About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label legenda. Show all posts
Showing posts with label legenda. Show all posts

Tuesday, October 25, 2022

Kerangka Manusia Berusia 10 Ribu Tahun Ditemukan di Gua Bawah Laut


Penemuan kerangka manusia berusia 10 ribu tahun di gua bawah laut Meksiko, memberikan bukti baru bahwa manusia pertama kali sampai ke Amerika tidak sebagai populasi tunggal seperti yang dijelaskan dalam teori-teori sebelumnya. Sebaliknya, menurut para peneliti, mereka datang dari berbagai wilayah.  

Para peneliti mengatakan temuan ini memberikan informasi tentang beberapa kelompok pemukim awal yang datang "dari titik geografis yang berbeda".
Kerangka tersebut merupakan milik wanita Paleoindian berusia 30 tahun dan diberi nama Chan Hol 3. Ini karena ia ditemukan di sebuah gua bernama Chan Hol, di dekat kota Tulum, Semenanjung Yukatan, Meksiko.

Para ilmuwan mengatakan, bentuk dan struktur tengkoraknya berbeda dengan kerangka lain yang berasal dari periode sama. Menunjukkan "setidaknya dua populasi Paleoindian berbeda secara morfologi". 

Paleoindian merupakan orang-orang pertama yang sampai dan menempati Amerika. Mereka dipercaya telah melakukan perjalanan melintasi jembatan tanah kuno yang menghubungkan Asia dengan Amerika Utara (yang dikenal dengan nama Beringia pada Zaman Es) lebih dari 12 ribu tahun lalu, sebelum bermigrasi ke wilayah Patagonia di Amerika Selatan. 


Tim yang dipimpin oleh profesor Wolfgang Stinnesbeck, ilmuwan bumi dari Heidelberg University, melakukan penanggalan kerangka menggunakan endapan mineral yang disebut flowstone yang menutupi beberapa tulang jari. Menurut mereka, Chan Hol 3 berusia 9.900 tahun atau lebih tua. 

Analisis struktural menunjukkan bahwa Chan Hol 3 memiliki kepala bundar dengan tulang pipi yang lebar dan kening rata, mirip dengan tiga tengkorak lain dari gua Tulum. Meski begitu, menurut para peneliti, karakteristik tengkorak yang baru ditemukan ini berbeda dengan kerangka Paleoindian berkepala panjang yang ditemukan di wilayah tersebut.

Dr Silvia Gonzales, profesor geologi dan geoarkeologi dari Liverpool John Moores University, mengatakan: "Kerangka Tulum ini mengindikasikan bahwa ada satu kelompok atau lebih yang pertama kali mencapai benua Amerika dari titik geografis yang berbeda. Atau ada waktu yang cukup bagi sekelompok pemukim awal yang hidup sendirian di Semenanjung Yucatan, untuk mengembangkan morfologi tengkorak yang berbeda."

"Dengan kata lain, sejarah permukiman awal Amerika tampaknya lebih rumit dan mungkin bermula ribuan tahun lebih cepat dari yang diyakini selama ini," imbuhnya. 

Monday, October 24, 2022

Astronom Pastikan Objek Antarbintang Oumuamua Bukan Pesawat Alien

Pada Oktober 2017, para astronom menemukan benda aneh di Tata Surya kita. Lintasan dan kecepatannya menunjukkan bahwa ia berasal dari sistem bintang yang berbeda.

Oleh para peneliti dari University of Hawaii’s Institute for Astronomy, objek misterius tersebut diberi nama ‘Oumuamua’, yang berarti ‘pengintai’ dalam bahasa Hawaii.

Selama beberapa minggu, terlihat bahwa ada kekhasan lain dari Oumuamua. Ini membuat para ilmuwan berspekulasi bahwa ia menyimpan petunjuk tentang makhluk luar angkasa.

Namun, bagaimana pun juga, setelah mencari beberapa tanda yang menunjukkan bukti kehidupan ekstraterestrial, mereka kembali dengan tangan kosong.

Dalam studi yang dipublikasikan pada Nature Astronomy, tim peneliti dari The International Space Science Institute, menyatakan bahwa Oumuamua sebagai kapal alien merupakan “gagasan yang menyenangkan”. Namun, dari apa yang ditemukan hingga saat ini, semuanya dapat dijelaskan oleh fenomena alam.

Mereka mengatakan, hanya karena Oumuamua tidak bertindak seperti objek lain di Tata Surya, bukan berarti ada alien berkulit hijau di baliknya.

“Kami mengumpulkan tim ahli yang kuat di beberapa area berbeda dalam mempelajari Oumuamua. Penelitian silang ini menghasilkan analisis komprehensif pertama dan ringkasan besar terbaik tentang objek tersebut,” kata Matthew Knight, salah satu peneliti dari University of Maryland yang terlibat dalam studi.

Di antara banyak keanehan Oumuamua, bentuknya seperti cerutu memanjang yang berputar di sekitar poros terpanjangnya. Ia juga melintas lebih cepat di Tata Surya. Untuk ukuran komet, Oumuamua cukup mencolok.

“Kami tidak pernah melihat sesuatu yang seperti Oumuamua dalam tata surya. Ia masih menjadi misteri,” kata Knight.

Objek antarbintang ini terlalu samar untuk diteliti saat ini. Jadi, pemahaman kita tentang Oumuamua hanya akan meluas jika kita mempelajarinya lebih banyak.

“Dalam sepuluh tahun mendatang, kita mungkin akan melihat lebih banyak objek seperti Oumuamua. Large Sypnotic Survey Telescope (LSST) akan melampaui penelitian kami saat ini terkait dengan kemampuannya menemukan pengunjung antarbintang,” papar Knight.

“Kita akan melihat objek baru setiap tahun. Pada saat itulah kita akan mengetahui apakah Oumuamua benar-benar objek aneh atau biasa saja. Jika kita menemukan 10-20 objek yang serupa dengannya, tapi Oumuamua masih tampak tidak biasa, kita harus meneliti kembali studinya,” pungkasnya.

Sunday, October 23, 2022

Spionase, Peta Rahasia, dan Pencarian Kekuasaan di Eropa Abad Ke-16


Pengetahuan adalah kekuatan. Tidak ada pengetahuan yang lebih didambakan oleh bangsa-bangsa Eropa pada abad 16 selain informasi yang terekam di peta-peta bahari. Pesisir, pelabuhan, sungai, sumber daya: Detil-detil mengenai fitur-fitur yang dapat memberikan keuntungan untuk merebut wilayah baru.

“Cantino Planisphere,” yang diselesaikan pada 1502 adalah grafik kedua yang diketahui mengenai Dunia Baru. Grafik itu meliputi informasi mengenai jalur perdagangan portugis dan penemuan yang sedang berlangsung di pesisir Brazil. Pada saat pengetahuan mengenai teritori baru memberikan bangsa-bangsa keunggulan dalam strategi dan perdagangan, peta-peta semacam ini dilindungi sebagai bagian dari rahasia negara. Mata-mata akan melakukan apa saja untuk mendapatkan peta-peta tersebut.

Terdiri atas enam bagian perkamen yang terlampir di kanvas besar sekitar dua meter persegi, “Cantino Planisphere” dibuat di Lisbon. Istilah “planisphere” sendiri berarti bidang datar yang biasanya digunakan untuk menjelaskan grafik bintang-bintang.

Peta itu dinamakan atas pencapaian Alberto Cantino, yang bekerja di Portugal sebagai agen terselubung pada Ercole I d’Este, seorang Adipati dari Ferrara, negara-kota yang kuat di sebelah utara Italia.

Catatan-catatan sejarah memiliki pandangan berbeda dalam bagaimana Cantino mendapatkan peta tersebut. Menurut salah satu catatan, Ia menyewa seorang pembuat peta yang memiliki koneksi untuk menyelinap ke dalam gudang peta bahari Portugis untuk mengompilasikan informasi yang dapat diperoleh dalam pembuatan peta ini.

Sejarawan lain berpendapat, peta ini sudah ada sebelumnya, dan Cantino menggunakan kekayaan Ferrara untuk membelinya. Bagaimanapun cara Cantino mendapatkan petanya, semua catatan menunjukkan bahwa Cantino membayar mahal untuk itu. 12 emas ducats, jumlah yang besar pada saat itu.

Menyatukan semua

Para pembuat peta zaman ini dihadapkan dengan tugas kolosan: untuk menyatukan sumber ekstensif lisan dan tulisan ke dalam sebuah gambar. Dibuat satu atau dua tahun sebelum peta Cantino, penggambaran awal Dunia Baru dibuat oleh Juan de la Cosa, seorang kolega Christoper Colombus. Kedua peta mengungkap tantangan besar dari Dunia Baru kepada para pembuat peta, yang masih mengandalkan tradisi lama kartografis.


