About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Mars. Show all posts
Showing posts with label Mars. Show all posts

Monday, September 12, 2022

Ditemukan Molekul Organik di Mars, Pertanda Kehidupan Masa Lalu?


Menurut para peneliti, Mars memiliki potensi kehidupan di masa lalu. Dugaan ini muncul karena Planet Merah tersebut memiliki kandungan oksigen, walau hanya sangat sedikit.

Selain itu,
penelitian lain menemukan adanya molekul organik asli di Mars yang memberikan harapan adanya kehidupan di masa lalu. Studi yang dilakukan para peneliti dari University of Washington ini, percaya bahwa molekul yang ditemukan dari pada sampel, diciptakan secara biologis bukan kimiawi.

Molekul yang ditemukan ini disebut tiofena yang tersusun dari empat atom karbon dan atom belerang yang membentuk cincin segi lima. Molekul ini juga ada di Bumi dan umumnya ditemukan dalam jamur truffle, batubara serta minyak mentah yang berasal dari tanaman dan organisme yang telah mati.

Para ilmuwan menduga, dalam penyusunan skenario biologis untuk menjadi senyawa tiofena, dibutuhkan bakteri yang mungkin hidup tiga miliar tahun lalu saat Mars masih hangat dan basah. Dengan kata lain, Mars bisa dibilang mampu memfasilitasi proses reduksi kimia dari organisme yang ada dan menghasilkan tiofena.

Dirk Schulze, wakil pemimpin penelitian menjelaskan: “Kami mengidentifikasi beberapa cara biologis terkait tiofena ini. Meski begitu, kami masih membutuhkan bukti lebih lanjut.”

Penelitian ini belum menjadi bukti kuat mengenai adanya kehidupan di Mars. Namun, setidaknya itu menunjukan adanya bakteri purba di Mars. Selanjutnya, peneliti berencana mempelajari komposisi isotop pada molekul dari senyawa tersebut. 

Dengan melakukan penelitian melalui isotop, pembuktian akan lebih kuat mengenai bentuk kehidupan yang mempengaruhi proses senyawa tiofena di Mars.

Sampel tiofena yang diteliti ini, terbawa oleh rover Curiosity yang mengembara di Mars. Untuk penemuan lebih lanjut, para peneliti sangat berharap pada misi ekspedisi berikutnya, dengan rover Rosalind Franklin. 

Rover Rosalind Franklin akan membawa Mars Organic Molecule Analyzer (MOMA) yang akan menganalisis dan mengumpulkan lebih banyak molekul untuk diteliti.

Monday, August 1, 2022

Siapkan Teleskop Baru, Tiongkok Umumkan Rencana Menjajah 'Bumi Lain'


Tiongkok telah mengumumkan rencana pertamanya untuk mencari planet-planet terdekat yang dapat dihuni di bintang-bintang yang suatu hari nanti dapat memperluas "ruang hidup" umat manusia melintasi Bimasakti. Rencana tersebut berkaitan dengan proyek teleskop baru mereka yang akan diluncurkan paling cepat di tahun 2026.

Dalam proyek yang disebut Closeby Habitable Exoplanet Survey (CHES), tim ilmuwan mengusulkan peluncuran teleskop ruang angkasa dengan bukaan 3,9 kaki atau sekitar 1,2 meter. Ukuran tersebut, kira-kira 930.000 mil (1,5 juta kilometer) ke titik Lagrange yang stabil secara gravitasi antara Bumi dan matahari, menurut laporan kantor berita Tiongkok, Xinhua.

Titik-titik Lagrange mengelilingi matahari dengan kecepatan yang persis sama dengan Bumi. Itu artinya, pesawat di salah satu titik itu akan tetap berada pada jarak yang sama dari planet kita tanpa batas.

Begitu berada di titik Lagrange L2 (yang juga merupakan rumah bagi Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA), teleskop CHES akan menghabiskan lima tahun mencari dunia yang dapat dihuni di sekitar 100 bintang mirip matahari dalam jarak 33 tahun cahaya dari Bumi.

Dari data ini, para astronom berharap dapat melihat planet ekstrasurya seukuran Bumi yang bergerak di sekitar bintang mereka dalam orbit yang mirip dengan orbit kita. Dengan petunjuk, bahwa "Bumi lain" ini mungkin memiliki air, dan bahkan mungkin kehidupan.

