About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label mesir. Show all posts
Showing posts with label mesir. Show all posts

Monday, October 10, 2022

Arkeolog Temukan Terowongan Rahasia di Bawah Kuil Suku Maya Kuno


Arkeolog menemukan jalan tersembunyi di bawah kuil peninggalan peradaban Maya yang berusia 1.000 tahun. Terowongan tersebut ditemukan di bawah piramida Kulkulkan, yang merupakan bagian dari situs arkeologi Chichen Itza di Yukatan, Meksiko.

Para ahli menduga, terowongan tersebut mengarah ke lubang air alami atau lebih umum dikenal sebagai cenote, yang ditemukan di bawah kuil pada tahun 2015.

Cenote terbentuk ketika lapisan batuan kapur runtuh, sehingga mengungkap air tanah di bawahnya. Beberapa cenote tersebut diduga telah digunakan oleh masyarakat Maya kuno sebagai tempat pengorbanan manusia. Pasalnya, dalam ekspedisi terakhir, para peneliti menemukan tulang belulang manusia di cenote-cenote lain di bawah Chichen Itza.

Para peneliti dari Great Mayan Aquifer Project yang dipimpin oleh arkeolog bawah air Guellermo de Anda, menemukan terowongan tersembunyi itu dengan menggunakan teknik pencitraan canggih. 

Mereka menggunakan radar berbentuk lidar penetrasi darat untuk mengirim sinyal elektromagnetik melalui dinding dan elemen arsitektural lain dari piramida dan sekitarnya, untuk memetakan bangunan utama di bawah tanah dalam bentuk 3D.

Tim tersebut menemukan pintu masuk yang potensial di dalam kamar pemakaman kecil yang disebut osuarium. Para peneliti telah menjelajahi area tersebut selama enam bulan terakhir. Mereka yakin, pintu masuk itu telah disegel oleh para penduduk Maya kuno.

"Melalui osuarium, kita bisa memasuki gua di bawah bangunan kuil, dan di sana kami menemukan jalan yang terblokir, kemungkinan ditutup oleh bangsa Maya kuno sendiri. Kami akan mencoba membukanya untuk melihat apakah jalur ini akan mengarahkan kita ke pintu masuk cenote di bawah kuil," ujar De Anda kepada El Universal.

Sejauh ini, mereka tahu terowongan itu ada, tapi mereka berharap bisa menemukan jalan masuk ke terowongan dan berharap bisa menjelajahinya secara fisik.

"Pertama, kami ingin membuktikan keberadaannya karena belum ada seorangpun yang melihatnya. Kami hanya memiliki gambar-gambar, maka kami harus menjelajahinya," ujar De Anda.

Para periset berharap, jalur rahasia tersebut akan mengungkapkan \'geografi suci\' situs tersebut beserta rincian baru tentang kepercayaan kuno suku Maya.

Tuesday, October 4, 2022

Bukit Pasir Hantu, Salah Satu Destinasi Wisata Masa Depan Planet Mars


Setelah sebelumnya kita membahas empat destinasi keren di planet Mars yang bisa dijadikan tujuan wisata bagi wisatawan luar angkasa di masa depan. Ternyata, masih ada empat destinasi lagi yang dapat dimasukkan ke dalam daftar tujuan Anda.

Planet merah memang menjadi pusat perhatian. Mungkin karena ia adalah planet terdekat dengan Bumi yang memiliki sedikit atmosfer. Atau setidaknya, bisa dijadikan target hunian kedua setelah bulan. Benar sekali, saat ini manusia sedang berusaha mencari alternatif tempat tinggal baru di luar Bumi.

Jika saja, semua ini dapat berjalan dengan baik. Koloni Bulan dan Mars menjadi kenyataan. Maka, berikut adalah empat destinasi keren lainnya di Mars yang harus Anda ketahui.

Kutub Utara dan Selatan Mars

Mars memiliki dua wilayah es di kutubnya, dengan komposisi yang sedikit berbeda. Kutub utara (lihat foto) dipelajari dari dekat oleh pendarat Phoenix pada 2008. Sementara pengamatan kutub selatan hanya berasal dari pengorbit. Selama musim dingin, menurut NASA, suhu di dekat kutub utara dan selatan sangat dingin sehingga karbon dioksida mengembun dari atmosfer menjadi es di permukaan.

Prosesnya terbalik di musim panas, ketika karbon dioksida menyublim kembali ke atmosfer. Karbon dioksida benar-benar menghilang di belahan bumi utara, meninggalkan lapisan es air. Tetapi beberapa es karbon dioksida tetap berada di atmosfer selatan. Semua gerakan es ini memiliki efek besar pada iklim Mars, menghasilkan angin dan efek lainnya.

Medusae Fossae

Medusae Fossae adalah salah satu lokasi paling aneh di Mars. Beberapa orang bahkan berspekulasi bahwa itu menyimpan bukti semacam kecelakaan UFO. Penjelasan yang lebih mungkin adalah itu merupakan deposit vulkanik yang sangat besar, sekitar seperlima dari ukuran Amerika Serikat.

Seiring waktu, angin mengukir bebatuan menjadi beberapa formasi yang indah. Tetapi para peneliti akan membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mempelajari bagaimana gunung berapi ini membentuk Medusae Fossae. Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa formasi itu mungkin terbentuk dari letusan gunung berapi yang sangat besar yang terjadi ratusan kali selama 500 juta tahun. Letusan ini akan menghangatkan iklim Planet Merah karena gas rumah kaca dari gunung berapi melayang ke atmosfer.

‘Bukit Pasir Hantu’ di Noctis Labyrinthus dan Cekungan Hellas


Mars adalah planet yang sebagian besar dibentuk oleh angin akhir-akhir ini, karena airnya menguap saat atmosfernya menipis. Tetapi kita dapat melihat bukti ekstensif dari air masa lalu. Seperti daerah "bukit pasir" yang ditemukan di Noctis Labyrinthus dan cekungan Hellas. Para peneliti mengatakan daerah ini dulunya memiliki bukit pasir setinggi puluhan meter. Kemudian, bukit pasir dibanjiri oleh lava atau air, yang mempertahankan dasarnya sementara puncaknya terkikis.