Navigasi trans-atlantik, tentunya, menyisakan garis pesisir belakangan, dan peta Cantino memberikan kesaksian penting terhadap kartografi: sebuah transisi menuju astronavigasi. Peta yang pertama meliputi garis ekuator, tropis, lingkaran artik, “Cantino Planisphere” juga merupakan peta pertama yang menunjukkan “garis Tordesillas”, melintang dari utara ke selatan, yang menentukan perbatasan antara teritori Spanyol dengan Portugis. Portugal mengklaim daratan di sebelah timur garis dan Spanyol di sebelah barat.

Kekayaan informasi

“Cantino Planisphere” merefleksikan usaha-usaha dalam membuat peta dengan kepentingan politik, budaya, dan informasi ekonomi. Ilustrasi mengenai alam liar setempat juga muncul di peta tersebut: Beo Kelabu Senegal di Afrika barat sampai Makau penuh warna di Amerika Selatan. Landmark kolonial juga tertera di Afrika Barat, seperti kastil Sao Jorge da Mina, yang dibangun pada era 1480-an oleh John II dari Portugal, yang kemudian berkembang penjadi portal perdagangan yang penting di Afrika.

Perjalanan para penjelajah Eropa pada abad 15 hingga 16 tergambar di peta Cantino, termasuk percobaan pertama Vasco da Gama dalam pencarian rute perairan menuju India (1479-1499) dan “penemuan” pesisir Brazil oleh Pedro Alvares Cabral (walaupun beberapa sejarawan berpendapat bahwa Spaniard Vicente Yanez Pinzon tiba di sana lebih dahulu). Informasi yang dikumpulkan oleh perjalanan Colombus ke India Barat juga terlihat di peta ini, termasuk pesisir pantai yang diketahui sebagai Venezuela saat ini.

itu adalah peta yang menamakan Antilles, kepulauan yang meliputi Kuba, Puerto Rico, Jamaika, Haiti, dana Republik Dominika. Semenanjung utara Kuba diperkirakan oleh beberapa sejarawan sebagai Florida meskipun Juan Ponce de Leon diakui sebagai penemunya, 11 tahun setelah peta planisphere dibuat.

Sesuai untuk menjadi dokumen kronik dari pelayaran, peta planisphere akan menjadi serial perjalanan berbahaya setelah Cantino mendapatkannya. Pada 1592, peta itu dibawa dari Ferrara ke kota Modena, Italia. Sampai saat ini, meskipun kontennya telah kadaluarsa, peta tersebut masih dianggap sangat berharga.

Pada pertengahan abad 19, peta planisphere dicuri, dan ditemukan beberapa tahun kemudian menggantung di dinding sebuah toko daging di kota tadi. Saat ini peta itu dikonservasikan dalam koleksi Galleria Estense di Modena, sebagai sebuah peringatan upaya-upaya pertama bangsa Eropa untuk merekam dunia yang ingin mereka ketahui.

Saturday, October 22, 2022

Stalagmit di Gua Iran Ungkap Kejatuhan Kekaisaran Mesopotamia Pertama


Sekitar 4.200 tahun lalu, kekaisaran pertama Mesopotamia, Akkadian, runtuh. Mengakibatkan transformasi besar-besaran di Mesir dan Lembah Indus, dua peradaban yang cukup baik di masa itu.

Peradaban bangkit dan runtuh karena berbagai alasan. Namun, penyebab jatuhnya Kekaisaran Akkadian masih kontroversial. Dilihat dari waktunya, beberapa sejarawan memperkirakan penyebabnya adalah perubahan iklim.

Di tengah-tengah era Holosen, sebenarnya suhu termasuk stabil dan tidak ada peningkatan aktivitas gunung berapi atau perubahan pada sinar matahari.

Namun, ketika sekelompok peneliti yang dipimpin Dr Stacy Caroline dari University Oxford, mempelajari stalagmit di gua Gol-e-Zard, Iran, yang terbentuk 5.200 hingga 3.700 tahun lalu, mereka melihat sesuatu.

Menurut laporan yang dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences, terdapat lonjakan jumlah magnesium atau kalsium pada 4.510 hingga 4.260 tahun lalu. Ini menunjukkan pertumbuhan yang lambat dan perubahan pada isotop oksigen bebatuan di sana. Perubahan tersebut berlangsung 110 hingga 290 tahun, sebelum stalagmit kembali ke level sebelumnya.

Industri pertambangan kuno biasanya meninggalkan jejaknya di planet ini, tetapi peneliti belum mengetahui mekanisme apa yang digunakan bangsa Akkadia sehingga bisa memberikan peninggalan pada gua seperti yang terlihat saat ini.

Perubahan komposisi stalagmit tampaknya merupakan hasil dari peningkatan debu yang jatuh di pegunungan–konsekuensi dari kondisi yang lebih kering ke arah barat.

Di masa kini, tahun-tahun terkering di gurun Suriah dan Irak juga dikaitkan dengan peningkatan endapan debu di Tehran, 50 kilometer dari gua Gol-e-Zard.

Pertumbuhan stalagmit yang lambat juga menjadi tanda wilayah lokal yang lebih kering.

Menurut para peneliti, kekeringan datang secara tiba-tiba. Alasan inilah yang kemudian mendorong penduduk Mesopotamia untuk meninggalkan rumah mereka dan pindah ke wilayah yang lebih baik.

Tuesday, October 18, 2022

6 Dewa Yunani Homoseksual, Zeus Jatuh Cinta dengan Remaja Pria


Toleransi sering disajikan sebagai tanda kemajuan peradaban. Namun, mitologi Yunani telah mengungkapkan penerimaan yang lebih besar terhadap homoseksualitas di Athena kuno daripada yang terjadi dalam agama-agama dunia saat ini. Dewa Yunani yang penyuka sesama jenis alias LGBT ini membuktikan budaya gay bukanlah penemuan modern. Lalu, siapa saja Dewa penyuka sesama jenis?

Zeus

Zeus terkenal memilih Ganymede, fana muda untuk melayani sebagai juru minumannya di Gunung Olympus. Hubungan tersebut memberikan dasar dari kebiasaan paiderastia, praktik pria Yunani pada saat itu mempertahankan hubungan erotis dengan remaja laki-laki di sampingnya. Ganymede merupakan remaja pria tampan yang berasal dari Troya.

Apollo

Apollo adalah Dewa matahari pernah menjalin kasih dengan berbagai kalangan mulai dari peri, manusia, manusia setengah dewa. Terkenal karena romannya yang tragis, banyak di antaranya dengan pria. Diantaranya yang terkenal ialah kisahnya dengan Hyacinthus dan Kyparissos.

Hyacinthus adalah pangeran Sparta dan pemuda yang sangat tampan. Namun dewa angin Zephyrus dan Boreas, dan Thamyris fana juga menginginkan Hyacinthus. Apollo dan Hyacinthus sering berburu dan berolahraga bersama. Pada suatu hari keduanya melakukan lempar cakram, namun cakram yang dilempar Apollo terkena kekasihnya. Cakram tersebut bisa mengenai Hyacinthus akibat Zefiros yang cemburu pada hubungan keduanya.

Kisah Kyparissos adalah kisah yang lebih pendek, tetapi tidak kalah tragis. Kyparissos diberi rusa peliharaan oleh Apollo. Namun saat berburu, Kyparissos tidak sengaja membunuhnya. Dia begitu diliputi oleh kesedihan sehingga dia memohon kepada Apollo untuk diubah menjadi pohon cemara.

Hermes

Hermes merupakan dewa pembawa pesan. Dia jatuh cinta dengan 3 laki-laki yaitu Amphion, Perseus dan Crocus. Namun diantara ketiganya, Crocus lah kesayangan Hermes. Namun sayangnya, kisahnya berakhir tragis. Hampir mirip dengan kisah Hyacinthus, Crocus mati akibat cakram yang dilemparkan oleh Hermes. Merasa bersalah, Hermes mengubah kekasihnya menjadi bunga indah.

Utusan dewa bertumit sayap dikatakan dalam beberapa mitos memiliki kekasih laki-laki. Dalam variasi mitos Hyacinth, kekasih Hermes, Crocus yang dibunuh oleh cakram yang dilemparkan oleh dewa sebelum diubah menjadi bunga.

Poseidon

Dewa berikutnya yang juga jatuh cinta dengan sesama jenis adalah Poseidon, sang dewa lautan. Tercatat ada 2 laki-laki yang pernah menjalin hubungan, Nerites dan Pelops. Dia adalah anak dari raja Tantalus, dari Sypilus. Namun tubuhnya dipotong-potong oleh sang ayah untuk dihidangkan kepada dewa dewi Olympia. Ketahuan, Tantalus dihukum, sementara Pelops dibangkitkan kembali.

Dari sini lah, Poseidon jatuh cinta. Namun Pelops membuat ulah dengan mencuri makanan hingga Zeus marah dan membuangnya dari Olympus.