"Penemuan dunia layak huni terdekat akan menjadi terobosan besar bagi umat manusia, dan juga akan membantu manusia mengunjungi kembaran Bumi itu dan memperluas ruang hidup kita di masa depan," kata Ji Jianghui, astronom di Chinese Academy of Sciences dan peneliti utama dari misi CHES.

Para ilmuwan mengatakan mereka berharap untuk menemukan sekitar 50 eksoplanet mirip Bumi atau super-Bumi dalam pencarian mereka.

Menurut katalog eksoplanet NASA, 3.854 dari 5.030 eksoplanet yang diketahui telah ditemukan dengan teknik yang dikenal sebagai metode transit, yang pertama kali digunakan pada 1999 untuk menemukan planet HD 209458b.

Metode transit bekerja dengan melatih penglihatan teleskop menuju pusat galaksi dan mengamati tanda-tanda kerlipan cahaya bintang saat planet-planet lewat di depan bintang induknya. Sejauh ini, telah digunakan oleh teleskop luar angkasa Kepler NASA, Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) dan European Space Agency (ESA) Characterizing Exoplanet Satellite (Cheops) untuk menemukan dan mempelajari eksoplanet.

Akan tetapi, metode transitnya bisa lambat. Karena membutuhkan banyak lintasan oleh planet yang mengorbit di depan bintangnya sebelum para ilmuwan dapat mengonfirmasi deteksi.

Selain itu, metode ini hanya dapat mendeteksi jari-jari planet ekstrasurya (bukan massanya atau bentuk orbitnya). Kemudian juga memerlukan survei bantuan dari teleskop berbasis darat untuk memastikan bahwa sinyal peredupan tidak disebabkan oleh aktivitas bintang lainnya.


Teleskop yang baru diusulkan dapat melihat planet ekstrasurya lebih cepat dan lebih detail dengan menggunakan metode berbeda yang disebut astrometri. Dengan metode ini, para ilmuwan akan mencari tanda goyangan bintang yang disebabkan oleh tarikan gravitasi dari planet yang mengorbit. Jika sebuah bintang sangat goyah dibandingkan dengan enam hingga delapan bintang referensi di belakangnya, teleskop CHES akan menandainya untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kemudian, dengan mempelajari cara khusus sebuah bintang bergoyang, para peneliti mengatakan mereka akan dapat mengidentifikasi massa eksoplanet yang mengorbitnya dan memetakan jalur tiga dimensi mereka di sekitarnya. Namun, astrometri telah menjadi penyebab banyak kontroversi bagi para pemburu planet ekstrasurya.

Melihat planet dari goyangan bintang membutuhkan pengukuran yang sangat tepat. Dan sejauh ini hanya satu planet ekstrasurya yang dikonfirmasi mengandalkan teknik itu,

Sejauh ini, hanya penyelidikan awal terhadap kelayakan proposal yang telah dilakukan oleh tim dari berbagai lembaga penelitian di Tiongkok, sehingga proyek tersebut tidak pasti untuk dilanjutkan. Namun kita mungkin tidak perlu menunggu terlalu lama untuk tes kemampuan astrometri untuk melihat dunia yang jauh.

Pesawat ruang angkasa GAIA milik ESA, yang hingga kini secara tepat memetakan lokasi bintang, juga diperkirakan akan menggunakan astrometri untuk menemukan eksoplanet yang jauh. Beberapa dari pembacaan astrometri ini bisa jadi dalam rilis data ESA yang akan datang.

Keputusan tentang pendanaan misi CHES diharapkan pada bulan Juni 2022, dan jika dipilih, tim akan bekerja untuk membangun teleskop baru untuk peluncuran 2026. Proposal tersebut bersaing dengan proyek planet ekstrasurya lain yang disebut Earth 2.0 di mana serangkaian tujuh satelit metode transit akan diluncurkan ke titik L2 Lagrange.

Friday, July 8, 2022

Kita Tidak Akan Pernah Bertemu Alien Cerdas, Klaim Ahli Sains

Pencarian kehidupan lain di luar Bumi, sepertinya telah lama dilakukan oleh para ilmuwan, namun belum ada satu pun hasil yang memuaskan. Bahkan untuk menemukan satu planet saja yang benar-benar persis kondisinya seperti Bumi itu teramat sulit. Sedangkan,  sebagian dari kita masih percaya bahwa ada kehidupan cerdas (alien) di luar sana yang sedang memperhatikan kita, atau bisa saja belum kita temukan.

