode ini menjadi tidak mungkin karena kurangnya terminologi yang tepat yang mengakui variasi geografis manusia" menurut Roksandic.

Baru-baru ini, bukti DNA telah menunjukkan bahwa beberapa fosil di Eropa yang disebut Homo heidelbergensis sebenarnya adalah Neanderthal awal, membuat nama itu berlebihan. Untuk alasan yang sama, nama tersebut perlu ditinggalkan ketika menggambarkan fosil manusia dari Asia timur menurut rekan penulis, Xiu-Jie Wu dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology, Beijing.

Lebih lanjut mengacaukan narasi, fosil-fosil Afrika yang berasal dari periode ini kadang-kadang disebut sebagai Homo heidelbergensis dan Homo rhodesiensis. Yang terakhir didefinisikan dengan buruk dan namanya tidak pernah diterima secara luas. Ini sebagian karena hubungannya dengan Cecil Rhodes dan kejahatan mengerikan yang dilakukan selama pemerintahan kolonial di Afrika, suatu kehormatan yang tidak dapat diterima mengingat pekerjaan penting yang dilakukan menuju dekolonisasi sains.

Nama "bodoensis" berasal dari tengkorak yang ditemukan di Bodo D'ar, Ethiopia, dan spesies baru ini dianggap sebagai nenek moyang langsung manusia. Di bawah klasifikasi baru, Homo bodoensis akan menggambarkan sebagian besar manusia Pleistosen Tengah dari Afrika dan beberapa dari Eropa Tenggara, sementara banyak dari benua terakhir akan diklasifikasi ulang sebagai Neanderthal.


Rekan penulis pertama Predrag Radovic dari University of Belgrade, Serbia mengatakan, "Istilah-istilah harus jelas dalam sains, untuk memfasilitasi komunikasi. Mereka tidak boleh diperlakukan sebagai mutlak ketika mereka bertentangan dengan catatan fosil.

Pengenalan Homo bodoensis ditujukan untuk "memotong simpul Gordian dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan jelas tentang periode penting dalam evolusi manusia ini," menurut salah satu rekan penulis Christopher Bae dari Departemen Antropologi, University of Hawai'i at Manoa.

Menurut Roksandic, menamai spesies baru adalah masalah besar, karena Komisi Internasional untuk Nomenklatur Zoologi mengizinkan perubahan nama hanya di bawah aturan yang sangat ketat. "Kami yakin ini akan bertahan lama, nama takson baru akan hidup hanya jika peneliti lain menggunakannya," kata Roksandic.

Friday, September 23, 2022

Kisah Raja Minoan Hingga Mitologi Yunani Terhadap Monster Minotaur


Minotaur atau Minotauros Yunani (Banteng Minos) adalah monster dalam mitologi Yunani. Penduduk Yunani kuno percaya akan adanya monster Kreta yang luar biasa kuat dan besar, memiliki tubuh perkasa layaknya manusia dan berkepala banteng.

Martin Ries pada tahun 1972, menulis dalam jurnalnya yang berjudul Picasso and the Myth of the Minotaur, dimuat pada Art Journal, Taylor and Francis Online, menjelaskan tentang perhatian Picasso terhadap mitologi Yunani kuno dalam ekspresinya yang dituangkan pada kanvas.

Picasso menggambarkan kisah-kisah tentang Minotaur dalam kanvasnya yang menjadi representasi kepercayaan bagi masyarakat modern. Kisahnya sangat unik dan menarik untuk diceritakan hingga era modern. 

Legenda Minotaur dimulai dari kisah Raja Minos, Penguasa Minoa di pulau Kreta. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya sangat disukai oleh semua dewa Yunani. Sehingga, ia meminta Poseidon untuk mengiriminya seekor banteng dari laut.

"Dia berjanji akan mengorbankan banteng itu kembali kepada para dewa untuk mendapatkan bantuan dan kekuatan. Ketika Minos melihat betapa bagusnya banteng itu, dia malah memutuskan untuk memeliharanya" tulisnya.

"Ketika Poseidon mengetahui bahwa Minos tidak mengorbankan banteng, dia marah. Meskipun Poseidon dikabarkan memiliki temperamen, ia memutuskan untuk membalas dendam tanpa menggunakan kekuatan. Dia menyebabkan Pasiphae, Ratu Kreta dan istri Minos, jatuh cinta pada banteng" tambahnya.

Poseidon menghukum dengan membuat istrinya, Pasiphaë jatuh cinta kepada seekor banteng. Pasiphaë bersanggama dengan banteng, bersembunyi di dalam sapi kayu yang dibangun oleh Daedalus (skulptor dan arsitek handal dalam mitologi Yunani). 


Asterius, Minotaur pertama, adalah anak hasil dari hubungan gelap dan tak wajar Pasiphaë dengan banteng. Inilah sebabnya mengapa Minotaur digambarkan memiliki tubuh berotot seperti pria dan berkepala banteng.

Encyclopedia Britannica dalam artikelnya berjudul Minotaur: The Greek Mythology, dipublikasikan pada 18 Maret 2021, mengisahkan tentang hukuman dari Raja Minos kepada Asterius dengan membuangnya ke labirin raksasa yang rumit seumur hidupnya. 