Dionysus

Paling dikenal sebagai dewa anggur Yunani, Dionysus juga dewa interseks dan transgender. Pria pecinta dewa termasuk satir Ampelos dan Adonis yang terkenal tampan. Selain itu, Dionysus juga memiliki kisah cinta dengan sang gembala Prosymnus. Awalnya, sang dewa melakukan perjalanan menuju Hades dengan dipandu oleh Prosymnus, yang memimpin jalan. Sebagai imbalan, Prosymnus meminta kesempatan untuk bercinta dengan sang anggur. Ketika Prosymnus meninggal sebelum kesepakatan itu tercapai, dewa menciptakan lingga kayu untuk memenuhi janji secara ritual, menurut penelitian oleh sejumlah sejarawan Kristen, termasuk Hyginus dan Arnobius.

Pan

Pan adalah dewa musik. Pan juga dikenal sebagai dewa alam liar, hewan ternak dan pemburu. Pan sangat menyukai hubungan seks tanpa memandang jenis kelamin, bahkan dengan makhluk apa pun. Nama Pan ini disebut-sebut sebagai asal usul istilah panseksual, yakni ketertarikan kepada orang lain tanpa melihat identitas gender atau jenis kelamin. Panseksual dalam bahasa Yunani berarti semua. Orang yang panseksual bisa jatuh cinta pada laki-laki, perempuan, transgender, biseksual, homoseksual. Wujud dewa ini berbeda dengan yang lain karena penampilannya yang setengah manusia dan setengah kambing.

Monday, October 17, 2022

Selidik Aula Tempat Pesta Raja-Raja Anglo Saxon 1.400 Tahun yang Lalu


 Para arkeolog telah menemukan sisa-sisa aula yang rumit di timur Inggris. Aula tersebut pernah digunakan untuk pesta oleh raja-raja dan prajurit Anglo-Saxon sekitar 1.400 tahun yang lalu.

Sisa-sisa aula kerajaan itu berada di dekat desa Rendlesham di Suffolk, sekitar 70 mil (110 kilometer) timur laut London, hanya beberapa kilometer di utara pemakaman kapal Anglo-Saxon yang terkenal di Sutton Hoo dan beberapa mil di selatan tempat lain pemakaman kapal di dekat desa Snape.

Para arkeolog berpikir baik penguburan Sutton Hoo dan Snape adalah kuburan penguasa yang pernah tinggal di Rendlesham selama masa pemerintahan masing-masing, antara sekitar tahun 570 dan 720 M.

"Ini adalah pemakaman raja individu yang akan tinggal di Rendlesham selama sekitar 150 tahun," Faye Minter, petugas arkeologi senior untuk Dewan Kabupaten Suffolk, mengatakan kepada Live Science.

"Ini adalah kediaman kerajaan, tetapi raja-raja berpindah, mereka tidak hanya tinggal di satu tempat," katanya. "Jadi, kemungkinan besar, pada suatu saat, raja-raja East Anglia akan tinggal atau tinggal di Rendlesham."

Minter memimpin penggalian aula terbesar di kompleks kerajaan di situs tersebut, yang meliputi area seluas sekitar 15 hektar. Fondasinya menunjukkan bahwa itu adalah bangunan kayu berukuran panjang sekitar 75 kaki (23 m) dan lebar 33 kaki (10 m).

Siapa pun yang membangun kompleks, membangunnya di atas tanah yang ditinggikan dan mengelilinginya dengan parit batas.

Kemungkinan pernah ada hingga 10 aula di kompleks untuk raja dan pengiringnya yang terdiri dari ratusan orang, tetapi hanya aula terbesar yang telah dikonfirmasi oleh penggalian terbaru.

Para arkeolog telah bekerja di situs Rendlesham sejak 2008, dan penggalian baru-baru ini adalah bagian dari proyek Rendlesham Revealed, yang mencakup pekerjaan ratusan sukarelawan dari komunitas lokal.


Pemukiman Anglo-Saxon

Kompleks kerajaan di Rendlesham adalah bagian dari pemukiman yang lebih besar yang didirikan pada abad kelima M, segera setelah tanggal tradisional dimulainya invasi Anglo-Saxon ke Inggris, dari sekitar tahun 450 M.

"Pemukiman keseluruhan berukuran sekitar 50 hektar, tetapi dari akhir abad keenam, Anda mendapatkan area tertentu (dari kompleks kerajaan) di dalam pemukiman yang lebih besar," kata Minter. "Jadi mereka menempatkan kediaman kerajaan di dalam pemukiman Anglo-Saxon yang sudah penting secara lokal."

Kediaman kerajaan dicatat dalam tulisan-tulisan ilmuwan Inggris abad kedelapan, yang mengidentifikasinya sebagai tempat di mana pada tahun 662 M, raja Anglia Timur Aethelwald (juga dieja Aethelwold) mensponsori pembaptisan Raja Swithelm dari Saxon Timur (sebuah kerajaan dekat London juga dikenal sebagai Essex).

Aula kerajaan pertama kali diidentifikasi pada tahun 2015 oleh foto udara, yang menunjukkan tanda tanaman di situs yang menunjukkan posisi pos terbesarnya, kata Minter.

Namun itu tidak digali sampai musim panas ini, ketika parit arkeologi mengungkapkan pecahan bejana minum kaca dan tembikar, perhiasan pakaian, barang-barang pribadi, seperti pin tembaga, pisau besi, dan sisa-sisa persiapan makanan dan pesta.

Temuan menunjukkan bahwa sejumlah besar daging sapi dan babi telah dikonsumsi di sana, sebuah kemewahan pada saat Anglo-Saxon kebanyakan makan sayuran.


Kediaman kerajaan

Para arkeolog berpikir bahwa kompleks kerajaan di Rendlesham ditempati oleh raja dan prajuritnya selama beberapa bulan pada suatu waktu, selama makanan masih ada, sebelum mereka pindah ke tempat tinggal yang berbeda di tempat lain di kerajaan.

"Kami pikir itu mungkin musiman," kata Minter. "Mereka akan datang dengan banyak prajurit dan rombongan besar, dan itu mungkin akan meningkatkan populasi pemukiman cukup banyak."

"Dan saya pikir mereka akan 'memakan lemari yang kosong' dan kemudian pindah ke tempat berikutnya, sehingga mereka dapat dilihat sebagai penguasa seluruh kerajaan," katanya.

East Anglia, yang terdiri dari county Inggris modern Norfolk dan Suffolk, adalah salah satu dari tujuh kerajaan Anglo-Saxon utama di Inggris, yang dikenal sebagai Heptarchy. Yang lainnya adalah Essex, Kent, Sussex, Wessex, Northumbria, dan Mercia.

Mereka didirikan segera setelah runtuhnya kekuasaan Romawi di Inggris, tanggal yang secara tradisional dianggap sebagai tahun 409 M.

Bagaimanapun, kerajaan Anglo-Saxon dipersatukan pada abad kesembilan di bawah Alfred yang Agung, seorang raja Wessex, mereka akhirnya memberi nama Inggris, yang berarti "tanah Sudut".




 

Tuesday, October 4, 2022

Bukit Pasir Hantu, Salah Satu Destinasi Wisata Masa Depan Planet Mars


Setelah sebelumnya kita membahas empat destinasi keren di planet Mars yang bisa dijadikan tujuan wisata bagi wisatawan luar angkasa di masa depan. Ternyata, masih ada empat destinasi lagi yang dapat dimasukkan ke dalam daftar tujuan Anda.

Planet merah memang menjadi pusat perhatian. Mungkin karena ia adalah planet terdekat dengan Bumi yang memiliki sedikit atmosfer. Atau setidaknya, bisa dijadikan target hunian kedua setelah bulan. Benar sekali, saat ini manusia sedang berusaha mencari alternatif tempat tinggal baru di luar Bumi.

Jika saja, semua ini dapat berjalan dengan baik. Koloni Bulan dan Mars menjadi kenyataan. Maka, berikut adalah empat destinasi keren lainnya di Mars yang harus Anda ketahui.

Kutub Utara dan Selatan Mars

Mars memiliki dua wilayah es di kutubnya, dengan komposisi yang sedikit berbeda. Kutub utara (lihat foto) dipelajari dari dekat oleh pendarat Phoenix pada 2008. Sementara pengamatan kutub selatan hanya berasal dari pengorbit. Selama musim dingin, menurut NASA, suhu di dekat kutub utara dan selatan sangat dingin sehingga karbon dioksida mengembun dari atmosfer menjadi es di permukaan.

Prosesnya terbalik di musim panas, ketika karbon dioksida menyublim kembali ke atmosfer. Karbon dioksida benar-benar menghilang di belahan bumi utara, meninggalkan lapisan es air. Tetapi beberapa es karbon dioksida tetap berada di atmosfer selatan. Semua gerakan es ini memiliki efek besar pada iklim Mars, menghasilkan angin dan efek lainnya.

Medusae Fossae

Medusae Fossae adalah salah satu lokasi paling aneh di Mars. Beberapa orang bahkan berspekulasi bahwa itu menyimpan bukti semacam kecelakaan UFO. Penjelasan yang lebih mungkin adalah itu merupakan deposit vulkanik yang sangat besar, sekitar seperlima dari ukuran Amerika Serikat.

