About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, October 24, 2022

Astronom Pastikan Objek Antarbintang Oumuamua Bukan Pesawat Alien

Pada Oktober 2017, para astronom menemukan benda aneh di Tata Surya kita. Lintasan dan kecepatannya menunjukkan bahwa ia berasal dari sistem bintang yang berbeda.

Oleh para peneliti dari University of Hawaii’s Institute for Astronomy, objek misterius tersebut diberi nama ‘Oumuamua’, yang berarti ‘pengintai’ dalam bahasa Hawaii.

Selama beberapa minggu, terlihat bahwa ada kekhasan lain dari Oumuamua. Ini membuat para ilmuwan berspekulasi bahwa ia menyimpan petunjuk tentang makhluk luar angkasa.

Namun, bagaimana pun juga, setelah mencari beberapa tanda yang menunjukkan bukti kehidupan ekstraterestrial, mereka kembali dengan tangan kosong.

Dalam studi yang dipublikasikan pada Nature Astronomy, tim peneliti dari The International Space Science Institute, menyatakan bahwa Oumuamua sebagai kapal alien merupakan “gagasan yang menyenangkan”. Namun, dari apa yang ditemukan hingga saat ini, semuanya dapat dijelaskan oleh fenomena alam.

Mereka mengatakan, hanya karena Oumuamua tidak bertindak seperti objek lain di Tata Surya, bukan berarti ada alien berkulit hijau di baliknya.

“Kami mengumpulkan tim ahli yang kuat di beberapa area berbeda dalam mempelajari Oumuamua. Penelitian silang ini menghasilkan analisis komprehensif pertama dan ringkasan besar terbaik tentang objek tersebut,” kata Matthew Knight, salah satu peneliti dari University of Maryland yang terlibat dalam studi.

Di antara banyak keanehan Oumuamua, bentuknya seperti cerutu memanjang yang berputar di sekitar poros terpanjangnya. Ia juga melintas lebih cepat di Tata Surya. Untuk ukuran komet, Oumuamua cukup mencolok.

“Kami tidak pernah melihat sesuatu yang seperti Oumuamua dalam tata surya. Ia masih menjadi misteri,” kata Knight.

Objek antarbintang ini terlalu samar untuk diteliti saat ini. Jadi, pemahaman kita tentang Oumuamua hanya akan meluas jika kita mempelajarinya lebih banyak.

“Dalam sepuluh tahun mendatang, kita mungkin akan melihat lebih banyak objek seperti Oumuamua. Large Sypnotic Survey Telescope (LSST) akan melampaui penelitian kami saat ini terkait dengan kemampuannya menemukan pengunjung antarbintang,” papar Knight.

“Kita akan melihat objek baru setiap tahun. Pada saat itulah kita akan mengetahui apakah Oumuamua benar-benar objek aneh atau biasa saja. Jika kita menemukan 10-20 objek yang serupa dengannya, tapi Oumuamua masih tampak tidak biasa, kita harus meneliti kembali studinya,” pungkasnya.

Sunday, October 23, 2022

Spionase, Peta Rahasia, dan Pencarian Kekuasaan di Eropa Abad Ke-16


Pengetahuan adalah kekuatan. Tidak ada pengetahuan yang lebih didambakan oleh bangsa-bangsa Eropa pada abad 16 selain informasi yang terekam di peta-peta bahari. Pesisir, pelabuhan, sungai, sumber daya: Detil-detil mengenai fitur-fitur yang dapat memberikan keuntungan untuk merebut wilayah baru.

“Cantino Planisphere,” yang diselesaikan pada 1502 adalah grafik kedua yang diketahui mengenai Dunia Baru. Grafik itu meliputi informasi mengenai jalur perdagangan portugis dan penemuan yang sedang berlangsung di pesisir Brazil. Pada saat pengetahuan mengenai teritori baru memberikan bangsa-bangsa keunggulan dalam strategi dan perdagangan, peta-peta semacam ini dilindungi sebagai bagian dari rahasia negara. Mata-mata akan melakukan apa saja untuk mendapatkan peta-peta tersebut.

Terdiri atas enam bagian perkamen yang terlampir di kanvas besar sekitar dua meter persegi, “Cantino Planisphere” dibuat di Lisbon. Istilah “planisphere” sendiri berarti bidang datar yang biasanya digunakan untuk menjelaskan grafik bintang-bintang.