Bukit pasir tua seperti ini menunjukkan bagaimana angin dulu mengalir di Mars kuno. Pada gilirannya memberikan beberapa petunjuk kepada ahli iklim tentang lingkungan kuno Planet Merah. Dalam putaran yang lebih menarik, mungkin ada mikroba yang bersembunyi di area terlindung dari bukit pasir ini. Dikarenakan aman dari radiasi dan angin yang akan menyapu mereka.

Garis Lereng Berulang di Kawah Hale

Mars memiliki fitur aneh yang disebut garis lereng berulang, yang cenderung terbentuk di sisi kawah curam selama cuaca hangat. Sulit untuk mengetahui fitur apa sebenarnya ini. Gambar yang ditampilkan di sini dari Kawah Hale (serta lokasi lain) menunjukkan titik-titik di mana spektroskopi mengambil tanda-tanda hidrasi.

Pada tahun 2015, NASA awalnya mengumumkan bahwa garam terhidrasi harus menjadi tanda air mengalir di permukaan. Tetapi penelitian kemudian mengatakan fitur ini dapat terbentuk dari air atmosfer atau aliran pasir kering. Pada kenyataannya, kita mungkin harus mendekatinya untuk melihat langsung seperti apa sifat aslinya. Tapi ada kesulitan,  jika fitur ini memang menampung mikroba asing, maka kita tidak ingin terlalu dekat karena dikhawatirkan terjadi kontaminasi. Sementara NASA mencari cara untuk menyelidiki di bawah protokol perlindungan planetnya. Penjelajah manusia masa depan mungkin harus mengagumi fitur misterius ini dari jauh, menggunakan teropong.

Sunday, September 18, 2022

'Manusia Naga' Julukan Spesies Manusia Baru yang Ditemukan di Tiongkok


Para arkeolog menetapkan spesies manusia baru yang dinamai homo longi, yang dalam bahasa Latin berarti "Manusia Naga". Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal The Innovation pada Jumat, 25 Juni 2021.

Nama dari spesies baru ini diambil dari nama Long Jiang, yang berarti "Sungai Naga". Nama ini merupakan julukan dari provinsi Heilongjiang di Tiongkok, tempat fosil ini ditemukan.

Penetapan ini disahkan berdasarkan penelitian terhadap fosil yang ditemukan 88 tahun yang lalu. Pada tahun 1933, seorang pria Tiongkok menemukan sebuah tulang kepala manusia saat membangun jembatan di Harbin, Manchuria. Rupa dari tulang ini membuat sang pekerja mengetahui bahwa ia telah menemukan fosil manusia purba.

Fosil itu tidak ia berikan kepada Jepang yang saat itu memerintah Manchuria. Ia menyembunyikan fosil itu di sebuah sumur tua, berharap untuk menggalinya lagi suatu saat nanti.

Namun setelah Tiongkok mengklaim kembali Manchuria, ia kembali bekerja sebagai petani untuk menyembunyikan bahwa ia pernah bekerja untuk Jepang. Fosil tersebut tetap tersembunyi dengan aman seiring perubahan rezim di Tiongkok.

Barulah sebelum kematiannya pada 2018, ia membuka rahasia itu kepada keluarganya. Cucunya kemudian menemukan kembali fosil itu dan menyumbangkannya ke Geoscience Museum of Hebei. Keluarganya tidak membuka identitas pria tersebut.

"Fosil Harbin merupakan salah satu fosil kepala manusia paling utuh di dunia," kata Qiang Ji, profesor paleontologi Hebei GEO University, kepada EurekAlert!. "Fosil ini memiliki sejumlah detail rupa yang penting untuk memahami asal muasal Homo sapiens," lanjutnya.

Para arkeolog kemudian melakukan penelitian terhadap fosil ini selama tiga tahun. Dalam penelitian tersebut, mereka mendapati sejumlah temuan menarik.


Fosil kepala ini memiliki ukuran yang sangat besar. Berdasarkan penelitian arkeolog, kepala Homo longi memiliki kapasitas otak sekitar 1.420 mililiter. Kapasitas tersebut tidak jauh berbeda dengan Neanderthal dan manusia modern.

Berdasarkan studi morfologi, diketahui bahwa Manusia Naga berumur sekitar 50 tahun saat kematiannya. Spesies manusia ini memiliki rongga mata berbentuk bujur sangkar, alis yang sangat menonjol, serta hidung yang besar. Di bagian rahang, mereka memiliki gigi yang besar dan mulut yang sangat lebar.

Diperkirakan adaptasi seperti ini membantu mereka untuk mengambil napas yang panjang. Hal tersebut sangat membantu dalam berburu dan bertahan hidup di musim dingin yang menggigit.

"Dari analisis kami, fosil Harbin lebih menyerupai Homo sapiens daripada Neanderthal," kata Chris Stringer, antropolog Natural History Museum, kepada AFP. "Dengan kata lain, [fosil] Harbin memiliki kekerabatan lebih dekat dengan kita.

Peneliti juga memperkirakan bahwa Manusia Naga hidup dalam sebuah komunitas kecil, di sebuah hutan yang dekat dengan sungai. "Mereka kemungkinan merupakan masyarakat berburu," kata Stringer.

Hal tersebut juga diamini oleh Xijun Ni, profesor primatologi dan paleoantropologi Hebei GEO University. "Seperti Homo sapiens, mereka berburu mamalia dan burung, serta mengumpulkan buah-buahan dan sayur-mayur," katanya, "dan juga kemungkinan menangkap ikan."


Dari penanggalan uranium, fosil ini diperkirakan berasal dari 146.000 tahun yang lalu, atau di zaman Pleistosen Tengah. Para peneliti berhipotesis bahwa mereka juga berinteraksi dengan manusia-manusia purba lainnya, termasuk Homo sapiens.

Akan tetapi, penetapan Manusia Naga sebagai spesies baru butuh penelitian lebih jauh. Disadur dari The New York Times, beberapa peneliti bahkan masih memperdebatkan apakah Manusia Naga dapat dikelompokkan sebagai spesies baru. Dibutuhkan analisis genetik terhadap DNA Manusia Naga untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Saturday, September 10, 2022

Kengerian Pelancong Perempuan Pertama di Batak pada Abad ke-19


"Para tawanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus,” tulis Ida Laura Reyer Pfeiffer dalam catatan perjalaannya di Sumatra. “Darah mereka diawetkan untuk minum, dan kadang dibuat menjadi semacam puding yang disajikan dengan nasi.”