Seiring waktu, angin mengukir bebatuan menjadi beberapa formasi yang indah. Tetapi para peneliti akan membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mempelajari bagaimana gunung berapi ini membentuk Medusae Fossae. Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa formasi itu mungkin terbentuk dari letusan gunung berapi yang sangat besar yang terjadi ratusan kali selama 500 juta tahun. Letusan ini akan menghangatkan iklim Planet Merah karena gas rumah kaca dari gunung berapi melayang ke atmosfer.

‘Bukit Pasir Hantu’ di Noctis Labyrinthus dan Cekungan Hellas


Mars adalah planet yang sebagian besar dibentuk oleh angin akhir-akhir ini, karena airnya menguap saat atmosfernya menipis. Tetapi kita dapat melihat bukti ekstensif dari air masa lalu. Seperti daerah "bukit pasir" yang ditemukan di Noctis Labyrinthus dan cekungan Hellas. Para peneliti mengatakan daerah ini dulunya memiliki bukit pasir setinggi puluhan meter. Kemudian, bukit pasir dibanjiri oleh lava atau air, yang mempertahankan dasarnya sementara puncaknya terkikis.

Bukit pasir tua seperti ini menunjukkan bagaimana angin dulu mengalir di Mars kuno. Pada gilirannya memberikan beberapa petunjuk kepada ahli iklim tentang lingkungan kuno Planet Merah. Dalam putaran yang lebih menarik, mungkin ada mikroba yang bersembunyi di area terlindung dari bukit pasir ini. Dikarenakan aman dari radiasi dan angin yang akan menyapu mereka.

Garis Lereng Berulang di Kawah Hale

Mars memiliki fitur aneh yang disebut garis lereng berulang, yang cenderung terbentuk di sisi kawah curam selama cuaca hangat. Sulit untuk mengetahui fitur apa sebenarnya ini. Gambar yang ditampilkan di sini dari Kawah Hale (serta lokasi lain) menunjukkan titik-titik di mana spektroskopi mengambil tanda-tanda hidrasi.

Pada tahun 2015, NASA awalnya mengumumkan bahwa garam terhidrasi harus menjadi tanda air mengalir di permukaan. Tetapi penelitian kemudian mengatakan fitur ini dapat terbentuk dari air atmosfer atau aliran pasir kering. Pada kenyataannya, kita mungkin harus mendekatinya untuk melihat langsung seperti apa sifat aslinya. Tapi ada kesulitan,  jika fitur ini memang menampung mikroba asing, maka kita tidak ingin terlalu dekat karena dikhawatirkan terjadi kontaminasi. Sementara NASA mencari cara untuk menyelidiki di bawah protokol perlindungan planetnya. Penjelajah manusia masa depan mungkin harus mengagumi fitur misterius ini dari jauh, menggunakan teropong.

Sunday, October 2, 2022

Astronom Menemukan Sistem Multiplanet Terdekat di Galaksi Kita


 Para astronom di MIT dan di tempat lain telah menemukan sistem multiplanet baru dalam lingkungan galaksi kita yang hanya terletak 10 parsec, atau sekitar 33 tahun cahaya dari Bumi, menjadikannya salah satu sistem multiplanet terdekat yang diketahui hingga kini.

Di jantung sistem terletak satu bintang M-Dwarf kecil dan keren, bernama HD 260655, dan para astronom telah menemukan bahwa ia menampung setidaknya dua planet terestrial, seukuran Bumi. Dunia berbatu tersebut kemungkinan tidak dapat dihuni, karena orbitnya relatif ketat, memaparkan planet-planet pada suhu yang terlalu tinggi untuk menopang air permukaan cair.

Namun demikian, para ilmuwan bersemangat tentang sistem ini karena kedekatan dan kecerahan bintangnya akan memberi mereka pandangan lebih dekat pada sifat-sifat planet dan tanda-tanda atmosfer apa pun yang mungkin mereka miliki.

"Kedua planet dalam sistem ini masing-masing dipertimbangkan di antara target terbaik untuk studi atmosfer karena kecerahan bintang mereka," kata Michelle Kunimoto, postdoc di MIT's Kavli Institute for Astrophysics and Space Research dan salah satu ilmuwan utama Discovery. "Apakah ada atmosfer kaya volatile di sekitar planet-planet ini? Dan apakah ada tanda-tanda air atau spesies berbasis karbon? Planet-planet ini adalah uji dasar yang fantastis untuk eksplorasi tersebut," imbuhnya.

Sistem planet baru ini, akan dipublikasikan dalam jurnal Earth and Planetary Astrophysics yang mana hasil kajiannya dapat Anda baca di database arXiv yang telah diperbarui pada 13 Juni dengan judul "The HD 260655 system: Two rocky worlds transiting a bright M dwarf at 10 pc".

Sistem ini awalnya diidentifikasi oleh satelit Survei Exoplanet Transiting NASA (Tess), misi yang dipimpin MIT yang dirancang untuk mengamati bintang-bintang terdekat dan paling terang, dan mendeteksi penurunan periodik dalam cahaya yang dapat menandakan planet yang lewat.

Pada Oktober 2021, Kunimoto, anggota tim Tess Science MIT, sedang memantau data yang masuk satelit ketika dia melihat sepasang penurunan berkala di Starlight, atau transit, dari Bintang HD 260655.

Dia lalu menjalankan deteksi melalui pipa inspeksi sains misi, dan sinyal segera diklasifikasikan sebagai dua objek menarik, atau tois—objek yang ditandai sebagai planet potensial. Sinyal yang sama juga ditemukan secara independen oleh Pusat Operasi Pemrosesan Sains (SPOC), pipa pencarian Planet Tess resmi yang berbasis di NASA Ames. Para ilmuwan biasanya berencana untuk menindaklanjuti dengan teleskop lain untuk mengonfirmasi bahwa benda-benda itu memang sebuah planet.

Proses mengklasifikasikan dan kemudian mengonfirmasi planet baru sering kali memakan waktu beberapa tahun. Untuk HD 260655, proses itu dipersingkat secara signifikan dengan bantuan data arsip.

Segera setelah Kunimoto mengidentifikasi dua planet potensial di sekitar HD 260655, Shporer melihat apakah bintang itu diamati sebelumnya oleh teleskop lainnya. Seperti keberuntungan, HD 260655 terdaftar dalam survei bintang yang diambil oleh spektrometer Echelle Resolution (HIRES), sebuah instrumen yang beroperasi sebagai bagian dari Keck Observatory di Hawaii. Hires telah memantau bintang, bersama dengan sejumlah bintang lain sejak 1998, dan para peneliti dapat mengakses data survei yang tersedia untuk umum.

Untuk mengonfirmasi bahwa sinyal dari Tess memang dari dua planet yang mengorbit, para peneliti melihat melalui data perekrutan dan Carmenes dari bintang tersebut. Kedua survei mengukur goyangan gravitasi bintang, yang juga dikenal sebagai kecepatan radialnya.

"Setiap planet yang mengorbit bintang akan memiliki sedikit tarikan gravitasi pada bintangnya," Kunimoto menjelaskan, seperti yang dilaporkan Tech Explorist. "Yang kami cari adalah sedikit gerakan bintang yang bisa menunjukkan objek massa planet menariknya."

Tim kemudian melihat lebih dekat pada data Tess untuk menentukan sifat-sifat kedua planet, termasuk periode dan ukuran orbital mereka. Mereka menemukan bahwa planet bagian dalam, dijuluki HD 260655b, mengorbit bintang setiap 2,8 hari dan sekitar 1,2 kali lebih besar dari bumi. Planet Luar Kedua, HD 260655c, mengorbit setiap 5,7 hari dan 1,5 kali lebih besar dari Bumi.

Para peneliti juga memperkirakan, berdasarkan orbit pendeknya, bahwa suhu permukaan planet bagian dalam adalah 436,6 derajat Celcius, sedangkan planet luar sekitar 286,6 Celcius.

"Kami menganggap rentang itu di luar zona layak huni, terlalu panas agar air cair ada di permukaannya," ujar Kunimoto.

"Tapi mungkin ada lebih banyak planet dalam sistem," tambah Shporer. "Ada banyak sistem multiplanet yang menampung lima atau enam planet, terutama di sekitar bintang-bintang kecil seperti ini. Semoga kita akan menemukan lebih banyak, dan mungkin saja berada di zona layak huni. Pemikiran yang optimis," pungkasnya.

Saturday, October 1, 2022

Hantu-hantu Abad Pertengahan yang Melegenda, Datang dari Romawi


Samuel Johnson, sastrawan sohor Inggris, pernah bertanya dalam catatannya bahwa, "belum dapat dipastikan apakah pernah ada roh seseorang yang muncul setelah kematiannya."

"Banyak dari orang-orang Eropa menentang akan kehadiran hantu, meskipun banyak juga diantaranya yang mendukung," tulis Susan Owens kepada Apollo Magazine.

Susan Owens menulis dalam sebuah artikel berjudul That’s the spirit – how the Romans imagined the dead yang terbit pada 5 Juni 2020.

