About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Peristiwa. Show all posts
Showing posts with label Peristiwa. Show all posts

Saturday, October 1, 2022

Hantu-hantu Abad Pertengahan yang Melegenda, Datang dari Romawi


Samuel Johnson, sastrawan sohor Inggris, pernah bertanya dalam catatannya bahwa, "belum dapat dipastikan apakah pernah ada roh seseorang yang muncul setelah kematiannya."

"Banyak dari orang-orang Eropa menentang akan kehadiran hantu, meskipun banyak juga diantaranya yang mendukung," tulis Susan Owens kepada Apollo Magazine.

Susan Owens menulis dalam sebuah artikel berjudul That’s the spirit – how the Romans imagined the dead yang terbit pada 5 Juni 2020.

Bagaimaapun, hantu-hantu yang melegenda di masyarakat Eropa abad pertengahan dipercaya datang dari zaman Romawi, mulai dari kemunculan hantu Kaisar Nero hingga Julius Caesar.

Legenda yang paling populer dimulai dari kisah kemunculan hantu Beatrice Cenci. Beatrice adalah putri salah satu keluarga terkemuka Romawi memiliki ayah yang kasar, hingga ia dibunuh dan kepalanya dipenggal.

"Dua ratus tahun kemudian pasukan Napoleon memasuki Roma, menghancurkan makam di gereja dan bermain bola dengan tengkoraknya," imbuh Owens.

Tak heran, jika orang-orang Eropa abad pertengahan percaya roh Beatrice tak tenang dan kerap menampakkan dirinya di jembatan Kastil Sant' Angelo sambil memegangi kepalanya di tangan.

Kisah yang populer dari abad pertengahan lainnya muncul dari kalangan penguasa Romawi. Kaisar Nero disalahkan atas kebakaran yang menghancurkan Romawi pada tahun 64 M dan atas pembunuhan ibunya, istri pertama dan filsuf, Seneca.

"Dia berbalik dari memerintah, meninggalkan kota dan ditinggalkan ia juga mulai ditinggalkan oleh Senat dan para pengawal setianya," terusnya.


Diduga karena frustasi. ia akhirnya memutuskan bunuh diri dan mati dalam penderitaannya. Ia pun meminta dimakamkan oleh Porta del Popolo bersama dengan pelacur dan ateis.

Pada abad pertengahan, arwahnya terlihat terus-menerus. Sampai akhirnya peresmian sebuah kapel kepadanya di gereja Santa Maria del Popolo, pada tahun 1099, Owens menyebut bahwa, "itu membuatnya merasa tenang.

Lain Nero, lain juga tentang kaisar terkemuka Romawi, Julius Caesar. Julius Caesar adalah kaisar sejati pertama Kekaisaran Romawi yang mampu memperluas kekuasaannya hingga ke Inggris.

Kematiannya di Senat pada Ides of March pada tahun 44 SM merupakan legenda terbesar yang dicatat berbagai kutipan kuno hingga kontemporer.

"Abu kematian Caesar kemudian dimakamkan di sebuah bola timah di atas sebuah obelisk di Heliopolis, yang sekarang dikenal dengan Kairo," terangnya.

Petaka bagi kepercayaan mistik Eropa, ketika bola timah berisi abu Caesar dikembalikan ke Kota Vatikan pada tahun 1585.

Kala itu, Paus Sixtus V membukanya untuk melihat dan memastikan apakah abu sisa-sisa kematian Caesar itu benar-benar ada di dalamnya.

Legenda masyarakat abad pertengahan Eropa mengatakan bahwa kejadian itulah yang melepaskan roh Caesar yang sekarang berkeliaran di kota, menghantui masyarakat. Disebutkan bahwa hantunya paling sering bergentayangan di dekat Colosseum.

Saturday, September 24, 2022

Lempeng Batu Berusia 4.000 Tahun Ini Diperkirakan Peta Tertua di Eropa


Sebuah lempengan batu berusia 4.000 tahun, pertama kali ditemukan lebih dari seabad yang lalu di Prancis. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di Bulletin of the French Prehistoric Society, ini mungkin merupakan peta tertua di Eropa.

The Saint-Bélec Slab diperkirakan berasal dari Zaman Perunggu awal (2150-1600 SM). Lempengan ini pertama kali ditemukan pada 1900 di tanah pemakaman prasejarah di Finistère, Brittany.

Lempengan ini menjadi salah salah satu dinding kotak batu yang menampung mayat-mayat. Sempat disimpan di sebuah museum pribadi, lempengan yang berukuran panjang 3.9 meter ini ditemukan kembali di ruang bawah tanah kastil pada tahun 2014. Namun baru belakangan ini para peneliti mulai memahami cerita menarik di balik lempengan prasejarah ini.

Pada tahun 2017, sekelompok peneliti di Eropa mulai menganalisis ukiran pada lempengan menggunakan survei 3D resolusi tinggi dan fotogrametri. Ini merupakan sebuah proses menganalisis objek melalui pengambilan foto detail.

Mereka menemukan bahwa lempengan itu memiliki semua tanda yang ada pada peta, seperti kontur yang disatukan oleh garis. Peta ini juga memiliki garis mewakili jaringan sungai dan pembuatnya tampaknya sengaja menggunakan bentuk 3D untuk mewakili lembah.

Ukiran pada lempengan kemudian dibandingkan dengan elemen lanskap Prancis. Kemudian diambil kesimpulan bahwa lempengan itu mewakili area di sepanjang Sungai Odet di Prancis barat.


Geo-lokasi mengungkapkan wilayah yang diwakili pada lempengan itu memiliki akurasi 80% ke area sekitar bentangan sungai sepanjang 18 mil.

Selain sungai dan bukit, terdapat bidang yang mungkin mewakili lokasi pemukiman, bukit dan sistem di lapangan, papar Peter Dockrill dari laman Science Alert. Penandaan tersebut dapat dikaitkan dengan pengaturan penggunaan dan kepemilikan lahan.

Ini mungkin peta tertua dari suatu wilayah yang telah diidentifikasi di Eropa, menurut penulis studi Clément Nicolas dari Universitas Bournemouth.

Ada beberapa peta yang diukir di batu di seluruh dunia. Umumnya, itu hanya interpretasi. Tapi ini adalah pertama kalinya sebuah peta menggambarkan suatu area pada skala tertentu.


Peta itu kemungkinan digunakan oleh pangeran atau raja Zaman Perunggu untuk menandai kepemilikan atas area tertentu.

Wilayah itu kemungkinan dimiliki oleh entitas politik yang sangat hierarkis yang mengendalikan daerah itu di awal Zaman Perunggu.

Kesimpulan soal fungsi peta untuk penandaan wilayah diperkuat oleh pernyataan dari Yvan Pailler, seorang arkeolog dari Universitas Western Brittany. Menurutnya, orang dari Zaman Perunggu tidak menggunakan peta dari lempengan batu untuk bernavigasi.

Pada zaman itu, umumnya peta ditransmisikan dalam bentuk cerita atau kalimat. Misalnya untuk pergi ke titik A, Anda harus melewati sungai dan bukit.


Lalu mengapa lempengan tersebut digunakan sebagai dinding kotak batu penampung mayat? Fakta bahwa itu kemudian dikubur bisa juga berarti bahwa itu adalah akhir dari kekuasaan raja atau pangeran. Teori lain menyimpulkan soal adanya penolakan terhadap kekuasaan yang dipegang oleh para elit atas masyarakat pada saat itu.

Arkeolog Paul du Chatellier menemukan lempengan itu pada tahun 1900. Setelah kematiannya, anak-anaknya menyumbangkan koleksi arkeologinya ke Museum Arkeologi Nasional Saint-Germain-en-Laye, di mana lempangan disimpan selama beberapa dekade.