Siapapun yang membaca kisahnya, barangkali bakal ngilu. Namun, kisah itu belumlah selesai. “Bagian tubuh kemudian dibagikan,” Ida melanjutkan kisahnya, "Telinga, hidung, dan telapak kaki adalah bagian milik Rajah, yang juga memiliki klaim atas bagian lain. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, dan hati—yang semuanya adalah hidangan aneh—dan semua daging dipanggang dan disantap dengan garam.”

Ida tidak menyaksikan kengerian itu dengan mata kepalanya. Dia mendapat informasi tersebut dari beberapa pejabat pribumi setingkat bupati di Muara-Sipongie—kini bagian dari Kabupaten Mandailing-Natal, Provinsi Sumatra Utara. Para pejabat pribumi itu juga meyakinkan Ida bahwa para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam utama.

Kisah tentang Ida Pfeiffer ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida yang terbit di London pada 1855.

Ida Pfeiffer (14 Oktober 1779—27 Oktober 1858) merupakan pelancong perempuan bergaya tomboi. Dia mulai melancong pada 1836. Pada 1852-1853 dia mengunjungi sejumlah kawasan di Hindia Belanda: Kalimantan, Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Kepulauan Maluku.

Berdasarkan kisah dari warga setempat itu dia ingin berkunjung ke dataran tinggi dan berharap dapat menemui kanibal liar dari Batak. Bagi bangsa Eropa saat itu, orang-orang Batak memang belum banyak dikenal. Atas alasan itulah Ida sangat bernafsu bertemu dengan mereka.

Ketika Ida berada di Padang, rencana perjalanan ke tempat-tempat tersebut sempat dicegah oleh warga setempat. Mereka bercerita kepada Ida tentang dua misionaris asal Amerika, Henry Lyman dan Samuel Munson, diduga telah dibunuh dan disantap oleh orang Batak pada 1835.

Ida bersama seorang pemandunya menunggang kuda selama perjalanan di pedalaman Sumatra. Perjalanan di pulau ini dibagi beberapa tahapan atau rute militer. Setiap 12 hingga 20 kilometer terdapat benteng atau bangunan kecil tempat kantor pemerintah, sekaligus tempat bermalam para pelancong seperti Ida.

Pada pertengahan Agustus 1852, keduanya menuruni bukit di Silindong, dekat Danau Toba. Namun, sebelum menuju lembah, pemandunya menyarankan supaya  Ida untuk tak menjauh darinya.  Mereka menyaksikan prosesi yang dilakukan enam lelaki bersenjata tombak. Ketika kedua orang itu mendekat, mereka justru disambut dengan tombak dan parang. Setelah si pemandu menjelaskan, Ida boleh melewati kawasan itu.

“Di suatu tempat, kejadiaannya bahkan lebih serius,” demikian Ida berkisah. “Lebih dari 80 lelaki berdiri di jalanan setapak dan menghalangi perjalanan kami.” Kemudian dia melanjutkan, “Sebelum saya menyadarinya, sekawanan lelaki telah melingkari saya seraya menodongkan tombak mereka, dengan tatapan ngeri dan liar.”

Ida melukiskan sosok lelaki Batak yang mengepungnya. Mereka berbadan tegap dan kuat, tingginya hampir dua meter, penampilannya beringas dan militan. “Mulut lebar mereka dengan geligi yang menonjol, tampaknya lebih mirip dengan binatang buas ketimbang manusia manapun.”

Suasana kian mencekam, para lelaki itu merubungi Ida sembari bersorak-sorai. “Saya tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya,” ungkapnya. “Saya merasa sudah pasti bahwa ini adalah akhir hidup saya.”

Ida gelisah, demikian dalam catatannya, lantaran suasana kian menakutkan. Namun, tampaknya dia tidak kehilangan kendali. Dalam situasi teror, perempuan itu duduk di sebongkah batu. Lalu, sekonyong-konyong mereka mendatanginya sembari menunjukkan gerakan-gerakan yang mengancam.

Kemudian, Ida bangkit dan mencoba berbicara kepada lelaki beringas di dekatnya dengan bahasa separuh Melayu dan separuh Batak. Sembari tersenyum Ida berkata, “Mengapa Anda tidak berkata saja bahwa Anda akan membunuh dan memakan seorang perempuan tua seperti saya. Saya pastilah sangat sulit dimakan dan alot.”

Ida, dengan gaya pantomimnya, berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak takut apapun. Bahkan, apabila mereka menginginkannya, dia rela dibawa oleh mereka asalkan mereka mengantarnya ke Eier Tau—Danau Toba.  

Kemudian para lelaki beringas dan bertombak itu melepaskan tawa mereka.

Barangkali, kepercayaan diri yang Ida tunjukkan telah membuat suatu kesan bersahabat kepada mereka. Pada akhirnya, mereka menyambut Ida dengan uluran tangan, dan lelaki bertombak yang melingkari perlahan membuka jalan untuk dirinya. Ida bersuka cita lantaran terlepas dari bahaya di pedalaman Sumatra. Dia pun berhasil berjejak di tepian Danau Toba dengan selamat.

Ketika peristiwa itu telah dua tahun berlalu, Ida telah kembali ke kampung halamannya di Wina, Austria. Dia terkejut pada satu pemberitaan dari Hindia Belanda. “Saya membaca surat kabar yang mewartakan bahwa tiga misionaris asal Prancis  di pedalaman Tappanolla, Batak; telah terbunuh dan dimangsa oleh para kanibal ditengah perayaan dengan tarian dan musik.”

Sejatinya kisah suku kanibal di Sumatra telah diwartakan pertama kali oleh Niccolò de' Conti, penjelajah asal Venesia yang berjejak di Sumatra pada awal abad ke-15. Rumor tentang suku tersebut terabadikan juga dalam catatan lain pada abad ke-19 dari Thomas Stamford Raffles, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, dan Oscar von Kessel.


Perjalanan Ida ke Tanah Batak mengisi sebagian besar kisahnya tatkala berjejak di Sumatra. Selama perjalanannya keliling dunia, dia juga mengumpulkan spesimen aneka satwa dan puspa, juga peranti budaya dari tempat yang dikunjunginya. Buah tangan Ida dari Batak turut menghias Museum für Völkerkunde, sebuah museum etnografi di Wina: Tongkat 'Tunggal Panaluan' sepanjang hampir dua meter.