Ketika Raja Minos mengetahui bahwa istrinya, Pasiphaë melahirkan anak dari banteng, dia marah. Ia marah lantaran dirinya tak menyukai Poseidon karena membuat istrinya menjadi tidak setia. Kemudian, ia mulai menyuruh Deadalus untuk membangun Labirin raksasa yang melegenda di Yunani kuno.

Ia kemudian membuang Asterius ke labirin yang rumit ini, tempat dia menjalani hidupnya. Setiap tahunnya, tujuh wanita muda dan tujuh pria muda dikirim ke labirin sebagai pengorbanan untuk Minotaur, Asterius.

Pada dasarnya, para tumbal ini adalah satu-satunya sumber makanan Asterius. Akhirnya, salah satu pemuda bernama Theseus berhasil sampai ke ujung labirin dengan sukses dan membunuh Asterius.

Theseus juga sangat populer dalam kepercayaan Yunani Kuno. Ia dianggap sebagai pahlawan Athena setelah mengakhiri seteru dengan membunuh Asterius. Dalam kisah yang disebutkan oleh Mary Renault pada novelnya berjudul The King Must Die, tulisannya di tahun 1958, mengisahkan perjuangan Theseus.

"Theseus bersama Ariadne, putra dari Minos dan Pasiphaë, berhasil membunuh Asterius setelah melalui labirin yang rumit, panjang, dan terjal" tulisnya. Setelahnya, Theseus yang berhasil menaklukan Minotaur yang meresahkan, ia juga mengajak Ariadne untuk melarikan diri dari Kreta.


Sangat menarik untuk dicatat bahwa adanya bukti yang ditemukan dalam peradaban Minoa di Kreta, khususnya di Knossos, yang menunjukkan bahwa banteng pada umumnya memainkan peran penting dalam budaya tersebut. Misalnya, ada lukisan dinding di Knossos yang menggambarkan seekor banteng raksasa yang sedang melompat, diduga merupakan Asterius.

Motif ini juga muncul pada patung-patung yang ditemukan dari situs penggalian. Secara umum, kisah Minotaur pertama, Asterius, menunjukkan bahwa orang Minoa takut pada makhluk itu dan mungkin juga sangat menghormatinya.

Monday, September 19, 2022

Apakah Temuan Sampul Kitab Kuno ini Merujuk pada Wajah Yesus Kristus?


Temuan kali ini berupa sosok wajah yang mungkin familiar. Sosok wajah itu mungkin sangat akrab: lelaki berjenggot dengan rambut bergelombang. Detail lukisan potret ini sulit terlihat, namun dari sudut pengelihatan tertentu, di sekitar alisnya terlihat seperti sebuah mahkota berduri.

Kemungkinan, potret seraut wajah itu merujuk Yesus Kristus. Potret tersebut tergeletak di gua tersembunyi, selama hampir 2.000 tahun. Jika asli, temuan ini bisa merupakan potret Yesus Kristus yang pertama kali. Bahkan, potret ini mungkin dibuat pada masa yang sama, oleh seniman yang sungguh mengenalnya.

Penggalian baru-baru ini membuahkan hasil yang luar biasa. Selain potret Yesus Kristus, ditemukan juga 70 kitab berupa buklet di sebuah gua, di perbukitan yang menghadap ke arah Laut Galilea. Bukletnya berukuran kecil, sedikit lebih kecil dari kartu kredit modern. Semua sisinya masih dalam keadaan disegel dan sampul cetak timbul atau 3-D berbentuk wajah manusia. Sampul-sampul itu terbuat dari besi.

Wajah 3-D pada sampul tersebut satunya memiliki jenggot, tetapi yang lainnya tidak berjenggot. Terlihat juga bekas sidik jari pembuatnya pada temuan tersebut. Di bawah sampul wajahnya, terdapat sebuah tulisan berupa naskah Ibrani kuno yang belum diketahui artinya. Sejauh ini, hanya ditemukan sebuah frasa yang artinya: Juru Selamat Israel.

Berita ini pernah dilansir Daily Mail pada 2011. Pemilik termuan tersebut adalah sopir truk Badui bernama Hassan Saida, yang tinggal di desa Arab umm al-Ghanim, Shibli. Dia telah menolak untuk menjual buklet tersebut, namun dia bersedia meminjamkan dua sampel untuk dikirim ke Inggris dan Swiss demi pengujian. Awalnya, artefak tersebut ditemukan di sebuah gua di Desa Saham, Yordania, dekat dari Israel. Menurut sumber di Desa Saham, dia  menemukannya lima tahun yang lalu setelah peristiwa banjir bandang menimpa.


Ketika peristiwa banjir bandang, air bah menyapu pegunungan dan memperlihatkan sebuah batu besar. Lalu, warga menyingkirkan batu tersebut. Ternyata, terdapat sebuah gua di balik batu besar tersebut. Di dalam gua, mereka menemukan sebuah bagian pada tembok yang menjorok ke dalam, membentuk semacam kolom. Kolom-kolom tersebut berisikan buklet. Ada juga objek lain termasuk beberapa pelat logam dan gulungan timah.