Sementara itu, beberapa cendekiawan, termasuk Pailler dan Nicholas, membaca laporan du Chatellier tentang temuannya . Mereka menyimpulkan bahwa tanda lempengan itu dapat mewakili peta. Pada 2014, artefak itu pun ditemukan di ruang bawah tanah museum.

Kita cenderung meremehkan pengetahuan geografis masyarakat masa lalu. Lempengan ini penting karena menyoroti pengetahuan kartografi masyarakat dari Zaman Perunggu.

Friday, September 23, 2022

Teknologi Ungkap Rahasia Gulungan Alkitab Hangus Berusia 1.500 Tahun


Lebih dari empat dekade lalu, seorang arkeolog menemukan sebuah gulungan di reruntuhan pemukiman kuno yang dibangun di dekat Laut Mati, Israel.

Arkeolog menemukan gulungan naskah ini pada tahun 1970 namun tidak sampai membukanya karena kekhawatiran akan rusak. Disimpan dengan aman sejak saat itu, gulungan tersebut adalah Ein Gedi.

Gulungan Ein Gedi adalah sebuah perkamen kuno dan rapuh dalam bahasa Ibrani. Berdasarkan metode pengujian karbon diperkirakan berasal abad ketiga atau keempat Masehi. Para peneliti di University of Kentucky, Amerika Serikat, dan Jerusalem berhasil membaca naskah di dalamnya lewat analisis tiga dimensi dengan pengindaian sinar X, seperti dilaporkan jurnal Sciences Advances.

Membaca naskah tersebut dengan teknologi, yakni sebuah perangkat lunak khusus mendeteksi lapisan perkamen dan membukanya secara digital, mengungkapkan untuk pertama kalinya naskah Ibrani tertulis pada gulungan sekitar 1.500 tahun yang lalu.

“Saya sebenarnya belum pernah melihat gulungan yang sebenarnya,” kata Brent Seales, seorang profesor di University of Kentucky. “Bagi saya, itu adalah bukti kekuatan era digital.”

Ketertarikannya pada teks-teks yang rusak dimulai bertahun-tahun yang lalu dengan setumpuk gulungan Romawi kuno yang digali di tempat yang dulunya adalah kota peristirahatan Herculaneum.

Terkubur selama letusan Vesuvius 79 M yang terkenal, gulungan Herculaneum tampak seperti silinder arang. Untuk membaca perkamen rapuh itu, para peneliti menggunakan micro-computed tomography (micro-CT) scan diikuti dengan perangkat lunak volume cartography untuk menemukan tinta dalam gulungan yang terbakar itu, dan dengan demikian mampu merekonstruksi teks dokumen tersebut.

“Agak mahal dan memakan waktu untuk dilakukan, tetapi Anda dapat melihat ke dalam suatu objek tanpa merusaknya,” kata James Miles, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Southampton dan direktur Archaeovision, sebuah perusahaan yang memindai benda-benda kuno.


Untuk membedakan kontur papirus yang digulung, Seales menulis sebuah program komputer. Dia menyamakan prosesnya dengan kartografi: data kepadatan dari pemindaian mikro-CT adalah seluruh dunia dengan bentuk dan bentuk yang kacau, dan belokan papirus seperti tepi benua yang dapat dibuat sketsa oleh algoritmanya.

Sayangnya, sinar-x dan algoritmanya tidak bisa membaca tinta berbasis karbon pada gulungan Romawi. Kabar tentang perangkat lunak Seales ini sampai ke Israel Antiquities Authority (IAA). Mereka sudah memindai gulungan Ein Gedi dengan mesin mikro-CT tetapi tidak dapat memahami informasinya.

Beruntung bagi Seales, orang Ibrani menambahkan logam pada tinta mereka, yang terlihat jelas sebagai bintik putih terang dalam data CT. Saat perangkat lunaknya hampir membuka satu lapisan dari tengah gulungan, terdapat teks: "TUHAN memanggil Musa dan berbicara kepadanya," itu dimulai. Penerjemah Israel mengidentifikasi kata-kata itu sebagai ayat pertama Imamat, kitab hukum.

“Penemuan ini benar-benar mengejutkan kami. Kami yakin itu hanya bidikan dalam kegelapan tetapi memutuskan untuk mencoba dan memindai gulungan yang terbakar itu,” Pnina Shor, kurator dan direktur Proyek Gulungan Laut Mati IAA.

Bagi para sarjana Alkitab, menemukan salinan lain dari Kitab Imamat bukanlah hal yang menggemparkan.

“Ada sedikit kejutan dalam menemukan gulungan Imamat,” kata James Aitken, dosen bahasa Ibrani di Universitas Cambridge.

“Kami mungkin memiliki lebih banyak salinan daripada buku lain, karena gaya bahasa Ibraninya sangat sederhana dan berulang-ulang sehingga digunakan untuk latihan menulis anak-anak,” sambungnya.

Aitken mengatakan yang membuat teks abad keenam luar biasa adalah usianya. Sampai tahun 1947, teks-teks Alkitab tertua yang diketahui berasal dari abad kesepuluh. Kemudian para penggembala kambing Badui yang menjelajahi gua-gua Qumran menemukan gulungan-gulungan Laut Mati yang ikonik, yang berasal dari antara abad ketiga SM.


Abad pertama Masehi Gulungan Ein Gedi adalah salah satu dari hanya tiga dokumen yang diuraikan dengan jarak yang jauh. Aitken mengatakan dua lain proyeknya merupakan fragmen dari kejadian yang diperkirakan berasal dari abad keenam dan gulungan keluaran dari abad ketujuh atau kedelapan abad.

Saat Seales bekerja untuk menyelesaikan decoding sisa gulungan Ein Gedi, dia membuat rencana untuk memulai gulungan lain yang ditemukan di situs yang sama. Dan dengan reputasinya yang berkembang untuk membangkitkan teks-teks dari kematian, proyek-proyek lain telah datang memanggil — termasuk sebuah novel dari awal abad ke-20 yang dibakar dalam kebakaran rumah.

“Ketika Anda memiliki teknologi baru seperti ini, itu menggerakkan garis dari apa yang mungkin. Orang-orang mulai berpikir untuk mempelajari materi yang sebelumnya tidak bisa mereka pelajari,” tutupnya.

Saturday, September 10, 2022

Kengerian Pelancong Perempuan Pertama di Batak pada Abad ke-19


"Para tawanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus,” tulis Ida Laura Reyer Pfeiffer dalam catatan perjalaannya di Sumatra. “Darah mereka diawetkan untuk minum, dan kadang dibuat menjadi semacam puding yang disajikan dengan nasi.”

Siapapun yang membaca kisahnya, barangkali bakal ngilu. Namun, kisah itu belumlah selesai. “Bagian tubuh kemudian dibagikan,” Ida melanjutkan kisahnya, "Telinga, hidung, dan telapak kaki adalah bagian milik Rajah, yang juga memiliki klaim atas bagian lain. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, dan hati—yang semuanya adalah hidangan aneh—dan semua daging dipanggang dan disantap dengan garam.”

Ida tidak menyaksikan kengerian itu dengan mata kepalanya. Dia mendapat informasi tersebut dari beberapa pejabat pribumi setingkat bupati di Muara-Sipongie—kini bagian dari Kabupaten Mandailing-Natal, Provinsi Sumatra Utara. Para pejabat pribumi itu juga meyakinkan Ida bahwa para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam utama.

Kisah tentang Ida Pfeiffer ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida yang terbit di London pada 1855.

