About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Kapal Laut. Show all posts
Showing posts with label Kapal Laut. Show all posts

Saturday, July 2, 2022

Arkeolog Temukan Kemungkinan Manusia Purba Melakukan Hibernasi


Berbagai mamalia tertidur panjang selama musim dingin, atau biasa disebut berhibernasi. Sayangnya, manusia tidak memiliki kemampuan itu, meski jika Anda ingin sekali melakukannya.

Tetapi penelitian terbaru diterbitkan bulan ini, menguak kemampuan tersebut ada pada manusia purba. Meski hasilnya masih terlalu dini dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, penemuan tersebut menyatakan bahwa manusia purba meski memiliki kemampuan, tapi tak sebesar kemampuan mamalia lainnya seperti beruang.

Hibernasi sangat berisiko bagi individu dari spesies tersebut, karena dapat terserang beberapa penyakit, yang umumnya menyerang ginjal setelah hibernasi bila tak memiliki cadangan yang cukup sebelumnya.

Fosil berusia 430.000 tahun yang ditemukan di Gua Sima de Los Huesos, Atapuerca, Spanyol utara tersebut menjadi bukti bahwa salah satu spesies nenek moyang kita, Homo heidelbergensis melakukannya setelah ditinjau oleh arkeolog.

“Bukti penyembuhan tahunan yang disebabkan oleh hibernasi, tidak dapat ditoleransi pada individu remaja (yang menunjukkan) adanya pubertas yang berselang tahunan dalam populasi ini,” tulis Antonis Bartsiokas dari Democritus University of Thrace, Yunani, dan Juan-Luis Arsuaga dari Universidad Complutense de Madrid, dalam temuan mereka yang dipublikasikan di ScienceDirect.

“Hipotesis hibernasi yang konsisten (itu), dengan bukti genetik, dan fakta bahwa hominim Sima de Los Huesos hidup selama zaman es,” ungkap mereka.


Menurut pengamatan mereka, homonim purba ini belum siap berhibernasi, karena pada kerangka mereka memiliki kecatatan seperti, kekurangan vitamin D, tak memiliki cadangan lemak yang cukup, dan pada remajanya memiliki pertumbuhan musiman yang tak lazim.

"Gagasan bahwa manusia dapat menjalani keadaan hipometabolik yang dianalogikan dengan hibernasi mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi fakta bahwa hibernasi digunakan oleh mamalia dan primata yang sangat primitif, menunjukkan bahwa dasar genetik dan fisiologi untuk hipometabolisme semacam itu dapat dipertahankan di banyak spesies mamalia. termasuk manusia, " terang Bartsiokas dan Arsuaga.

Ditambah pula keberadaan mereka yang ditemukan di Gua Sima yang menjadi daya tarik untuk dicocokkan dengan pola hibernasi mamalia pada umumnya. Strategi ini bisa menjadi salah satu solusi bagi manusia purba tersebut untuk bertahan hidup berbulan-bulan, karena kondisi yang sangat dingin di luar.

Bartsiokas dan Arsuaga dalam laporannya yang berjudul Hibernation in Hominins from Atapuerca, Spain Half a Million Years Ago, juga memeriksa anggapan tandingan. Jika manusia Sima melakukan hibernasi, mengapa orang Inuit dan Sámi modern yang tinggal di kondisi dingin yang ekstrim tak melakukannya?

Mereka beranggapan bahwa makanan berlemak seperti rusa dan ikan, menyediakan makanan bagi orang Inuit dan Sámi, sehingga mereka tak perlu lagi berhibernasi. Sedangkan manusia Gua Sima tak punya persediaan makanan sebanyak mereka.

“Keringnya Iberia pada saat itu tidak dapat menyediakan cukup makanan kaya lemak bagi orang-orang Sima selama musim dingin yang keras, membuat mereka menggunakan hibernasi gua,” jelas mereka.

Melansir The Guardian, antropolog forensik Patrick Randolph-Quinney dari Northumbria Unversity, Newcastle berpendapat mengenai temuan tersebut, “Ada penjelasan lain untuk berbagai variasi yang nampak pada tulang yang ditemukan di Sima, dan ini harus dikaji sepenuhnya sebelum kita dapat mengambil kesimpulan yang nyata. [Penelitian] Itu belum selesai, saya yakin.”

"Namun demikian, ide ini sangat menarik yang dapat diuji dengan memeriksa genom manusia Sima, Neanderthal, dan Denisovan untuk mengetahui tanda-tanda perubahan genetik yang terkait dengan fisiologi hibernasi," tambahnya.

Friday, October 22, 2021

Peristiwa Misterius Melibatkan Kapal Laut

 Laut merupakan komponen terbesar yang menyusun planet Bumi ini. Pasalnya lebih dari dua per tiga planet yang kita huni ini terdiri dari lautan. 

Namun di sisi lain, laut juga merupakan salah satu tempat yang paling banyak menyimpan misteri. Pasalnya masih banyak hal-hal seputar lautan yang masih belum diketahui oleh manusia.


Ketidakmampuan manusia untuk menyeberangi lautan tanpa alat bantu menjadi salah satu penyebab utamanya. Sebagai akibatnya, kendati laut bukanlah hal yang asing bagi manusia, tidak semua bagian dari lautan berhasil dijamah oleh manusia. 

Dan di laut pulalah, terjadi peristiwa-peristiwa aneh yang melibatkan kapal beserta penumpangnya. Berikut adalah contoh-contoh dari peristiwa yang dimaksud:


Kapal Layar Tak Berpenghuni 

Mary Celeste

Bulan Desember 1872, sebuah kapal layar nampak di lepas pantai Kepulauan Azores, Portugal. Saat kapal yang diketahui bernama Mary Celeste tersebut diperiksa, tidak ada satu pun orang di dalamnya. Perahu sekoci yang seharusnya ada di kapal juga tidak ditemukan. 


Namun yang paling membingungkan adalah saat bagian dalam kapal diperiksa, stok perbekalan dan minuman kapal nampak tidak tersentuh. Ruang kapten kapal juga nampak dalam kondisi baik-baik saja. Jika penyebab mereka menghilang adalah akibat serangan kapal lain, maka tentunya bagian dalam kapal bakal terlihat jauh lebih berantakan dan perbekalannya sudah berkurang.


Mary Celeste sendiri diketahui berangkat dari New York sebulan sebelumnya dan sedang dalam perjalanan menuju Genoa, Italia. Beragam teori pun diapungkan terkait penyebab hilangnya para awak. Mulai dari serangan perompak, pembangkangan para awak, serangan hewan laut raksasa, hingga adanya upaya dari para awak kapal untuk mengklaim ganti rugi asuransi. Namun tidak ada satu pun dari teori tersebut yang dianggap memuaskan.


Kapal Dayung di Pulau Es 

perahu di pulau Bouvet

Pulau Bouvet adalah salah satu pulau paling terpencil di dunia. Letaknya berada di antara Afrika Selatan dan Benua Antarktika, Kutub Selatan. Secara politis, pulau ini dimiliki oleh Norwegia. Namun pulau seluas 19 mil persegi ini sendiri tidak berpenghuni karena seluruh permukaannya ditutupi es.


Hal itu pulalah yang ada di benak tim peneliti Afrika Selatan saat mereka terbang menuju pulau tersebut pada tahun 1960-an. Mereka berniat mensurvei pulau tersebut karena berencana mendirikan pangkalan laut di atasnya. Namun apa yang mereka temukan di pulau itu pada tahun 1964 sungguh mencengangkan.


Di danau air asin yang terdapat pada pulau, mereka menemukan sebuah perahu dayung kecil. Yang membingungkan mereka adalah tidak ada orang ataupun jejak yang ditemukan di sekitar perahu. Jika ada orang yang hendak menuju Pulau Bouvet, maka pendaratan biasanya akan dilakukan memakai helikopter karena pulau tersebut memiliki tepian yang curam.


Pemeriksaan lantas dilakukan pada perahu untuk mencari tahu asal usulnya, tanggal kemunculannya, hingga nasib awaknya. Namun hasilnya nihil. Hingga sekarang, teka-teki mengenai perahu Pulau Bouvet pun menjadi misteri yang belum bisa dipecahkan.


Terdamparnya Kapal Sarah Joe 

Terdamparnya Kapal Sarah Joe

Pada tahun 1979, sebanyak lima orang awak kapal menaiki kapal nelayan yang bernama Sarah Joe. Tidak lama setelah kapal tersebut mulai berlayar ke laut lepas, badai besar datang dan menghantam lokasi berlayarnya kapal. 

Setelah badai berlalu, Sarah Joe tidak bisa lagi dihubungi dan dinyatakan hilang. Tim pencari pun dikerahkan untuk menemukan kapal atau awaknya. Namun upaya mereka gagal membuahkan hasil.

Sepuluh tahun berlalu, saat orang-orang mulai melupakan hilangnya kapal Sarah Joe, seorang pakar biologi kelautan yang dulunya sempat ikut serta dalam upaya pencarian Sarah Joe melakukan penelitian di pulau karang Kepulauan Marshall. Di sanalah ia menemukan sesuatu yang ia harapkan bisa ditemukan jauh lebih awal. Kapal Sarah Joe nampak terdampat di salah satu pulau.

Di pulau yang sama, ia juga menemukan kuburan kecil berisi rahang manusia. Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau rahang tersebut memang berasal dari salah seorang awak Sarah Joe. Namun misteri terkait Sarah Joe masih belum selesai. Bagaimana nasib empat awak kapal Sarah Joe yang lain? Lalu siapakah yang menguburkan awak kapal di pulau tadi?