Daerah ini terkenal sebagai tempat perlindungan bagi orang Yahudi kuno. Mereka melarikan diri dari  serangkaian pemberontakan terhadap kekaisaran Romawi pada abad kedua Masehi. Era tersebut sangat penting bagi para ulama Alkitab karena mencakup pergolakan politik, sosial, dan agama, yang menyebabkan pertikaian antara Yudaisme dan Kristen. Pertikaian tersebut berakhir dengan kemenangan oleh Kekristenan Romawi.

Gua
berjarak kurang dari 150 kilometer dari Qumran, tempat Gulungan Laut Mati ditemukan. Menurut arkeolog, Gulungan Laut Mati berisikan 
versi paling awal dari Alkitab Ibrani dan teks-teks lainnya. Penemuan-penemuan utama itu berhubungan dengan kebangkitan Kekristenan. Gulungan Laut Mati terdiri atas beberapa lembaran yang tampaknya menggunakan bahasa Fenisia. Halaman awalnya pun berupa gambar bergaya, bukan potret wajah, seperti yang ditemukan baru-baru ini.

Gulungan yang baru-baru ini ditemukan masing-masing berisikan delapan atau sembilan halaman, dan diikat dengan cincin timah. Sebagian lembarannya rusak karena terkorosi (perusakan yang disebabkan oleh reaksi kimia) sehingga harus berhati-hati saat membukanya. 

Banyak buku yang semua sisinya masih disegel dengan cincin logam. Artinya, buku-buku tersebut tidak dimaksudkan untuk dibuka. Boleh jadi, buku-buku itu mengandung kata-kata suci yang seharusnya tidak dibaca secara sembarang.

Friday, September 16, 2022

Rumah Tertua dalam Sejarah Manusia Ditemukan, Usianya Dua Juta Tahun


Sekelompok arkeolog menemukan rumah tertua dalam sejarah hominin. Hominin adalah sebutan subfamili yang mencakup manusia modern beserta manusia purba yang sudah punah.

Rumah prasejarah yang ditemukan ini adalah sebuah gua. Namanya adalah Gua Wonderwerk di Gurun Kalahari.

Yang menarik, rumah itu telah ditempati kurang lebih selama dua juta tahun. Selama sebagian besar waktu itu, manusia modern bahkan belum ada.

Bagaimana kisahnya?

Para arkeolog telah menemukan bukti bahwa manusia purba hidup di dalam gua itu sekitar 2 juta tahun yang lalu. Mereka juga menemukan penggunaan api paling awal pada satu juta tahun lalu dan kapak tangan paling awal selama lebih dari satu juta tahun lalu. Temuan ini telah dilaporakan oleh Ron Shaar, Ari Matmon, Liora Kolska Horwitz, Yael Ebert, dan Michael Chazan dalam jurnal Quaternary Science Reviews.

"Meski begitu, tidak jelas secara 100 persen manusia purba mana yang tinggal di gua itu. Tidak ada sedikit pun tulang manusia, tidak satu gigi pun, yang pernah ditemukan di sana selama hampir seabad penggalian gua tersebut," kata Horwitz seperti diberitakan Haaretz.

Berbeda dengan gua-gua Gulungan Laut Mati, gua yang satu ini berada di permukaan tanah. Anda tidak perlu turun dari puncak tebing untuk sampai ke sana; tidak ada yang masuk secara tidak sengaja, juga bukan tempat terpencil untuk menyembunyikan satu atau dua mayat di situ. Tapi selama dua juta tahun, para peneliti menegaskan, hominin dengan jelas menggunakan gua ini dan menggunakan perkakas di sana dan makan di sana.

Ini adalah penggunaan alat yang paling awal diketahui di bawah "atap", bukan di udara terbuka, jelas para arkeolog.

Untuk semua penemuan mutakhir tentang evolusi manusia, banyak dari sejarah kuno kita yang benar-benar masih terselubung dalam kegelapan. Ada banyak sekali jenis hominin kuno di Afrika dan kemudian di Eurasia juga; sepertinya ada banyak pencampuran; dan kita tidak tahu siapa nenek moyang langsung kita.


Kita tahu bahwa hominin mulai membuat perkakas batu mentah setidaknya 3,3 juta tahun yang lalu. Jadi, perkakas yang ditemukan di Gua Wonderwerk bukanlah yang paling awal diketahui.

Namun, mereka (yang hidup di Gua Wonderwerk) merupakan yang paling awal diketahui dan ditemukan dalam konteks kehidupan gua, ujar Shaar menjelaskan kepada Haaretz. Dari pengambilan sampel ulang gua itulah validasi penanggalan didasarkan.

Tujuan dari laporan makalah di Quaternary Science Reviews ini sebenarnya adalah untuk meninjau kembali penanggalan Gua Wonderwerk, sebuah gua dalam yang membentang 140 meter ke ujungnya. Gua yang langka di bagian Kalahari itu ditemukan oleh para petani pada tahun 1940-an dan kurang lebih telah digali sejak saat itu.