Peta itu dinamakan atas pencapaian Alberto Cantino, yang bekerja di Portugal sebagai agen terselubung pada Ercole I d’Este, seorang Adipati dari Ferrara, negara-kota yang kuat di sebelah utara Italia.

Catatan-catatan sejarah memiliki pandangan berbeda dalam bagaimana Cantino mendapatkan peta tersebut. Menurut salah satu catatan, Ia menyewa seorang pembuat peta yang memiliki koneksi untuk menyelinap ke dalam gudang peta bahari Portugis untuk mengompilasikan informasi yang dapat diperoleh dalam pembuatan peta ini.

Sejarawan lain berpendapat, peta ini sudah ada sebelumnya, dan Cantino menggunakan kekayaan Ferrara untuk membelinya. Bagaimanapun cara Cantino mendapatkan petanya, semua catatan menunjukkan bahwa Cantino membayar mahal untuk itu. 12 emas ducats, jumlah yang besar pada saat itu.

Menyatukan semua

Para pembuat peta zaman ini dihadapkan dengan tugas kolosan: untuk menyatukan sumber ekstensif lisan dan tulisan ke dalam sebuah gambar. Dibuat satu atau dua tahun sebelum peta Cantino, penggambaran awal Dunia Baru dibuat oleh Juan de la Cosa, seorang kolega Christoper Colombus. Kedua peta mengungkap tantangan besar dari Dunia Baru kepada para pembuat peta, yang masih mengandalkan tradisi lama kartografis.


Navigasi trans-atlantik, tentunya, menyisakan garis pesisir belakangan, dan peta Cantino memberikan kesaksian penting terhadap kartografi: sebuah transisi menuju astronavigasi. Peta yang pertama meliputi garis ekuator, tropis, lingkaran artik, “Cantino Planisphere” juga merupakan peta pertama yang menunjukkan “garis Tordesillas”, melintang dari utara ke selatan, yang menentukan perbatasan antara teritori Spanyol dengan Portugis. Portugal mengklaim daratan di sebelah timur garis dan Spanyol di sebelah barat.

Kekayaan informasi

“Cantino Planisphere” merefleksikan usaha-usaha dalam membuat peta dengan kepentingan politik, budaya, dan informasi ekonomi. Ilustrasi mengenai alam liar setempat juga muncul di peta tersebut: Beo Kelabu Senegal di Afrika barat sampai Makau penuh warna di Amerika Selatan. Landmark kolonial juga tertera di Afrika Barat, seperti kastil Sao Jorge da Mina, yang dibangun pada era 1480-an oleh John II dari Portugal, yang kemudian berkembang penjadi portal perdagangan yang penting di Afrika.

Perjalanan para penjelajah Eropa pada abad 15 hingga 16 tergambar di peta Cantino, termasuk percobaan pertama Vasco da Gama dalam pencarian rute perairan menuju India (1479-1499) dan “penemuan” pesisir Brazil oleh Pedro Alvares Cabral (walaupun beberapa sejarawan berpendapat bahwa Spaniard Vicente Yanez Pinzon tiba di sana lebih dahulu). Informasi yang dikumpulkan oleh perjalanan Colombus ke India Barat juga terlihat di peta ini, termasuk pesisir pantai yang diketahui sebagai Venezuela saat ini.

itu adalah peta yang menamakan Antilles, kepulauan yang meliputi Kuba, Puerto Rico, Jamaika, Haiti, dana Republik Dominika. Semenanjung utara Kuba diperkirakan oleh beberapa sejarawan sebagai Florida meskipun Juan Ponce de Leon diakui sebagai penemunya, 11 tahun setelah peta planisphere dibuat.

Sesuai untuk menjadi dokumen kronik dari pelayaran, peta planisphere akan menjadi serial perjalanan berbahaya setelah Cantino mendapatkannya. Pada 1592, peta itu dibawa dari Ferrara ke kota Modena, Italia. Sampai saat ini, meskipun kontennya telah kadaluarsa, peta tersebut masih dianggap sangat berharga.

Pada pertengahan abad 19, peta planisphere dicuri, dan ditemukan beberapa tahun kemudian menggantung di dinding sebuah toko daging di kota tadi. Saat ini peta itu dikonservasikan dalam koleksi Galleria Estense di Modena, sebagai sebuah peringatan upaya-upaya pertama bangsa Eropa untuk merekam dunia yang ingin mereka ketahui.