Bagaimaapun, hantu-hantu yang melegenda di masyarakat Eropa abad pertengahan dipercaya datang dari zaman Romawi, mulai dari kemunculan hantu Kaisar Nero hingga Julius Caesar.

Legenda yang paling populer dimulai dari kisah kemunculan hantu Beatrice Cenci. Beatrice adalah putri salah satu keluarga terkemuka Romawi memiliki ayah yang kasar, hingga ia dibunuh dan kepalanya dipenggal.

"Dua ratus tahun kemudian pasukan Napoleon memasuki Roma, menghancurkan makam di gereja dan bermain bola dengan tengkoraknya," imbuh Owens.

Tak heran, jika orang-orang Eropa abad pertengahan percaya roh Beatrice tak tenang dan kerap menampakkan dirinya di jembatan Kastil Sant' Angelo sambil memegangi kepalanya di tangan.

Kisah yang populer dari abad pertengahan lainnya muncul dari kalangan penguasa Romawi. Kaisar Nero disalahkan atas kebakaran yang menghancurkan Romawi pada tahun 64 M dan atas pembunuhan ibunya, istri pertama dan filsuf, Seneca.

"Dia berbalik dari memerintah, meninggalkan kota dan ditinggalkan ia juga mulai ditinggalkan oleh Senat dan para pengawal setianya," terusnya.


Diduga karena frustasi. ia akhirnya memutuskan bunuh diri dan mati dalam penderitaannya. Ia pun meminta dimakamkan oleh Porta del Popolo bersama dengan pelacur dan ateis.

Pada abad pertengahan, arwahnya terlihat terus-menerus. Sampai akhirnya peresmian sebuah kapel kepadanya di gereja Santa Maria del Popolo, pada tahun 1099, Owens menyebut bahwa, "itu membuatnya merasa tenang.

Lain Nero, lain juga tentang kaisar terkemuka Romawi, Julius Caesar. Julius Caesar adalah kaisar sejati pertama Kekaisaran Romawi yang mampu memperluas kekuasaannya hingga ke Inggris.

Kematiannya di Senat pada Ides of March pada tahun 44 SM merupakan legenda terbesar yang dicatat berbagai kutipan kuno hingga kontemporer.

"Abu kematian Caesar kemudian dimakamkan di sebuah bola timah di atas sebuah obelisk di Heliopolis, yang sekarang dikenal dengan Kairo," terangnya.

Petaka bagi kepercayaan mistik Eropa, ketika bola timah berisi abu Caesar dikembalikan ke Kota Vatikan pada tahun 1585.

Kala itu, Paus Sixtus V membukanya untuk melihat dan memastikan apakah abu sisa-sisa kematian Caesar itu benar-benar ada di dalamnya.

Legenda masyarakat abad pertengahan Eropa mengatakan bahwa kejadian itulah yang melepaskan roh Caesar yang sekarang berkeliaran di kota, menghantui masyarakat. Disebutkan bahwa hantunya paling sering bergentayangan di dekat Colosseum.

Friday, September 30, 2022

Perang Etruska: Takluknya Peradaban Kuno Etruria ke Tangan Romawi


Sejarah paling sering ditulis oleh para pemenang, Etruria ditaklukkan dan berasimilasi dengan kekaisaran Romawi yang berkembang pesat di Eropa. Begitulah sejarawan kuno menulis tentang sejarahnya.

Etruria tak lebih dikenal dari kesohoran Romawi yang ditulis berjilid-jilik oleh banyak sejarawan, mulai dari sejarawan kuno hingga sejarawan kontemporer. Alasannya, karena Romawi adalah pemenang dari pertempuran.

"Tanpa teks tertulis yang luas dari mereka sendiri, sejarah Etruria harus disatukan dari sedikit sisa budaya mereka," tulis Mark Cartwright kepada World History.

Mark Cartwright menulis dalam artikelnya yang berjudul Etruscan Warfare yang dipublikasikan pada 15 Februari 2017.

Beberapa peninggalannya yaitu, reruntuhan tembok benteng, senjata, baju besi, dan karya seni yang menggambarkan tema yang berhubungan dengan peperangan, dan catatan bekas penulis kuno.

Pemerintah awal kota-kota Etruria didasarkan pada monarki, tetapi kemudian berkembang menjadi pemerintahan oligarki yang mengawasi dan mendominasi semua posisi publik dan majelis warga.

"Tentara Etruska (julukan orang-orang Etruria), seperti kebanyakan kekuatan tempur Mediterania saat itu, diambil dari badan warga yang sebaliknya adalah petani saat tidak berperang," ungkap Cartwright.

Tentara membayar peralatan mereka sendiri dan berjuang untuk Etruria dalam melindungi hak dan kepentingan mereka sendiri, baik untuk mempertahankan wilayah mereka atau memperluasnya, bisa juga untuk mengontrol rute perdagangan di darat dan laut, dan untuk memperoleh sumber daya yang mereka anggap perlu.

Armor terbuat dari perunggu dan berbentuk pelindung dada, pelindung kaki untuk melindungi kaki bagian bawah, helm, dan perisai bundar, seperti hoplite (seperti kulit yang dikeraskan juga banyak digunakan sebagai pelindung tubuh) dalam peperangan Yunani.

Hoplite umumnya lebih ringan dan lebih efektif daripada perunggu, bahan yang mudah rusak seperti itu tidak akan bertahan seperti yang telah dilakukan oleh baju besi perunggu.

Senjata utama adalah tombak perunggu dan pedang bermata dua. Prasasti dari Vetulonia menggambarkan seorang pejuang Etruria yang membawa kapak ganda, tetapi ini mungkin merupakan simbol otoritas daripada senjata.

"Namun, penting untuk dicatat di sini bahwa beberapa senjata ini, dan helm khususnya, mungkin hanya memiliki tujuan ritual simbolis dan mungkin tidak benar-benar digunakan dalam pertempuran," tegasnya.

Banyak kota Etruria dilindungi oleh tembok kota. Tidak selalu menutup seluruh kota, mereka melindunginya dari serangan di titik-titik terlemahnya.

Bagian dari dinding benteng bertahan di Cerveteri, Tarquinia, Veii, Vulci, dan kota lainnya, terbuat dari batu bata lumpur di atas alas batu atau seluruhnya dari balok tufa, sebagian besar berasal dari abad ke-5 SM.

"Tembok itu bisa bertahan dari serangan berkepanjangan dibuktikan dengan pengepungan Romawi selama 10 tahun di Veii antara tahun 406 dan 396 SM," lanjutnya.

Tentara Etruria yang terdiri dari tentara paruh waktu, mungkin direkrut berdasarkan kekerabatan atau keanggotaan klan, terbukti bukan tandingan tentara Romawi.

Tentara Romawi lebih profesional dan dinamis secara taktis yang mampu memanfaatkan sumber daya yang lebih besar, baik laki-laki maupun peralatan.

Pada tahun 281-280 SM, kemenangan bagi tentara Romawi melawan orang-orang seperti Tarquinia, Orvieto, dan Vulci. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar Etruria akhirnya jatuh di bawah kendali Romawi.

Melalui campuran diplomasi, aliansi, gencatan senjata yang berkepanjangan, dan kekuatan militer, Romawi telah memantapkan diri mereka sebagai penguasa Italia.




 

Momus, Dewa Ironi dan Sarkasme yang Diusir dari Olimpus oleh Zeus


Menurut Theogony oleh Hesiod, Momus pada awalnya adalah penasihat para dewa Olimpus. Namun karena kritik yang berlebihan, tidak menyenangkan, dan terus-menerus terhadap para dewa, ia akhirnya dibuang ke bumi.

Momus menjadi “orang jahat” di antara dewa-dewa kecil Olimpus. “Maka tidak heran jika ia lebih tidak disukai oleh mereka daripada dewa Yunani lainnya,” ungkap A. Sutherland dilansir dari laman Ancient Pages.

Panteon Yunani sangat beragam. Masing-masing dewa memiliki rentang aktivitas, atribut, dan kelemahan yang berbeda. Dewa-dewa Yunani berbeda dari dewa-dewa agama monoteistik besar—dewa Momus menampilkan banyak karakteristik yang mirip dengan manusia.

Salah satu penulis drama klasik paling terkenal di Athena, Sophocles menulis sebuah drama satir yang ditujukan untuk Momus, putra Nyx. Ia menggambarkan Momus sebagai dewa lelucon dan ejekan yang suka mengkritik dan mengolok-olok orang lain. “Pendapatnya diungkapkan dengan sarkasme pahit,” tambah Sutherland.

Momus, dewa kritik, tidak pernah disambut sebagai pendamping para dewa di Gunung Olimpus. Tetapi karena dia adalah salah satu dari para dewa, maka kelakuan Momus pun ditoleransi.

Ironi dan kritiknya yang tidak pantas sering ditafsirkan sebagai sesuatu yang ganas. Kadang-kadang, dia mengalami kesulitan menemukan sesuatu yang salah dalam tindakan para dewa dan manusia, tetapi dia selalu mencoba. Juga, sikapnya terhadap kemanusiaan tidak sepenuhnya benar dan tentu saja tidak ramah.