Pada tahun 2008, arkeolog Prof Michael Chazan dari Universitas Toronto dan Horwitz melaporkannya sebagai bukti paling awal dari hominin penghuni gua. Pada saat itu, mereka mengira semua ini bertanggal sekitar dua juta tahun; yang lain menganggapnya tidak masuk akal. Sekarang penanggalan itu telah divalidasi dan terbukti benar.

Pada saat itu, mereka menyimpulkan bahwa peralatan batu tertua telah dibuat dan disimpan di dalam gua oleh hominin, bukan terbawa oleh arus banjir. Pendapat itu tidak berubah, ucap Shaar.

Siapa sebenarnya yang tinggal di sana? Ada banyak hominid di Afrika bagian selatan pada saat itu. Chazan dan timnya pada 2008 menduga bahwa pembuat perkakas yang paling mungkin itu adalah Homo habilis.

Horwitz memilih lebih berhati-hati dalam menentukan manusia prasejarah yang hidup di gua itu. "Banyak pilihan tapi sama sekali tidak ada petunjuk (DNA atau fosil) di dalam gua itu," ujarnya.

Thursday, September 15, 2022

Spesies Baru Dinosaurus di Argentina Diberi Nama 'Penyebab Ketakutan'


Fosil dinosaurus yang ditemukan di daerah Patgonia di Argentina ternyata merupakan spesies baru. Spesies dinosaurus yang baru ditemukan itu kemungkinan memiliki tubuh sepanjang gajah dan dilengkapi dengan gigitan yang sangat kuat, gigi-gig yang sangat tajam, dan cakar besar di kakinya, kata para peneliti yang mempelajari fosil tersebut.

Di sebuah dareah di dataran Patagonia yang kering di Argentina, para ilmuwan menemukan fosil dinosaurus berusia 80 juta tahun itu. Fosil sisa-sisa bagian tubuh dinosaurus yang ditemukan tersebut mencakup juga sisa tengkorak dan beberapa bagian tubuh lainnya. Dinosaurus itu diperkirakan dapat mencapai panjang hingga 5 meter.

Para peneliti menamai dinosarus yang mirip T-Rex tersebut sebagai Llukalkan aliocranianus. "Llukalkan" berarti "penyebab ketakutan" dalam bahasa penduduk asli Mapuche di daerah tersebut, sedangkan "aliocranianus" adalah bahasa Latin untuk "tengkorak yang berbeda".

Llukalkan adalah salah satu dari hampir 20 spesies predator raksasa yang dikenal sebagai abelisaurid. Dengan kaki yang kuat dan lengan yang gemuk, abelisaurid menyerupai tyrannosaurus atau T-Rex.

Namun spesies yang baru ditemukan ini memiliki tengkorak yang sangat pendek dan dalam. Hewan yang memiliki bentuk tengkorak seperti ini sering kali memiliki jambul, gundukan, atau tanduk seperti beberapa reptil modern, misalnya kadal monster gila atau beberapa iguana.

Perbedaan lainnya, semasa hidupnya tyrannosaurus menguasai Belahan Bumi Utara. Adapun abelisaurid berkeliaran terutama di anak benua selatan kuno Gondwana, yang sekarang membentuk Afrika, India, Antartika, Australia, dan Amerika Selatan.

Bagian-bagian fosil dari spesies baru yang ditemukan ini mencakup rongga otak yang luar biasa utuh, yang mengungkapkan bahwa Llukalkan kemungkinan besar memiliki indra penciuman yang tajam. Dinosaurus itu juga memiliki rongga kecil berisi udara di dalam telinga tengahnya yang tidak terlihat pada abelisaurid lain yang ditemukan sejauh ini, yang menunjukkan bahwa Llukalkan kemungkinan memiliki indra pendengaran yang lebih kuat daripada kebanyakan abelisaurida lainnya, mirip dengan buaya zaman modern.

Indra tajam ini "akan memberikan kemampuan hebat sebagai predator bagi spesies ini," kata Federico Gianechini, paleontolog di National University of San Luis di Argentina yang penulis utama dalam studi fosil ini, seperti dikutip dari Inside Science.

Tulang-tulang Llukalkan terkubur lumpur dari sungai yang meluap, kemungkinan besar karena banjir musiman. Dinosaurus lain yang hidup di daerah yang sama, termasuk titanosaurus pemakan tumbuhan berleher panjang dan berekor panjang yang mencapai panjang sekitar 10 meter, "pasti merupakan mangsa Llukalkan," kata Gianechini.

Sisa-sisa fosil Llukalkan ditemukan pada 2015 secara tidak sengaja saat para arkeolog melakukan penggalian di Bajo de la Carpa Formation di Argentina. Situs penggalian itu berada di tempat yang kini dikenal sebagai La Invernada, dekat kota Rincón de los Sauces, di Provinsi Neuquén, kata Gianechini seperti dikutip dari CNN.

Tujuan utama penggalian saat itu adalah untuk menemukan dinosaurus sauropoda (pemakan tumbuhan besar dan lamban) yang mereka temukan setahun sebelumnya, tetapi mereka melihat tulang dinosaurus lain menyembul di permukaan tanah beberapa hari sebelum mereka menyelesaikan penggalian. Sisa-sisa fosil Llukalkan aliocranianus yang ditemukan itulah yang kemudian para ilmuwan teliti dan identifikasi sebagai spesies baru yang telah mereka rinci dalam laporan studi yang terbit secara online di Journal of Vertebrate Paleontology pada 30 Maret 2021.