Saturday, October 22, 2022

Stalagmit di Gua Iran Ungkap Kejatuhan Kekaisaran Mesopotamia Pertama


Sekitar 4.200 tahun lalu, kekaisaran pertama Mesopotamia, Akkadian, runtuh. Mengakibatkan transformasi besar-besaran di Mesir dan Lembah Indus, dua peradaban yang cukup baik di masa itu.

Peradaban bangkit dan runtuh karena berbagai alasan. Namun, penyebab jatuhnya Kekaisaran Akkadian masih kontroversial. Dilihat dari waktunya, beberapa sejarawan memperkirakan penyebabnya adalah perubahan iklim.

Di tengah-tengah era Holosen, sebenarnya suhu termasuk stabil dan tidak ada peningkatan aktivitas gunung berapi atau perubahan pada sinar matahari.

Namun, ketika sekelompok peneliti yang dipimpin Dr Stacy Caroline dari University Oxford, mempelajari stalagmit di gua Gol-e-Zard, Iran, yang terbentuk 5.200 hingga 3.700 tahun lalu, mereka melihat sesuatu.

Menurut laporan yang dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences, terdapat lonjakan jumlah magnesium atau kalsium pada 4.510 hingga 4.260 tahun lalu. Ini menunjukkan pertumbuhan yang lambat dan perubahan pada isotop oksigen bebatuan di sana. Perubahan tersebut berlangsung 110 hingga 290 tahun, sebelum stalagmit kembali ke level sebelumnya.

Industri pertambangan kuno biasanya meninggalkan jejaknya di planet ini, tetapi peneliti belum mengetahui mekanisme apa yang digunakan bangsa Akkadia sehingga bisa memberikan peninggalan pada gua seperti yang terlihat saat ini.

Perubahan komposisi stalagmit tampaknya merupakan hasil dari peningkatan debu yang jatuh di pegunungan–konsekuensi dari kondisi yang lebih kering ke arah barat.

Di masa kini, tahun-tahun terkering di gurun Suriah dan Irak juga dikaitkan dengan peningkatan endapan debu di Tehran, 50 kilometer dari gua Gol-e-Zard.

Pertumbuhan stalagmit yang lambat juga menjadi tanda wilayah lokal yang lebih kering.

Menurut para peneliti, kekeringan datang secara tiba-tiba. Alasan inilah yang kemudian mendorong penduduk Mesopotamia untuk meninggalkan rumah mereka dan pindah ke wilayah yang lebih baik.

Friday, October 21, 2022

Benarkah Orang Romawi Mencuri Dewa-dewa dari Bangsa Yunani Kuno?


Bangsa Romawi sering dituduh mencuri dewa-dewa mereka dari bangsa Yunani. Meski dewa-dewa tertentu seperti Jupiter, Juno, Mars dan Venus mirip dengan gaya Yunani, mereka sama sekali berbeda dengan dewa-dewi Yunani.

Dewa-dewa Romawi — yang tidak jelas maupun yang terkenal — sebenarnya adalah dewa-dewa suku Italik kuno. Atribut dan sifat dewa-dewi Romawi yang unik mencerminkan cara Romawi kuno dalam menafsirkan dunia yang tak terlihat.

Kepercayaan dan praktik spiritual Romawi.

Bangsa Romawi tidak menyebut kepercayaan dan praktik spiritual mereka sebagai agama. Religion atau agama berasal dari bahasa Latin “religo”. Secara harfiah, religo diartikan sebagai untuk mengikat atau mengikat.

Bukti tentang kepercayaan dan praktik spiritual ini sangat jarang dan hanya berupa catatan penulis sejarah yang hidup ratusan tahun kemudian.

Namun dari catatan itu disimpulkan jika orang Romawi tidak menganggap diri mereka terikat untuk melayani atau menyembah satu dewa. Hubungan antara orang Romawi dan dewanya dapat dipandang sebagai quid pro quo atau beri dan ambil.

Animisme dalam kebudayaan Romawi kuno

Orang Romawi menganut paham animisme atau manifestasi kekuatan ilahi melalui alam. Setiap tempat memiliki dewa pelindungnya. Misalnya dewa pelindung sungai dan hutan. Namun, banyak dari roh tanah dan air ini hilang. “Pasalnya, orang Romawi terbiasa untuk menyebut dewa-dewi itu. Namun dinamai atau tidak, mereka selalu dihormati oleh orang Romawi,” tulis Natasha Sheldon di laman History and Archaeology Online.