Sunday, September 4, 2022

125 Kerangka Tanpa Kepala, Bukti Kebrutalan Raja Alexander Yannai?


Ratusan kerangka ditemukan dalam wadah air kuno, yang diyakini sebagai bukti pembantaian. 

Berdasarkan koin dan tembikar yang ditemukan di situs tersebut, diyakini bahwa telah terjadi pembantaian selama periode 103 dan 76 SM. Sebagian besar kerangka yang ditemukan adalah wanita dan anak-anak.

Arkeolog Israel Antiquities Authority (IAA), Kfir Arbiv dan Tehila Lieberman bersama dengan ahli antropologi Dr. Yossi Nagar, menemukan tiga lapisan dalam "wadah" besar. 

Pada lapisan pertama, yang diduga berasal dari abad pertama dan kedua SM—bertanggal sesuai dengan pecahan keramik dan koin yang ditemukan—berisi setidaknya 125 orang, termasuk laki-laki (meskipun sebagian besar adalah wanita), anak-anak, dan bayi.

"Ini diduga merupakan janin dari rahim wanita yang terbunuh. Sejumlah besar kerangka menunjukkan bahwa tulang leher telah dipotong. Setelah dilakukan pemeriksaan intensif, tidak ada cedera lain yang ditemukan pada tulang tangan atau kaki," kata para arkeolog. 

IAA memastikan bahwa penyebab kematian jelas adalah karena pemenggalan kepala. Mereka juga melihat tidak adanya luka lain pada tubuh yang dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, temuan ini diasumsikan sebagai korban eksekusi.

Kerangka yang ditemukan tidak dalam posisi layaknya pemakaman yang biasanya dilakukan. Para peneliti berasumsi bahwa para korban dibuang setelah proses eksekusi dan dikubur secara massal.

Lebih lanjut, penemuan ini diduga berasal dari kelompok Farisi, sebuah sekte kuno Yahudi yang terkenal karena menentang Raja Hasmonean Alexander Yannai pada abad pertama SM.

Pemerintahan Yannai seringkali dilambangkan dengan perang tiada akhir, salah satunya bentrokan internal antara orang-orang Farisi dan Saduki—kedua sekte Yahudi kuno dengan pandangan yang sangat bertentangan terhadap Yudaisme.

Yannai sendiri merupakan pendukung setia orang-orang Saduki. Saat perayaan pesta Tabernakel, Yannai memimpin sebagai Imam Besar di Bait Suci di Yerusalem, menunjukkan dukungannya terhadap orang Saduki dengan menolak melakukan upacara penyerahan air dengan benar. Dalam proses penuangan harusnya di atas altar, tetapi ia menuangkannya di atas kakinya. 


Banyak orang yang terkejut dengan tindakannya. Sebagai rasa ketidaksenangan, mereka bahkan melempari Yannai dengan citron, buah jeruk yang besar dengan kulit yang tebal.

Tindakan tersebut membuat Yannai marah, sehingga ia memerintahkan tentara untuk membunuh orang-orang yang menghinanya. Lebih dari 6.000 orang dibunuh di halaman Bait Suci. 

"Kita dapat melihat kebrutalan Raja Alexander Yannai. Catatan sejarah menunjukan bahwa dia telah menangkap dan membunuh banyak orang Yahudi yang menentangnya, termasuk anak-anak dan istri mereka, yang dia eksekusi di depan mereka," kata Lieberman.

Saturday, September 3, 2022

800 Makam di Mesir, Dalam Skala Besar Ditemukan di Antara 2 Piramida


 Mesir sepertinya tidak pernah berhenti mengejutkan manusia dalam dunia arkeologi. Salah satunya adalah penemuan lebih dari 800 makam di Mesir yang diketahui berumur sekitar 4.000 tahun.

Para ilmuan sudah menyadari selama bertahun-tahun bahwa makam ini tersembunyi di bawah perkuburan kuno. Kementerian Barang Antik Mesir melaporkan bahwa makam-makam tersebut akhirnya terungkap berkat penggalian yang sudah dilakukan cukup lama ini.

Kuburan kuno ini terkubur di antara sepasang piramida dekat Lisht dan sebuah desa dekat Al Ayat, di selatan Kairo. Makam kuno ini berasal dari Kerajaan Tengah Mesir. Seorang arkeolog, Sarah Parcak menjelaskan bahwa temuan ini layaknya temuan lain yang masih perlu untuk dipetakan dan ditemukan lebih lanjut.

Dengan menilai unsur seni dan budaya yang tampak dalam temuan tersebut, para arkeolog memperkirakan bahwa permakaman ini berasal dari tahun 1710 hingga 2015 SM. Periode yang sama dengan periode ketika terdapat seorang dewa yang terkenal dan dipuja oleh Bangsa Mesir, Dewa Osiris.

Firaun Senusret I dan ayahnya Amenemhet I, yaitu raja-raja dari Dinasti Kedua belas Mesir diketahui menandai kuburan mereka di dekat piramida.

Piramida Amenemhet I yang menyamai Kerajaan Lama Mesir sering tidak terlindungi dan dirawat dengan baik. Sebagian besar struktur bangunan telah hancur, sehingga sangat sulit bagi arkeolog untuk mencapai dan meneliti interior piramida.

Dengan dipimpin oleh Universitas Alabama-Birmingham dan Kementerian Kepurbakalaan Mesir, akhirnya peneliti berhasil menemukan makam kuno itu—setelah melakukan pencarian selama bertahun-tahun. Seperti yang dijelaskan oleh National Geographic, mereka memetakan makam itu dan mulai merestorasi makam elite tersebut.

Kathryn Bard, seorang arkeolog dari Universitas Boston—tidak terlibat dalam proyek tersebut—menjelaskan, "Dari daerah ini, benar-benar tidak ada banyak makam yang diketahui, kecuali makam kerajaan di sana, itu sebabnya kuburan ini menjadi hal yang penting."