Faktanya, Momus tidak menyukai manusia dan ingin melihat populasi bumi berkurang. Dia sering membuat upaya yang berhasil untuk menemukan beberapa kekurangan atau kelemahan dalam segala hal.

Sutherland menyebutkan bahwa kadang-kadang, Momus muncul dan menuduh dewa melarikan diri dengan suatu kejahatan. Dia tidak terlalu terkesan ketika Prometheus 'Pembawa Api' mencuri api dari para dewa dan menciptakan manusia pertama. Sang dewa yang tidak disukai ini merasa bukan dirinya sendiri jika tidak mengkritik karya ilahi Prometheus.

Athena pun tidak luput dari kritikan Momus. Kali itu, Momus menghina usaha Athena untuk pembangunan rumah manusia. Momus menunjukkan bahwa rumah itu tidak memiliki sarana penggerak yang diperlukan. Momus menyarankan bahwa ciptaannya untuk manusia harus memiliki roda. Sehingga seseorang dapat dengan bebas berpindah dari satu tempat ke tempat lain jika perlu.

Afrodit sang dewi kecantikan menolak kritikan Momus atas Athena. Momus tidak dapat menemukan kesalahan atas kekecewaannya yang besar dengan bentuk sempurnanya. Sehingga dia menuduhnya terlalu banyak bicara dan mengenakan sandal yang aneh dan berderit.

Dalam "Lucian and the Latins: Humor and Humanism in the Early Renaissance", David Marsh menulis bahwa di perjamuan Momus mengutuk para filsuf, pendeta, dan cendekiawan sebagai ateis.

Terlepas dari protes Hercules dan Juno, dewa Jupiter menerima proposal Momus untuk menghancurkan dunia dan merencanakan penciptaan baru.

Para dewa mengunjungi bumi untuk berkonsultasi dengan para filsuf manusia. Mereka menyatakan Socrates satu-satunya orang yang benar-benar bijaksana. “Kembali ke Olimpus, para dewa berkumpul tetapi segera jatuh ke pertengkaran,” tulis Marsh.

Ketika Juno menghina Momus, dia mengusulkan undang-undang untuk mengecualikan semua dewa wanita dari majelis. Para dewi yang marah menyerang Momus dan mengebirinya. Sementara itu, orang-orang di bumi, yang takut akan bencana baru, berusaha menyesuaikan diri dengan dewa-dewa. Manusia mempersembahkan kuil dan patung baru untuk para dewa agar mereka tidak murka.

Ini membuat para dewa senang dan memuji umat manusia. Marsh menuturkan, “Para dewa itu pun berbalik mencela Momus yang cacat, yang dibuang oleh Jupiter untuk dirantai di tebing laut."

Bagaimana cara manusia zaman dulu menggambarkan dewa ini tidak diketahui hingga kini. Momus sering digambarkan sebagai badut raja dalam seni modern, dengan topi dan lonceng bodoh.

Momus dianggap sebagai sosok ilahi yang relatif anonym. Ia adalah putra Nyx, personifikasi malam, yang juga ibu dari Hypnos (Tidur) dan Thanatos (Kematian), dengan Erebus (Kegelapan). Menurut Hesiod, Momus tidak memiliki ayah, tetapi saudara kembarnya, Oizys, dewi depresi dan kesengsaraan.

Momus membuat para dewa gila dengan ketidaksetujuan abadinya terhadap segala hal. Terakhir, ia menyebut Zeus sebagai maniak seks dan dewa yang kejam. Sudah cukup bersabar, Zeus akhirnya menendang Momus keluar dari Olimpus.

Orang Yunani memiliki banyak dewa yang mempersonifikasikan kehidupan dan alam. Seperti makhluk fana, para dewa, setengah dewa, dan pahlawan mitologis. Mereka menunjukkan sifat-sifat negatif seperti manusia, emosi, dan sikap permusuhan.

“Perilaku dewa berkontribusi pada banyak legenda dan mitos yang menarik. Ini menjadikan mitologi Yunani sebagai warisan penting dari budaya kuno ini,” imbuh Sutherland.

Monday, September 26, 2022

Letusan Gunung Berapi, Pemicu Skotlandia Gabung dengan Britania Raya


Selama tujuh tahun yang mengerikan, terjadi di tahun 1690-an, gagal panen, desa-desa pertanian mulai ditinggalkan, dan kelaparan parah, membunuh hingga 15% dari seluruh penduduk Skotlandia. 

Orang-orang Skotlandia telah menyadari bahwa dampak dari letusan dahsyat gunung tropis disana, merupakan malapetaka yang tertulis dalam Alkitab. Mereka menyebutnya dengan Scottish Ills atau Penyakit Skotlandia.

"Malapetaka Scottish Ills, telah mengantarkan ke era dimana kondisi ekonomi yang melumpuhkan," tulis Sid Perkins kepada Science. Ia menulis dalam artikelnya berjudul How a volcanic eruption helped create modern Scotland, publikasi tahun 2019.

Segera setelah ledakan dan erupsi dahsyat itu, negara yang sebelumnya merdeka, memutuskan bergabung dengan Inggris Raya. Sekarang, para peneliti telah mengkaji, dampak letusan gunung berapi yang berjarak ribuan kilometer jauhnya, mungkin telah memicu transformasi politik ini.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa gunung berapi dapat mengubah iklim bumi. Selama letusan besar, tetesan asam sulfat yang menyebarkan cahaya mencapai stratosfer dan menyebar ke seluruh dunia, memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke ruang angkasa dan mendinginkan planet ini. 

"Musim dingin seperti itu dapat berlangsung dari beberapa bulan hingga beberapa tahun—dan dapat membantu memicu kekeringan dan gagal panen," tambahnya. Skotlandia telah mengalami masa terburuk dalam sejarahnya.

"Petunjuk untuk peristiwa seperti itu sering terkunci di lingkaran pohon, yang pertumbuhannya melambat dengan perubahan suhu dan curah hujan yang liar dan tak beraturan," lanjut Perkins.

Tetapi sampai saat ini, para peneliti tidak memiliki catatan mengenai bencana besar di Skotlandia utara, di mana dampak terburuk dari kelaparan terjadi disana. Para ilmuwan di Skotandia menyatukan catatan lengkap tentang iklim lokal dari tahun 1200 hingga 2010, untuk dapat membuktikannya.

"Para ilmuwan menggunakan data pencarian dari pohon-pohon dan kayu yang masih hidup yang jatuh ke danau, di mana mereka disimpan selama berabad-abad," ungkapnya.


Rosanne D'Arrigo, ahli paleoklimatologi di Lamont Doherty Earth Observatory di Universitas Columbia di Palisades, New York, Amerika Serikat, turut dalam penelitian. Dengan bersemangat, ia menyelidiki kronik ini bersama rekan-rekannya.

Analisis mereka mengungkapkan bahwa dekade terdingin kedua yang terjadi di Skotlandia dalam 800 tahun terakhir, telah berlangsung dari tahun 1695 hingga 1704.

Suhu musim panas selama periode ini sekitar 1,56°C lebih rendah dari rata-rata musim panas dari tahun 1961 hingga 1990, tim melaporkannya ke dalam Journal of Vulcanology and Geothermal Research.

"Semua ini bertepatan dengan dua letusan gunung berapi besar di daerah tropis di kawasan Skotlandia: satu pada tahun 1693 dan yang kedua (yang lebih besar) terjadi pada tahun 1695," sambung Perkins.

Dua pukulan dari dasar bumi yang melemparkan abu dan debu vulkanik, menutup langit-langit Skotlandia, agaknya berdampak pada pendinginan iklim yang ekstrem dan membunuh.

"Skotlandia menjadi sangat dingin yang memicu kegagalan panen dan kelaparan besar-besaran selama beberapa tahun, tim (peneliti dan ilmuwan) berspekulasi," ujarnya.

Gunung berapi tropis bukanlah satu-satunya kutukan di Skotlandia. Teknik pertanian yang relatif tidak canggih, menjadi masalah lain yang memperburuk kondisi pangan di Skotlandia.

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendorong ekspor biji-bijian (yang menyisakan sedikit cadangan ketika panen gagal), dan kegagalan untuk mendirikan koloni Skotlandia di Panama pada tahun 1698, menempatkan negara itu dalam keadaan yang lebih mengerikan.

Masalah-masalah ini, serta depresi ekonomi yang mengikutinya, memotivasi Parlemen Skotlandia untuk mengakhiri kemerdekaannya dan bergabung dengan Inggris Raya, melalui Acts of Union pada tahun 1707.

Saturday, September 24, 2022

Homo Bodoensis, Spesies Baru Leluhur Manusia yang Hidup di Afrika

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Dr. Mirjana Roksandic, paleoantropolog dari University of Winnipeg telah mengumumkan penamaan spesies baru nenek moyang manusia, Homo bodoensis. Spesies ini hidup di Afrika selama Pleistosen Tengah, sekitar setengah juta tahun yang lalu dan merupakan nenek moyang langsung manusia modern.