Pencarian alien cerdas ini sudah melibatkan banyak orang, baik itu ilmuwan, maupun organisasi-organisasi tertentu yang dibentuk sengaja untuk tujuan ini.

Seorang penulis sains, Alex Berezow memiliki pandangannya sendiri tentang hal ini. Malah ia merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menentang keberadaan alien.


“Tidak masalah jika kehidupan cerdas ada di tempat lain. Kita tidak akan pernah menemukan satu sama lain,” kata Alex Berezow dalam laporan Mind Matters.

Pertanyaan apakah kita sendirian di alam semesta tetap menjadi salah satu teka-teki filosofis terbesar di zaman kita. Meskipun tampaknya hampir tidak terbayangkan bahwa peradaban kita hanya sendirian di alam semesta yang luas ini, tapi faktanya, bukti yang akurat tentang keberadaan mereka masih belum kita temukan.

Dari perkataan singkat Berezow di atas, sudah jelas sebenarnya yang ia yakini bukanlah ada atau tidaknya alien di luar sana, melainkan susahnya peluang kita untuk dapat menghubungi ‘mereka’.


Akan tetapi, bagi sebagian orang, pertanyaannya bukanlah apakah peradaban alien yang cerdas itu ada atau tidak, melainkan apakah ada kemungkinan kita akan pernah bersentuhan dengan mereka atau tidak.

Ini menjadi sebuah polemik tersendiri dalam usaha pencarian peradaban lain selain di Bumi.

Berezow, yang merupakan editor eksekutif Big Think, menerima kemungkinan bahwa alien memang ada, tetapi dia menyakini bahwa hampir tidak ada kemungkinan kita dapat bertemu dengan mereka.


"Berkat kemajuan dalam astrofisika, kita sekarang tahu bahwa di Bima Sakti saja, ada miliaran eksoplanet, membuat sebagian besar komunitas ilmiah menyimpulkan bahwa kehidupan mungkin ada di tempat lain di alam semesta," kata Berezow.

"Mereka yang tidak percaya sekarang dianggap kooks. Sementara kasus penculikan alien masih belum menjadi arus utama. UFO begitu banyak, sehingga intelijen AS baru saja mengeluarkan laporan tentang mereka," imbuhnya.

Argumen utama yang menentang kemungkinan kita dapat bersentuhan dengan alien adalah bahwa pencarian makhluk itu hanyalah perjalanan antariksa melintasi jarak begitu jauh yang sama sekali tidak praktis.


"Tentu saja, kita bisa naik pesawat ruang angkasa hari ini dan menuju ke planet yang mengorbit bintang terdekat, Proxima Centauri misalnya, tapi bukankah lebih baik kita mengemasi banyak tas pretzel dan menjualnya ini jauh lebih menyenangkan, karena akan memakan waktu sekitar 6.300 tahun untuk sampai ke sana," kata ahli kimia terkemuka, James Tour, sedikit berkelakar.

Meskipun argumen ini terdengar masuk akal, itu juga menyiratkan bahwa kita tidak akan pernah mengembangkan teknologi luar angkasa yang canggih atau membuat penemuan yang dapat membuat perjalanan antariksa antarbintang menjadi lebih mudah.

“Memakai kecepatan perjalanan cahaya? Meskipun begitu, Proxima Centauri tetap saja memiliki jarak empat tahun cahaya. Sisi lain galaksi? Lebih dari 100.000 tahun cahaya jauhnya. Bahkan lubang hitam (untungnya) berjarak ratusan tahun cahaya dari Bumi. Dan lubang cacing, saat ini, merupakan konsep spekulatif,” tutur James Tour.

Kita hanya bisa bilang, jikalau suatu saat nanti perjalanan antarbintang ini dapat terwujud, kemungkinannya sangat kecil kita dapat mengunjungi dunia asing dalam waktu yang dekat.

Thursday, April 14, 2022

Bumi Super Ini Dinyatakan Punya Atmosfer, Bisakah Dihuni Manusia?


Para peneliti telah mengamati GJ1132b selama dua tahun terakhir. Disebut-sebut sebagai “Bumi Super”, planet tersebut 1,4 kali lebih besar daripada bumi dan terletak sejauh 39 tahun cahaya.