Penemuan ini menambah daftar temuan baru di sana. Hal ini kemudian membuat pemerintah setempat semakin giat untuk mempromosikan dan mengajak wisatawan untuk datang dan melihat. Menteri Mesir Purbakala, Khaled al-Anani turut serta mengajak wisatawan untuk melihat temuan patung Sphinx yang hingga saat ini masih diteliti.

Thursday, August 11, 2022

Disangka Punah, Ular Berbisa Albany adder Kembali Ditemukan

Kebanyakan orang, mungkin termasuk Anda, tidak pernah mendengar mengenai ular Albany adder (Bitis cornuta albanica). Hal ini wajar saja. Sebab, ular tersebut sempat dikira punah hingga sekelompok pakar reptil menemukan empat ekor sekaligus dalam keadaan hidup dan sehat.

Para herpetolog menemukan keempat ular tersebut ketika sedang melakukan ekspedisi pencarian ular Albany adder di Afrika Selatan pada bulan November tahun lalu.

“Aku rasa kita tidak pernah berpelukan seerat itu. Kita bahkan berpelukan sambil loncat-loncat,” kata Grant Smith, petugas lapangan untuk Endangered Wildlife Trust yang bekerja sama dengan Rainforest Trust untuk pencarian ini.

Penemuan keempat ular tersebut memang sebuah rekor yang luar biasa. Sejak diidentifikasi pada tahun 1937, para peneliti hanya mampu menemukan 12 ekor Albany adder dan yang kelima ditemukan dalam keadaan mati tertabrak mobil.

Walaupun demikian, para peneliti berharap untuk dapat menemukan lebih banyak lagi.

“Aku pikir ular tersebut termasuk spesies yang paling terancam di dunia,” kata Bryan Maritz, koordinator regional untuk International Union for Conservation of Nature’s Viper Specialist Group, yang tidak ikut dalam ekspedisi.

Menurut Bryan, ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan untuk melestarikan spesies tersebut. Salah satunya adalah habitat ular Albany adder yang terus menghilang akibat pertambangan dan urbanisasi.

“Ada rekaman sejarah di area-area sekitar Afrika Selatan, tetapi populasi di daerah tersebut telah dianggap punah karena tidak ada satu pun ular Albany adder yang terlihat di sana selama 40 tahun terakhir,” ucapnya.

Kini, kelompok-kelompok konservasi ular sedang berusaha untuk membeli habitat Albany adder yang tersisa.

“Intinya adalah, jika Anda mampu menjaga habitatnya, maka masalah lainnya juga akan ikut terselesaikan,” kata Smith menambahkan.

Lalu, untuk menjaga keamanan ular-ular tersebut dari pemburu, para herpetolog memutuskan untuk tidak memberitahukan lokasi pasti spesies tersebut ditemukan.

“Jika kolektor mengetahui di mana dan cara untuk menemukan mereka, spesies ini bisa benar-benar terancam,” ucap Maritz.




 

Wednesday, July 13, 2022

Rahasia Baru Tersingkap Berkat Temuan Arkeologi di Ibu Kota Mesir Kuno



Penemuan arkeologi baru di kawasan arkeologi Matariyyah di Mesir telah menyingkap lebih banyak rahasia yang terkait dengan Kota Matahari, Heliopolis. Hal itu disampaikan oleh para arkeolog yang beroperasi di kawasan yang menjadi bekas wilayah ibu kota Mesir kuno tersebut.

Tim arkeolog Mesir-Jerman mengumumkan penemuan baru tersebut pada 5 November 2021. Beberapa penemuan arkeologi yang baru saja mereka dapatkan selama bekerja di situs tersebut adalah bagian fasad barat dan utara kuil Raja Nectanebo I yang memerintah Mesir kuno antara tahun 380-363 Sebelum Masehi. Fasad kuil itu terletak di pusat Kuil Agung Heliopolis di Matariyyah, timur Kairo.

Dikutip dari Al-Monitor, Heliopolis merupakan ibu kota paling kuno di dunia. Kota ini merupakan pusat agama, ilmiah, dan filosofis paling kuno sebelum Mesir bersatu sekitar tahun 3100 Masehi.

Misi arkeologi telah dilakukan di kawasan bekas kota Heliopolis ini selama sekitar 15 tahun. Misi ini telah menemukan banyak blok basal yang diukir dengan nama-nama bagian Mesir Hilir, termasuk blok-blok yang mewakili nama-nama Heliopolis, di samping blok-blok nama-nama lain di Mesir Hilir.

Penemuan blok-blok basal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir, Mustafa Waziri, dalam sebuah pernyataan. Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa Dietrich Rau, ketua tim arkeologi Jerman, mengatakan bahwa bagian barat poros utama Kuil Nectanebo kini sedang dipelajari.

Tim arkeolog juga menemukan bagian-bagian dari patung Ramses II, bagian dari patung babun, alas dan bagian dari obelisk kuarsit dari masa pemerintahan Firaun Osorkon I (925-890 Sebelum Masehi), dan bagian dari barang-barang ibadah seperti meja persembahan untuk Firaun Thutmosis III (1479-1425 Sebelum Masehi), menurut pemaparan Rau. Penemuan ini mengungkapkan bukti adanya aktivitas raja-raja dari Dinasti ke-13 dan era Ptolemeus di wilayah ini pada masa lampau.

Ayman Ashmawy, Kepala Sektor Purbakala Mesir Kuno di Dewan Tertinggi Purbakala Mesir, mengatakan bahwa penemuan itu sangat penting. Dia mengatakan bahwa penemuan itu telah memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tempat-tempat yang pernah dihancurkan di kemudian hari di Ain Syams (timur Kairo).

Pada bulan Mei 2016, misi arkeologi yang bekerja di sana untuk pertama kalinya menemukan gerbang timur kuil Firaun Nectanebo I dari Dinasti ke-30 Mesir Kuno. Firaun Nectanebo I menghabiskan sebagian besar masa pemerintahannya membela kerajaannya dari penaklukan kembali Persia dengan bantuan Sparta atau Athena dari waktu ke waktu. Barulah pada November 2021 ini, bagian gerbang barat dan utara kuil itu ditemukan, kata Ashmawy.

Ashmawy menjelaskan bahwa prasasti-prasasti yang terpahat di batu-batu gerbang itu mengacu pada tahun ke-13 dan ke-14 pemerintahan Nectanebo (367-366 Sebelum Masehi). Begitu pula material-material yang digunakan untuk kuil itu dan ukurannya, juga menunjukkan era pemerintahan tersebut.