Ida Pfeiffer (14 Oktober 1779—27 Oktober 1858) merupakan pelancong perempuan bergaya tomboi. Dia mulai melancong pada 1836. Pada 1852-1853 dia mengunjungi sejumlah kawasan di Hindia Belanda: Kalimantan, Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Kepulauan Maluku.

Berdasarkan kisah dari warga setempat itu dia ingin berkunjung ke dataran tinggi dan berharap dapat menemui kanibal liar dari Batak. Bagi bangsa Eropa saat itu, orang-orang Batak memang belum banyak dikenal. Atas alasan itulah Ida sangat bernafsu bertemu dengan mereka.

Ketika Ida berada di Padang, rencana perjalanan ke tempat-tempat tersebut sempat dicegah oleh warga setempat. Mereka bercerita kepada Ida tentang dua misionaris asal Amerika, Henry Lyman dan Samuel Munson, diduga telah dibunuh dan disantap oleh orang Batak pada 1835.

Ida bersama seorang pemandunya menunggang kuda selama perjalanan di pedalaman Sumatra. Perjalanan di pulau ini dibagi beberapa tahapan atau rute militer. Setiap 12 hingga 20 kilometer terdapat benteng atau bangunan kecil tempat kantor pemerintah, sekaligus tempat bermalam para pelancong seperti Ida.

Pada pertengahan Agustus 1852, keduanya menuruni bukit di Silindong, dekat Danau Toba. Namun, sebelum menuju lembah, pemandunya menyarankan supaya  Ida untuk tak menjauh darinya.  Mereka menyaksikan prosesi yang dilakukan enam lelaki bersenjata tombak. Ketika kedua orang itu mendekat, mereka justru disambut dengan tombak dan parang. Setelah si pemandu menjelaskan, Ida boleh melewati kawasan itu.

“Di suatu tempat, kejadiaannya bahkan lebih serius,” demikian Ida berkisah. “Lebih dari 80 lelaki berdiri di jalanan setapak dan menghalangi perjalanan kami.” Kemudian dia melanjutkan, “Sebelum saya menyadarinya, sekawanan lelaki telah melingkari saya seraya menodongkan tombak mereka, dengan tatapan ngeri dan liar.”

Ida melukiskan sosok lelaki Batak yang mengepungnya. Mereka berbadan tegap dan kuat, tingginya hampir dua meter, penampilannya beringas dan militan. “Mulut lebar mereka dengan geligi yang menonjol, tampaknya lebih mirip dengan binatang buas ketimbang manusia manapun.”

Suasana kian mencekam, para lelaki itu merubungi Ida sembari bersorak-sorai. “Saya tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya,” ungkapnya. “Saya merasa sudah pasti bahwa ini adalah akhir hidup saya.”

Ida gelisah, demikian dalam catatannya, lantaran suasana kian menakutkan. Namun, tampaknya dia tidak kehilangan kendali. Dalam situasi teror, perempuan itu duduk di sebongkah batu. Lalu, sekonyong-konyong mereka mendatanginya sembari menunjukkan gerakan-gerakan yang mengancam.

Kemudian, Ida bangkit dan mencoba berbicara kepada lelaki beringas di dekatnya dengan bahasa separuh Melayu dan separuh Batak. Sembari tersenyum Ida berkata, “Mengapa Anda tidak berkata saja bahwa Anda akan membunuh dan memakan seorang perempuan tua seperti saya. Saya pastilah sangat sulit dimakan dan alot.”

Ida, dengan gaya pantomimnya, berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak takut apapun. Bahkan, apabila mereka menginginkannya, dia rela dibawa oleh mereka asalkan mereka mengantarnya ke Eier Tau—Danau Toba.  

Kemudian para lelaki beringas dan bertombak itu melepaskan tawa mereka.

Barangkali, kepercayaan diri yang Ida tunjukkan telah membuat suatu kesan bersahabat kepada mereka. Pada akhirnya, mereka menyambut Ida dengan uluran tangan, dan lelaki bertombak yang melingkari perlahan membuka jalan untuk dirinya. Ida bersuka cita lantaran terlepas dari bahaya di pedalaman Sumatra. Dia pun berhasil berjejak di tepian Danau Toba dengan selamat.

Ketika peristiwa itu telah dua tahun berlalu, Ida telah kembali ke kampung halamannya di Wina, Austria. Dia terkejut pada satu pemberitaan dari Hindia Belanda. “Saya membaca surat kabar yang mewartakan bahwa tiga misionaris asal Prancis  di pedalaman Tappanolla, Batak; telah terbunuh dan dimangsa oleh para kanibal ditengah perayaan dengan tarian dan musik.”

Sejatinya kisah suku kanibal di Sumatra telah diwartakan pertama kali oleh Niccolò de' Conti, penjelajah asal Venesia yang berjejak di Sumatra pada awal abad ke-15. Rumor tentang suku tersebut terabadikan juga dalam catatan lain pada abad ke-19 dari Thomas Stamford Raffles, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, dan Oscar von Kessel.


Perjalanan Ida ke Tanah Batak mengisi sebagian besar kisahnya tatkala berjejak di Sumatra. Selama perjalanannya keliling dunia, dia juga mengumpulkan spesimen aneka satwa dan puspa, juga peranti budaya dari tempat yang dikunjunginya. Buah tangan Ida dari Batak turut menghias Museum für Völkerkunde, sebuah museum etnografi di Wina: Tongkat 'Tunggal Panaluan' sepanjang hampir dua meter.

Saturday, August 13, 2022

Rupa Pulau Jawa Bingungkan Penjelajah Samudra Abad Ke-16


Abraham Ortellius, kartografer dan geografer sohor asal Belgia, pernah menerbitkan selembar peta berjudul Indiæ Orientalis pada 1570. Peta itu menggambarkan wilayah Asia Tenggara berikut dengan keletakan pulau-pulaunya. Dia merupakan kartografer pertama yang berpendapat bahwa awalnya benua menjadi satu kemudian terpecah-pecah hingga menemui wujudnya seperti sekarang.

Lantaran minimnya informasi dari penjelajah, Ortellius menampilkan Pulau Jawa berbentuk bulat dengan sisi selatan yang cembung. Bahkan, dalam peta itu Jawa sekitar dua kali lebih luas ketimbang Borneo.

Sementara peta Asia Tenggara karya kartografer Willem Lodewijcksz, yang terbit pada 1598, menampilkan Jawa yang tidak utuh lantaran sisi selatannya terpotong oleh pembatas bingkai bawah. Tampaknya  Lodewijcksz dengan sengaja menyembunyikan kemesteriusan Jawa.

Pertanyaan seperti apakah sisi selatan Jawa tampaknya telah menyeruak di peta-peta kuno. Para kartografer tak kuasa lantaran ketidaktersediaan informasi. Mereka merupakan kartografer yang menyimak kisah-kisah para petualang yang merintis penjelajahan ke dunia timur.

Salah satu petualang asal Venesia yang sohor dan kerap menjadi referensi para kartografer adalah Marco Polo. Dia berkisah tentang perjalanannya ke Asia Tenggara pada abad ke-13.

Meskipun banyak pihak meragukan kisah perjalanannya, beberapa kartografer abad ke-16 dan ke-17 tetap menggunakan toponimi dari pemberian Polo. Celakanya, Marco Polo juga memberikan penggambaran yang absurd tentang Jawa. “Pulau terbesar di dunia,” demikian bentuk Jawa menurut Polo yang berdasar dari “testimoni pelaut-pelaut yang tahu banyak tentang hal itu.”