Menurut para peneliti, Llukalkan hidup pada waktu dan tempat yang kira-kira sama dengan abelisaurid yang lebih besar, yakni Viavenator exxoni. Ketika para abelisaurid ini masih hidup, kemungkinan besar mereka adalah predator teratas di daerah ini, dan mungkin di semua wilayah Patagonia, catat para ilmuwan.

Penemuan-penemuan anatomis baru yang terlihat pada foisil Llukalkan menunjukkan bahwa abelisaurid berkembang biak tidak lama sebelum akhir zaman dinosaurus sekitar 67 juta tahun lalu, mencoba jalur evolusi baru dan dengan cepat melakukan diversifikasi sebelum mereka punah, kata para peneliti.

"Dinosaurus ini masih mencoba jalur evolusi baru dan dengan cepat melakukan diversifikasi sebelum mereka punah sepenuhnya," kata Ariel Mendez, ahli paleontologi dari Institute of Geology and Palaeontology di Argentina, yang juga menjadi peneliti dalam studi ini.

Pernah Jadi Lautan Magma, Peneliti Ungkap Reaksi Sulfur Bulan


 Berkat sampel batuan vulkanik yang dikumpulkan selama misi Apollo 15 (tahun 1971) dan Apollo 17 (1974) oleh NASA, para penleiti kini dapat memahami kondisi Bulan di masa purba. Bulan di masa sebelumnya merupakan benda angkasa yang cukup panas dengan limpahan magma di permukaannya.

Lautan magma itu diperkirakan telah melingkupi Bulan selama sekitar 100 juta tahun setelah terbentuk.

Studi terbaru yang diterbitkan di Science Adavances (24/02) membantu menjawab pertanyaan ilmiah tentang komposisi rupa Bulan. Sekaligus, mambantu para ilmuwan selangkah lebih maju untuk memahami sejarah pembentukan dan awal sejarah Bulan.

Sampel itu merupakan batuan vulkanik yang memiliki tanda isotop terkait peristiwa penting selama pembentukan Bulan. Melalui analisa para peneliti dari Brown University, selama peristiwa itu juga seiring dengan pembentukan inti besi Bulan, dan kristalisasi lautan magma.

Dalam laporannya yang diterbitkan di jurnal Science Advances, mereka menggunakan teknik spektometri massa ion sekunder untuk mempelajari sisa-sisa kristal magma yang diambil dari kedua misi NASA itu.

Mereka menilai pula, bahwa yang dibawa NASA merupakan material paling primitif di Bulan. Sehingga mereka dapat mengamati komposisi sulfur, yang dapat mengungkapkan secara detail terkait evolusi lava secara uji kimia.

"Selama bertahun-tahun, tampaknya sampel batuan endapan dari bulan yang dianalisa memiliki variasi yang sangat terbatas dalam rasio isotop sulfur," ujar Alberto Saal, dikutip dari rilis akademik. "Ini menunjukkan bahwa sisi dalam Bulan memiliki komposisi isotop sulfur yang bersifat homogen."

Ciri keunikan sulfur yang menarik dari sampel ini adalah rasio isotop sulfur-34 yang lebih 'berat' dengan sulfur-32 yang lebih ringan. Lewat studi sebelumnya pada sampel vulkanik, studi awal mengungkapkan secara seragam condong pada sulfur-34 yang lebih berat.

Berbeda dengan temuan baru yang mengungkapkan isotop sulfurnya lebih homogen, dengan variasi besar pada elemen dan isotop lain yang terdeteksi pada sampel.

Studi baru ini mengobservasi pada 67 sampel kaca vulkanik dan inklusi lelehannya, seperti gumpalan kecil dari lava cair yang teperangkap di dalam kristal. Lava yang terperangkap dalam inklusi lelehan, sebelum menjadi sulfur dan elemen volatil lainnya terelepas sebagai gas selama erupsi (degassing).

Sehingga sampel itu dapat menjadi alasan kuat untuk diteliti karena mewakili gambaran murni tentang asal-usul lava.

Kemudian lewat teknik spektometri massa ion sekunder, mereka mengukur isotip sulfur pada kaca dan inklusi leleh murni itu. Hasil teknik itu juga bertujuan untuk kalibrasi model proses degassing pada seluruh sampel.

"Setelah kami mengetahui proses degassing itu, maka kami dapat memperkirakan kembali komposisi isotop sulfur asli dari sumber yang menghasilkan lava ini," kata Saal.

Mengapa isotip sulfur-34 lebih berat juga dapat dijelaskan dengan pendinginan dan kristalisasi lebih lanjut saat Bulan masih cukup cair permukaannya. Proses kristalisasi menghilangkan sulfur dari lautan magma, kemudian menghasilkan reservoir padat, dan menjadikannya lebih berat.

Proses itu kemungkinan, menurut para peneliti, merupakan sumber nilai isotop yang lebih berat yang ditemukan di beberapa materi kaca vulkanik dan batuan basal.