Bangsa Romawi percaya bahwa roh-roh alam ini memiliki kekuatan ilahi yang disebut numen. Sejak awal, jika seseorang membuka atau membangun di atas sebidang tanah, biasanya untuk menenangkan roh tempat itu dengan pengurbanan. Ini bukan tindakan penyembahan atau penyerahan. Sebaliknya, itu adalah sikap hormat dari tetangga yang baik.


Ovid, penyair Romawi yang terkenal, menggambarkan kelangsungan hidup salah satu ritual semacam itu. Sebuah festival didedikasikan untuk dewa batas, Terminus, yang diadakan setiap tahun pada pagi hari tanggal 23 Februari. Para petani lokal akan bertemu di titik batas tanah mereka, membawa “karangan bunga dan kue” untuk dipersembahkan kepada dewa.

Dewa-dewa Romawi tidak diberi atribut manusia

Selain leluhur yang sudah meninggal, orang Romawi tidak menganugerahi dewa-dewa dengan atribut manusia, kepribadian, atau bahkan jenis kelamin. Setidaknya, itulah yang terjadi pada awalnya.

Roh yang mendiami suatu tempat sangat samar-samar. Cato mencatat bagaimana mereka memulai ritual kepada dewa-dewi hutan dengan mengatakan “jadilah engkau dewa atau dewi.” Ini dilakukan karena tidak ada cara pasti untuk mengidentifikasi jenis kelamin roh tersebut.

Netralitas jenis kelamin ini berlaku sama untuk dewa-dewi yang memiliki nama. Pales, dewa gembala, ditampilkan secara bervariasi sebagai pria atau wanita. Bahkan Venus - yang kemudian dilihat sebagai lambang feminitas ilahi - dianggap tidak memiliki jenis kelamin. “Ini ditunjukkan oleh akhiran kata benda netral dari namanya,” tambah Sheldon.

Seringkali, nama menunjukkan fungsi-fungsi tambahan dari dewa. Janus - dewa ambang, awal dan akhir - mendapatkan namanya dari bahasa Latin ianua atau "gerbang".

Perubahan pada dewa Romawi terjadi setelah kontak dengan Yunani

Karena dewa-dewa mereka tidak memiliki atribut manusia, orang Romawi melihat tidak perlu membangun mitologi yang rumit yang berkaitan dengan dewa. Tetapi kontak dengan budaya Yunani mengubah hal ini. Ketika orang Romawi melihat keuntungan untuk menghubungkan dewa-dewi mereka dengan dewa-dewa dari budaya yang sudah mapan dan bergengsi.

Jadi, orang Romawi mulai memasukkan dewa-dewi tertentu ke dalam struktur mitologi Yunani. “Dewa penting pun diadaptasi dengan peran-peran para dewa Olympia,” ujar Sheldon. Jupiter, sebelumnya adalah dewa langit dan sumpah menjadi Zeus versi Romawi. Sementara Juno, sosok dewi ibu Romawi, menjadi Hera. Mars, yang sebelumnya adalah dewa pertanian dan perang, peran agrarisnya diremehkan ketika ia berperan sebagai Ares.


Banyak dewa yang sebelumnya kecil juga mendapatkan promosi saat mereka mengisi peran Olympian yang tersisa. Venus, sebelumnya merupakan dewa taman kecil, menjadi dewi cinta, dan Neptunus, yang merupakan salah satu dari banyak dewa air Romawi, menjadi dewa laut.

Tidak semua dewa Romawi bisa masuk dalam jajaran bergengsi itu. Namun signifikansi kultusnya masih dipertahankan dalam praktik spiritual Romawi. Dewi Vesta, penjaga Romawi, adalah salah satu contohnya, seperti dewa Janus. Dewa kuno lainnya, seperti Tellus, dewi bumi dan Ceres dewi tanaman, juga tetap ada.

Jadi apakah orang Romawi mencuri dewa-dewi dari Kebudayaan Yunani kuno? Dewa-dewi itu sudah ada sebelum kontak dengan bangsa Yunani. Bangsa Romawi kemudian mengadaptasi dan menambah peran-peran penting dari dewa Yunani.