Para penjelajah Portugis yang menyambangi Nusantara sebelum kedatangan Belanda, punya persepsi sendiri tentang Jawa. Berdasar kisah penghuni pulau tersebut mereka mendapatkan informai bahwa di tengah pulau terdapat gugusan gunung yang melintang dari barat ke timur.

Keadaan geografi itu telah menghentikan komunikasi antara kawasan pantai utara dan selatan. Akibatnya, pelaut Portugis mengurungkan niat untuk segera menjelajahi sisi selatan pesisir Jawa.


Misteri rupa pesisir selatan Jawa terpecahkan pada 1580. Francis Drake, seorang pelaut dan politikus Inggris yang mengelilingi dunia pada 1577 sampai dengan 1580, berjejak di pesisir selatan Jawa. Usai menjelajahi kepulauan Maluku dan melewati celah Timor, Drake dan krunya menyusuri jalur selatan dan mendarat di suatu tempat di pesisir selatan Jawa—tampaknya Cilacap.

Kemudian peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit pada 1606. Dia menggambar pesisir selatan Jawa hanya dengan garis putus-putus, namun menyisakan garis tegas yang membentuk teluk untuk kawasan pelabuhannya. Hondius menorehkan catatan kecil di titik tersebut, “Huc Franciscus Dra. Appulit,” yang menandai tempat Drake membuang sauhnya.

Sejak terbitnya peta Hondius itu, misteri rupa pesisir selatan Jawa mulai terungkap. Peta-peta setelahnya memberikan gambaran utuh tentang sebuah pulau yang pernah populer di kalangan penjelajah samudra dengan nama Java Major.

Monday, August 1, 2022

Siapkan Teleskop Baru, Tiongkok Umumkan Rencana Menjajah 'Bumi Lain'


Tiongkok telah mengumumkan rencana pertamanya untuk mencari planet-planet terdekat yang dapat dihuni di bintang-bintang yang suatu hari nanti dapat memperluas "ruang hidup" umat manusia melintasi Bimasakti. Rencana tersebut berkaitan dengan proyek teleskop baru mereka yang akan diluncurkan paling cepat di tahun 2026.

Dalam proyek yang disebut Closeby Habitable Exoplanet Survey (CHES), tim ilmuwan mengusulkan peluncuran teleskop ruang angkasa dengan bukaan 3,9 kaki atau sekitar 1,2 meter. Ukuran tersebut, kira-kira 930.000 mil (1,5 juta kilometer) ke titik Lagrange yang stabil secara gravitasi antara Bumi dan matahari, menurut laporan kantor berita Tiongkok, Xinhua.

Titik-titik Lagrange mengelilingi matahari dengan kecepatan yang persis sama dengan Bumi. Itu artinya, pesawat di salah satu titik itu akan tetap berada pada jarak yang sama dari planet kita tanpa batas.

Begitu berada di titik Lagrange L2 (yang juga merupakan rumah bagi Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA), teleskop CHES akan menghabiskan lima tahun mencari dunia yang dapat dihuni di sekitar 100 bintang mirip matahari dalam jarak 33 tahun cahaya dari Bumi.

Dari data ini, para astronom berharap dapat melihat planet ekstrasurya seukuran Bumi yang bergerak di sekitar bintang mereka dalam orbit yang mirip dengan orbit kita. Dengan petunjuk, bahwa "Bumi lain" ini mungkin memiliki air, dan bahkan mungkin kehidupan.

"Penemuan dunia layak huni terdekat akan menjadi terobosan besar bagi umat manusia, dan juga akan membantu manusia mengunjungi kembaran Bumi itu dan memperluas ruang hidup kita di masa depan," kata Ji Jianghui, astronom di Chinese Academy of Sciences dan peneliti utama dari misi CHES.

Para ilmuwan mengatakan mereka berharap untuk menemukan sekitar 50 eksoplanet mirip Bumi atau super-Bumi dalam pencarian mereka.

Menurut katalog eksoplanet NASA, 3.854 dari 5.030 eksoplanet yang diketahui telah ditemukan dengan teknik yang dikenal sebagai metode transit, yang pertama kali digunakan pada 1999 untuk menemukan planet HD 209458b.

Metode transit bekerja dengan melatih penglihatan teleskop menuju pusat galaksi dan mengamati tanda-tanda kerlipan cahaya bintang saat planet-planet lewat di depan bintang induknya. Sejauh ini, telah digunakan oleh teleskop luar angkasa Kepler NASA, Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) dan European Space Agency (ESA) Characterizing Exoplanet Satellite (Cheops) untuk menemukan dan mempelajari eksoplanet.

Akan tetapi, metode transitnya bisa lambat. Karena membutuhkan banyak lintasan oleh planet yang mengorbit di depan bintangnya sebelum para ilmuwan dapat mengonfirmasi deteksi.

Selain itu, metode ini hanya dapat mendeteksi jari-jari planet ekstrasurya (bukan massanya atau bentuk orbitnya). Kemudian juga memerlukan survei bantuan dari teleskop berbasis darat untuk memastikan bahwa sinyal peredupan tidak disebabkan oleh aktivitas bintang lainnya.


Teleskop yang baru diusulkan dapat melihat planet ekstrasurya lebih cepat dan lebih detail dengan menggunakan metode berbeda yang disebut astrometri. Dengan metode ini, para ilmuwan akan mencari tanda goyangan bintang yang disebabkan oleh tarikan gravitasi dari planet yang mengorbit. Jika sebuah bintang sangat goyah dibandingkan dengan enam hingga delapan bintang referensi di belakangnya, teleskop CHES akan menandainya untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kemudian, dengan mempelajari cara khusus sebuah bintang bergoyang, para peneliti mengatakan mereka akan dapat mengidentifikasi massa eksoplanet yang mengorbitnya dan memetakan jalur tiga dimensi mereka di sekitarnya. Namun, astrometri telah menjadi penyebab banyak kontroversi bagi para pemburu planet ekstrasurya.

Melihat planet dari goyangan bintang membutuhkan pengukuran yang sangat tepat. Dan sejauh ini hanya satu planet ekstrasurya yang dikonfirmasi mengandalkan teknik itu,

Sejauh ini, hanya penyelidikan awal terhadap kelayakan proposal yang telah dilakukan oleh tim dari berbagai lembaga penelitian di Tiongkok, sehingga proyek tersebut tidak pasti untuk dilanjutkan. Namun kita mungkin tidak perlu menunggu terlalu lama untuk tes kemampuan astrometri untuk melihat dunia yang jauh.

Pesawat ruang angkasa GAIA milik ESA, yang hingga kini secara tepat memetakan lokasi bintang, juga diperkirakan akan menggunakan astrometri untuk menemukan eksoplanet yang jauh. Beberapa dari pembacaan astrometri ini bisa jadi dalam rilis data ESA yang akan datang.

Keputusan tentang pendanaan misi CHES diharapkan pada bulan Juni 2022, dan jika dipilih, tim akan bekerja untuk membangun teleskop baru untuk peluncuran 2026. Proposal tersebut bersaing dengan proyek planet ekstrasurya lain yang disebut Earth 2.0 di mana serangkaian tujuh satelit metode transit akan diluncurkan ke titik L2 Lagrange.

Friday, July 8, 2022

Kita Tidak Akan Pernah Bertemu Alien Cerdas, Klaim Ahli Sains

Pencarian kehidupan lain di luar Bumi, sepertinya telah lama dilakukan oleh para ilmuwan, namun belum ada satu pun hasil yang memuaskan. Bahkan untuk menemukan satu planet saja yang benar-benar persis kondisinya seperti Bumi itu teramat sulit. Sedangkan,  sebagian dari kita masih percaya bahwa ada kehidupan cerdas (alien) di luar sana yang sedang memperhatikan kita, atau bisa saja belum kita temukan.

