About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Afrika. Show all posts
Showing posts with label Afrika. Show all posts

Monday, February 28, 2022

Timgad - Kota Kuno Koloni Romawi di Afrika

 Reruntuhan Timgad atau juga disebut Tamugadhi, terletak di lereng Aures Massif, sekitar 35 km sebelah timur dari kota Batna, di yang saat ini adalah wilayah Aljazair. Dibangun hampir 2.000 tahun yang lalu, oleh Kaisar Romawi Trajan, kota ini diletakkan dalam presisi besar dan merupakan salah satu contoh yang terawetkan terbaik dari perencanaan tata kota (grid plan) yang digunakan oleh para perancang kota Romawi kuno.

Grid plan merupakan sistem pola jalan bersudut siku atau grid, pada kota dengan di mana bagian-bagian kotanya dibagi sedemikian rupa menjadi blok-blok empat persegi panjang dengan jalan-jalan yang paralel. Jalan-jalan di dalamnya dengan demikian menjadi tegak lurus satu sama lain.

Kota ini awalnya didirikan sebagai koloni militer oleh Kaisar Trajan sekitar tahun 100 M, dimaksudkan sebagai benteng pertahanan melawan suku Berber pegunungan Aures di dekatnya. Warga kota sebagian besar adalah veteran Parthia dari tentara Romawi yang dihadiahi tanah sebagai imbalan dari pengabdian mereka.

Desain asli kota adalah persegi sempurna, 355 meter panjangnya di setiap sisi, dengan desain orthogonal dipertegas oleh jalan Decumanus maximus (orientasi timur-barat) dan jalan cardo yang (orientasi utara-selatan) sisi-sisinya terdapat pilar-pilar Korintus. Rencananya adalah untuk memberikan ruang bagi 15.000 warga, namun kota dengan cepat melebihi jumlah itu dan tumpah di luar grid orthogonal dengan cara yang lebih longgar tapi terorganisir. Kota ini tumbuh untuk 300 tahun ke depan dan batas-batas baru ditambahkan ke rencana asli yang mengarah ke empat kali lipat dari ukuran asli.


Selama abad kedua dan ketiga, kota menikmati keberadaan damai. Letaknya yang sempurna di kepala Oued el-Abiod dan persimpangan penting, memberikan Romawi kontrol terhadap salah satu akses utama menuju Aures Mountains, dan karenanya juga akses ke dan dari Sahara. Mulai dari abad ke-3, kota itu menjadi pusat kegiatan Kristen, dan pusat Donatis di abad ke-4. Timgad mulai mengalami penurunan setelah invasi Vandal di abad ke-5 dan berikutnya diserang oleh kaum Berber.

Kota ini dihidupkan kembali pada abad ke-6 di bawah Kaisar Justinian, Bizantium. Sebuah benteng dibangun di luar kota asli dan banyak blok bangunan Romawi sebelumnya yang digunakan kembali. Tapi kota ini jatuh sekali lagi oleh invasi Arab di abad ke-7. Situs ini akhirnya ditinggalkan pada abad ke-8, dan kota ini dilupakan orang sampai digali dari bawah pasir pada tahun 1881.


Berabad-abad berbaring di bawah pasir Sahara, membuat Timgad tetap sangat baik terawetkan. Di ujung barat dari Decumanus maximus masih berdiri sebuah triumphal arch setinggi 12-meter, yang disebut Arch of Trajan, yang dibangun dari batu pasir, terdiri dari tiga lengkungan diapit oleh kolom Korintus. Ada juga sebuah kuil yang bernama Kuil Capitolene, didedikasikan untuk Jupiter yang kira-kira berdimensi sama seperti Pantheon di Roma. Sebuah citadel Bizantium besar berdiri di sebelah tenggara kota. Ada juga sebuah teater dengan 3.500 kursi dalam kondisi baik, perpustakaan, sebuah basilika dan empat tempat pemandian umum.

Friday, November 5, 2021

Spesies Serigala Baru Ditemukan di Afrika

 

Peneliti membuktikan bahwa hewan misterius yang sebelumnya disebut dengan‘Egyptian jackal’ dan kadang dikira golden jackal, ternyata bukan merupakan sub spesies dari jackal(anjing hutan), melainkan serigala abu-abu (grey wolf).

Tim peneliti dari Wildlife Conservation Research Unit (WildCRU) Oxford University dan Addis Ababa University menyimpulkan bahwa serigala abu-abu muncul di Afrika sekitar tiga juta tahun lalu sebelum kemudian menyebar ke berbagai penjuru di utara Khatulistiwa.

Serigala spesies baru ini merupakan kerabat dari serigala abu-abu Holarctic, serigala India, dan serigala Himalaya.

“Ditemukannya spesies serigala di Afrika bukan hanya berita penting, akan tetapi juga memunculkan pertanyaan besar di dunia biologi,” kata David Macdonald, Director of WildCRU, seperti dikutip dariScienceDaily, 4 Februari 2011.

Macdonald menyebutkan, bagaimana serigala Afrika bisa berkembang dan hidup berdampingan bersama dengan anjing hutan serta serigala Ethiopia yang sangat langka dan merupakan spesies yang sangat berbeda, perlu diteliti lebih lanjut.

“Temuan ini berkontribusi terhadap pemahaman kita tentang biogeografi dari fauna Afroalpine, sebuah himpunan spesies dengan nenek moyang Afrika dan Eurasia yang berkembang di kawasan yang relatif terisolasi di dataran tinggi Afrika,” ucap Claudio Sillero, peneliti dari WildCRU dan ketua Canid Specialist Group, IUCN.

Serigala Ethiopia sendiri merupakan imigran baru di Afrika. Mereka terpisah dari kelompok serigala abu-abu lebih dulu dibandingkan dengan serigala Afrika yang baru ditemukan ini.

Pada kesempatan tersebut, tim peneliti juga menemukan spesimen yang sangat mirip secara genetik dengan serigala baru ini di dataran tinggi Ethiopia, sekitar 2.500 kilometer dari Mesir. Temuan itu menandakan bahwa spesies baru tersebut tidak hanya tinggal di negeri itu.

Tampaknya, kata Sillero, nama Egyptian jackal sangat mendesak untuk diubah. “Dan statusnya yang unik sebagai satu-satunya serigala abu-abu di Afrika membuat namanya perlu diubah menjadi African wolf,” ucapnya.

“Penemuan ini juga menunjukkan bahwa teknik genetik bisa mengungkap biodiversitas yang tersembunyi di negara-negara yang jarang tersentuh eksplorasi seperti Ethiopia,” ucap Afework Bekele, profesor dari Addis Ababa University.