"Hasil kami menunjukkan bahwa sampel ini merekam peristiwa kritis dalam sejarah bulan," jelas Saal dilansir dari Eurekalert. "Saat kami terus meneliti sampel ini dengan teknik yang lebih baru dan lebih baik, kami terus mempelajari hal-hal baru."

Ia juga menyampaikan, bahwa ada banyak studi yang akan dilakukan, dan memerlukan lebih banyak sampel lagi untuk dianalisa. Dengan demikian, barulah para peneliti dapat memahami bagaimana komposisi isotip sulfur Bulan




Adrianopel, Tonggak Awal Runtuhnya Romawi di Tangan Bangsa Goth


Kemaharajaan Romawi yang berkuasa berabad-abad akhirnya terbagi dua, antara barat dan timur (Byzantium) sejak 395 Masehi. Pembagian ini diputuskan oleh kaisar Diocletianus yang melihat bahwa Romawi yang luas membuat sulit untuk dikontrol dan dilindungi.

Namun, pertempuran di Adrianopel (kini Edirne) menjadi tonggak utama pecahnya adikuasa tersebut. Pertempuran ini pun menjadi motivasi bangsa Jermanik (Goth) di kemudian hari untuk menghancurkan Romawi Barat.

Sejarawan Inggris, Simon MacDowall menulis dalam Adrianople AD 378: The Goths Crush Rome's Legion's, bahwa pertempuran ini bermula saat suku Tervingi dan Greuthungi, salah dua bangsa Goth, diinvasi oleh bangsa Hun yang berasal dari Asia Tengah. Sehingga mereka harus menyeberangi sungai Danube dan masuk ke daerah kekuasaan Romawi.

Pada 376, Kekaisaran Romawi mengizinkan mereka untuk tinggal di tanahnya, dengan syarat mereka harus ikut membela kemaharajaan tersebut.

Sejarawan perang, Rupert Bulter bersama timnya menulis dalam Perang yang Mengubah Sejarah, Buku Pertama: dari Pertempuran Megiddo (1457 SM) hingga Bleinheim (1704), "Namun para pembuat kebijakan Romawi semakin khawatir dengan kehadiran sebuah suku Jermanik di kekaisaran, dan para pejabat lokal membuat keadaan lebih buruk karena membuat tuntutan sewenang-wenang terhadap para pengungsi"

Ammianus Marcellinus, seorang perwira dan sejarawan di era Romawi, menuliskan bahwa kekaisaran menuntut anak-anak bangsa Goth untuk dijadikan budak dengan imbalan anjing mati sebagai makanan.

Kebijakan eksploitatif tersebut mengundang perlawanan dari suku Goth, melalui insiden di Marcianople (kini bagian dari Bulgaria) di tahun yang sama. Perlawanan tersebut mengakibatkan provinsi Thrace, yang kini menjadi bagian Bulgaria, Yunani bagian Barat, dan bagian Eropa dari Turki, di bawah pengaruh bangsa Goth. Insiden itu menjadi keuntungan bagi bangsa Goth, mereka melucuti senjata-senjata tentara Romawi untuk melakukan perlawanan kembali.

Dengan perlawanan bangsa Goth ini, situasi Romawi makin rumit dan fokusnya yang kemana-mana. Terlebih pasukan Romawi di provinsi Thrace terkurung, dan sebagian yang berasal dari bangsa Goth ikut bergabung dengan perlawanan.

"Valens dengan pasukan utama sedang berada di timur untuk menghadapi Persia, sedangkan Gratian yang memimpin pasukan utama barat bertempur dengan Alamanni di sepanjang sungai Rhine," terang MacDowall.

Sebagai penanganan atas konflik di dalam kekuasaan Romawi tersebut, pemimpin Romawi bagian Timur, Valens menarik sebagian pasukannya dari perang, menyisakan banyak pasukan di timur kekaisaran, dan membuat perjanjian damai dengan Persia. Ia juga turut mengajak Gratian dan pasukannya untuk ikut bergabung menyerang pasukan Goth yang mulai mendekati Adrianopel.

Menurut Ammianus yang dikutip Butler, Gratian dari Romawi Barat tak kunjung tiba dan hanya mengirimkan pasukan kecil yang membuat kandas harapan Valens. Akibatnya pertempuran yang rencananya jatuh pada 9 Agustus, mau tak mau harus dilakukan meskipun moral pasukan Romawi merosot.

Hari pertempuran pun tiba, pasukan Romawi berbaris sekitar tiga kilometer dari kubu lawan di Adrianopel. Pasukan Goth langsung membuat posisi melingkar, dan pasukan yang dipimpin Fritigern ditempatkan di punggung bukit.

Ammianus dalam catatannya, dikutip oleh MacDowell menuliskan, "Orang-orang bergegas ke pos mereka dan berdiri teguh; tidak ada yang tidak patuh atau meninggalkan barisan untuk membuat serangan mendadak."

Untuk meningkatkan moral mereka kembali, prajurit Romawi mengeluarkan teriakan dan raungan keras, dan memulai pertempuran dengan saling lempar lembing dan senjata jarak jauh. Sedangkan lawan segera membuat formasi kura-kura yang lazimnya digunakan oleh prajurit Romawi.