Pencarian alien cerdas ini sudah melibatkan banyak orang, baik itu ilmuwan, maupun organisasi-organisasi tertentu yang dibentuk sengaja untuk tujuan ini.

Seorang penulis sains, Alex Berezow memiliki pandangannya sendiri tentang hal ini. Malah ia merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menentang keberadaan alien.


“Tidak masalah jika kehidupan cerdas ada di tempat lain. Kita tidak akan pernah menemukan satu sama lain,” kata Alex Berezow dalam laporan Mind Matters.

Pertanyaan apakah kita sendirian di alam semesta tetap menjadi salah satu teka-teki filosofis terbesar di zaman kita. Meskipun tampaknya hampir tidak terbayangkan bahwa peradaban kita hanya sendirian di alam semesta yang luas ini, tapi faktanya, bukti yang akurat tentang keberadaan mereka masih belum kita temukan.

Dari perkataan singkat Berezow di atas, sudah jelas sebenarnya yang ia yakini bukanlah ada atau tidaknya alien di luar sana, melainkan susahnya peluang kita untuk dapat menghubungi ‘mereka’.


Akan tetapi, bagi sebagian orang, pertanyaannya bukanlah apakah peradaban alien yang cerdas itu ada atau tidak, melainkan apakah ada kemungkinan kita akan pernah bersentuhan dengan mereka atau tidak.

Ini menjadi sebuah polemik tersendiri dalam usaha pencarian peradaban lain selain di Bumi.

Berezow, yang merupakan editor eksekutif Big Think, menerima kemungkinan bahwa alien memang ada, tetapi dia menyakini bahwa hampir tidak ada kemungkinan kita dapat bertemu dengan mereka.


"Berkat kemajuan dalam astrofisika, kita sekarang tahu bahwa di Bima Sakti saja, ada miliaran eksoplanet, membuat sebagian besar komunitas ilmiah menyimpulkan bahwa kehidupan mungkin ada di tempat lain di alam semesta," kata Berezow.

"Mereka yang tidak percaya sekarang dianggap kooks. Sementara kasus penculikan alien masih belum menjadi arus utama. UFO begitu banyak, sehingga intelijen AS baru saja mengeluarkan laporan tentang mereka," imbuhnya.

Argumen utama yang menentang kemungkinan kita dapat bersentuhan dengan alien adalah bahwa pencarian makhluk itu hanyalah perjalanan antariksa melintasi jarak begitu jauh yang sama sekali tidak praktis.


"Tentu saja, kita bisa naik pesawat ruang angkasa hari ini dan menuju ke planet yang mengorbit bintang terdekat, Proxima Centauri misalnya, tapi bukankah lebih baik kita mengemasi banyak tas pretzel dan menjualnya ini jauh lebih menyenangkan, karena akan memakan waktu sekitar 6.300 tahun untuk sampai ke sana," kata ahli kimia terkemuka, James Tour, sedikit berkelakar.

Meskipun argumen ini terdengar masuk akal, itu juga menyiratkan bahwa kita tidak akan pernah mengembangkan teknologi luar angkasa yang canggih atau membuat penemuan yang dapat membuat perjalanan antariksa antarbintang menjadi lebih mudah.

“Memakai kecepatan perjalanan cahaya? Meskipun begitu, Proxima Centauri tetap saja memiliki jarak empat tahun cahaya. Sisi lain galaksi? Lebih dari 100.000 tahun cahaya jauhnya. Bahkan lubang hitam (untungnya) berjarak ratusan tahun cahaya dari Bumi. Dan lubang cacing, saat ini, merupakan konsep spekulatif,” tutur James Tour.

Kita hanya bisa bilang, jikalau suatu saat nanti perjalanan antarbintang ini dapat terwujud, kemungkinannya sangat kecil kita dapat mengunjungi dunia asing dalam waktu yang dekat.

Saturday, February 5, 2022

Misteri Dinasti Rothschild di Balik Pembunuhan Abraham Lincoln


Abraham Lincoln, Presiden Amerika, tewas karena ditembak. Kematian Abraham Lincoln, diyakini banyak orang, terkait dengan kebijakannya menentang bank sentral di Amerika. 

Karenanya, peristiwa pembunuhan Abraham Lincoln tak bisa dilepaskan dari kemungkinan keterlibatan Dinasti Rothschild di baliknya. Kenyataannya, berbagai fakta yang muncul kemudian memang makin menguatkan kemungkinan tersebut.

Sebelumnya, Dinasti Rothschild sempat disingkirkan dari Amerika oleh Presiden Andrew Jackson. Presiden Jackson melunasi utang Amerika ke bank sentral, dan setelah itu mengusir bank sentral dari Amerika. Sejak itu, Dinasti Rothschild kehilangan kekuasaan di Amerika. Tapi mereka tidak menyerah.

Setelah sempat didepak oleh Presiden Andrew Jackson, Dinasti Rothschild memiliki hasrat untuk menguasai kembali Amerika, ditandai dengan perkembangan bisnis katun antara kaum ningrat Amerika Selatan dan pabrik katun di Inggris. Katun itu diangkut dari Amerika ke Perancis dan Inggris dengan kapal-kapal milik Rothschild.

Keluarga Rothschild juga secara hati-hati memanipulasi penduduk dengan berkonspirasi dengan politisi-politisi setempat yang mereka genggam. Hal ini menyebabkan pemisahan diri Carolina Selatan pada Desember 1860. 

Hanya beberapa minggu kemudian, 6 negara bagian lain bergabung dengan konspirasi melawan Serikat, dan membentuk sebuah negara pecahan "Confederate States of Amerika (Amerika Sekutu)" dengan Jefferson Davis sebagai presiden. Inilah awal perseteruan Selatan dan Utara Amerika, buah dari propaganda Keluarga Rothschild.

Propaganda Dinasti Rothschild terus berlanjut, bahkan setelah Presiden Abraham Lincoln dilantik. Mereka memberikan pinjaman kepada Napoleon III di Prancis (sepupu Napoleon dari Perang Waterloo) sebesar 210 juta franc untuk menjajah Meksiko, lalu menempatkan pasukan di sepanjang perbatasan Selatan Amerika Serikat, mengambil keuntungan dari perang saudara Amerika. 

Sementara itu, Inggris menyusul dengan menggerakkan 11.000 pasukan ke Kanada, dan menempatkan pasukan mereka di sepanjang perbatasan utara Amerika. Presiden Lincoln tahu dia ada dalam masalah. Bersama Sekretaris Bendahara, Salomon P. Chase, mereka berangkat ke New York untuk mengajukan pinjaman yang dibutuhkan untuk mendanai Departemen Pertahanan Amerika.

Keluarga Rothschild memberikan instruksi kepada bank-bank Amerika yang di bawah kontrol mereka, untuk menawarkan pinjaman dengan bunga 24% sampai 26%. Presiden Lincoln pun menolak tawaran itu, dan kembali ke Washington.

Tsar Rusia, Alexander II (1855-1881), yang juga memiliki masalah dengan Keluarga Rothschild karena menolak tawaran terus-menerus untuk mendirikan bank sentral di Rusia, memberi bantuan tak terduga kepada Presiden Lincoln.

Sang Tsar mengatakan, jika Inggris dan Perancis terlibat aktif dan campur tangan dalam perang saudara Amerika dengan membantu Selatan, maka Rusia akan memihak Presiden Lincoln. Lalu Tsar mengirim sebagian dari armada Pasifiknya untuk berlabuh di San Fransisco, dan sebagian lainnya berlabuh di New York.