Tuesday, October 18, 2022

6 Dewa Yunani Homoseksual, Zeus Jatuh Cinta dengan Remaja Pria


Toleransi sering disajikan sebagai tanda kemajuan peradaban. Namun, mitologi Yunani telah mengungkapkan penerimaan yang lebih besar terhadap homoseksualitas di Athena kuno daripada yang terjadi dalam agama-agama dunia saat ini. Dewa Yunani yang penyuka sesama jenis alias LGBT ini membuktikan budaya gay bukanlah penemuan modern. Lalu, siapa saja Dewa penyuka sesama jenis?

Zeus

Zeus terkenal memilih Ganymede, fana muda untuk melayani sebagai juru minumannya di Gunung Olympus. Hubungan tersebut memberikan dasar dari kebiasaan paiderastia, praktik pria Yunani pada saat itu mempertahankan hubungan erotis dengan remaja laki-laki di sampingnya. Ganymede merupakan remaja pria tampan yang berasal dari Troya.

Apollo

Apollo adalah Dewa matahari pernah menjalin kasih dengan berbagai kalangan mulai dari peri, manusia, manusia setengah dewa. Terkenal karena romannya yang tragis, banyak di antaranya dengan pria. Diantaranya yang terkenal ialah kisahnya dengan Hyacinthus dan Kyparissos.

Hyacinthus adalah pangeran Sparta dan pemuda yang sangat tampan. Namun dewa angin Zephyrus dan Boreas, dan Thamyris fana juga menginginkan Hyacinthus. Apollo dan Hyacinthus sering berburu dan berolahraga bersama. Pada suatu hari keduanya melakukan lempar cakram, namun cakram yang dilempar Apollo terkena kekasihnya. Cakram tersebut bisa mengenai Hyacinthus akibat Zefiros yang cemburu pada hubungan keduanya.

Kisah Kyparissos adalah kisah yang lebih pendek, tetapi tidak kalah tragis. Kyparissos diberi rusa peliharaan oleh Apollo. Namun saat berburu, Kyparissos tidak sengaja membunuhnya. Dia begitu diliputi oleh kesedihan sehingga dia memohon kepada Apollo untuk diubah menjadi pohon cemara.

Hermes

Hermes merupakan dewa pembawa pesan. Dia jatuh cinta dengan 3 laki-laki yaitu Amphion, Perseus dan Crocus. Namun diantara ketiganya, Crocus lah kesayangan Hermes. Namun sayangnya, kisahnya berakhir tragis. Hampir mirip dengan kisah Hyacinthus, Crocus mati akibat cakram yang dilemparkan oleh Hermes. Merasa bersalah, Hermes mengubah kekasihnya menjadi bunga indah.

Utusan dewa bertumit sayap dikatakan dalam beberapa mitos memiliki kekasih laki-laki. Dalam variasi mitos Hyacinth, kekasih Hermes, Crocus yang dibunuh oleh cakram yang dilemparkan oleh dewa sebelum diubah menjadi bunga.

Poseidon

Dewa berikutnya yang juga jatuh cinta dengan sesama jenis adalah Poseidon, sang dewa lautan. Tercatat ada 2 laki-laki yang pernah menjalin hubungan, Nerites dan Pelops. Dia adalah anak dari raja Tantalus, dari Sypilus. Namun tubuhnya dipotong-potong oleh sang ayah untuk dihidangkan kepada dewa dewi Olympia. Ketahuan, Tantalus dihukum, sementara Pelops dibangkitkan kembali.

Dari sini lah, Poseidon jatuh cinta. Namun Pelops membuat ulah dengan mencuri makanan hingga Zeus marah dan membuangnya dari Olympus.

Dionysus

Paling dikenal sebagai dewa anggur Yunani, Dionysus juga dewa interseks dan transgender. Pria pecinta dewa termasuk satir Ampelos dan Adonis yang terkenal tampan. Selain itu, Dionysus juga memiliki kisah cinta dengan sang gembala Prosymnus. Awalnya, sang dewa melakukan perjalanan menuju Hades dengan dipandu oleh Prosymnus, yang memimpin jalan. Sebagai imbalan, Prosymnus meminta kesempatan untuk bercinta dengan sang anggur. Ketika Prosymnus meninggal sebelum kesepakatan itu tercapai, dewa menciptakan lingga kayu untuk memenuhi janji secara ritual, menurut penelitian oleh sejumlah sejarawan Kristen, termasuk Hyginus dan Arnobius.