Ashmawy juga memaparkan bahwa beberapa batu kuil memiliki prasasti yang tidak lengkap. Hal ini mungkin menyiratkan bahwa tidak ada pekerjaan dekoratif lebih lanjut yang dilakukan di kuil setelah kematian Nectanebo I pada 361 Sebelum Masehi.

Menurutnya, penemuan ini juga menunjukkan dukungan kerajaan yang berkelanjutan dan investasi besar di kuil matahari Ra, dewa pencipta Mesir Kuno, di Heliopolis.

Lebih lanjut, penemuan tersebut juga menunjukkan bahwa kuil itu kemudian digunakan sebagai tambang untuk membangun obelisk dan kuil di era Romawi. Adapun para era Islam orang-orang Mesir menggunakan batu-batu kuil itu untuk membangun rumah dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Otoritas Mesir mengatakan bahwa barang-barang antik yang ditemukan itu akan ditampilkan di museum terbuka di Matariyyah, setelah selesainya pekerjaan restorasi di sana.

Pada Februari 2018, Kementerian Purbakala Mesir meresmikan Museum Agung Mesir di Masala, di Matariyyah, untuk menceritakan sejarah kota Mesir paling kuno, Heliopolis.

Museum ini menyimpan 135 artefak yang berasal dari Kerajaan Lama hingga Kerajaan Baru Mesir kuno, terutama obelisk Raja Senusret I, dan obelisk lainnya di daerah tersebut, termasuk bagian dari obelisk Firaun Teti I, salah satu raja dari Dinasti ke-6 .

Hussein Abdel Basir, direktur Museum Purbakala di Bibliotheca Alexandrina, mengatakan bahwa penemuan itu sangat penting dan menegaskan bahwa Matariyyah terletak di lautan patung.

Dia mengatakan kepada bahwa kota Heliopolis adalah kuburan di timur Sungai Nil, mirip dengan Saqqara yang merupakan kuburan di barat Sungai Nil, dan Luxor di selatan.

Kota itu sangat terkenal selama berabad-abad, dan menurut Alkitab, Nabi Yusuf menikah di sana dengan putri Potifar, seorang imam besar Heliopolis.

 

Tuesday, July 12, 2022

Makam Bendahara Kerajaan Firaun Mesir Ditemukan di Nekropolis Saqqara


Sebuah misi arkeologi dari Cairo University berhasil mendapatkan penemuan besar. Misi tersebut berhasil menemukan makam Ptah-M-Wiah, seorang pejabat tinggi Mesir kuno dan kepala perbendaharaan pada masa pemerintahan Raja Ramses II.

Ramses II adalah firaun atau penguasa ketiga dari Dinasti ke-19 Mesir kuno. Dia memerintah wilayah Mesir kuno sejak tahun 1279 Sebelum Masehi hingga 1213 Sebelum Masehi.

"Apa yang membuat makam ini unik adalah area tempat makam itu ditemukan," ujar Ola El Aguizy, arkeolog yang memimpin misi arkeologi yang menemukan makam tersebut.

Makam bendahara kerajaan firaun Mesir ini ditemukan di nekropolis Saqqara, di kegubernuran Giza, Mesir. Nekropolis Saqqara adalah sebutan untuk kompleks kuburan kuno yang menampung jasad-jasad para petinggi dari Memphis, ibukota Mesir kuno.

"Sejumlah pemimpin militer, negarawan, dan bangsawan yang sangat penting dimakamkan di sana, sebagian besar berasal dari masa pemerintahan Ramses II," papar El Aguizy seperti dikutip dari The National.

El Aguizy menambahkan bahwa Horemheb, pemimpin militer terkenal yang menjadi firaun dan menguasai dinasti ke-19 Mesir kuno –dari tahun 1292 Sebelum Masehi hingga 1189 Sebelum Masehi– ditemukan terkubur di dekat makam Ptah-M-Wiah itu.

Penggalian makam tersebut diawasi oleh sekretaris jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir, Mostafa Waziri. Dia mengatakan bahwa penemuan makam Ptah-M-Wiah ini sangat penting karena posisinya yang tinggi di Kabinet Ramses II.

Selain menjadi bendahara kerajaan, Ptah-M-Wiah juga menjabat sebagai juru tulis kerajaan, kepala pengawas ternak dan administrator utama pemerintah untuk urusan persembahan kepada dewa di kuil Ramses II di Thebes, Luxor modern.

El Aguizy juga menyoroti peran bergengsi yang diemban Ptah-M-Wiah semasa hidupnya. "Kami tahu melalui prasasti bahwa dia memimpin ternak seluruh kerajaan, yang merupakan peran yang sangat terhormat," tuturnya.

"Selain itu, dia mengawasi semua ritual pengorbanan di kuil-kuil di Thebes, yang merupakan pusat keagamaan kerajaan pada saat itu."

"Jadi pengaruhnya ada di kerajaan atas dan bawah, yang mana bukanlah prestasi kecil," ucap El Aguizy.

Tim peneliti dari Cairo University telah menggali harta Mesir kuno selama lebih dari satu abad. Menurut mereka, penemuan makam Ptah-M-Wiah ini sangat cocok dengan kemegahan penemuan sebelumnya di daerah tersebut.

"Makam itu sendiri sangat mirip dengan makam-makam lain yang kami temukan di daerah itu sebelumnya, yang sebagian besar berasal dari era Ramesside Kerajaan Baru," kata El Aguizy.

Era Ramesside adalah periode kekuasaan yang berlangsung pada dinasti ke-19 dan ke-20 Mesir kuno, antara tahun 1292 Sebelum Masehi dan 1075 Sebelum Masehi. Periode kekuasaan ini terkenal akan kemakmurannya, seperti yang ditunjukkan oleh keagungan harta karun arkeologisnya.


Seperti kebanyakan makam era Ramesside lainnya, Makam Ptah M Wiah juga terdiri atas pintu masuk megah yang dihiasi dengan bangunan yang menggambarkan pemandangan dari kehidupan penghuninya dan memiliki dua kamar dalam.

Kamar pertama biasanya dibiarkan kosong, sedangkan kamar kedua akan lebih banyak hiasan, menampilkan kolom-kolom dekoratif yang mengapit mumi yang terkubur.