Dalam kurun waktu itu juga, Keluarga Rothschild menggunakan salah seorang dari keluarga mereka di Amerika, John D. Rockefeller (salah seorang Rothschild lewat garis darah perempuan), untuk membentuk bisnis minyak bernama "Standard Oil", yang pada akhirnya mengalahkan semua pesaingnya.

Pada tanggal 14 April, atau setelah 41 hari setelah pelantikannya yang kedua, Presiden Lincoln ditembak oleh John Wilkes Booth di Ford's Theater. Dia meninggal akibat lukanya, kurang dari 2 bulan sebelum perang saudara Amerika berakhir.

Lebih dari 70 tahun kemudian, cucu perempuan Booth yang bernama Izola Forrester, memberikan bocoran di dalam bukunya tentang Booth, "This One Mad Act", bahwa Booth dipesan melakukan pembunuhan itu oleh orang-orang kuat di Eropa (Keluarga Rothschild). 

Pernyataan itu dikuatkan oleh seorang jaksa di Kanada, bernama Gerald G. Mcgeer, yang mengatakan bahwa pembunuhan Lincoln dilakukan oleh bankir-bankir internasional (sebutan untuk Keluarga Rothschild, karena setengah kekayaan dunia mereka kuasai dari pusat-pusat perbankan yang mereka miliki di seluruh dunia).

Menyusul satu masa latihan singkat di Bank London, Keluarga Rothschild, Jacob Schiff (seorang Rothschild yang lahir di Frankfurt) tiba di Amerika pada usia 18 tahun, dengan instruksi dan uang yang diperlukan untuk membeli sebagian usaha perbankan di sana. 

Tujuannya adalah mendapatkan kendali sistem uang Amerika dengan mendirikan bank sentral. Mencari orang-orang yang akan menjadi antek-antek mereka, dan mempromosikan mereka ke posisi tinggi di pemerintahan federal, Kongres, Mahkamah Agung, dan semua badan federal. 

Membuat kelompok minoritas cekcok di seluruh penjuru negeri, khususnya isu perseteruan kaum kulit putih dan hitam. Membuat gerakan untuk menghancurkan agama di Amerika Serikat dengan Kristen sebagai sasaran utama

Dalam kaitan persekongkolan itu, menarik untuk mencermati pernyataan Rabi Reichorn di pemakaman Rabi Besar Simeon Ben-Iudah, "Berkat kekuatan dahsyat bank-bank internasional, kita telah memaksa orang Kristen berperang tanpa henti. 

Perang punya nilai istimewa bagi orang Yahudi, karena orang Kristen saling membantai sehingga ada ruang lebih luas bagi orang Yahudi. Perang adalah panen Yahudi, dan bank-bank Yahudi menjadi gemuk saat orang Kristen berperang. Lebih dari 100 juta orang Kristen tersapu dari muka bumi berkat perang, dan ini belum berakhir."

Saturday, January 29, 2022

Penjelasan Ilmiah soal Bintang Bethlehem Super Langka yang Muncul Jelang Hari Natal


Kisah kelahiran Yesus Kristus dan perayaan Hari Natal selalu menyertakan cerita tentang bintang Natal. Para ahli astronomi sudah bisa menjelaskannya.

Bintang Natal atau Star of Bethlehem rupanya bisa dijelaskan secara ilmiah. Menurut para ilmuwan, Bintang Natal adalah konjungsi Jupiter-Saturnus yang terjadi saat Winter Soltice atau titik balik matahari musim dingin. Ini adalah kejadian yang sangat langka.

Menurut LAPAN, konjungsi Jupiter-Saturnus terjadi setiap 20 tahun, namun pada tanggal yang berbeda-beda. Nah, menurut Perth Observatory dilansir News.com Australia, konjungsi Jupiter-Saturnus pada Winter Soltice terjadi setiap 400 tahun sekali.

Konjungi Jupiter-Saturnus saat Winter Soltice, terakhir terjadi pada tahun 1623. Itu sebabnya sebagian ilmuwan mengatakan Star of Bethlehem dan konjungi Jupiter-Saturnus adalah peristiwa alam yang sama.

Pada tanggal 21 Desember, kedua planet ini akan tampak dalam 0,1 derajat antara satu sama lain di antariksa. Akibatnya, dari Bumi kedua planet ini akan tampak seperti 1 bintang yang sangat besar.

Perlu diketahui Jupiter mengorbit matahari dalam 11,86 tahun Bumi. Sedangkan, Saturnus mengorbit matahari dalam 29,4 tahun Bumi.

Itu sebabnya, Jupiter akan menyalip Saturnus setiap 20 tahun. Peristiwa ini yang disebut para astronom sebagai Konjungsi Agung. Konjungsi ini terjadi pada tanggal yang berbeda, namun yang dianggap paling istimewa yang muncul saat Winter Soltice karena terkait dengan perayaan Hari Natal.

Di Indonesia, menurut LAPAN, konjungsi ini akan terjadi pada 21 Desember pukul 18.30 WIB sampai puncaknya pada 22 Desember 2020 pukul 01.18 WIB. Manusia bisa melihatnya ke arah barat daya setelah matahari terbenam. Akan ada satu bintang yang paling terang, itulah Jupiter dan Saturnus yang berdempetan.


 

Friday, December 3, 2021

Meteor Jatuh Ke Bumi, Membawa Fosil Makhluk Luar Angkasa


Struktur fosil pada sampel meteor yang jatuh di Sri Lanka dapat ditafsirkan sebagai bukti tegas adanya biologi, atau bukti kehidupan di luar planet Bumi.

Fosil kecil dalam sampel meteor jatuh di Sri Lanka pada bulan Desember tahun 2012 lalu merupakan bukti adanya kehidupan di luar bumi. Dalam penelitian itu, Wickramasinghe menggunakan mikroskop elektron untuk mempelajari sisa-sisa meteorit besar yang jatuh di dekat Sri Lanka, desa Polonnaruwa pada tanggal 29 Desember 2012.

Fosil Diatom Luar Angkasa Terbawa Meteor

Wickramasinghe, seorang direktur Buckingham Centre for Astrobiology di Universitas Buckingham, Inggris dari makalah Chandra Wickramasinghe yang diterbitkan Journal of Cosmology, menyatakan bahwa dirinya telah menemukan bukti kuat adanya kehidupan di seluruh alam semesta.

Desember lalu, dia dan rekannya menemukan karakteristik mikrostruktur dan morfologi kelas diatom terestrial. Mereka menyimpulkan bahwa adanya struktur semacam ini di luar angkasa dapat ditafsirkan sebagai bukti tegas adanya biologi, atau bukti kehidupan di luar planet Bumi.

fosil-diatom-meteor-sri-lanka

Fosil diatom dari meteor yang jatuh di Sri Lanka

Wickramasinghe dan astronom Sir Fred Hoyle, mengembangkan teori Panspermia, yang menyatakan adanya kehidupan di seluruh alam semesta dan disebarkan melalui meteor dan asteroid.

Identifikasi fosil diatom (kelompok alga plankton yang paling sering ditemui, kebanyakan bersel tunggal) dalam meteorit Polonnaruwa sangat layak dan tidak diragukan, karena dianggap sebagai fragmen komet yang sudah punah.

Pada tahun 1962, Hoyle dan Wickramasinghe mempelopori teori butiran karbon di ruang angkasa untuk menggantikan teori butiran es yang ditentang oleh komunitas astronomi. Tetapi dengan spektroskopi inframerah, teori butiran es menjadi cara baru menggantikan teori debu karbon.

Selama beberapa tahun setelah meneliti berbagai model meteor, Wickramasinghe menyimpulkan bahwa materi ini sangat mirip dengan biomaterial yang ada pada semua data astronomi, dan mempertimbangkan kemungkinan bahwa biologi ataupun mikrobiologi memiliki karakter universal.