Pan

Pan adalah dewa musik. Pan juga dikenal sebagai dewa alam liar, hewan ternak dan pemburu. Pan sangat menyukai hubungan seks tanpa memandang jenis kelamin, bahkan dengan makhluk apa pun. Nama Pan ini disebut-sebut sebagai asal usul istilah panseksual, yakni ketertarikan kepada orang lain tanpa melihat identitas gender atau jenis kelamin. Panseksual dalam bahasa Yunani berarti semua. Orang yang panseksual bisa jatuh cinta pada laki-laki, perempuan, transgender, biseksual, homoseksual. Wujud dewa ini berbeda dengan yang lain karena penampilannya yang setengah manusia dan setengah kambing.

Monday, October 17, 2022

Selidik Aula Tempat Pesta Raja-Raja Anglo Saxon 1.400 Tahun yang Lalu


 Para arkeolog telah menemukan sisa-sisa aula yang rumit di timur Inggris. Aula tersebut pernah digunakan untuk pesta oleh raja-raja dan prajurit Anglo-Saxon sekitar 1.400 tahun yang lalu.

Sisa-sisa aula kerajaan itu berada di dekat desa Rendlesham di Suffolk, sekitar 70 mil (110 kilometer) timur laut London, hanya beberapa kilometer di utara pemakaman kapal Anglo-Saxon yang terkenal di Sutton Hoo dan beberapa mil di selatan tempat lain pemakaman kapal di dekat desa Snape.

Para arkeolog berpikir baik penguburan Sutton Hoo dan Snape adalah kuburan penguasa yang pernah tinggal di Rendlesham selama masa pemerintahan masing-masing, antara sekitar tahun 570 dan 720 M.

"Ini adalah pemakaman raja individu yang akan tinggal di Rendlesham selama sekitar 150 tahun," Faye Minter, petugas arkeologi senior untuk Dewan Kabupaten Suffolk, mengatakan kepada Live Science.

"Ini adalah kediaman kerajaan, tetapi raja-raja berpindah, mereka tidak hanya tinggal di satu tempat," katanya. "Jadi, kemungkinan besar, pada suatu saat, raja-raja East Anglia akan tinggal atau tinggal di Rendlesham."

Minter memimpin penggalian aula terbesar di kompleks kerajaan di situs tersebut, yang meliputi area seluas sekitar 15 hektar. Fondasinya menunjukkan bahwa itu adalah bangunan kayu berukuran panjang sekitar 75 kaki (23 m) dan lebar 33 kaki (10 m).

Siapa pun yang membangun kompleks, membangunnya di atas tanah yang ditinggikan dan mengelilinginya dengan parit batas.

Kemungkinan pernah ada hingga 10 aula di kompleks untuk raja dan pengiringnya yang terdiri dari ratusan orang, tetapi hanya aula terbesar yang telah dikonfirmasi oleh penggalian terbaru.

Para arkeolog telah bekerja di situs Rendlesham sejak 2008, dan penggalian baru-baru ini adalah bagian dari proyek Rendlesham Revealed, yang mencakup pekerjaan ratusan sukarelawan dari komunitas lokal.


Pemukiman Anglo-Saxon

Kompleks kerajaan di Rendlesham adalah bagian dari pemukiman yang lebih besar yang didirikan pada abad kelima M, segera setelah tanggal tradisional dimulainya invasi Anglo-Saxon ke Inggris, dari sekitar tahun 450 M.

"Pemukiman keseluruhan berukuran sekitar 50 hektar, tetapi dari akhir abad keenam, Anda mendapatkan area tertentu (dari kompleks kerajaan) di dalam pemukiman yang lebih besar," kata Minter. "Jadi mereka menempatkan kediaman kerajaan di dalam pemukiman Anglo-Saxon yang sudah penting secara lokal."

Kediaman kerajaan dicatat dalam tulisan-tulisan ilmuwan Inggris abad kedelapan, yang mengidentifikasinya sebagai tempat di mana pada tahun 662 M, raja Anglia Timur Aethelwald (juga dieja Aethelwold) mensponsori pembaptisan Raja Swithelm dari Saxon Timur (sebuah kerajaan dekat London juga dikenal sebagai Essex).