"Bangsa barbar yang selalu waspada dan gesit... menerobos sayap kiri kita," terang Ammianus. "Ini memberi jalan, tetapi pasukan cadangan yang kuat membuat serangan yang sengit dari dekat dan menyelamatkan orang-orang kami dari mulut kematian."

Ketika kavaleri Romawi mendesak mundur prajurit Goth hingga ke lingkaran pusat yang berisi gerobak dan masyarakat sipil mereka, ternyata datanglah kelompok bantuan untuk bangsa Goth. Isinya beranggotakan orang Hun dan Alan yang kebanyakan berkuda, dan segera memporakporandakan prajurit Romawi.

Banyak prajurit Romawi yang berusaha melarikan diri, tetapi dihabisi oleh kaveleri Goth. Prajurit Romawi berusaha untuk memanggil pasukan cadangan, tapi pasukan tersebut ternyata lebih dulu melarikan diri.

Tersisa bersama sekitar 2 ribu prajurit yang gigih hingga titik darah penghabisan, kaisar Valens pun gugur.

Menurut Butler dan tim, terdapat dua laporan mengenai kematian Valens. Pertama, kaisar Romawi Timur tersebut tewas terpanah dan jenazahnya tidak pernah ditemukan. Laporan kedua terluka dan dibawa ke suatu rumah, kemudian sekelompok orang Goth menyerang mereka lalu membakarnya.

Sehari setelah pertempuran, bangsa Goth gagal menerobos masuk Adrianopel dan berpindah menjarah kota Thrace.

Di Konstantinopel, Theodisus I menggantikan Valens, dan segera bergandengan dengan Gratian di Barat untuk mengalahkan orang Goth. Meskipun Romawi selalu gagal, orang Goth sendiri juga tak bisa mengalahkan Romawi dalam pertempuran penting lainnya, sehingga kedua belah pihak membangun perjanjian yang sama seperti perjanjian 376.

Butler dan tim menilai pertempuran ini menjadikan orang Goth bukanlah bangsa yang remeh di medan laga. Mereka semakin berani menuntut Romawi, baik di Barat maupun Timur.

Perjanjian yang masih sama itu pulalah, menurut Butler dan timnya, kelak membawa mereka menjarah kota Roma pada 410, membuat kekaisaran Romawi Barat runtuh.

Sunday, September 11, 2022

Zenobia, Ratu Pemberontak di Suriah yang Menantang Kekaisaran Romawi


Pada abad ke-3 AD, Palmyra, kota kuno di Suriah, menjadi persinggahan para pedagang yang berpergian melintasi padang pasir. Ini membuat Palmyra cukup kaya dan mendapat julukan “The Pearl of the Desert”.

Palmyra terkenal akan bangunan-bangunan klasiknya seperti Arch of Triumph dan gedung teater. Sebelum 273 AD, kota tersebut terikat dengan otonomi Kekaisaran Romawi dan menjadi salah satu koloni mereka. Di Palmyra ini lah, Ratu Zenobia tinggal.

Sepanjang sejarah, ada perdebatan di antara para ahli terkait kehidupan Zenobia. The Augustan Histories yang tulis akhir era Romawi, menyatakan bahwa Zenobia berkaitan dengan Dinasti Ptolemaik Mesir, seperti Cleopatra. Sementara di Timur, sejawarawan Persia yakin bahwa Zenobia masih keturunan Arab.

Namun kini, para ahli sepakat bahwa Zenobia bukan berasal dari keduanya melainkan dari keluarga asli Palmyra di mana dia mendapat pendidikan yang baik. Menurut Edward Gibbon dalam karya klasiknya, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, Zenobia fasih dalam berbahasa Yunani, Suriah, dan Mesir.

Zenobia menikah dengan Odaenathus, pria keturunan Arab yang menjadi penguasa Palmyra sejak tahun 263.

Odaenathus melindungi Palmyra dari orang-orang Persia yang baru saja mengalahkan Kaisar Romawi, Valerian. Ia dengan berani menerobos garis perbatasan Persia dan memaksa mereka mundur ke wilayahnya sendiri.

Odaenathus berpura-pura setia kepada Kekaisaran Romawi dan mengklaim bahwa dia bekerja keras untuk mereka. Namun kemudian, diketahui bahwa Odaenathus memiliki motif untuk menjadi “Raja dari Timur” dan melepaskan Palmyra dari kekuasaan Romawi.

Gallienus, anak Valerian, telah menggantikan ayahnya sebagai Kaisar Romawi pada saat itu. Namun, karena posisi Romawi sangat lemah, Gallienus tidak memiliki pilihan lain selain menerima kekuasaan baru yang dibuat Odaenathus di wilayah Timur.


Sayangnya, ketika Odaenathus sudah semakin dekat dengan keinginannya mendirikan Kekaisaran Palmyrene, dia menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh kerabatnya sendiri.

Anak Odaenathus masih terlalu muda untuk memimpin tahta, oleh karena itu, Zenobia menyatakan dirinya sebagai penguasa wilayah Timur yang baru saja direbut dari Persia.