Kini, penelitian mengungkapkan bahwa planet tersebut diselubungi oleh lapisan gas tebal seperti atmosfer yang berisi air atau metana atau keduanya.

Penemuan GJ1132b pertama kali diumumkan pada tahun 2015. Keberadaan planet itu lewat pengamatan di European Southern Observatory (ESO) dengan metode transit.

Terletak di bagian selatan konstelasi Vela, bintang induk planet ini jauh lebih kecil, dingin, dan redup daripada matahari.

“(Pergerakan planet) membuat bintang tampak lebih redup dan merupakan cara yang jitu untuk menemukan planet yang bergerak. Begitulah cara planet ini ditemukan,” ujar Dr Southworth yang terlibat penelitian.

Namun, molekul yang beragam pada atmosfer menyerap cahaya dengan cara yang berbeda-beda juga dan pengamatan pada perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lapisan gas di sekitar GJ1132b bisa mengandung uap ataupun metana.

Dr Southworth mengatakan, salah satu kemungkinannya adalah planet ini merupakan ‘dunia air’ dengan atmosfer uap panas.

Jika mengandung uap air, mungkinkah manusia hidup di sana? Sayangnya tidak. Temperatur permukaan GJ113b mencapai 370 derajat celcius, terlalu panas untuk makhluk hidup.

“Sepengetahuan saya, temperatur terpanas yang dapat dihuni oleh mahluk hidup di bumi hanya 120 derajat celcius. Temperatur itu jauh lebih dingin daripada planet ini (GJ1132b),” kata Dr John Southworth, peneliti dari Keele University yang memimpin studi tersebut seperti dikutip BBC, Jumat (5/4/2017).

Walaupun para peneliti tidak yakin bahwa ada mahluk hidup yang mampu bertahan di planet ini, tetapi penemuan atmosfer pada GJ1132b mendorong mereka untuk berburu mahluk hidup di luar angkasa.

Wednesday, November 10, 2021

Ditemukan sebuah fosil di Mars


Ditemukan sebuah fosil di Sebuah teori baru mengenai bagaimana lautan terbentuk di planet Mars jaman dulu juga menunjukkan titik-titik terbaik untuk perburuan fosil di Planet Merah ke depannya.
Berdasarkan struktur geologi dataran utara di Mars, sebuah penelitian menunjukkan bahwa air terbentuk sebagaimana air tanah secara perlahan meresap ke atas melalui retakan di lapisan atas. Proses ini akan membuat danau dan laut secara cepat, hanya dalam hitungan tahun saja, tapi juga bisa menyokong eksistensi air selama seribu tahun. Demikian dikutip dari National Geographic, Senin (8/11/2010).

Bagaimanapun, meski planet Mars dulunya cukup berair, akan tetapi planet tersebut tidak memiliki atmosfer yang cukup tebal. Banyak para ilmuwan yang berpikir bahwa jika (memang) ada kehidupan yang berevolusi di Mars, tempat terbaik untuk mencarinya adalah tempat dimana cairan air terlindungi dari perubahan suhu yang ekstrim, juga dari radiasi ultraviolet matahari yang merusak.

"Untuk menemukan kehidupan, kita harus melihat ke wilayah planet dimana keberadaan air cukup stabil. Untuk kasus planet Mars, airnya ada di bawah permukaan tanah," ujar J. Alexis Palmero Rodriguez dari Planetary Science Institute di Arizona.

Hal ini menimbulkan sebuah dilema bagi para pemburu fosil, karena untuk menggali, demi menemukan jejak kehidupan di planet Mars membutuhkan waktu dan peralatan yang tidak tersedia di kendaraan penjelajah robotik yang dikirimkan untuk mengeksplor permukaan planet tersebut.

Tapi menurut penelitian terakhir, air yang merembes di wilayah utara Mars, mungkin adalah air yang sangat purba, yang terperangkap di bawah permukaan tanah untuk waktu yang sangat lama, sampai milyaran tahun. "Lingkungan tersebut adalah tempat yang stabil bagi organisme untuk tumbuh dan berevolusi," kata Rodriguez.

Itu berarti bahwa beberapa batuan sedimen di tempat bekas lautan purba di Mars, menyimpan fosil kehidupan Mars yang mungkin bisa diakses melalui kendaraan penjelajah robotik.
sMars