Dan tidak ada pengamatan astronomi ataupun informasi baru biologi yang memberikan bukti sebaliknya. Selama hampir lima dekade bukti yang mendukung asal usul kehidupan non-terestrial dan Panspermia telah terakumulasi yang dinilai belum benar.

Semetara astronom Phil Plait menentang temuan Wickramasinghe, dia menyatakan bahwa diatom yang ditemukan pada meteor berasal dari jenis ganggang, tanaman hidup mikroskopis, spesies air tawar yang ditemukan di Bumi.

Dan Wickramasinghe tidak menyangkal bahwa sampel meteor yang dianalisa mengandung diatom air tawar. Akan tetapi,.. ada setengah lusin spesies yang belum mampu diidentifikasi ahli diatom.

Bukti mikroskopis pada sampel meteor jatuh di Sri Lanka tentunya berdampak provokatif, tapi apakah benar-benar membuktikan adanya kehidupan di luar bumi?

Referensi: Fossil Diatoms In A New Carbonaceous Meteorite. Journal of Cosmology, 10 Januari 2013, via Huffington Post 18 Januari 2013.




 

Saturday, October 30, 2021

Hollow Earth Theory - Benarkah bumi kita memiliki rongga di dalamnya?

 

Ada banyak Legenda dari berbagai wilayah di dunia yang menceritakan mengenai adanya dunia lain di dalam perut bumi. Tidak banyak yang menaruh perhatian terhadap legenda-legenda ini sampai seorang ilmuwan ternama mengangkatnya ke dalam forum-forum sains.




Ide kalau bumi kita memiliki rongga sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Legenda dunia bawah tanah

Pada masa Sumeria kuno, dunia bawah tanah sudah pernah disinggung dalamEpic of Gilgamesh. Di Babylonia, ada kisah mengenai turunnya Ishtar ke dunia bawah tanah. Dalam buku Mesir Kuno "Egyptian book of the Dead", dunia di bawah tanah juga disinggung berkali-kali.



Dalam legenda suku Indian Hopi, bahkan ada panduan bagi kita untuk bisa masuk ke dalam perut bumi yang berongga. Menurut suku ini, dunia yang kita diami adalah dunia keempat. Tiga dunia lainnya berada di dalam perut bumi dan salah satu pintunya berada di antara ngarai-ngarai raksasa Colorado.


Mungkin yang paling menarik dari semuanya adalah legenda Tibet mengenai Agharta yang secara harfiah berarti "Kerajaan bawah tanah di pusat bumi dimana raja dunia memerintah".


Menarik, karena masyarakat Tibet menggambarkannya dengan cukup lengkap. Bahkan menurut mereka, kerajaan Shambhala yang misterius juga berada di dalam perut bumi.


Pantas, tidak ada yang bisa menemukannya.


Setelah cukup lama dikenal di dalam legenda-legenda kuno masyarakat dunia, ide bahwa bumi ini memiliki rongga mulai mendapat tempat di dunia sains modern.


Hollow Earth dalam Sains
Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Plato memang telah menyinggung adanya lorong-lorong bawah tanah yang membentuk struktur bumi. Namun, pandangan ini baru mendapatkan perhatian ketika dicetuskan oleh ilmuwan ternama bernama Edmund Halley.


Edmund Halley (1656-1742) adalah seorang astronom Inggris yang secara tepat berhasil mengkalkulasi orbit kometyang melewati bumi setiap 76 tahun. Kita mengenalnya sebagai komet Halley.


Ia mencetuskan ide mengenai hollow earth pada tahun 1692. Menurutnya, di bawah kerak bumi yang setebal 500 kaki, ada ruang berongga yang di dalamnya memiliki atmosfer yang mendukung kehidupan.


Bagi kita yang mendengarnya, mungkin mengira Halley terjebak ke dalam pseudo science yang mendasarkan teorinya pada legenda semata. Namun, ternyata ia punya alasan sains yang cukup masuk akal.


Bahkan ia menuangkannya ke dalam sebuah paper yang memiliki judul cukup panjang, yaitu: "An account of the cause of the change of the variation of the magnetical needle with an hypothesis of the structure of the internal parts of the earth: as it was proposed to the Royal Society in one of their later meetings".


Teori ini diambil oleh Halley karena ia menemukan adanya variasi-variasi di dalam medan magnet bumi. Salah satunya, menurutnya, adalah medan magnet yang berasal dari bola di dalam perut bumi. Ini membuatnya berkesimpulan kalau ada empat bola konsentris berongga di dalam perut bumi. Bola-bola berongga ini memiliki atmosfer yang bisa mendukung kehidupan.



Menurutnya, Aurora borealis yang sering terlihat di kutub sebenarnya adalah gas bercahaya di dalam perut bumi yang berhasil lolos dari lapisan tipis kerak bumi di wilayah kutub.

Teori yang diajukan oleh Halley kemudian diadopsi oleh ilmuwan ternama lainnya, seorang ahli matematika bernama Leonhard Euler (1707-1783) danJohn Leslie (1766-1832).

Bedanya, Euler menolak ide adanya beberapa bola konsentris seperti yang diajukan Halley dan menggantikannya dengan satu bola berongga yang memiliki matahari berdiameter 600 mil yang menyediakan cahaya dan panas untuk peradaban luar biasa yang hidup disana.


Di lain pihak, John Leslie memang memiliki pendapat yang mirip dengan Euler. Bedanya, ia percaya kalau matahari yang ada di dalam bola berongga itu ada dua, bukan satu. Ia memberi keduanya nama Pluto dan Proserpine.

Lalu, teori hollow earth kembali diadopsi oleh John Cleves Symmes (1780) yang sampai akhir hayatnya memperjuangkan teori ini tanpa kenal lelah.

Symmes adalah mantan tentara dan pengusaha. Ia juga percaya kalau bumi ini memiliki rongga dan jalan masuk menuju rongga itu berada di kutub utara dan selatan. Ia memperkirakan jalan masuk ini memiliki lebar 4.000 mil dan 6.000 mil.


Perjuangan Symmes bahkan sampai membuatnya berhasil melobi kongres Amerika sehingga presiden Amerika saat, John Quincy Adams, menyetujui pendanaan ekspedisi menuju Antartika. Namun, sebelum sempat dikucurkan, presiden berikutnya, Andrew Jackson, membekukan pendanaan itu.

Ekspedisi mencari pintu Hollow Earth
Setelah kematian Symmes, salah seorang pengikutnya yang bernama Jeremiah Reynolds, berhasil meyakinkan pemerintah Amerika untuk melakukan ekspedisi ke Antartika pada tahun 1838.

Memang para penjelajah tidak menemukan lubang raksasa disana, namun mereka menemukan bukti kalau Antartika bukan cuma sekedar wilayah es, melainkan benua bumi yang ke-7.

Teori Hollow Earth kembali mendapat perhatian pada tahun 1846 karena adanya penemuan bangkai utuh seekor Mammoth di Siberia.

Dalam tubuh mammoth itu ditemukan tanaman yang belum tercerna. Ini menunjukkan kalau hewan ini mati dengan tiba-tiba ketika sedang makan. Beberapa orang percaya kalau makhluk itu awalnya hidup di wilayah hangat di dalam hollow earth. Lalu, tanpa sengaja tersesat keluar lewat lubang di kutub utara. Ketika bertemu dengan wilayah dingin, hewan ini mati seketika.

Tentu saja, ini cuma teori yang tidak bisa dibuktikan. Tapi paling tidak penemuan ini membuat antusiasme mengenai Hollow earth terus berkembang hingga menarik perhatian Jules Verne, seorang penulis fiksi sains.