Di dalam makam Ptah-M-Wiah juga ditemukan sejumlah balok batu. Menurut El Aguizy, balok-balok batu itu pernah menjadi bagian dari langit-langit dan dinding makam, tetapi telah runtuh selama berabad-abad.

Jenis keausan seperti ini merupakan ciri khas makam-makam lain yang ditemukan di daerah tersebut, katanya.

Di salah satu dinding makam yang berdiri ada lukisan besar yang menggambarkan prosesi orang-orang yang membawa sesaji yang diakhiri dengan adegan anak sapi yang disembelih.

"Kami menemukan pemandangan alam baka yang sangat mencolok – gaya makam Ramesside benar-benar rumit dan sangat indah," ucap El Aguizy kagum.

Waziri mengatakan artefak-artefak tersebut akan dikatalogkan dan kemudian ditempatkan kembali di makam itu pada posisi aslinya. Harapannya, temuan arkeologis yang mencolok dan indah itu dapat dilihat oleh para pengunjung saat nantinya tempat itu sudah dibuka untuk wisatawan.

Wednesday, April 27, 2022

Mumi Janin Ditemukan dalam Rahim Wanita Mesir Berusia 2.000 Tahun


Para ilmuwan di Polandia mengidentikasi sebuah janin yang telah termumifikasi atau terawetkan selama lebih dari 2.000 tahun dalam rahim kasar mumi hamil Mesir kuno. Dalam sebuah makalah terbaru yang terbit di Journal of Archaeological Science pada Januari 2022, para ilmuwan tersebut memaparkan proses tidak biasa yang menyebabkan terawetkannya janin tersebut.

Penelitian terhadap mumi janin tersebut merupakan bagian dari Warsaw Mummy Project. Proyek ini diluncurkan pada tahun 2015 oleh tim bio-arkeolog dari University of Warsaw.

Situs web Warsaw Mummy Project mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk "memeriksa secara menyeluruh mumi manusia dan hewan dari Mesir kuno yang ada di National Museum di Warsawa." Pada April 2021, BBC mengumumkan bahwa tim peneliti Warsaw Mummy Project menerbitkan sebuah artikel di Journal of Archaeological Science yang mengungkap kasus pertama mumi Mesir kuno yang hamil dan janin mumi yang terdokumentasikan.

Mumi hamil berusia 2.000 tahun itu kini dipajang di National Museum di Warsawa. Pada awalnya, para peneliti meyakini mumi tersebut merupakan sisa-sisa tubuh Hor-Djehuti, seorang Imam Besar Amun dari zaman Ahmose I yang hidup pada awal Dinasri ke-18 (1539-1292 Sebelum Masehi).

Namun, pada tahun 2016, Warsaw Mummy Project mengumumkan bahwa mumi itu sebenarnya adalah seorang wanita hamil yang dibalsem. Wanita itu meninggal dan dimumifikasikan ketika kehamilannya telah berusia 26 hingga 30 minggu.

Dalam makalah terbaru yang terbit di awal 2022 ini, para peneliti mengatakan misteri mumi hamil ini ada berkat proses kimia yang tidak biasa yang menyebabkan janin tersebut "terasamkan" dan terjebak oleh waktu.

Profesor Ożarek-Szilke, bio-arkeolog sekaligus salah satu direktur Warsaw Mummy Project, menjelaskan bahwa untuk mengeringkan jasada wanita hamil tersebut, para pembalsem menutupinya dengan natron, senyawa alami dari garam natrium yang digunakan secara luas dalam prasejarah di seluruh Mesir, Timur Tengah dan Yunani. Dikutip dari Ancient Origins, bubuk natron banyak digunakan seperti soda kue dalam memasak, obat-obatan dan pertanian, tetapi juga memiliki kegunaan dalam pembuatan kaca dan mumifikasi.


Natron bertindak sebagai disinfektan alami dan agen pengeringan dan itu adalah material utama yang digunakan dalam proses mumifikasi Mesir kuno. Dalam proses mumifikasi, setelah organ-organ dikeluarkan dari jasad dan rongga internal jasad tersebut ditaburi dengan natron kering, jaringan tubuh kemudian terawetkan sehingga bisa jadi mumi. Kemudian, jasad tersebut dilapisi dengan lumpur kering Nil, serbuk gergaji, lumut, dan kain kering agar lebih fleksibel.

Dalam makalah studi baru ini, para ilmuwan menulis bahwa ketika natron disebarkan ke tubuh wanita hamil tersebut, "itu menyebabkan asam format dan senyawa lain" bermanifestasi di dalam rahim tersebut. Hal ini menciptakan kondisi sempurna untuk mengawetkan janin tersebut.

Dalam kasus mumi wanita hamil ini, peningkatan keasaman jasadnya berfungsi juga untuk mengawetkan janin tersebut. Karena beberapa proses kimia yang berkaitan dengan dekomposisi, kata para ilmuwan, tingkat pH atau keasaman di dalam tubuh wanita itu bergeser dari lingkungan basa ke lingkungan yang lebih asam.

Makalah baru mereka menjelaskan bahwa asam ini menyebabkan mineral-mineral yang terperangkap di dalam tulang-tulang janin itu kecil mengering. Dan seiring waktu, tulang-tulang tersebut jadi "termineralisasi" atau "terasamkan."

Tuesday, April 19, 2022

Fosil Berusia 30 Juta Tahun Ungkap Spesies Baru Lumba-lumba Pengisap


Sebuah fosil tengkorak yang ditemukan di South Carolina mengungkap spesies lumba-lumba purba dengan cara makan yang menyimpang dari kerabat modernnya. 
Tak seperti lumba-lumba modern yang makan dengan merobek mangsa dengan giginya, makhluk kuno ini mengisap mangsanya dari dasar laut.

Berdasarkan bentuk fosilnya, spesies tersebut memiliki moncong pendek dan tak bergigi, demikian laporan para peneliti dalam jurnal Proceeding of the Royal Society B. Selain itu, fosil juga menunjukkan lubang-lubang pada tengkorak lumba-lumba, yang mengindikasikan mulut yang lebih besar dan sungut-sungut di sekelilingnya. 