Seperti diketahui, pleistosen Tengah (sekarang berganti nama menjadi Chibanian dan bertanggal 774.000-129.000 tahun yang lalu) penting karena melihat kebangkitan spesies kita sendiri (Homo sapiens) di Afrika, kerabat terdekat kita, dan Neanderthal (Homo neanderthalensis) di Eropa.

Namun, evolusi manusia selama zaman ini kurang dipahami, sebuah masalah yang oleh ahli paleoantropologi disebut "kekacauan di tengah". Pengumuman Homo bodoensis berharap dapat memberikan kejelasan pada bab yang membingungkan namun penting ini dalam evolusi manusia. Rincian studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Evolutionary Anthropology pada 28 Oktober 2021.


"Studi tentang evolusi manusia di Pleistosen Tengah dan Akhir telah mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa dekade terakhir," kata Roksandic, penulis utama studi tersebut dalam rilis University of Winnipeg.

Menurutnya, kita sekarang tahu bahwa asal Homo sapiens adalah Afrika (mungkin pan-Afrika) dan meluas lebih jauh ke akhir Pleistosen Tengah daripada yang diperkirakan sebelumnya. Juga jelas bahwa takson ini menyebar keluar dari Afrika sebelum 60.000 tahun yang lalu, kemungkinan dalam beberapa gelombang yang lebih kecil, dengan penyebaran besar pasca 60.000 tahun yang lalu.

"Lebih jauh, selama dua dekade terakhir, spesies yang termasuk dalam genus Homo (misalnya, Homo floresiensis, Homo naledi, dan Homo luzonensis) yang sezaman dengan garis keturunan Homo sapiens tetapi dianggap tidak banyak berperan dalam evolusi yang terakhir, membuktikan kompleksitas catatan evolusi manusia Pleistosen kemudian," Roksandic menjelaskan.


Nama baru ini didasarkan pada penilaian ulang fosil yang ada dari Afrika dan Eurasia dari periode waktu ini. Secara tradisional, fosil-fosil ini telah ditetapkan secara bervariasi baik sebagai Homo heidelbergensis atau Homo rhodesiensis, keduanya membawa banyak definisi yang seringkali bertentangan.

"Berbicara tentang evolusi manusia selama periode ini menjadi tidak mungkin karena kurangnya terminologi yang tepat yang mengakui variasi geografis manusia" menurut Roksandic.

Baru-baru ini, bukti DNA telah menunjukkan bahwa beberapa fosil di Eropa yang disebut Homo heidelbergensis sebenarnya adalah Neanderthal awal, membuat nama itu berlebihan. Untuk alasan yang sama, nama tersebut perlu ditinggalkan ketika menggambarkan fosil manusia dari Asia timur menurut rekan penulis, Xiu-Jie Wu dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology, Beijing.

Lebih lanjut mengacaukan narasi, fosil-fosil Afrika yang berasal dari periode ini kadang-kadang disebut sebagai Homo heidelbergensis dan Homo rhodesiensis. Yang terakhir didefinisikan dengan buruk dan namanya tidak pernah diterima secara luas. Ini sebagian karena hubungannya dengan Cecil Rhodes dan kejahatan mengerikan yang dilakukan selama pemerintahan kolonial di Afrika, suatu kehormatan yang tidak dapat diterima mengingat pekerjaan penting yang dilakukan menuju dekolonisasi sains.

Nama "bodoensis" berasal dari tengkorak yang ditemukan di Bodo D'ar, Ethiopia, dan spesies baru ini dianggap sebagai nenek moyang langsung manusia. Di bawah klasifikasi baru, Homo bodoensis akan menggambarkan sebagian besar manusia Pleistosen Tengah dari Afrika dan beberapa dari Eropa Tenggara, sementara banyak dari benua terakhir akan diklasifikasi ulang sebagai Neanderthal.


Rekan penulis pertama Predrag Radovic dari University of Belgrade, Serbia mengatakan, "Istilah-istilah harus jelas dalam sains, untuk memfasilitasi komunikasi. Mereka tidak boleh diperlakukan sebagai mutlak ketika mereka bertentangan dengan catatan fosil.

Pengenalan Homo bodoensis ditujukan untuk "memotong simpul Gordian dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan jelas tentang periode penting dalam evolusi manusia ini," menurut salah satu rekan penulis Christopher Bae dari Departemen Antropologi, University of Hawai'i at Manoa.

Menurut Roksandic, menamai spesies baru adalah masalah besar, karena Komisi Internasional untuk Nomenklatur Zoologi mengizinkan perubahan nama hanya di bawah aturan yang sangat ketat. "Kami yakin ini akan bertahan lama, nama takson baru akan hidup hanya jika peneliti lain menggunakannya," kata Roksandic.

Lempeng Batu Berusia 4.000 Tahun Ini Diperkirakan Peta Tertua di Eropa


Sebuah lempengan batu berusia 4.000 tahun, pertama kali ditemukan lebih dari seabad yang lalu di Prancis. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di Bulletin of the French Prehistoric Society, ini mungkin merupakan peta tertua di Eropa.

The Saint-Bélec Slab diperkirakan berasal dari Zaman Perunggu awal (2150-1600 SM). Lempengan ini pertama kali ditemukan pada 1900 di tanah pemakaman prasejarah di Finistère, Brittany.

Lempengan ini menjadi salah salah satu dinding kotak batu yang menampung mayat-mayat. Sempat disimpan di sebuah museum pribadi, lempengan yang berukuran panjang 3.9 meter ini ditemukan kembali di ruang bawah tanah kastil pada tahun 2014. Namun baru belakangan ini para peneliti mulai memahami cerita menarik di balik lempengan prasejarah ini.

Pada tahun 2017, sekelompok peneliti di Eropa mulai menganalisis ukiran pada lempengan menggunakan survei 3D resolusi tinggi dan fotogrametri. Ini merupakan sebuah proses menganalisis objek melalui pengambilan foto detail.

Mereka menemukan bahwa lempengan itu memiliki semua tanda yang ada pada peta, seperti kontur yang disatukan oleh garis. Peta ini juga memiliki garis mewakili jaringan sungai dan pembuatnya tampaknya sengaja menggunakan bentuk 3D untuk mewakili lembah.

Ukiran pada lempengan kemudian dibandingkan dengan elemen lanskap Prancis. Kemudian diambil kesimpulan bahwa lempengan itu mewakili area di sepanjang Sungai Odet di Prancis barat.


Geo-lokasi mengungkapkan wilayah yang diwakili pada lempengan itu memiliki akurasi 80% ke area sekitar bentangan sungai sepanjang 18 mil.

Selain sungai dan bukit, terdapat bidang yang mungkin mewakili lokasi pemukiman, bukit dan sistem di lapangan, papar Peter Dockrill dari laman Science Alert. Penandaan tersebut dapat dikaitkan dengan pengaturan penggunaan dan kepemilikan lahan.

Ini mungkin peta tertua dari suatu wilayah yang telah diidentifikasi di Eropa, menurut penulis studi Clément Nicolas dari Universitas Bournemouth.

Ada beberapa peta yang diukir di batu di seluruh dunia. Umumnya, itu hanya interpretasi. Tapi ini adalah pertama kalinya sebuah peta menggambarkan suatu area pada skala tertentu.


Peta itu kemungkinan digunakan oleh pangeran atau raja Zaman Perunggu untuk menandai kepemilikan atas area tertentu.

Wilayah itu kemungkinan dimiliki oleh entitas politik yang sangat hierarkis yang mengendalikan daerah itu di awal Zaman Perunggu.

Kesimpulan soal fungsi peta untuk penandaan wilayah diperkuat oleh pernyataan dari Yvan Pailler, seorang arkeolog dari Universitas Western Brittany. Menurutnya, orang dari Zaman Perunggu tidak menggunakan peta dari lempengan batu untuk bernavigasi.

Pada zaman itu, umumnya peta ditransmisikan dalam bentuk cerita atau kalimat. Misalnya untuk pergi ke titik A, Anda harus melewati sungai dan bukit.


Lalu mengapa lempengan tersebut digunakan sebagai dinding kotak batu penampung mayat? Fakta bahwa itu kemudian dikubur bisa juga berarti bahwa itu adalah akhir dari kekuasaan raja atau pangeran. Teori lain menyimpulkan soal adanya penolakan terhadap kekuasaan yang dipegang oleh para elit atas masyarakat pada saat itu.

Arkeolog Paul du Chatellier menemukan lempengan itu pada tahun 1900. Setelah kematiannya, anak-anaknya menyumbangkan koleksi arkeologinya ke Museum Arkeologi Nasional Saint-Germain-en-Laye, di mana lempangan disimpan selama beberapa dekade.