Pada tahun 1864, ia menerbitkan buku berjudul Journey to the Center of the Earth yang menceritakan mengenai sebuah lubang di Islandia yang menuju ke dalam perut bumi.

Pada tahun 1869, teori Hollow earth mulai berkembang menjadi semakin mengada-ngada.

Cyrus Teed dan Hollow Earth

Cyrus Reed Teed, seorang herbalis dan alkemis, mengaku kalau ia mendapatkan penglihatan mengenai seorang wanita yang memberitahukan kepadanya kalau ia berasal dari dalam rongga di dalam perut bumi.

Penglihatan ini cukup mempengaruhi hidup Teed. Empat puluh tahun berikutnya, ia mempromosikan ide ini ke seluruh dunia. Bahkan ia mendirikan sebuah sekte bernama Koreshans yang pengajarannya berkisar kepada dunia Hollow Earth.

Tidak sampai disitu, Teed kemudian memperkenalkan modifikasi baru dari teori hollow earth yang sering disebut Concave Sphere. Menurutnya, KITA-lah yang sedang hidup di dalam rongga bumi. Jadi, ada manusia lain yang hidup di dunia atas.


Tidak ada Lubang di Kutub
Pada awal abad ke-20, transportasi sangat minim. Wilayah kutub belum terjelajahi dengan sepenuhnya. Karena itu, tentu saja teori Hollow Earth akan menjadi sangat susah dibantah.

Tapi, semuanya berubah ketika penerbang Richard E.Byrd (1888-1957) berhasil melakukan penerbangan melintasi kutub utara dan selatan. Ia tidak menemukan adanya lubang raksasa seperti yang dipercaya para penganut teori Hollow earth.

Pada abad 20. kutub utara dan selatan bukan lagi wilayah yang misterius. Transportasi yang lebih maju dan satelit yang secara teratur menghasilkan citra bumi dari luar angkasa sebenarnya sudah bisa menjelaskan kalau di kutub utara dan selatan, tidak terdapat lubang menuju Hollow Earth.

Hollow Earth dan UFO

Walaupun begitu, teori ini masih saja menarik perhatian banyak orang. Bahkan, mereka mulai mengaitkannya dengan fenomena UFO. Contohnya Ernst Zundel yang menulis buku berjudul UFOs - Nazi Secret Weapons?.

Ia mengklaim kalau Hitler dan batalyon terakhirnya berhasil lari ke Argentina dengan sebuah kapal selam, lalu mendirikan sebuah markas untuk piring terbang di sebuah lubang di kutub selatan yang mengarah ke dalam perut bumi. Zundel juga percaya kalau Nazi berasal dari ras terpisah yang berasal dari dalam perut bumi. Sepertinya Zundel memiliki pandangan yang sama dengan Hitler.
Pandangan ini mungkin muncul karena pada tahun 1940an, Hitler yang menjadi sangat tertarik dengan ide mengenai Hollow Earth disebut pernah mengirim ekspedisi menuju Rugen, salah satu pulau di Baltic, walaupun tidak membawa hasil. 

Ray Palmer adalah penulis lain yang mengkaitkan antara Hollow earth dengan piring terbang. Pada tahun 1940an, bersama Richard Shaver, ia berspekulasi:'Karena UFO sering terlihat di langit bumi sepanjang sejarah, maka pastilah UFO-UFO tersebut berasal dari bumi'.

Jadi, menurut mereka, UFO tersebut sebenarnya berasal dari dalam perut bumi yang berongga. Shaver bahkan mengaku pernah tinggal bersama orang-orang dari dalam perut bumi. Pandangan ini membuat keduanya dikenal sebagai bapak gerakan ufology modern. Tentu saja teori ini akan sangat sulit dibuktikan. Tetapi, tetap saja banyak orang lain yang masih percaya adanya rongga di dalam perut bumi.

Beberapa bahkan mengaku pernah masuk kedalamnya. Ada yang bilang kalau mereka mencapai rongga di dalam perut bumi lewat gua-gua purba atau lubang pertambangan kuno. Ada lagi yang berteori kalau segitiga bermuda adalah jalan masuk menuju rongga di dalam perut bumi.

Sebagian percaya kalau pintu masuk yang sebenarnya bukan di wilayah kutub, melainkan di wilayah lainnya di dunia seperti Gunung Shasta di California, Gua Mammoth di Kentucky atau pegunungan Himalaya di Tibet.

Gunung Shasta

Pada tahun 1993, Katharina Wilson menulis sebuah buku berjudul The Alien Jigsaw. Dalam bukunya, ia menceritakan mengenai pengalamannya diculik oleh alien dan dibawa ke dunia bawah tanah. Buku serupa juga pernah ditulis tahun 1995 oleh Timothy Good yang menceritakan pengalamannya dibawa ke markas UFO di dalam tanah.

Ketika Halley dan Euler merumuskan teori Hollow Earth, tidak ada yang menganggapnya mengada-ngada. Soalnya, para ilmuwan itu hidup di abad ke-17 dimana ilmu pengetahuan mengenai struktur bumi belum sempurna. Lagipula, banyak wilayah bumi yang belum terjelajahi. Tapi, ketika sains modern mulai berkembang, kitapun tahu kalau bumi ini tidak berongga.

Struktur Bumi yang Sebenarnya
Bagaimana kita bisa yakin kalau bumi ini tidak berongga?

Ada beberapa argumen, misalnya, walaupun kita tidak pernah melihat isi perut bumi, namun kita bisa "melihatnya" dengan menggunakan vibrasi (umumnya lewat gempa bumi) yang bergerak dari ujung bumi yang satu ke yang lain. Dengan menggunakan metode ini, para geologis bisa menggambarkan kondisi struktur bumi yang sebenarnya. Dari sini kita tahu kalau bumi ini memiliki inti dan kerak bumi, tanpa rongga tentu saja.

Jika bumi ini berongga, maka ia akan memberikan hasil yang berbeda dalam pengamatan seismik.

Lalu, kita juga tahu kalau di bawah kerak bumi, terdapat batu-batuan panas cair yang bernama magma. Ini bisa terjadi karena suhu akan menjadi semakin tinggi sesuai dengan kedalaman. Pada kedalaman sekitar 100 kilometer, suhu di dalam perut bumi diperkirakan sebesar 1.200 derajat celcius.

Magma ini bisa keluar menuju permukaan bumi lewat gunung-gunung api di seluruh dunia. Magma yang keluar dari perut bumi disebut dengan Lava. Kalau ada rongga di dalam perut bumi, Bagaimana menjelaskan pengaruh suhu yang tinggi ini terhadap rongga tersebut?

Struktur bumi yang kita kenal sekarang juga terlihat ketika manusia membuat lubang ke dalam perut bumi. Lubang terdalam yang dibuat oleh manusia saat ini adalah lubang yang terdapat di Sovyet. Dalamnya 12,3 kilometer. Sampai sejauh ini apa yang diamati dari pengeboran itu masih sesuai dengan ilmu geologi yang dikenal saat ini.

Jadi, kita tidak pernah menemukan lubang raksasa di kutub. Kita juga tidak punya bukti kalau bumi ini berongga dan ada matahari yang menyertainya. Sekarang, bahkan dengan mudah kita dapat mengakses google earth dan melihat sendiri kondisi di kutub atau tempat-tempat lain di dunia.

Karena itu, boleh dibilang, setelah hampir 400 tahun sejak diajukan oleh Halley, teori Hollow Earth telah berpindah tempat dari dunia sains menuju dunia pseudo sains.

(wikipediaunmuseum.orghollowearththeory.com)