Menurut para ilmuwan, spesies yang diberi nama Inermorostrum xenops ini kemungkinan adalah lumba-lumba tak bergigi paling awal dari percabangan paus bergigi dari suborder Odonteceti, yang akhirnya mengarahkan pada berbagai jenis perilaku makan modern di antara kelompok tersebut. 

Penyimpangan evolusi ini terjadi pada Zaman Oligosen, salah satu periode paling penting dalam evolusi paus, selama Preiode Paleogen. Fosil tersebut berusia 30 juta tahun, berawal dari masa ketika bentuk moncong dan kehadiran gigi menjadi beragam di kalangan subordo paus bergigi. 

Karena bentuk moncong terus berevolusi, akhirnya terbentuklah desain optimal seperti yang ditemukan pada lumba-lumba hidung botol modern. 

Tengkorak tersebut berasal dari Sungai Wando, yang saat ini melintasi Charleston ke Samudra Atlantik. Para penyelam yang sedang mencari gigi megalodon, menemukan fosil lumba-lumba yang terbaring di dasar laut. Hewan ini diperkirakan seukuran pesut modern, yakni memiliki panjang sekitar 1,5 meter dan berat hingga 60 kg.

Robert Boessenecker, ahli paleontologi di College of Charleston sekaligus penulis utama studi mengatakan, banyak fosil-fosil serupa yang ditemukan di Formasi Ashley Oligosen di South Carolina. 

"Fosil-fosil tersebut kerap jatuh dari selokan dan situs konstruksi di seluruh wilayah ini," katanya. 

Ia menambahkan, hanya ada sedikit basin di dunia yang secara aktif menyimpan sedimen selama periode tersebut. Selain di South Carolina, hanya ada tiga tempat besar lain di mana kita bisa menemukan fosil terbaik dari lumba-lumba bio sonar dan paus balin, yakni Pulau Selatan di Selandia Baru, Jepang, dan Barat Daya Pasifik. 

Diagram ini menunjukkan tengkorak fosil spesies lumba-lumba baru, termasuk moncongnya yang lebih pendek. (Robert Boessenecker)
Fosil ini juga menjadi sampel paling awal dari spesialis pengisap, atau hewan yang tidak punya pilihan lain untuk makan kecuali dengan mengisap, karena tak bergigi. Boessenecker mengatakan bahwa beberapa mamalia, seperti lumba-lumba hidung botol, dapat pula makan dengan cara mengisap, meski akan lebih sulit karena moncongnya lebih panjang.

"Sementara itu, spesies baru ini hanya bergantung pada cara makan mengisap, sehingga membuat pilihan makanannya kurang fleksibel," ujarnya.

Meski spesies baru ini merupakan sampel pertama dari penyimpangan evolusi ini, moncong pendek pada spesies ini telah berevolusi beberapa kali. Moncong tersebut dua kali lebih pendek dibanding milik lumba-lumba hidung botol modern,  sehingga lebih menyerupai moncong paus sperma kerdil dan pesut. 

Berdasarkan ukurannya yang kerdil, lumba-lumba itu kemungkinan menghabiskan banyak waktu di perairan dangkal, karena ttidak memiliki kemampuan menyelam dalam selayaknya hewan yang lebih besar. 

Thursday, April 14, 2022

Bumi Super Ini Dinyatakan Punya Atmosfer, Bisakah Dihuni Manusia?


Para peneliti telah mengamati GJ1132b selama dua tahun terakhir. Disebut-sebut sebagai “Bumi Super”, planet tersebut 1,4 kali lebih besar daripada bumi dan terletak sejauh 39 tahun cahaya.

Kini, penelitian mengungkapkan bahwa planet tersebut diselubungi oleh lapisan gas tebal seperti atmosfer yang berisi air atau metana atau keduanya.

Penemuan GJ1132b pertama kali diumumkan pada tahun 2015. Keberadaan planet itu lewat pengamatan di European Southern Observatory (ESO) dengan metode transit.

Terletak di bagian selatan konstelasi Vela, bintang induk planet ini jauh lebih kecil, dingin, dan redup daripada matahari.

“(Pergerakan planet) membuat bintang tampak lebih redup dan merupakan cara yang jitu untuk menemukan planet yang bergerak. Begitulah cara planet ini ditemukan,” ujar Dr Southworth yang terlibat penelitian.

Namun, molekul yang beragam pada atmosfer menyerap cahaya dengan cara yang berbeda-beda juga dan pengamatan pada perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lapisan gas di sekitar GJ1132b bisa mengandung uap ataupun metana.

Dr Southworth mengatakan, salah satu kemungkinannya adalah planet ini merupakan ‘dunia air’ dengan atmosfer uap panas.

Jika mengandung uap air, mungkinkah manusia hidup di sana? Sayangnya tidak. Temperatur permukaan GJ113b mencapai 370 derajat celcius, terlalu panas untuk makhluk hidup.

“Sepengetahuan saya, temperatur terpanas yang dapat dihuni oleh mahluk hidup di bumi hanya 120 derajat celcius. Temperatur itu jauh lebih dingin daripada planet ini (GJ1132b),” kata Dr John Southworth, peneliti dari Keele University yang memimpin studi tersebut seperti dikutip BBC, Jumat (5/4/2017).

Walaupun para peneliti tidak yakin bahwa ada mahluk hidup yang mampu bertahan di planet ini, tetapi penemuan atmosfer pada GJ1132b mendorong mereka untuk berburu mahluk hidup di luar angkasa.

Saturday, November 13, 2021

Mukjizat Nabi Musa

 

Masih ingatkah teman-teman dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara teman-teman yang menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan yang saya uraikan dibawah ini.

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Pharaoh yang tenggelam dilautan tsb saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya.

Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama.

Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa2 tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Pharaoh yang tenggelam di laut Merah. Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam, dimana menurut sejarah,kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.

poros roda dari salah satu kereta kuda

Selain itu, ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan, yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang, sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi2-Nya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka. Diantara beberapa bangkai kereta tadi, ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jeruji yang terbuat dari emas. Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Pharaoh sang raja.

Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas, Pada bagian peta yang dilingkari (lingkaran merah), menurut para ahli kira-kira disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyebrangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat

Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter. Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).

Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima Jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin,menurut beberapa perhitungan, setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!! sungguh luar biasa, Allah Maha Besar.