Sementara itu, beberapa cendekiawan, termasuk Pailler dan Nicholas, membaca laporan du Chatellier tentang temuannya . Mereka menyimpulkan bahwa tanda lempengan itu dapat mewakili peta. Pada 2014, artefak itu pun ditemukan di ruang bawah tanah museum.

Kita cenderung meremehkan pengetahuan geografis masyarakat masa lalu. Lempengan ini penting karena menyoroti pengetahuan kartografi masyarakat dari Zaman Perunggu.

Misteri Tengkorak dengan Tempurung Memanjang di Hal Saflieni Hyopeum


Hal Saflieni Hyopeum merupakan permakaman bawah tanah yang ditemukan pada 1902. Bertempat di sebuah bukit menghadap ke bagian terdalam Grand Harbour of Valetta, Kota Paola, Malta.

Dilansir dari laman UNESCO, tempat ini merupakan monument prasejarah yang unik. Sebuah kuburan bawah tanah yang awalnya berisi sisa–sisa dari sekitar 7.000 individu. Permakaman ini digunakan di setiap fase prasejarah Malta atau mulai dari sekitar 4.000 SM sampai 2.500 SM.

Dari penggalian di tempat ini didapatkan banyak hal, misalnya artefak berupa bejana tembikar yang didekorasi dengan desain rumit, kancing cangkang, manik-manik dari batu dan tanah liat. Ditemukan pula jimat dan batu kecil yang diukir membentuk hewan diduga dipakai sebagai liontin.

Tulang belulang manusia yang ditemukan di tempat ini menunjukkan bahwa ritual penguburan memiliki lebih dari satu tahap. Menariknya, dilansir dari Archaeology World, kumpulan tengkorak dari tempat ini menunjukkan kelaian dan atau patologi yang aneh. Sebagai contoh, terkadang tidak ada garis rajut tengkorak, bukti pengeboran dan pembengkakan di bagian belakang kepala diduga bekas trauma yang pulih.

Adapun yang paling aneh adalah tengkorak yang memanjang tanpa adanya medial fossa, sambungan yang membentang di sepanjang bagian atas tengkorak. Alasan dari kelainan ini diselimuti misteri.

Tengkorak dipajang di Museum Nasional Arkeologi hingga tahun 1985. Pihak otoritas yang bertanggung jawab atas warisan prasejarah Malta, Heritage Malta, memindahkannya dari pandangan publik sekitar 30 tahun yang lalu. Sejak saat itu, tengkorak ini hanya bisa dilihat oleh peneliti dengan izin khusus.


Pihak otoritas juga membantah beberapa teori yang beredar terkait dengan ‘pendeta ular’ atau ‘tengkorak alien’. Sikap ini terbilang wajar dilakukan mengingat selain bukti tengkorak yang cukup aneh, selebihnya hanyalah spekulasi.

Dr Anton Mifsud dan rekannya, Dr Charles Savona Ventura menjadi yang pertama untuk menyelidiki tengkorak. Mereka bersaksi tentang keberadaan dan kelaian yang ditemukan. Sedangkan Vittorio Di Cesare dan Adriano Forgione dari majalah HERA, Italia adalah satu-satunya non-pejabat yang mendapat izin untuk menyelidiki tengkorak. Mereka menerbitkan artikel yang sangat detail mengenai temuan dan tampaknya mereka sangat terkesan.

Skullcap yang memanjang merupakan bagian yang paling menarik. Penelitian mereka menegaskan bahwa tempurung kepala panjang secara alami dan bukan karena perban ataupun papan, seperti kebiasaan di peradaban kuno Amerika Selatan.


Para ahli ini juga tidak dapat menemukan rajutan median atau sagital, yang dianggap ‘mustahil’ oleh para ahli medis dan ahli anatomi. Dalam artikelnya, mereka juga menarik kesimpulan yang berkaitan dengan budaya Mesir dan apa yang disebut ‘pendeta ular’.

Di sisi lain, sosok Rodriguez Aguilera yang pernah mengaku diculik oleh alien saat masih anak-anak, pernah mengklaim bahwa makhluk ekstraterestrial ini mengatakan padanya, “ada 30.000 tengkorak yang berbeda dari manusia di sebuah gua, di pulau di Laut Mediterania, Malta.”


Tengkorak ini berasal dari 3.000–2.500 SM. Majalah National Geographic terbitan edisi Januari – Juni 1920, Volume XXXVII melaporkan bahwa penduduk pertama Malta adalah ras dengan tengkorak memanjang.

“Dari pemeriksaan kerangka (dari) Zaman Batu yang dipoles, tampak bahwa penduduk awal Malta adalah ras orang-orang bertengkorak panjang dengan tinggi sedang, mirip dengan orang-orang awal Mesir yang menyebar ke barat di sepanjang pantai utara Afrika. Beberapa pergi ke Malta dan Sisilia yang lainnya ke Sardinia dan Spanyol,” begitu National Geographic melaporkan.

Thursday, September 22, 2022

Misteri Seabad Terpecahkan: Asal-usul Sinar Kosmis Bima Sakti


Menurut sebuah teori, bahwa sinar kosmis dapat memicu terjadinya evolusi kimia materi antarbintang. Hal ini telah menarik perhatian para ilmuwan untuk melakukan studi baru terhadap sinar gamma yang baru-baru ini mereka deteksi, dengan tujuan agar dapat memahami evolusi galaksi Bima Sakti. Sebab, para astronom yakin bahwa jejak supernova telah mempercepat sinar kosmis tersebut di galaksi kita.

Sinar kosmis ini melesat menuju ke Bumi dengan kecepatan cahaya. Berdasarkan hasil pengamatan ilmuwan dari sinar gamma yang mereka deteksi itu, diketahui bahwa sisa-sisa supernova telah memancarkan sinar gamma pada energi teraelectronvolts (TeV).

Untuk dapat mempermudah verifikasi asal-usul sisa supernova itu dari sinar kosmis, dibutuhkan proton yang dapat menghasilkan sinar gamma. Sayangnya, sinar gamma tersebut dihasilkan oleh elektron. Sehingga para ilmuwan perlu untuk menentukan apakah asal proton atau elektron yang dominan, serta mengukur rasio dari keduanya.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Astrophysical Journal pada 9 Juli 2021 yang berjudul Pursuing the Origin of the Gamma Rays in RX J1713.7-3946 Quantifying the Hadronic and Leptonic Components, menjelaskan bahwa para astronom telah berhasil melakukan pengukuran komponen proton dan elektron dari sinar kosmis dalam sisa-sisa supernova. Mereka menemukan 70 persen sinar gamma berenergi sangat tinggi dipancarkan dari sinar kosmis, hal ini terkait dengan proton.

Temuan mereka ini merupakan yang pertama kalinya menemukan jumlah sinar kosmis dalam sisa supernova. Hal ini dapat memberikan penjelasan tentang asal-usul sinar kosmis.

Dalam studi tersebut, para astronom juga melakukan analisis pencitraan baru dari radiasi sinar gamma, sinar-X, dan radio. Hasil penelitian ini telah mengungkap bukti yang kuat bahwa sinar gamma tersebut memang berasal dari komponen proton, yang juga merupakan komponen utama dari sinar kosmis. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa sisa-sisa supernova menghasilkan sinar kosmis galaksi.

“Metode baru ini tidak dapat dicapai tanpa kerjasama internasional,” kata Profesor Emeritus Yasuo Fukui di Nagoya University seperti yang dilaporakan Techexplorist.com. Dia juga memimpin proyek ini dan secara akurat telah berhasil menghitung distribusi kepadatan gas antarbintang menggunakan teleskop radio NANTEN serta Australia Telescope Compact Array sejak tahun 2003.

“Metode baru ini akan diterapkan pada lebih banyak sisa-sisa supernova menggunakan teleskop sinar gamma generasi berikutnya CTA (Cherenkov Telescope Array) di samping observatorium yang ada, yang akan sangat memajukan studi tentang asal usul sinar kosmis,” tuturnya.

Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan melalui pencitraan radio-line, ditemukan bahwa intensitas sinar gamma dari proton sebanding dengan kerapatan gas antarbintang. Ilmuwan juga berharap, di sisi yang lain, sinar gamma dari elektron juga dapat sebanding dengan intensitas sinar-X dari elektron. Maka dari hal tersebut dapat dikatakan total intensitas sinar gamma adalah jumlah dari dua komponen tersebut, yaitu satu berasal dari proton dan lainnya berasal dari elektron.

Metode ini pertama kali diusulkan dalam penelitian ini. Hasilnya, ditunjukkan bahwa sinar gamma dari proton dan elektron masing-masing menyumbang 70% dan 30% dari total sinar gamma. Untuk pertama kalinya para astronom berhasil menghitung dari dua asal.

Studi juga menemukan bahwa sinar gamma dari proton didominasi pada area yang kaya akan gas antarbintang, sedangkan sinar gamma dari elektron meningkat di area yang minim gas. Hal ini memberikan gambaran yang jelas, bahwa kedua mekanisme tersebut telah bekerja sama, dan mendukung prediksi studi teoretis yang dilakukan sebelumnya.