Aula kerajaan pertama kali diidentifikasi pada tahun 2015 oleh foto udara, yang menunjukkan tanda tanaman di situs yang menunjukkan posisi pos terbesarnya, kata Minter.

Namun itu tidak digali sampai musim panas ini, ketika parit arkeologi mengungkapkan pecahan bejana minum kaca dan tembikar, perhiasan pakaian, barang-barang pribadi, seperti pin tembaga, pisau besi, dan sisa-sisa persiapan makanan dan pesta.

Temuan menunjukkan bahwa sejumlah besar daging sapi dan babi telah dikonsumsi di sana, sebuah kemewahan pada saat Anglo-Saxon kebanyakan makan sayuran.


Kediaman kerajaan

Para arkeolog berpikir bahwa kompleks kerajaan di Rendlesham ditempati oleh raja dan prajuritnya selama beberapa bulan pada suatu waktu, selama makanan masih ada, sebelum mereka pindah ke tempat tinggal yang berbeda di tempat lain di kerajaan.

"Kami pikir itu mungkin musiman," kata Minter. "Mereka akan datang dengan banyak prajurit dan rombongan besar, dan itu mungkin akan meningkatkan populasi pemukiman cukup banyak."

"Dan saya pikir mereka akan 'memakan lemari yang kosong' dan kemudian pindah ke tempat berikutnya, sehingga mereka dapat dilihat sebagai penguasa seluruh kerajaan," katanya.

East Anglia, yang terdiri dari county Inggris modern Norfolk dan Suffolk, adalah salah satu dari tujuh kerajaan Anglo-Saxon utama di Inggris, yang dikenal sebagai Heptarchy. Yang lainnya adalah Essex, Kent, Sussex, Wessex, Northumbria, dan Mercia.

Mereka didirikan segera setelah runtuhnya kekuasaan Romawi di Inggris, tanggal yang secara tradisional dianggap sebagai tahun 409 M.

Bagaimanapun, kerajaan Anglo-Saxon dipersatukan pada abad kesembilan di bawah Alfred yang Agung, seorang raja Wessex, mereka akhirnya memberi nama Inggris, yang berarti "tanah Sudut".




 

Saturday, October 15, 2022

Mengapa Makam Keturunan Bangsa Viking Bisa Ditemukan di Italia?


Sepuluh makam yang berada di dekat gereja abad pertengahan di Sisilia, Italia, mengarahkan kepada penemuan langka: sisa-sisa tulang keturunan bangsa Viking.

Para arkeolog menemukan pemakaman berusia 800 tahun di dekat gereja San Michele del Golvo. Orang-orang yang dikubur kemungkinan adalah bangsa Norman, kelompok yang berkembang ketika Viking menetap di utara Prancis dan mendirikan kadipaten mereka sendiri.

“Tidak diragukan lagi, beberapa mayat yang dimakamkan di sana adalah anggota elit atau pendeta, dilihat dari bentuk kuburannya,” kata Sławomir Moździoch, pemimpin penggalian dan arkeolog di Institute of Archaeology and Ethnology of the Polish Academy of Sciences.

Setelah meneliti sepuluh makam tersebut, Moździoch dan rekannya menyatakan bahwa tiga di antaranya merupakan milik seorang wanita dan dua anak-anak.

Tidak ada barang yang ditemukan dalam makam. Namun, pemeriksaan visual yang dilakukan antropolog, membantu tim menemukan fakta bahwa kerangka tersebut berasal dari Eropa Barat – kemungkinan adalah bangsa Norman dari utara Prancis.

“Berdasarkan keterangan antropolog lokal, ketinggian dan lebar kerangka yang terkubur di sana sesuai dengan ciri-ciri bangsa tersebut,” imbuhnya.

Lalu bagaimana mereka bisa berakhir di Italia?

Menurut Encyclopedia Britannica, bangsa Norman menjalankan beberapa ekspedisi ke selatan Italia dan Sisilia. Juga Inggris, Skotlandia, dan Irlandia.

“Di pertengahan abad 11, pulau Sisilia direbut kembali dari bangsa Arab oleh bangsawan Norman, Roger de Hauteville,” tutur Moździoch.

 “Bentuk dan arsitektur gereja memiliki kekhasan Eropa Barat. Ini mengindikasikan pembuat dan penggunanya berasal dari Normandia dan utara peninsula Apennine,” pungkasnya.