Ia menghukum mati semua yang bertanggung jawab atas kematian suaminya. Zenobia juga mengambil keuntungan dari kekalahan Roma dan berusaha membuat Palmyra sejajar dengan kekaisaran tersebut – permintaan status ini akhirnya disepakati oleh Kaisar Romawi selanjutnya, Claudius Gothicus.

Sedikit demi sedikit, dipandu oleh kebijaksanaan para penasihatnya, Zenobia semakin memisahkan Palmyra dari Roma. Ia kemudian menguasai seluruh wilayah Suriah dan sebagian Anatolia (Turki pada saat itu).


Zenobia memimpin barisan pasukannya menuju Mesir dan menguasai Alexandria. Kemudian, pada tahun 270, ia memiliki kontrol penuh atas Mesir beserta semua kekayaannya. Kekuasaan Zenobia seperti tidak bisa terkalahkan.  

Namun, pemimpin Kekaisaran Romawi selanjutnya berbeda dengan pendahulunya. Lucius Domitus Aurelianus merupakan pria militer yang disiplin dan dipuji-dipuji di Roma karena keganasannya saat bertempur. Selama empat tahun kepemimpinannya, Lucius berhasil memenangkan perang dengan Goth dan mengembalikan kekuasaan Romawi di Gaul, Britannia, dan Hispania.

Awalnya, pembangkangan terbuka yang dilakukan Zenobia tidak dianggap masalah besar oleh Lucius. Namun, fakta bahwa seorang penguasa wanita berhasil melakukan, hal tersebut membuat Kaisar Romawi ini marah.

Lucius kemudian menyerang Palmyra dan mengambil kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya direbut oleh Zenobia.

Ketika orang-orang Roma mengepung kotanya, Zenobia mengirim surat terbuka dan menantang Kekaisaran Romawi. Ia yakin bahwa panah dan kavalerinya mampu melawan pasukan Lucius. Namun ternyata, Kekaisaran Romawi menggandakan pasukannya dan Palmyra pun dipaksa menyerah.

Hingga kini, kematian Zenobia masih menjadi misteri. Para sejarawan berpendapat bahwa sang ratu bunuh diri karena tidak ingin ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Romawi. Namun, ada juga yang mengatakan kalau Zenobia dipenggal di Roma. Sementara itu, hipotesis lainnya percaya Zenobia akhirnya menikah dengan senator dari Romawi.

Wednesday, September 7, 2022

Ditemukan Retakan Baru di Krakatau, BMKG Imbau Warga Waspada Tsunami Susulan


 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyatakan bahwa mereka menemukan retakan baru di tubuh Gunung Anak Krakatau.

Dilansir dari Kompas.com, menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, retakan tersebut muncul setelah gunung mengalami penyusutan. Dari yang tadinya 338 mdpl, menjadi 110 mdpl. 

Terdapat dua retakan baru dalam satu garis lurus di salah satu sisi badan Anak Krakatau. Dwikorita menduga, retakan terjadi akibat getaran tinggi yang muncul ketika gunung mengalami erupsi. 

"Pantauan terbaru kami lewat udara, gunung sudah landai, asap mengepul dari bawah air laut. Tapi di badan gunung yang tersisa di permukaan, ada celah yang mengepul terus mengeluarkan asap, celah itu pastinya dalam, bukan celah biasa," kata Dwikorita, di di Posko Terpadu Tsunami Selat Sunda, Labuan, Kabupaten Pandeglang, Selasa (1/1/2019).

Dwikorita khawatir, retakan tersebut bisa membuat bagian Gunung Anak Krakatau longsor.  "Yang kami khawatirkan di bawah laut curam, di atas landai. Jika retakan tersambung, lalu ada getaran, ini bisa terdorong, dan bisa roboh (longsor)," imbuhnya.

Tubuh gunung yang diduga akan longsor karena retakan tersebut bervolume 67 juta kubik dengan panjang sekitar 1 kilometer. Ini memang lebih kecil dari longsoran yang menyebabkan tsunami pada 22 Desember 2018 lalu. Kala itu, ada 90 juta kubik volume longsoran.

Meski begitu, Dwikorita meminta warga sekitar tetap waspada terhadap potensi tsunami susulan. 

"Jika ada potensi tsunami, tentu harapannya tidak seperti yang kemarin. Namun, kami meminta masyarakat untuk waspada saat berada di zona 500 meter di sekitar pantai," tuturnya kepada Kompas.com. 

Untuk memantau tsunami yang disebabkan Gunung Anak Krakatau, BMKG sudah memasang alat berupa sensor pemantau gelombang dan iklim.

Menurut Dwikorita, nantinya alat tersebut akan mengawasi pergerakan gelombang dan cuaca yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jika ada gelombang yang mengalami fluktuasi tinggi, sensor akan mengirim sinyal ke pusat data yang terhubung.

"Secara pararel akan mengabarkan BMKG Jakarta, BPBD, dan Polda. Akan diketahui lebih cepat jika ada gelombang tinggi seperti tsunami. Jadi ada peringatan dini lebih cepat untuk masyarakat," pungkasnya.

Sensor tersebut dipasang di Pulau Sebesi yang jaraknya cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau.