About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label El Dorado. Show all posts
Showing posts with label El Dorado. Show all posts

Thursday, September 15, 2022

Spesies Baru Dinosaurus di Argentina Diberi Nama 'Penyebab Ketakutan'


Fosil dinosaurus yang ditemukan di daerah Patgonia di Argentina ternyata merupakan spesies baru. Spesies dinosaurus yang baru ditemukan itu kemungkinan memiliki tubuh sepanjang gajah dan dilengkapi dengan gigitan yang sangat kuat, gigi-gig yang sangat tajam, dan cakar besar di kakinya, kata para peneliti yang mempelajari fosil tersebut.

Di sebuah dareah di dataran Patagonia yang kering di Argentina, para ilmuwan menemukan fosil dinosaurus berusia 80 juta tahun itu. Fosil sisa-sisa bagian tubuh dinosaurus yang ditemukan tersebut mencakup juga sisa tengkorak dan beberapa bagian tubuh lainnya. Dinosaurus itu diperkirakan dapat mencapai panjang hingga 5 meter.

Para peneliti menamai dinosarus yang mirip T-Rex tersebut sebagai Llukalkan aliocranianus. "Llukalkan" berarti "penyebab ketakutan" dalam bahasa penduduk asli Mapuche di daerah tersebut, sedangkan "aliocranianus" adalah bahasa Latin untuk "tengkorak yang berbeda".

Llukalkan adalah salah satu dari hampir 20 spesies predator raksasa yang dikenal sebagai abelisaurid. Dengan kaki yang kuat dan lengan yang gemuk, abelisaurid menyerupai tyrannosaurus atau T-Rex.

Namun spesies yang baru ditemukan ini memiliki tengkorak yang sangat pendek dan dalam. Hewan yang memiliki bentuk tengkorak seperti ini sering kali memiliki jambul, gundukan, atau tanduk seperti beberapa reptil modern, misalnya kadal monster gila atau beberapa iguana.

Perbedaan lainnya, semasa hidupnya tyrannosaurus menguasai Belahan Bumi Utara. Adapun abelisaurid berkeliaran terutama di anak benua selatan kuno Gondwana, yang sekarang membentuk Afrika, India, Antartika, Australia, dan Amerika Selatan.

Bagian-bagian fosil dari spesies baru yang ditemukan ini mencakup rongga otak yang luar biasa utuh, yang mengungkapkan bahwa Llukalkan kemungkinan besar memiliki indra penciuman yang tajam. Dinosaurus itu juga memiliki rongga kecil berisi udara di dalam telinga tengahnya yang tidak terlihat pada abelisaurid lain yang ditemukan sejauh ini, yang menunjukkan bahwa Llukalkan kemungkinan memiliki indra pendengaran yang lebih kuat daripada kebanyakan abelisaurida lainnya, mirip dengan buaya zaman modern.

Indra tajam ini "akan memberikan kemampuan hebat sebagai predator bagi spesies ini," kata Federico Gianechini, paleontolog di National University of San Luis di Argentina yang penulis utama dalam studi fosil ini, seperti dikutip dari Inside Science.

Tulang-tulang Llukalkan terkubur lumpur dari sungai yang meluap, kemungkinan besar karena banjir musiman. Dinosaurus lain yang hidup di daerah yang sama, termasuk titanosaurus pemakan tumbuhan berleher panjang dan berekor panjang yang mencapai panjang sekitar 10 meter, "pasti merupakan mangsa Llukalkan," kata Gianechini.

Sisa-sisa fosil Llukalkan ditemukan pada 2015 secara tidak sengaja saat para arkeolog melakukan penggalian di Bajo de la Carpa Formation di Argentina. Situs penggalian itu berada di tempat yang kini dikenal sebagai La Invernada, dekat kota Rincón de los Sauces, di Provinsi Neuquén, kata Gianechini seperti dikutip dari CNN.

Tujuan utama penggalian saat itu adalah untuk menemukan dinosaurus sauropoda (pemakan tumbuhan besar dan lamban) yang mereka temukan setahun sebelumnya, tetapi mereka melihat tulang dinosaurus lain menyembul di permukaan tanah beberapa hari sebelum mereka menyelesaikan penggalian. Sisa-sisa fosil Llukalkan aliocranianus yang ditemukan itulah yang kemudian para ilmuwan teliti dan identifikasi sebagai spesies baru yang telah mereka rinci dalam laporan studi yang terbit secara online di Journal of Vertebrate Paleontology pada 30 Maret 2021.

Menurut para peneliti, Llukalkan hidup pada waktu dan tempat yang kira-kira sama dengan abelisaurid yang lebih besar, yakni Viavenator exxoni. Ketika para abelisaurid ini masih hidup, kemungkinan besar mereka adalah predator teratas di daerah ini, dan mungkin di semua wilayah Patagonia, catat para ilmuwan.

Penemuan-penemuan anatomis baru yang terlihat pada foisil Llukalkan menunjukkan bahwa abelisaurid berkembang biak tidak lama sebelum akhir zaman dinosaurus sekitar 67 juta tahun lalu, mencoba jalur evolusi baru dan dengan cepat melakukan diversifikasi sebelum mereka punah, kata para peneliti.

"Dinosaurus ini masih mencoba jalur evolusi baru dan dengan cepat melakukan diversifikasi sebelum mereka punah sepenuhnya," kata Ariel Mendez, ahli paleontologi dari Institute of Geology and Palaeontology di Argentina, yang juga menjadi peneliti dalam studi ini.

Saturday, September 18, 2021

Legenda El Dorado dan harta karun danau Guatavita

 Sebuah kota yang terbuat dari emas dengan rajanya yang juga bersalutkan serbuk emas, legenda El Dorado telah menjadi salah satu legenda yang paling menarik untuk diceritakan. Banyak orang mengatakan kalau legenda ini hanyalah sebuah imajinasi, namun sebenarnya sebagian rahasia El Dorado boleh dibilang telah terungkap dan danau Guatavita adalah salah satunya.


Ini kisah singkat mengenai El Dorado.

Ketika Christopher Colombus menemukan benua Amerika, kisah mengenai dunia baru yang kaya akan emas sampai ke Eropa. Tidak lama kemudian, para penakluk Spanyol mulai masuk ke peradaban Amerika Tengah dan Selatan termasuk Aztec dan Inca.

Francisco Pizzaro (1475–1541), yang berhasil menaklukkan peradaban Inca yang kaya raya pada tahun 1530an percaya kalau di tempat lain di benua itu masih tersimpan kekayaan tersembunyi yang bernilai besar.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan konfirmasi mengenai hal ini.

Tidak lama setelah penaklukkan itu, seorang pembawa pesan dari suku tidak dikenal muncul di Peru, tempat kerajaan Inca, dengan sebuah pesan untuk Raja Inca. pembawa pesan ini tidak tahu kalau kerajaan Inca telah ditaklukkan oleh Pizarro.

Setelah diinterogasi oleh para prajurit Spanyol, pembawa pesan itu berkata kalau ia adalah anggota salah satu suku di wilayah Bogota. Menariknya, pembawa pesan ini juga menceritakan mengenai sebuah kerajaan lain di wilayah yang sama dimana Rajanya berselimutkan debu emas dan berenang di danau emas.

Legenda yang mereka dengar inilah yang kemudian disebut dengan El Dorado yang berarti "Manusia bersepuh Emas".

Tertarik untuk mendapatkan emas yang lebih banyak, para penakluk dari Spanyol ini kemudian mengirimkan paling tidak lima ekspedisi besar untuk mencari El Dorado.

Salah satu ekspedisi yang dikirim adalah ekspedisi yang dipimpin oleh Gonzalo Jimenez de Quesada yang berangkat pada tahun 1536.

Bersama 500 prajuritnya, Ia masuk ke belantara lebat yang sekarang termasuk wilayah Columbia. Setelah menjelajah cukup lama dan menjumpai berbagai rintangan, Quesada dan timnya menemukan suku Chibca yang kaya raya. Namun, mereka tidak menjumpai raja emas dan danau emas yang dicari.

Tetapi, suku tersebut menceritakan kepada Quesada mengenai sebuah danau misterius di kawah gunung di dataran tinggi Andes di Bogota yang bernama Guatavita. Menurut mereka, setiap tahun, di danau itu, sebuah upacara misterius dilakukan oleh suku setempat yang bernama Muisca sebagai persembahan terhadap dewa mereka.

Sang raja, yang juga disebut Zipa, akan dibaluri dengan lumpur yang kemudian dilapisi lagi dengan debu emas. Setelah itu, ia bersama para tetua suku yang lain akan mengayuh rakit yang berisi emas perak dan perhiasan lainnya hingga ke tengah danau.

Setelah sampai di tengah, mereka akan membuang emas perak itu ke dalam danau. Lalu sang raja akan terjun ke danau untuk membersihkan tubuhnya dari debu emas dan lumpur yang menyelimuti tubuhnya.

Mendengar kisah luar biasa ini, Quesada memutuskan untuk mencari El Dorado.

Ia tidak bisa menemukan suku Muisca atau kota emas yang dimaksud, namun ia berhasil menemukan danau Guatavita.

Ketika penemuan ini diumumkan ke Spanyol, sebuah usaha dilakukan untuk mengeruk danau ini pada tahun 1545. Usaha ini dipimpin oleh Hernan Perez de Quesada, saudara laki-laki dari Jimenez de Quesada.

Quesada menggunakan para pekerja untuk mengeringkan danau dengan ember-ember raksasa. Setelah tiga bulan, level permukaan air danau turun sekitar 3 meter dan Quesada berhasil mendapatkan 18 kilogram emas dari dalamnya.

Pada tahun 1580an, seorang pedagang dari Bogota bernama Antonio de Sepulvada mengerahkan 8.000 penduduk setempat dalam usahanya untuk mengeringkan danau itu dengan cara membuat pintu-pintu air di sisi danau. Ia berhasil menurunkan permukaan danau hingga 20 meter.

Dengan cara ini ia berhasil menemukan emas dalam jumlah yang cukup besar. Namun kemudian sisi danau runtuh dan menewaskan banyak pekerja. Proyek ini kemudian dibatalkan.

Hari ini, kita masih bisa melihat sisi danau yang terpotong, sisa-sisa usaha yang dilakukan oleh Sepulvada.

Pada tahun-tahun berikutnya, ambisi bangsa Eropa untuk menemukan El Dorado muncul kembali ketika seorang pria misterius bernama Juan Martinez menceritakan mengenai sebuah kota emas bernama Manoa. Kota ini bisa saja berhubungan dengan legenda El Dorado, namun bisa juga tidak. Yang pasti, bangsa Eropa semakin percaya kalau Benua Amerika menyimpan kekayaan dalam jumlah besar.

Martinez bercerita kalau ia adalah seorang pengawas amunisi di sebuah kapal Spanyol yang menjelajahi sungai Caroni yang terhubung dengan Sungai Orinoco. Kapal mereka menjelajahi sungai hingga jauh ke dalam hutan belantara. Namun, gudang mesiu yang diawasinya meledak sehingga penjelajahan ini pun dibatalkan. Sebagai hukuman bagi Martinez, ia ditinggalkan di sungai tersebut dengan sebuah sampan.

Lalu, Martinez mengaku berjumpa dengan sekelompok anggota suku indian yang bersahabat. Mereka menutup mata Martinez dengan kain dan membawanya ke kerajaan mereka yang disebut Manoa. Martinez mengatakan kalau Istana raja Manoa yang dikunjunginya itu terbuat dari emas.

Pada tahun 1586, kisah ini sampai ke telinga Sir Walter Raleigh, seorang penjelajah ternama yang pernah mendirikan koloni pulau Roanoke yang legendaris.

Pada tahun 1595, Raleigh bersama rekan-rekannya berlayar menjelajahi sungai Orinoco di Amerika Selatan demi untuk menemukan Manoa. Namun, ekspedisi itu tidak menghasilkan apa-apa. Menariknya, mereka menemukan Jangkar Kapal Spanyol Martinez yang tersisa ketika terjadi ledakan di kapal. Jadi, paling tidak ada bagian dari kisah Martinez yang dapat dipercaya.

Walaupun tidak menemukan kerajaan emas Manoa, Raleigh membawa banyak sampel flora dan fauna yang eksotik serta sebuah batu indah yang menandakan adanya kekayaan alam luar biasa di tempat itu. Raleigh bahkan menulis sebuah buku mengenai penjelajahannya ini.

Raleigh sendiri percaya kalau kota Manoa sebenarnya terletak di wilayah danau Parime di belakang pegunungan wilayah Guyana. Ia bahkan menyediakan sebuah peta yang sangat akurat mengenai letak wialayah ini.

Pada tahun 1618, Raleigh kembali melakukan eskpedisi kedua untuk menemuan kota ini dengan biaya dari kerajaan Inggris. Namun ekspedisi ini juga gagal membawa hasil.

Kisah El Dorado tidak berhenti pada abad pertengahan saja. Para penjelajah abad-abad berikutnya masih terus mencoba menemukan kota emas tersebut. Walaupun begitu, perhatian terhadap danau Guatavita tidak pernah surut.

Pada tahun 1911, sebuah perusahaan pembuat emas kembali mencoba peruntungannya di danau Guatavita. Mereka berhasil membuang sebagian besar air danau itu dengan membuat terowongan dan pintu air. Namun, lumpur danau itu dengan segera mengeras dan hujan segera memenuhi danau itu kembali. Mereka hanya menemukan beberapa objek emas yang kemudian dilelang untuk membayar para investornya.

Pada tahun-tahun berikutnya, minat mencari El Dorado sepertinya mulai berkurang. Kebanyakan orang mulai beranggapan kalau El Dorado mungkin hanya sebuah legenda. Bahkan ada satu pendapat yang mengatakan kalau suku Indian yang menceritakan soal El Dorado mungkin telah berbohong untuk mengalihkan perhatian para penakluk dari desa mereka.

Namun, sebuah petunjuk besar muncul pada tahun 1969.

Dua orang pekerja yang sedang menggali di sebuah gua kecil di dekat Bogota tanpa sengaja menemukan sebuah patung emas. Patung itu berbentuk rakit dengan figur kepala suku dan delapan pria yang sedang mengayuh di atasnya.

Bentuk patung ini segera mengingatkan para peneliti dengan ritual El Dorado yang telah diceritakan selama ratusan tahun. Jadi, legenda itu ternyata benar.

El Dorado memang ada.

Namun, peneliti dari Los Andes University bernama Carl Langebaek punya pendapat sendiri. Menurutnya, El Dorado mungkin hanyalah sebuah produk dari imajinasi para penjelajah. Katanya:
"El Dorado tidak akan pernah ditemukan. Orang-orang akan selalu mencari emas di tempat yang paling mustahil sekalipun. Tidak peduli bahkan jika mereka menemukan satu istana emas sekalipun, selalu ada alasan untuk mencari El Dorado yang lain."
Hari ini, Danau Guatavita terlihat sepi. Bahkan Turis pun jarang keliatan. Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Columbia memutuskan untuk menutup wilayah itu karena orang-orang sering membuang sampah ke dalamnya atau mencuci mobil di sana.

Saat ini hanya ada satu petugas pengawas yang ditempatkan untuk mengawasi danau itu. Jamie Beltran, sang pengawas percaya kalau danau itu meyimpan rahasia El Dorado.

"Saya yakin, emas dari El Dorado ada di dalam sana." Katanya sambil memandang air danau yang tenang.

Apa yang dipercayai oleh Beltran juga dipercaya oleh banyak orang lainnya. Tetapi, mungkinkah suatu hari danau Guatavita akan membuka rahasianya?